Beranda / Horor / Misteri Bus Setan / Bab 4. Kecurigaan Bu Guru

Share

Bab 4. Kecurigaan Bu Guru

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-18 00:12:01

"Ini kenapa sudah malam tapi belum sampai?" tanya Mark lagi.

"Ini bukan malam Mark."

"Maksudnya kamu?"

"Sekarang masih jam empat sore. Kamu lihat sendiri," ujar Sherly memperlihatkan layar handphone yang menyala ke arah Mark.

"Masih jam empat?" tanya Mark dengan mata sedikit silau dengan cahaya handphone Sherly yang cukup terang.

"Iya, aneh kan," ujar Sherly mengangguk kepala.

'Ini memang sangat aneh. Mana ada jam empat sudah gelap gulita. Aku harus tanya sama pak sopir dulu,' batin Mark.

"Sherly, kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mau tanya sama pak sopir nya," suruh Mark.

Sherly mengangguk kepala dengan patuh. Dia akan membiarkan Mark yang akan mencari tahu apa yang sudah berlalu.

Mark bangun dari kursi dengan perlahan. Berjalan ke arah sang sopir bus dengan memegang bagian kepala kursi penumpang. Dia sedikit susah berjalan karena bus masih berjalan.

"Pak!" panggil Mark.

Sang sopir tidak menjawab. Dia hanya melihat ke arah Mark sebentar. Kemudian melihat ke arah depan lagi.

"Pak, kenapa kita ada di dalam hutan? Kenapa kita belum sampai di pantai? Bahkan di sini sangat gelap," tanya Mark lagi menelusuri wajah sang sopir bus.

Sang sopir lagi-lagi melihat sekilas ke arah Mark. Kemudian dia melihat lagi ke arah jalanan.

"Jalan biasa menuju ke pantai sedang dalam perbaikan. Kita harus menunggu terlalu lama jika melewati jalan itu. Makanya saya mengambil jalan alternatif lain. Ini gelap karena kita berada di tengah hutan. Cuacanya lagi mendung," sahutnya dengan suara datar.

"Apa Bapak tidak merasa aneh dengan tempat ini."

"Aneh? Tidak ada yang aneh. Ini tempat yang biasa saya lewati. Kamu duduklah kembali. Kamu dan teman kamu bisa tidur kembali. Kalau sudah sampai tujuan akan saya bangunkan," suruhnya.

Mark kembali melihat ke arah teman-temannya dan juga Bu Guru. Mereka semua masih tertidur sangat lelap. Ada yang menggorok, bahkan mengigau tidak jelas.

Mark langsung kembali ke tempat duduknya tanpa banyak tanya lagi.

Setelah kepergian Mark, sang sopir tersenyum miring dengan kepalanya yang menunduk. Dia menambah kecepatan bus memecahkan keheningan hutan yang gelap.

"Bagaimana?" tanya Sherly begitu Mark duduk di tempat semula.

"Katanya ada perbaikan jalan. Jadi Pak sopir memutar arah agar kita bisa tiba di sana lebih cepat," sahut Mark.

"Kenapa jauh sekali putar arahannya?"

"Mungkin tidak ada jalan lain. Nanti teman kita yang lain juga akan menyusul kita di belakang kan," terang Mark.

"Aku telepon Mia, ah. Siapa tahu dia masih jauh di belakang kita. Aku mau goda dia ah," gumam Sherly kembali tertawa kecil dengan menutup mulutnya.

"Kamu ini," ucap Mark menggeleng kepala dan pasrah dengan kelakuan Sherly.

Sherly mengambil handphone kembali. Dia segera menghubungi Mia namun handphone sama sekali tidak ada sinyal dan jaringan.

"Kenapa tidak ada sinyal, sih," gumam Sherly kecut sambil mengangkat handphone tinggi berharap menemukan sinyal.

"Kita ini ada di dalam hutan. Wajar kalau tidak ada sinyal. Kamu taruh aja kembali handphone kamu. Kita tidur saja. Nanti Pak sopir akan membangunkan kita kalau sudah tiba," suruh Mark dengan menguap. Matanya kembali mengantuk.

