เข้าสู่ระบบDi balik ketenangan sebuah desa terpencil, tersembunyi rahasia kelam yang tak boleh diganggu. Bukit kecil, dua pohon beringin tua, sumur peninggalan Belanda, dan rawa yang tampak biasa ternyata menjadi gerbang menuju dunia lain—kampung bangsa lelembut yang tak kasat mata. Reza, perantau yang pulang kampung, tak sengaja melanggar larangan tak tertulis: Jangan pernah ambil sesuatu dari tanah itu. Sejak saat itu, dunia sekitarnya berubah. Bayangan-bayangan muncul dari kabut, suara-suara dari sumur memanggil namanya, dan sosok yang menyerupai dirinya sendiri mulai menampakkan wujud... Tanah Larangan adalah novel horor berdasarkan kisah nyata dari sebuah desa wingit di Indonesia. Atmosfer mencekam, teror perlahan yang merayap, dan misteri gaib yang siap menarik pembaca ke dunia lain—ini bukan sekadar cerita, ini adalah peringatan. Apakah kamu cukup berani untuk masuk, dan keluar dengan selamat? ---
ดูเพิ่มเติมMaria
An almost flat phone battery, ripped wedding dress, and horror are all I have, as I stumble on the rusty iron gate that leads to my father's house.
I pull my way into the old mansion covered in darkness, pulling down the creeping stems that covered the front door.
Some group of people have been trailing me since the mysterious death of my father earlier in the day. Hanging on a tiny thread of hope for survival, the best place I could think of for an escape is an abandoned property.
My phone vibrates as I glance behind, forcing my way into the building. I pick the call and slam the door shut. Dust settling over me from the harsh impact of the door against the crumbling building.
“Where are you, Maria.”
“I’m at Pentagon,” I reply, my whole body trembling as I slowly walk In, my eyes weary of tears.
“You went back there?”
“I couldn’t think of a better hideout.”
“Okay. Do not leave the mansion. I'll be there soon,” his thick voice assures at the other end of the line.
“No…No…you can't come anywhere close. They'll kill you,” I sob, falling on my knees as the memories flood back into my mind. I desperately need companion, but I could not bear the thought of bringing him into such a world as mine.
I hoped for freedom, instead, a pack of power hungry factions are after my life.
The last thing I intended was to allow Elvis anywhere close to my father’s dark world.
He's a sweet gentleman, deserving of something more. Certainly, not a girl like me. Daughter of a ruthless don. The wedding was his idea of giving me a new life. How stupid of me to think of such possibility?
It would never be safe for him no matter how good his plan sounds. What was I ever thinking…that a girl like me could lead a normal life?
We planned a perfect small wedding. A happy ever after, far away from the claws of my father and his world. Until I was kidnapped right in the cathedral.
What should have been a fairy-tale wedding, turned out to be a bloodbath.
Unlike Elvis, I am now a murderer, no different from my late father.
So soon. Too soon, my wild imaginations of a perfect life have brought only pain to the man I always loved and a few others that died at the chapel.
"I don't care what they are, Maria. I'm coming for you. If they really want you dead, then they'll have to pass through me first." A new text from Elvis.
I try to call back. To stop him from making the mistake of his life. But my phone shuts down.
The damned phone dies. What now?
There's no stopping Elvis. His kind of love could be what every girl wishes for.
But who are my kidding? Elvis is weak. He could never stand against men like these. Men, strong enough to subdue a man like my father. The great Giovanni.
I would never be able to forgive myself, if Elvis becomes another victim in this clash.
A prolonged creaky sound comes from outside.
I jerk up from the cold ground, wrapping my arms around my shivering body, backing away from the direction of the sound. My eyes are fixed on the entrance.
They are here. A weapon is useless for defense, even if I had one on me.
I only pray for a less painful torture.
And with the Mafias, it is an impossible wish.
“Don't hurt me!" I scream with my eyes shut right as the door gives way to a faint ray of the setting sun outside.
“Maria,” i hear my name. It doesn't sound threatening. It's the same charming voice I fell for some two years ago. I open my eyes to my beloved, as he rushes towards me for an embrace.
