LOGINTHIS STORY CONTAINS EXPLICIT SEX SCENES. READER DISCRETION ADVISED. When Tabby finds herself drugged and kidnapped by a Mafia boss who demands his missing money back, she is totally blindsided. She's never met this man or gambled a day in her life. And when the casino's head of security (who also happens to be a total hottie) is the one doing the tying up and handling, she needs to figure out things fast. With her life in danger, she soon figures out that it's her identical twin sister that they really wanted if only she can convince them before it's too late.
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”Steele searched the house and knew in the first ninety seconds that Tabby hadn’t left of her own free will and that it had been Tremaine who had taken her.After he found the wet towel and cleared the ground floor, he’d found two pairs of foot prints leading out of the bathroom and down the hall. The most troubling part was that both of the foot prints were men-sized and wearing shoes. That could only mean that one of them was carrying Tabby. They’d grabbed her right out of the shower. Naked, scared, and all alone.His heart had nearly exploded out of his chest at the thought and he’d had to depend heavily on his training to keep his heart rate in check.He knew that they wouldn’t immediately kill her because no matter what, she was great leverage for both her sister and for him. They were assholes, but they weren’t stupid. He knew Tremaine and he knew that he only wanted two things–his money and Tabby’s sister.He didn’t do too well with betrayal and Trish wouldn’t survive ten min
For the second time in as many days, Tabby awoked to find herself tied up. Only this time, she wasn't looking into the handsome face of Steele.Instead, she was looking at the inside of what appeared to be a dungeon cell. She tried her arms and legs but they were both bound and she was spread eage on a dingy mattress on the floor. She was also completely naked.Tears burned her eyes and she hoped and prayed that she hadn't been molested in any way. She just wasn't sure. Her whole body ached and she could feel her left eye swelling where Tremaine's hard, bony fist had knocked her completely unconcious in Steele's bathroom.She tried to take slow, deep breaths. A panic attack was creeping just below the surface and she it felt difficult to take a full breath. She wondered if Steele even knew she was missing. For all she knew, he was still at work and had no idea that Tremaine and his goons had found her and taken her.She had no idea where she was, how long she'd been there, and if sh
Gavin “Steele” McSteeley was tired. He felt the exhaustion creeping up his neck and he squeezed the taut muscles with his left hand as he maneuvered the car back towards home. His mind was swirling with so many different thoughts and emotions that he felt drained. He feared his undercover operation that he’d been working day and night for months now was over and that he’d not managed to collect enough hard evidence to put Tremaine away. People had a habit of mysteriously disappearing around Tremaine and Steele had been very eager to be the one to take him down. He didn’t like the man and he wanted him to spend the rest of his life behind bars for the multitude of laws that he’d broken over the years. He had some evidence but he wasn’t sure it was enough to get the kinds of convictions he wanted against the crooked man. Tremaine and his crew of thugs were off the radar and no one had spotted him since early this morning. It was getting close to sunset now and s
Tabby awoke for the second time, but this time it was late afternoon. Following their incredible sex, she’d curled up in bed beside Gavin and slept soundly. She’d been lulled into a safe, warm, calming sleep by his slow, rhythmic breathing and the feel of his hands caressing her back. She hadn't dreamt, but instead, actually rested and renewed her mind. Now, she rolled and stretched and felt better than she had in ages. She looked at her wrists and there were no indications of where she’d been bound to the chair the night before. She thought about the fact that it was Gavin who had taken her to Tremaine’s penthouse and bound her to the chair. He’d been playing a role, but he’d taken care to be sure that she was never harmed. She felt the coolness on the empty sheets beside her. She’d not even been aware of him slipping out of bed. As she lay there in the silence, she gazed at the late afternoon sun as it cut across the foot of the bed. The town home was complete
Tabby could feel her heart beating forcefully in her chest and the sound of it echoed in her ears. What the hell was going on here? She looked over at the man with the deep, dark eyes and he was kneeling down behind her chair. She started to object, but then noticed that he was starting to u
Steele watched Tremaine closely as he took the woman by her shoulders and gazed into her wide eyes. Steele could feel her fear and it put his body on high alert. He suddenly felt wildly protective of her. “There’s my T. girl,” Tremaine purred as he ran his hands up her neck and his thumbs pr
Tabby was dreaming. She knew she was dreaming but she couldn’t make herself wake up. She dreamt that she was in a straitjacket and the harder she struggled to free herself, the tighter her restraints became. She shook her head from side to side and realized that something was over her mouth.
He watched the pulse beat slowly beneath the skin of her neck. Her head was turned at an uncomfortable angle and almost resting on her own shoulder. Her legs were sprawled with her skirt having risen up to expose a little too much of her sexy, toned thigh. He had a sudden urge to reach over a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.