"Aku sudah tidak ngantuk lagi. Aku ingin segera sampai di pantai."

"Ya sudah, sana kamu keluar dan terbang saja biar cepat sampai."

"Kamu pikir aku capung," sahut Sherly kesal tidak terima.

"Siapa yang bilang kamu capung? Kamu itu kecoa," balas Mark usil dengan menghadap ke sisi berlawanan arah dengan Sherly.

"Ih geli," ujar Sherly memukul Mark emosi.

Setelah puas memukul Mark, Sherly juga ikut tidur lagi. Dia ikutan ngantuk melihat Mark yang sudah terlelap dengan cepat.

Mereka tidak tahu kemana bus itu akan membawa mereka. Mereka terlalu larut dalam mimpi. Sama sekali tidak bisa melawan rasa ngantuk.

***

Beberapa jam kemudian Bu Guru mulai terjaga dari tidurnya. Responnya juga sama seperti Sherly dan Mark. Heran melihat langit yang sudah sangat gelap ditambah mereka berada di tengah hutan.

Bu Guru bangun dari tempat duduk. Kemudian mengecek jumlah siswa apa masih lengkap atau tidak. Setelah memastikan jumlah siswa masih sama dengan saat sebelum berangkat, Bu Guru berjalan mendekati sopir dengan pelan. Langkahnya harus hati-hati agar tidak oleng oleh bus yang bergerak.

Bu Guru sudah tiba di samping sopir bus. Matanya menelusuri sopir yang terlihat sangat santai membawa bus.

"Pak, kenapa kita ada di tengah hutan? Tujuan kita kan ke pantai," tanya Bu Guru.

Sang sopir bus sama sekali tidak menjawab. Dia terus membawa bus dalam diam dengan kecepatan yang cukup cepat.

"Pak, Bapak dengar saya kan," ujar Bu Guru semakin merasakan ada yang aneh.

Bu Guru melihat sebentar ke arah siswa yang masih tertidur. Kemudian dia beralih ke sopir bus lagi. Berharap jika firasatnya salah.

"Pak, tolong hentikan bus nya," suruh Bu Guru karena tidak ada respon dari tadi.

Lagi-lagi Bu Guru di diabaikan. Membuat hatinya tidak bisa berpikir jernih lagi.

"Pak, hentikan mobilnya sekarang juga!" Kali ini Bu Guru sampai berteriak keras untuk menyuruh sang sopir bus berhenti.

Bu Guru bertambah panik. Sang sopir tadi melihat ke arahnya sebentar. Lalu melihat ke arah depan lagi. Tidak ada ekspresi sama sekali. Dengan tatapan yang terlihat sangat dingin.

'Ini ada yang aneh. Aku harus membangunkan anak-anak.'

Bu Guru dengan langkah cepat berjalan ke tengah para siswa-siswi yang terlelap. Dia hampir saja terjatuh kalau tidak memegang pada kepala kursi.

"Anak-anak, ayo bangun," panggil Bu Guru menggoyangkan tubuh mereka bergantian.

Bu Guru mencoba membangunkan semua para siswa. Mereka harus segera keluar dari dalam bus. Atau setidaknya sang sopir mau meresponnya dengan baik.

"Anak-anak, ayo bangun," ujar Bu Guru tidak putus asa.

"Sherly, Mark, Karla, Putri, ayo bangun."

Bu Guru cukup kesusahan membangunkan mereka. Seolah-olah mereka berada di bawah pengaruh sesuatu. Tidak mungkin jika tidak ada yang bangun sama sekali.

"Anak-anak ayo bangun."

Bu Guru kali menggoyangkan tubuh mereka semakin keras. Dia terpaksa membangunkan mereka dengan paksa dan kasar. Alhasil usaha tidak sia-sia. Anak-anak mulai terjaga satu per satu.

"Ayo bangun cepat."

"Ada apa Bu?" tanya Wisnu mengucek mata.

"Apa kita sudah sampai?" lanjut Davin bertanya.

"Kalian semua bangunkan teman-teman kalian yang belum bangun ya," suruh Bu Guru sudah berwajah pucat.

