Share

Bab 79

Author: Ipak Munthe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-21 21:11:01

Citra menatap secangkir kopi di tangannya, ia tersenyum lalu lalu mengetuk pintu ruangan Yusuf dan masuk.

Ia melihat Yusuf sedang duduk di kursinya, tetapan pria itu terlihat begitu hangat dan Citra merasa Yusuf sangat tampan.

'Astaga,' batinnya lalu ia pun melangkah masuk.

Kemudian ia meletakkan cangkir di tangannya pada meja.

"Aku permisi," pamitnya.

Tapi tiba-tiba Yusuf memegang lenganya membuat Citra pun tak bisa pergi, ia pun kembali menoleh.

"Kenapa buru-buru?" tanya Yusuf.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 80

    Ara langsung menghubungi Tama untuk datang ke coffee shop favoritnya. Ia duduk sambil melihat sekitarnya, dan ketika melihat Tama masuk ia mengangkat tangannya. Tama pun melangkah maju, tapi sebelum Tama mendekat yang datang justru Aldo. "Apa kabar?" tanya Aldo. Ara pun menoleh, ia juga tak menyangka jika Aldo ada disana. Ia menatapnya dengan sinis. "Hey, kamu ngapain disini? Nungguin mantan pacar kamu ini?" tanya seorang perempuan di samping Aldo. "Apasih? Kalian nggak jelas banget, minggir sana, muak banget," balas Ara sinis. Lalu Tama pun akhirnya berdiri di hadapan Ara. "Hay, kamu datang juga?" tanya Ara dengan senyuman. "Kamu?" tanya Mita. Tama hanya diam sambil menatap Mita dan Aldo disampingnya. Tapi Ara tak mau kalah ia pun segera memeluk lengan Tama, "Kenalin pacar baru aku!" katanya penuh percaya diri. Tama terlihat bingung tapi ia diam saja melihat Ara memeluk lengannya dan memperkenalkannya sebagai pacar. "Apa?" tanya Mita bingung. "Kenapa? Pacar aku sek

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 79

    Citra menatap secangkir kopi di tangannya, ia tersenyum lalu lalu mengetuk pintu ruangan Yusuf dan masuk. Ia melihat Yusuf sedang duduk di kursinya, tetapan pria itu terlihat begitu hangat dan Citra merasa Yusuf sangat tampan. 'Astaga,' batinnya lalu ia pun melangkah masuk. Kemudian ia meletakkan cangkir di tangannya pada meja. "Aku permisi," pamitnya. Tapi tiba-tiba Yusuf memegang lenganya membuat Citra pun tak bisa pergi, ia pun kembali menoleh. "Kenapa buru-buru?" tanya Yusuf. "Memangnya ada yang harus aku kerjakan disini?" tanya Citra. "Tentu saja ada," jawab Yusuf. "Apa?" tanya Citra. "Temani aku," Yusuf langsung menariknya duduk di pangkuannya. Deg. Jantung Citra pun tiba-tiba berdegup kencang, ia tiba-tiba merasa tegang. "Bagaimana dengan proyeknya?" tanya Yusuf. "Sedang aku kerjakan," jawab Citra. Yusuf pun mengangguk, "Apa tidak ada ucapan terimakasih?" tanya Yusuf. Citra pun menoleh pada Yusuf, kemudian ia menatap wajah tampan itu dan jantungn

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 78

    Citra tersenyum bahagia karena berhasil membuat Ara bekerja di tempat yang sama dengan dirinya. Meskipun tidak mudah untuk itu. "Citra, akhirnya aku dapat kerjaan," ucap Ara lalu memeluknya. "Selamat ya," kata Citra yang tak kalah bahagia. "Hay," sapa Ara pada Maya. "Hay, juga," balas Maya. "Kamu, Sahara?" tanya Bu Vina. "Ya, Bu. Panggil Ara aja, Bu," jawab Ara. "Ara, tolong foto copy semua berkas ini...lalu antar ke ruangan saya," perintah Bu Vina. "Baik, Bu," jawab Ara. Bu Vina menggangguk lalu pergi. "Citra, Maya tempat foro copy dimana ya?" tanya Ara. "Disana, lulur aja belok kanan," kata Citra. "Oke..." Maya langsung menuju arahan Citra, ia benar-benar sangat bersemangat di hari pertamanya bekerja ini. Ia juga benar-benar menyesal atas kejadian malam itu, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak ke club lagi. "Ini dia," katanya, kemudian meletakkan berkasnya pada meja. Dan matanya menatap mesin foto copy, "astaga, aku nggak tau caranya. Ih go

