Home / Horor / Misteri Bus Setan / Bab 5. Copot

Share

Bab 5. Copot

last update Last Updated: 2025-10-18 00:12:50

Mark bangun dari kursi dan mendekati Bu Guru. Tubuh Bu Guru sudah mulai bergetar. Kakinya juga melemas. Bersyukur para siswa-siswi sudah berhasil dibangunkan semua.

"Bu, ada apa? Apa yang terjadi" tanya Mark.

"Itu, ada yang aneh sama sopir bus nya," ujar Bu Guru melirik ke arah sopir dengan takut-takut.

"Apa yang aneh sih Bu," sahut Sherly.

Sherly ikut berdiri. Dia berdiri di depan kursi. Badannya harus menghadap ke arah belakang bus untuk melihat wajah Bu Guru.

"Kalian lihatlah keluar jendela. Diluar sangat gelap dan kita berada di tengah," suruh Bu Guru.

Para siswa-siswi melihat ke arah luar. Tapi mereka tidak merasakan ada yang aneh kecuali mereka heran kenapa tidur sangat lama.

"Bu, kata Pak sopir tadi ada perbaikan jalan. Jadi Pak sopir memutar arah agar kita bisa menuju ke pantai," terang Mark.

"Itu tidak mungkin, Mark. Ibu sudah mematikan semua itu agar perjalanan kita tidak terhambat. Tidak ada perbaikan jalan sama sekali," sahut Bu Guru.

"Iya, ini aneh juga. Dari tadi kita berada di tengah hutan, Mark. Ini sudah jam tujuh malam. Tadi kita terbangun saat jam empat. Kenapa kita belum juga keluar dari hutan. Apa masih jauh," ujar Sherly kebingungan yang sudah melihat jam kembali untuk mengecek waktu.

"Berarti kita semua kek kebo dong. Kita sudah tidur dari tadi siang. Masak di antara kita tidak ada yang terbangun," sahut Karla.

Mark juga merasa ada yang aneh. Tidak mungkin Bu Guru berbohong. Apa untungnya. Mereka lebih mempercayai ucapan Bu Guru daripada sopir bus yang tidak mereka kenal.

Mark memberikan kode kepada Davin, Arga, Wisnu dan Bagas untuk ikut menanyakan kepada pak sopir bus. Mengikuti dia yang berjalan ke arah depan bus.

Mereka berempat langsung paham maksudnya Mark. Tanpa banyak bicara mengikuti langkah Mark yang sudah berjalan duluan ke arah sopir bus.

Sherly dan lainnya hanya melihat mereka berlima. Mereka berdoa semoga semuanya baik-baik saja.

"Pak!" panggil Mark yang tidak mendapatkan respon.

Mark melirik ke arah teman-temannya. Mereka memberi kode menyuruh dia lanjut bertanya.

"Pak, sekarang kita ada di mana?" tanya Mark dengan suara halus.

"...."

"Pak, jangan diam saja dong. Apa bus ini lagi penculikan atau penyanderaan atau bagaimana," ujar Wisnu tidak sabar.

"Wisnu," tegur Davin dan lainnya.

Mereka semakin ketakutan dengan perkataan Wisnu. Mereka takut jika beneran diculik atau disandera. Apalagi sekarang banyak kasus penjualan organ manusia secara ilegal.

"Pak berhenti sekarang juga," perintah Mark dengan tegas.

"...."

"Bapak jangan memaksa kami ya," kata Mark sudah dengan nada tinggi.

"...."

"Percuma kita bicara sama dia," ujar Arga.

Arga dengan nekat ingin mengambil paksa kendali bus. Dia tahu bagaimana cara membawa bus. Dia sudah terbiasa membawa berbagai jenis mobil.

Arga yang mengambil ahli paksa kemudi menyebabkan bus bergoyang. Bus tidak lagi berjalan dengan lurus. Berliuk-liuk ke kiri dan ke kanan.

"Arga, apa yang kamu lakukan," tegur Mark mencari pegangan.

Para siswa-siswi yang lain berteriak histeris. Mereka segera memegang apapun yang bisa menjaga tubuh mereka. Sherly juga sudah duduk kembali. Dia memeluk kepalanya karena sangat takut.