Wisnu dan Davin yang belum mengerti segera melaksanakan perintah Bu Guru. Mereka bisa melihat wajah Bu Guru yang kepanikan tanpa tahu alasannya.

"Ada apa ini?" tanya Sherly yang sudah terbangun akibat suara ribut-ribut.

Sherly mengucek matanya yang masih berat. Dia masih sangat mengantuk.

"Bu Guru menyuruh kami membangunkan semuanya," sahut Davin mengangkat bahu tanda tidak tahu.

Bersambung ….

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Misteri Bus Setan   Bab 30. Tamat

    "Kalian gunakan selimut ini di badan kalian. Tubuh kalian basah kuyup. Wajah kalian juga sangat pucat," ujar tim penyelamat menyerahkan selimut kepada Sherly dan Putri. "Terima kasih Pak." "Ayo masuk ke mobil ambulans. Kalian bisa kedinginan di luar sini. Kalian bisa ganti baju di sana," tambahnya. "Cepat! Minggir-minggir! Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit!" teriak tim penyelamat yang sedang membawa Karla. Mereka memberikan ruang kepada tim penyelamat. Tubuh Karla dengan cepat dimasukkan ke dalam mobil ambulan. "Bukannya itu Karla," ujar Sherly. "Kenapa buru-buru. Jangan-jangan Karla selamat," tebak Putri. Sherly dengan cepat lari ke arah mobil ambulan ketika mendengar perkataan Putri. Berharap jika Karla beneran selamat. "Pak, ada apa dengan Karla?" tanya Sherly menarik salah satu baju tim penyelamat. "Kondisinya sangat parah. Dia harus segera dilarikan ke rumah sakit agar bisa selamat. Maaf, kami harus segera berangkat," ujarnya menutup pintu dan segera melarikan

  • Misteri Bus Setan   Bab 29. Karla Selamat

    Pencarian mereka dilanjutkan untuk mencari jasad Karla, Bagas dan Pak Parto. Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka terlebih dahulu tiba di tempat Bagas yang tergeletak di atas tanah. Mark dan Davin segera mengalihkan perhatian ke arah lain saat tim penyelamat mengangkat tubuh Bagas ke dalam tas untuk membawa tubuhnya. "Ayo, kita berangkat cari kawan kalian satu lagi," ajak pak polisi menepuk bahu Mark dengan pelan. Dia peka dengan mereka yang tidak tega melihat jasad temannya. "Ayo Davin." *** Tubuh Karla masih terbentang sejak ditinggalkan oleh Mark, Sherly dan lainnya. "Pak, yang ini masih selamat. Masih ada denyut nadinya walaupun lemah," terang tim penyelamat setelah memeriksa keadaan Karla. Nafas Karla masih terhembus dengan pelan. Suhu tubuhnya juga masih hangat. Tanda orang masih hidup. "Karla masih hidup? Bukannya dia meninggal karena banyak keluar darah di bokongnya?" tanya Davin sambil memberitahu tim penyelamat. Mark dan Davin mendekati Karla dan tim pe

  • Misteri Bus Setan   Bab 28. Selamat

    "Pak! Kami di sini!" teriak Sherly dan Putri dengan keras setelah dekat. "Lihat, itu mereka," teriak para bantuan yang melihat Sherly dan Putri yang melambaikan tangan. Mereka semua segera berlari dan mendekat ke arah Sherly dan lainnya. Mereka senang bisa menemukan ada yang masih selamat. "Kalian tidak apa-apa?" "Kami tidak apa-apa," sahut Sherly. "Kalian berlima? Di mana tiga teman kalian yang lain?" tanya pak guru. Raut wajah Sherly yang tadinya berseri kini kembali sedih mengingat teman-temannya yang tidak selamat. Putri yang berdiri di samping Sherly langsung memeluknya. "Mereka sudah tidak ada Pak. Hanya kami berlima yang selamat," sahut Mark lesu. "Ya ampun." "Kaki kamu tidak apa-apa?" tanya tim penyelamat yang melihat Arga dibantu jalan oleh Davin dan Mark. "Kaki aku kena jebakan pemburu," sahut Arga melirik ke arah kakinya.. "Sini biar kami periksa," ujar tim penyelamat mau memberikan pertolongan pertama. Mark dan Davin menyerahkan Arga ke tim penyelamat. Tim pe

