تسجيل الدخول"Astaga, kamprett!" gumam Citra kesal. Ia memegang pinggangnya yang terasa sangat pegal. Ia tak melihat keberadaan Yusuf di sampingnya. "Aku ini persis seperti perempuan bayaran, tapi versi halal," katanya konyol. Yusuf yang keluar dari kamar mandi mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Citra, ia menahan senyum sambil bersandar pada kusen pintu memperhatikan Citra. Lalu Citra terlihat meraih ponselnya di bawah bantalnya, ia menghubungi Ara. Satu kali terdengar nada sambung, lalu dua kali dan terdengar suara sahabatnya itu. Citra meletakkan ponselnya dan memperbesar volume suara. Karena kedua tangannya sibuk memijat dirinya sendiri. "Halo," jawab Ara dengan suara lesu. "Hey, aku udah kerja keras buat kamu. Mulai sekarang panggil aku Kakak!" ucap Citra dengan angkuh. "Hehehe..." Ara pun terkekeh lucu mendengarnya, "Kak Citra, gimana aku udah bisa masuk kerja belum?" tanya Ara penuh semangat. "Harusnya sih udah, kalau sampai dia ingkar janji aku sunat dia!" uc
Khik...khik...khik...khik... Suara ponsel Ctra berdering. Yusuf langsung membuka mata dengan lebar, bahkan ia langsung bangkit duduk dan memegang dadanya. Tapi kemudian ia tersadar bahwa itu suara ponsel Citra. Tangan Citra meraihnya di samping bantalnya dengan mata tertutup, "Halo..." jawabnya dengan mengantuk. "Astaga," gumam Yusuf kesal lalu melempar bantai pada muka Citra. Buk. "Hey!" pekiknya kesal. "Ganti nada dering ponselmu itu!" perintah Yusuf. "Ih, apasih?! Nggak jelas," gerutunya. "Ck!" Yusuf langsung menuju kamar mandi dan Citra kini menatap layar ponsel yang masih menyala dan melihat nama Ara di sana, ternyata panggilan masih berlanjut, "halo..." "Citra, tadi malam aku langsung diantarkan pulang ke rumah dan kamu tahu? Sekarang samua pasilitas aku dicabut!" ucap Ara penuh kesedihan. "Hah?" Mata Citra langsung melebar mendengarnya, sungguh tak menyangka jika sahabatnya juga merasakan apa yang ia rasakan, "kamu serius? Jangan bercanda dong..." kata C
Yusuf berjalan mendekat lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Citra. Tatapannya tetap tertuju pada tangan Citra yang masih memegang dasi pria di sampingnya. "Teruskan," ucap Yusuf datar. Citra mengerutkan kening. "Apa?" Yusuf menyandarkan tubuhnya pada sofa. Deg. Citra menutup mata sesaat setelah menyadari suara barusan. Yusuf? Ia benar-benar sangat takut sekali, bagaimana jika Yusuf menghukumnya? Mengambil kembali kartunya? Tapikan Yusuf sudah berjanji untuk tidak mengambilnya lagi, apakah dia akan menepati janjinya? "Tadi kamu melakukan sesuatu pada dia, bukan?" tanya Yusuf. Ia memantik rokoknya dan menghisapnya perlahan. Citra langsung melepaskan dasi yang sejak tadi dipegangnya. "Enggak..." katanya, "ehem..." ia berdehem pelan sambil menatap Yusuf. Deg. Benar, itu Yusuf. Ia menggigit bibir bawahnya dan baru sadar Maya tidak ada di tempatnya lagi yang ada hanya Yusuf saja. "Sini," Yusuf mengerjakan jarinya meminta Citra untuk mendekat kearahnya.
Citra menatap jam dinding. "Jam delapan," gumamnya. Ia kemudian meraih tasnya dan berjalan keluar dari apartemen. Namun, baru saja membuka pintu, Citra langsung dikejutkan oleh kehadiran Maya yang sudah berdiri di depan pintu. "Maya?!" seru Citra sambil mengelus dadanya. "Aku bikin kamu terkejut, ya?" tanya Maya merasa bersalah. Namun, tatapan Maya kemudian beralih memperhatikan penampilan Citra. "Mau ke mana? Aku baru aja mau ketemu kamu," katanya. "Aku mau keluar. Mau ikut nggak?" tawar Citra. "Kemana?" Maya bertanya bingung. "Cari model tampan," jawab Citra sambil tersenyum lebar. Maya langsung mengernyitkan kening. "Cari model?" "Iya. Ayo, kamu juga udah waktunya mengakhiri masa jomblo." Tanpa menunggu jawaban, Citra langsung menarik tangan Maya. "Eh... Citra!" Maya tersentak, tetapi akhirnya ikut berjalan karena Citra sudah menarik tangannya dengan penuh semangat. *** Suasana klub begitu ramai. Alunan musik terdengar keras, sementara lampu-lampu be
Tama pun langsung masuk. Citra mendorong Yusuf sekuat tenaga, pria itu tersenyum lalu mundur. Cepat-cepat Citra turun dari meja dan merapikan kemejanya. "Bos, ini berkas proyek yang anda minta," kata Tama menyerahkan sebuah map. Yusuf pun menerimanya, ia bersandar pada meja lalu membuka map itu sesaat. Tak lama kemudian kembali menutupnya dan melirik Citra. "Aku permisi dulu, Bos," pamit Tama lalu ia pergi. Yusuf pun memberikan map di tangannya pada Citra. Citra menerimanya dan membukanya, matanya langsung berbinar karena itu adalah proyek untuknya. "Mas?" tanyanya seakan belum percaya. Yusuf pun tersenyum melihat wajah bahagia Citra. "Makasih, aku bakalan buktikan ke Papa dan Mama kalau aku ini sebenarnya bisa," katanya penuh semangat. Yusuf pun menarik pinggang Citra hingga begitu dekat dengannya. "Mas, ih?!" kesal Citra sambil berusaha untuk melepaskan dirinya. "Kenapa? Kamu mau pergi begitu saja?" tanya Yusuf. "Ini kantor!" protes Citra. "Berarti di r
“Ya ampun, badan aku remuk semua...” Citra memegang punggungnya yang terasa pegal. “Kamu kenapa?” tanya Maya yang baru saja datang. “Nggak apa-apa,” jawab Citra malas. Padahal, Citra masih ingat betul apa yang terjadi semalam. Yusuf benar-benar membuat tubuhnya terasa lelah. Maya yang merasa ada sesuatu mulai memperhatikan Citra dari atas sampai bawah. “Apa sih?” tanya Citra bingung. “Abis ngapain kalian tadi malam?” goda Maya dengan senyum jahil. Citra langsung menutup mulut Maya dengan telapak tangannya. Ia buru-buru melihat ke sekeliling. Untung saja kantor masih cukup sepi. Maya melepaskan tangan Citra sambil terkikik. “Aku tahu...” katanya lagi dengan senyum penuh arti. “Ih, apaan sih!” Citra langsung kesal. Belum sempat Maya menjawab, terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Beberapa karyawan yang melihat sosok itu langsung berdiri dan memberikan salam hormat. Citra ikut menoleh. Yusuf. Pria itu berjalan dengan wajah datarnya seperti biasa. Citra