"Anak-anak, hati-hati. Jangan sampai kita kecelakaan," ujar Bu Guru memeluk kepala kursi dengan posisi masih berdiri.

"Kita ambil alih paksa saja kalau dia tidak mau melepaskannya. Ayo lepaskan," ujar Arga masih berusaha merebut alih kemudi.

Bus bukan bergerak semakin pelan, tapi sangat sopir bus malah menambah kecepatan bus. Kakinya menginjak pedalaman gas semakin dalam.

"Kalian pegangan yang erat," teriak Davin memperingati yang lain.

Mark memerintahkan Wisnu dan Bagas untuk menahan badan sang sopir. Mereka juga harus membantu Arga. Bus harus dihentikan sekarang juga.

Wisnu dan Bagas berjalan ke belakang kursi kemudi. Mereka memegang bahu Pak sopir. Supaya tidak banyak bergerak.

Mark mulai membantu Arga melepaskan tangan Pak sopir dengan paksa. Sedangkan Davin berusaha menggeserkan kaki sopir bus dari pedal gas.

Mereka sama sekali tidak bisa menggeserkan tangan atau kaki sopir bus sedikitpun. Semakin lama guncangan bus juga semakin terasa.

Guncangan bus yang sangat kuat membuat Mark tidak sengaja menyenggol kepala sopir dengan sikunya. Sehingga menyebabkan kepala Pak sopir jatuh. Kepala itu jatuh terguling di lorong bus.

"Aaaa …."

Para siswa-siswi berteriak histeris melihat kepala sopir bus yang terjatuh menggelinding melewati mereka. Bu Guru yang berdiri sampai terjatuh duduk. Kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Seketika kaki jadi lemas tidak bertenaga melihat kepala sopir bus menggelinding.

Kepala itu terus menggelinding sampai ke arah kaki Bu Guru. Kepala itu baru berhenti bergerak setelah bersentuhan dengan ujung sepatu Bu Guru. Dengan mata yang terbuka dan melotot menghadap ke arah Bu Guru.

"Aaaa …."

"Aaaa …."

Bu guru berteriak lebih keras daripada siswa-siswi. Dia sangat syok melihat kepala manusia jatuh tepat di depan kakinya. Sangat mengerikan dan menjijikkan.

Sherly reflek bangun dan berdiri memepet ke arah jendela. Menjauhkan tubuhnya dari kepala sopir bus. Sehingga botol minuman yang tadi dia pegang tanpa sengaja jatuh ke arah luar jendela tersapu angin. Rencana tadi dia ingin minum karena kehausan saat Mark dan lainnya berjalan ke arah sopir bus.

"Botol kesayangan aku," teriak Sherly.

Sherly dengan reflek dan nekat mengeluarkan kepala dari jendela. Dia ingin meraih botol itu sebelum terjatuh. Namun botol itu sudah duluan terjatuh di pinggiran jalan.

"Sherly!" teriak Karla dan Putri.

Karla dan Putri dengan segera bangkit dari tempat duduknya. Mereka segera menarik tubuh Sherly agar tidak terjatuh ke jalanan. Kondisi bus yang tidak berjalan normal takut akan melemparkan tubuh Sherly.

Mark dan lainnya juga sangat takut saat kepala sopir bus terjatuh. Tapi mereka dengan cepat sadar. Mereka kembali mencoba untuk mengambil alih kemudi bus yang sudah oleng. Harus ada yang mengendalikan bus.

"Sherly, apa yang kamu lakukan," bentak Karla marah dengan apa yang dilakukan oleh Sherly. Sherly sangat membahayakan dirinya.

"Botol minuman aku jatuh," ujar Sherly setelah berhasil ditarik oleh Karla dan Putri.

"Apa kamu mau mati, hah," kata Putri dengan marah marah.

"Itu botol kesayangan aku," bela Sherly dengan pandangan menunduk.

"Kamu jangan gila Sherly. Tadi kamu bisa saja jatuh ke jalan," ceramah Karla.