I bury my face in his suits, in tears. He still looks as charming as he did when he stood at the altar before the awful incidence.
“I'm sorry, Elvis…”
“You stay quiet, honey. If there's anyone to apologize, it's me. I'm sorry I was late,"
He replies, raising my chin and placing a kiss on my trembling lips.
“Your beloved husband is here now. Nothing can separate us. Not even your father…”
I pull away from his embrace instantly, with eyes filled with tears. He didn’t know about it.
"They killed him."
I try to fight the tears as I break the news. The news I saw on the news myself, disguised as suicide. I know my father too well to believe the media.
“I think they are after me because I'm the only heir. And then they'll come for you because you have me," I add.
Our eyes meet as i speak, backing away from him.
“This thing…” I point at Elvis and then myself, “...Can't work. We've got to go our separate ways. It's the only way you can be safe."
I can hear the shattering of my heart as I speak the words. But it’s the only way out.
“You don't know what you're saying, Maria. I wasn't kidding at the altar when I made those vows. We have a plane to catch for our honeymoon. So would you keep quiet and stick to the plan?" He insists, closing the gap between us as he reaches for my hand.
“By the way I'm sorry about your father.”
“The same plan that almost got me killed, Elvis. It's a miracle I escaped them.”
I pull away again, "Don't you get it! Your life is in danger because of me. You have to go! Leave this town!”
“That's exactly what I'm doing, Maria. I'm leaving this town but not without my newly wedded wife. The cops are outside. We have their protection. Now, would you please…”
Tears escape the corners of his eyes as his words trail off. His sincerity, deep affection gives me a false sense of protection but I know better.
The cops are not enough to protect us. But, I let myself fall for the delusions as we walk out of the darkness into a fleet of cop cars.
The ground outside is covered in flashing siren lights, as some armed cops approach us to guide us into one of the convoys.
Just as Elvis reaches for the car door, a loud explosion blast into the night, suspending my senses for what seems like a minute as I find my body face-down to the ground, my hands clasped above my head.
Meski salah satu pohon beringin telah tumbang, desa itu tak kembali dalam kegelapan seperti dulu. Tak ada jeritan tengah malam, tak ada bayangan hitam melayang di atap rumah warga, tak ada lagi tubuh-tubuh kaku dengan mata kosong. Kehidupan berjalan seperti biasa, seperti tak ada apa-apa yang pernah terjadi.Namun, mereka yang peka tahu: tempat itu tetap sakral. Rawa itu tetap angker. Aroma kemenyan masih sesekali terbawa angin. Dan suara-suara yang tak terlihat asalnya, kadang masih terdengar sayup dari balik pepohonan dan kabut dini hari.Warga desa telah belajar. Belajar dari masa lalu yang nyaris menenggelamkan mereka dalam ketakutan. Kini, mereka hidup berdampingan dengan yang tak kasat mata. Mereka tak menantang, tak mencari tahu terlalu dalam. Jika ada sesuatu yang terasa ganjil, mereka cukup menunduk dan berdoa. Jika ada kegiatan besar—hajatan, panen, atau acara adat—mereka akan kirim sesaji. Mengirim doa. Mengirim izin kepada Putri Tanjung Biru, sang penguasa rawa yang tak pe