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 77

    "Astaga, kamprett!" gumam Citra kesal. Ia memegang pinggangnya yang terasa sangat pegal. Ia tak melihat keberadaan Yusuf di sampingnya. "Aku ini persis seperti perempuan bayaran, tapi versi halal," katanya konyol. Yusuf yang keluar dari kamar mandi mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Citra, ia menahan senyum sambil bersandar pada kusen pintu memperhatikan Citra. Lalu Citra terlihat meraih ponselnya di bawah bantalnya, ia menghubungi Ara. Satu kali terdengar nada sambung, lalu dua kali dan terdengar suara sahabatnya itu. Citra meletakkan ponselnya dan memperbesar volume suara. Karena kedua tangannya sibuk memijat dirinya sendiri. "Halo," jawab Ara dengan suara lesu. "Hey, aku udah kerja keras buat kamu. Mulai sekarang panggil aku Kakak!" ucap Citra dengan angkuh. "Hehehe..." Ara pun terkekeh lucu mendengarnya, "Kak Citra, gimana aku udah bisa masuk kerja belum?" tanya Ara penuh semangat. "Harusnya sih udah, kalau sampai dia ingkar janji aku sunat dia!" uc

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 76

    Khik...khik...khik...khik... Suara ponsel Ctra berdering. Yusuf langsung membuka mata dengan lebar, bahkan ia langsung bangkit duduk dan memegang dadanya. Tapi kemudian ia tersadar bahwa itu suara ponsel Citra. Tangan Citra meraihnya di samping bantalnya dengan mata tertutup, "Halo..." jawabnya dengan mengantuk. "Astaga," gumam Yusuf kesal lalu melempar bantai pada muka Citra. Buk. "Hey!" pekiknya kesal. "Ganti nada dering ponselmu itu!" perintah Yusuf. "Ih, apasih?! Nggak jelas," gerutunya. "Ck!" Yusuf langsung menuju kamar mandi dan Citra kini menatap layar ponsel yang masih menyala dan melihat nama Ara di sana, ternyata panggilan masih berlanjut, "halo..." "Citra, tadi malam aku langsung diantarkan pulang ke rumah dan kamu tahu? Sekarang samua pasilitas aku dicabut!" ucap Ara penuh kesedihan. "Hah?" Mata Citra langsung melebar mendengarnya, sungguh tak menyangka jika sahabatnya juga merasakan apa yang ia rasakan, "kamu serius? Jangan bercanda dong..." kata C

  • Miliarder Dingin Jatuh Cinta   Bab 75

    Yusuf berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Citra. Tatapannya tetap tertuju pada tangan Citra yang masih memegang dasi pria di sampingnya. "Teruskan," ucap Yusuf datar. Citra mengerutkan kening. "Apa?" Yusuf menyandarkan tubuhnya pada sofa. Deg. Citra menutup mata sesaat setelah menyadari suara barusan. Yusuf? Ia benar-benar sangat takut sekali, bagaimana jika Yusuf menghukumnya? Mengambil kembali kartunya? Tapikan Yusuf sudah berjanji untuk tidak mengambilnya lagi, apakah dia akan menepati janjinya? "Tadi kamu melakukan sesuatu pada dia, bukan?" tanya Yusuf. Ia memantik rokoknya dan menghisapnya perlahan. Citra langsung melepaskan dasi yang sejak tadi dipegangnya. "Enggak..." katanya, "ehem..." ia berdehem pelan sambil menatap Yusuf. Deg. Benar, itu Yusuf. Ia menggigit bibir bawahnya dan baru sadar Maya tidak ada di tempatnya lagi yang ada hanya Yusuf saja. "Sini," Yusuf mengerjakan jarinya meminta Citra untuk mendekat kearahnya.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status