"Maaf, aku reflek tadi," ucap Sherly menyesal.

Mark dan lainnya masih berusaha untuk mengambil alih kemudi. Walaupun sopir itu sudah tidak ada kepala, tapi tangan dan kakinya tidak mau lepas dari pedal gas dan juga setir bus.

Bus itu semakin lama semakin tidak karuan. Berjalan zig zag melewati malam yang mencengkam.

Bersambung ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Misteri Bus Setan   Bab 17. Keluar Dari Lobang

    Setelah berjuang akhirnya Sherly berhasil naik ke atas bahu Arga dan Wisnu. Dia berdiri dengan setengah tegak untuk mengintip ke luar lobang. Mengawasi ke arah sekitar apa aman atau. Mencari keberadaan hantu sopir agar bus tidak ada di sana. "Bagaimana Sherly?" tanya Putri paham kenapa Sherly tidak langsung naik ke atas tanah. "Apa hantu nya masih ada?" sambung Mark dengan kepala menunduk. Dia tidak bisa melihat ke atas. Air kotor mengalir dari arah kepala. "Aman, hantu itu tidak ada," lapor Sherly. "Cepat naik," suruh Davin. Sherly dengan perlahan menyingkirkan daun yang menutupi lobang. Supaya dia bisa keluar dari sana. Sesudah daun itu disingkirkan, dia sekuat tenaga berusaha untuk merangkak naik ke atas. Sherly memegang rumput agar bisa naik. Setelah pegangan kuat, satu kakinya dinaikan ke atas. Dengan satu kaki lagi dibantu dorong oleh Arga dan Wisnu. "Cepat!" teriak Wisnu. "Iya, aku sedang berusaha ini," sahut Sherly Sherly berhasil naik ke atas dengan selamat. Setelah

  • Misteri Bus Setan   Bab 16. Hujan Turun

    Mereka memikirkan perkataan Sherly tentang dendam. Hantu yang bergentayangan cenderung karena ada hal yang belum mereka selesaikan. Bisa jadi balas dendam atau hal yang mengganjal sebelum meninggal. "Tunggu dulu, aku sudah ingat sekarang. Apa kalian tahu tentang bus yang mengalami setahun yang lalu. Bus itu kecelakaan di tengah hutan dan masuk ke jurang juga. Para korban adalah siswa dan guru," ucap Arga baru teringat kasus yang dia lihat televisi. "Apa tempatnya juga di sini?" tanya Mark. "Aku tidak tahu tempat ini apa namanya. Yang jelas kecelakaan itu di pegunungan Tangse. Kecelakaan itu sangat aneh. Tidak ditemukan sopir bus. Hanya ada korban yang sudah meninggal semuanya. Tidak ada yang selamat satupun," sambung Arga. "Kamu yakin?' tanya Sherly takut sambil menelan ludah. "Aku juga ada dengar kabar itu. Kecelakaan itu disebut dengan misteri bus setan," bela Wisnu. "Untung kali ini kita bisa selamat," syukur Mark masih diberikan kesempatan hidup. "Ini pasti ada sangkut paut

  • Misteri Bus Setan   Bab 15. Istirahat

    "Mark, bagaimana kalau kita istirahat dulu di sini," saran Davin. Perjalanan yang mereka lewati dari tadi membuatnya sangat lelah. "Iya, aku setuju. Aku capek," sahut Karla cepat sebelum ada yang punya ide untuk berlari lagi. "Istirahat di sini?" tanya Mark. "Di sini mungkin lebih aman daripada kita luar di sana. Kita bisa saja ditemukan dan dikejar lagi," terang Davin. "Baiklah, kita istirahat dulu di sini," putus Mark melihat teman lain sudah capek semua. Mark tidak mau memaksa mereka. Mereka sudah berlari dan berjalan cukup jauh. Tubuh mereka butuh istirahat sejenak. Putri meraih handphone ingin menyalakan senter. Tempat itu terlalu gelap dan tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak bisa melihat apa-apa. "Jangan Putri," larang Sherly menutupi cahaya yang dikeluarkan dari senter dengan tangannya. Menghalangi cahaya menerangi mereka. "Kenapa? Di sini sangat gelap," ujar Putri melihat ke arah Sherly. "Putri, jangan nyalakan senter, kalian juga. Kalau kita menyalakan senter, n