Waktu terus berjalan. Desa kecil itu hidup dalam ketenangan dan kemakmuran. Tak banyak yang menyadari bahwa semua keseimbangan itu bukan hanya karena kerja keras manusia, melainkan juga karena perjanjian halus yang mengikat antara dunia nyata dan dunia tak kasatmata. Dua pohon beringin yang berdiri kokoh di tepi rawa menjadi simbol dari penjagaan itu—penjaga batas antara dua dunia.Namun pagi itu, awan hitam menyelimuti langit sejak dini hari. Kabut turun tebal, lebih pekat dari biasanya, menyusup ke setiap sudut desa. Angin berhembus dengan suara lirih yang menggigit, seolah membawa pesan yang tak bisa diucapkan.Saat matahari mulai naik perlahan di balik awan kelabu, terdengar suara keras dari arah rawa. Suara seperti benda besar yang tumbang menghantam tanah. Tanah desa bergetar, membuat para warga keluar rumah dengan panik.Mereka berlari ke arah sumber suara—dan di sanalah mereka melihatnya.Salah satu pohon beringin tumbang. Akarnya terangkat dari tanah, seperti dicabut paksa ol
Sore itu langit mendung menggantung, tapi tak satu pun hujan jatuh. Suasana terasa ganjil namun tenang. Di gubuk dekat pohon beringin, Reza duduk berdampingan dengan istrinya. Tak banyak kata, hanya tatapan yang berbicara. Ada yang akan pergi… dan hanya mereka berdua yang tahu pasti ke mana.Menjelang magrib, Reza mendatangi rumah Bu Darmi. Langkahnya pelan, tapi mantap. Istrinya menunggu di kejauhan, berdiri di bawah cahaya jingga senja.“Bu… kami pamit,” ucap Reza pelan. “Waktunya sudah tiba.”Bu Darmi menatapnya lama, seperti menimbang-nimbang rasa. “Kamu yakin, Za?”Reza mengangguk. “Kami tidak akan jauh, tapi juga tak bisa sering kembali. Desa ini sudah aman. Pohon itu sudah tenang. Rawa itu pun sudah hidup.”Bu Darmi menghela napas, lalu menggenggam tangan Reza erat. “Kalau suatu saat kembali… kau tahu ke mana pulang.”Tanpa banyak tanya, tanpa ramai berpamitan, Reza dan istrinya berjalan pelan menyusuri jalan setapak menuju arah rawa. Dan saat malam benar-benar turun, kabut tip
Siang itu langit menggantung kelabu, mendung menutup seluruh desa. Tak lama, hujan turun dengan derasnya, membasahi tanah, menenggelamkan suara-suara alam. Petir sesekali menyambar, membuat anak-anak kecil berlari masuk ke dalam rumah. Tak seperti hujan biasanya, kali ini seperti membawa hawa yang berbeda—dingin, lembap, dan menekan dada.Hujan baru mereda saat waktu Asar tiba. Azan menggema di udara yang masih lembab. Di sela gerimis kecil yang masih menetes dari langit, seorang perempuan terlihat berjalan pelan menuju ke arah gubuk Reza. Langkahnya ringan, seperti tak menyentuh tanah. Rambut panjangnya terurai, kain panjang yang dikenakannya basah menempel di tubuh, tapi tetap terlihat anggun.Seorang warga, Pak Midun, yang kebetulan sedang mengambil rumput untuk ternaknya, tanpa sengaja melihat perempuan itu. Ia tertegun, tak mampu berkata apa-apa. Bukan karena takut, tapi karena perempuan itu terlihat sangat cantik, sangat tenang, dan... bukan seperti perempuan biasa.Keesokan har
Dini hari itu, setelah upacara penutupan sumur dan rawa, semua warga berharap ketenangan akan kembali. Tapi mereka salah.Keesokan paginya, tubuh Pak Sastro ditemukan di bawah pohon beringin. Mata terbuka menatap kosong ke langit, mulutnya ternganga seolah ingin berteriak, dan seluruh tubuhnya tert
Pagi itu, langit di atas desa tampak tenang. Matahari bersinar hangat, burung berkicau riang, dan udara terasa bersih. Warga yang kemarin histeris dan kalut kini seperti terbangun dari tidur panjang. Mereka tak sepenuhnya ingat apa yang terjadi. Namun ada satu hal yang semua orang tahu dengan past
Malam itu, langit desa seperti terbelah. Awan hitam menggulung tebal, menutup bulan sepenuhnya. Tak ada cahaya. Hanya suara malam yang aneh—sunyi, namun menyimpan sesuatu yang mengintai.Reza berdiri di teras rumahnya, menatap ke arah bukit. Angin malam menyapu dedaunan, namun tak ada suara jangkri
Sudah tiga hari sejak Reza kembali dari tempat itu—dari dunia di balik cermin yang tak semestinya dijamah manusia. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi pikirannya jauh lebih berat. Ia terus teringat sosok makhluk bersisik itu... dan suara-suara yang masih terngiang meski ia sudah terbangun.Namun yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.