  • Misteri Bus Setan   Bab 27. Bantuan Datang

    Istri pak Parto beserta anaknya yang masih duduk di bangku sekolahan menangis histeris saat tahu pak Parto mengalami kecelakaan. Mereka segera berangkat ke rumah sakit dengan air mata yang mengalir. "Pak! Dimana korban kecelakaan bus?" tanyanya kepada polisi. "Maaf Bu, apa Ibu keluarga pasien?" tanya dokter balik. "Saya adalah istri dari pada pemilik sopir bus," sahutnya. "Maaf Bu, sepertinya suami Ibu tidak ada di dalam bus." "Maksud Dokter apa?" "Kami sudah melakukan otopsi kepada dua jenazah yang hangus. Mereka adalah teman sebaya dari tiga korban yang selamat." "Apa? Jadi di mana suami saya? Apa suami saya masih hidup. Tolong katakan suami saya masih hidup!" teriaknya dengan keras. "Kami juga tidak tahu Bu. Hanya ada dua korban yang meninggal dan tiga siswa yang selamat di dalam bus. Tidak ada orang lain." *** Salah satu siswa mulai sadar. Dia sangat ketakutan dan masih shock berat. Spontan dia berteriak histeris menjambak rambutnya. Para suster dan dokter menghampir

  • Misteri Bus Setan   Bab 26. Terputus

    Namun sayangnya, saat sudah dekat dengan tikungan, dia telat mengurangi kecepatan bus. Jadi bus direm secara mendadak menghindari jurang. Membuat bus lepas kendali dan meluncur bebas. Tiga orang yang menahan pak Parto segera melepaskan pak Parto. Mereka berlindung dari goncangan bus dengan memegang kursi penumpang. Pak Parto mengambil kesempatan itu untuk mengeluarkan kaus kaki dari mulutnya. Lalu berniat ingin berdiri menuju ke arah kemudi. Mengambil alih kemudi kembali. Baru saja dia berdiri, matanya membesar saat bus sudah menabrak pembatas jalan. Sudah terlambat menyelamatkan bus dari tangan mereka. Tubuhnya kembali terjatuh. Pak Parto memegang kaki kursi penumpang dengan kuat ketika bus terjatuh ke dalam jurang. Sedangkan dua orang siswa yang duduk di depan terguling-guling mengikuti bus yang berputar. Mereka tidak sempat berpegang dengan apapun. Bus baru berhenti bergerak setelah masuk ke jurang yang cukup dalam. Sebagian body bus banyak yang rusak. Dengan bagian depan bus

  • Misteri Bus Setan   Bab 25. Ambil Paksa

    Sherly berhenti berjalan. Dia menatap tangan Mark yang memegang tangannya. "Mark, lepas tangan aku. Aku kenal sama dia," ujar Sherly mau melepaskan tangan Mark. "Sherly, kamu yakin kenal sama dia?" tanya Mark tidak mau melepaskan tangan Sherly. Sherly melihat kembali ke arah hantu sopir bus yang dianggap pak kumis. Setelah itu baru menjawab pertanyaan Mark. "Iya, aku kenal sama dia. Aku tidak mungkin lupa sama Pak Kumis," sahut Sherly. Hantu sopir bus melihat ke arah Sherly. Nama yang disebutkan Sherly tidak asing bagi dirinya. Nama panggilan akrab dari para penumpang lamanya. "Pak Kumis. Ini Lili. Apa Pak Kumis masih ingat. Dulu Pak Kumis yang sering mengantar dan menjemput kami sekolah," bujuk Sherly melepaskan tangan Mark. Mark ingin menahan sherly lagi. Tapi dia malah ditahan balik oleh Davin dan Putri. Davin dan Putri membiarkan Sherly membujuk hantu sopir bus. Sikap hantu sopir bus jauh lebih tenang saat Sherly memanggilnya. "Kita biarkan Sherly bujuk hantu itu," bisik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status