  • Misteri Bus Setan   Bab 14. Bersembunyi

    "Karla!" "Aaaa!" Namun langkah mereka terlambat. Tubuh Karla terus saja menggelinding dengan cepat. Tubuhnya baru berhenti setelah mengenai hantu sopir bus. Dia menabrak hantu sopir bus seperti main bowling. Tubuh hantu sopir bus terlempar beberapa meter jaraknya dari Karla. Kepala yang ada di tangan ikut terlempar ke atas pohon. Dengan badan yang nyungsep ke dalam semak-semak. "Bantu Karla, cepat!" perintah Sherly mumpung hantu sopir bus itu sedang kehilangan kepala dan nyungsep. Mark, Davin, Wisnu dan Arga dengan cepat membantu Karla untuk bangun. Karla masih telungkup tidak bisa bangun sendiri. Dengan kepalanya yang berkunang-kunang efek menggelinding. "Aaaa, kenapa dunia ini berputar," gumam Karla. Hantu sopir bus segera bangun dari semak. Dia berjalan meraba-raba tanpa kepala. Tidak bisa melihat arah jalan. Kakinya sempat tersandung akar pohon dan terjatuh kembali. Dia bangkit lagi mencari kepala yang tersangkut di atas dahan pohon. Kepala hantu sopir bus berkedip-kedip

  • Misteri Bus Setan   Bab 13. Mereka Ditemukan, Lari!

    "Kalian diamlah, jangan berteriak. Kita tidak tahu cara Bagas menghilang. Bisa saja yang membawa Bagas itu akan menargetkan kita juga," larang Mark demi keamanan mereka. "Apa ini perbuatan binatang buas?" tanya Sherly. "Ini tidak mungkin pelakunya binatang buas. Kalau binatang buas menemukan Bagas, setidaknya ada banyak darah yang berceceran," terang Mark. "Atau bisa jadi Bagas beneran dibawa oleh hantu bus tadi," tambah Putri. "Putri, kamu jangan takut-takutin kami," tegur Sherly tidak mau bertemu dengan hantu bus lagi. "Aku tidak mau nakut-nakutin kalian. Ini hanya prediksi aku saja. Kalau bukan dia siapa lagi. Memangnya ada orang lain selain kita di hutan ini?" sahut Putri. Sherly langsung merinding mendengar perkataan Putri. Tangannya reflek memeluk tubuh sendiri. "Mark, darahnya memang hanya sampai di sini saja. Tidak ada lagi darah di sekitar sini," ujar Arga sudah menerawang ke area sekitarnya lebih jauh. "Sekarang kita sama sekali tidak ada petunjuk lagi tentang kebera

  • Misteri Bus Setan   Bab 12. Bagas Menghilang

    Tidak ada satupun di antara mereka yang menyadari suara Bagas terjatuh. Jarak yang cukup jauh serta suara hewan di tengah malam membuat suara bercampur aduk. Bagas ingin berteriak sekeras mungkin. Tangan dia yang patah tertimpa oleh tubuhnya sendiri. Belum sempat dia melakukan pemberontakan lagi, tubuhnya tiba-tiba diseret ke arah semak-semak sampai menghilang. Hantu bus menarik kerah belakang baju Bagas dengan tangan yang satu lagi. Dengan kepala ditaruh di lengan yang telah kehilangan tangan. Dia berjalan dengan perlahan masuk ke dalam hutan. Menarik tubuh Bagas dengan tenang. *** Suara burung dan serangga dalam hutan saling bersahutan, memecahkan kesunyian hutan. Membuat Sherly, Karla dan Putri semakin merapat. Mereka belum pernah berada di tengah hutan saat malam hari seperti ini. Mereka hanya pernah mengunjungi Villa dengan hutan yang tidak terlalu lebat dan juga memiliki penerangan yang lebih memadai. Mereka bertiga saling menguatkan diri. Tangan mereka juga saling bergande

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status