LOGINKehidupan Kamelia begitu buruk. Mendapat suami toxic dan malas, membuatnya harus bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup. Namun cobaan itu bertambah berat saat Kamelia sakit struk dan mengakibatkan tubuhnya lumpuh. Kemalangan itu membuat seluruh kehidupan mereka ikut tumbang. Rozi yang syok dengan semua ini, tidak bisa mengendalikan diri. Dia stres dan depresi karena penopang hidupnya yaitu istrinya kolaps. Lalu suatu hari, dia meninggalkan istri dan ketiga anaknya untuk melepaskan penat dengan hobi memancing. Istri dan ketiga anaknya terkurung dalam rumah yang pekat dan gelap selama seharian. Tanpa makan, tanpa minum. Lalu satu kejadian menambah penderitaan itu semakin mengerikan. Anak keduanya yang baru berumur 4 tahun, menyalakan kompor hendak menggoreng telur karena lapar. Namun malangnya, api dari kompor itu malah menyambar kain lap yang ada di sampingnya hingga membuat rumah keluarga kecil itu terbakar. Sialnya, Kamelia beserta ketiga anaknya turut terbakar! Dalam kobaran api yang perlahan-lahan menghanguskan tubuhnya dan anak-anak itu, Kamelia bersumpah akan menuntut balas atas perlakuan suaminya!
View More"Tolooong! Tolooong!" Suara teriakan Bu Hayati memecah suasana siang itu. Orang-orang berdatangan ke rumahnya. Mereka Mendapati Hayati menangis sembari meminta tolong pada warga."Kenapa, bulek?" tanya mereka.Hayati menangis-nangis sembari menunjuk ke dalam. "Pak Abdi ... dia ... dia mati!" ujarnya.Orang-orang terkejut. Mereka langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Pemuda itu masuk ke dalam kamar belakang yang dihuni oleh Rozi dan Arumi. Mereka terkejut ketika melihat suami Bu Hayati itu tergeletak di lantai dengan mata melotot dan lidah menjulur serta kemaluan yang terkoyak."Astaghfirullah! Kenapa jadi gini?" gumam pemuda itu."Panggil, panggil polisi!" ujar mereka.Akhirnya, perangkat desa memanggil polisi karena warga tidak ada yang mau mendekat melihat kondisi jenazah yang mengerikan. Takutnya kena masalah nanti kan gawat.Polisi tiba di tempat kejadian perkara beberapa menit kemudian, mereka langsung membawa jasad Pak Abdi ke rumah sakit kepolisian untuk diotopsi. Sementara
Rozi membuka tudung saji di meja, tidak ada apa pun. Dia menghela napas. Lalu pemuda itu mencari sesuatu di dalam kulkas. Ada telur. Dia langsung mengambil telur itu dan menggorengnya. Sembari menunggu minyak panas, Rozi melamun. Dulu, walau pun dia gak kerja, makanan selalu ada di meja. Tiap dia pulang memancing, walau tidak dapat ikan, tapi hampir setiap hari selalu ada ikan di meja makan, lengkap dengan sambal dan lalap. Sekarang ... kesepian itu benar-benar terasa. Barulah Rozi paham lirik lagu dangdut lawas yang bunyinya seperti ini, "Kalau sudah, tiada, baru terasa. Bahwa kehadirannya, sungguh bermakna."Dia menyesap air mata yang menggenang, menghapusnya sebelum dia mengalir. Minyak telah berasap, Rozi langsung memecahkan telur dan menggorengnya. Setelah selesai, dia mengambil nasi lalu makan dengan telur goreng beserta nasi yang diberi minyak dan garam. Pria itu makan lahap sekali. Sebenarnya dia malu numpang hidup dengan ibunya, tapi mau bagaimana lagi. Saat tengah makan, b
"Maliki! Bangun! Maliki!"Pemuda itu membuka mata. Dia melihat sekeliling, ibunya tampak cemas. Lalu, dia bangun dan menyadari dirinya ada di lantai depan."Ibu?""Kamu ngapain tidur di sini! Bangun!"Maliki melihat cuaca, langit masih kelam. Lalu dia bertanya pada ibunya ini jam berapa."Jam berapa ini, Bu?""Udah jam 4 subuh! Ngapain kamu tidur di sini, Maliki! Ayo bangun!"Wati mengangkat tubuh anaknya lalu membawa Maliki masuk. Pemuda itu masih bingung. Tapi dia ingat betul apa yang terjadi padanya semalam. Sosok Kamelia mencekiknya hingga dia hampir mati. Spontan, Maliki meraba lehernya. Apa semua itu hanya mimpi? Maliki berpikir keras.Wanita menyadari tingkah anak itu, lalu dia melihat anaknya mengusap-usap lehernya sendiri. Wati menyadari sesuatu."Tunggu! Leher kamu kenapa?"Wati menyingkirkan tangan Maliki dan membuat anaknya mendongak. Benar saja, leher anaknya membiru, tercetak jelas buku lima jari di sana."Kamu dicekik seseorang, Nak?" gumam Wati."Eh, ndak ... ndak kok
Rumah kontrakan tempat Kamelia yang meninggal itu menjadi angker. Setiap malam, terdengar teriakan yang menyayat hati dari sana. Warga menjadi ketar-ketir dan resah. Pasalnya, jangankan untuk masuk dan mengecek, mereka memilih meringkuk di balik selimut dan ketakutan."Halah, mana ada. Itu semua cuma mainan jin," ujar Maliki, salah satu pemuda kompleks tersebut. Dia sedang nongkrong di pos depan bersama teman-temannya. Maliki ini agak besar omong. Dia mengecilkan semua pendapat dan berkata pendapatnya yang paling benar. Begitu juga saat ini, di hadapan warga yang sedang ronda, dia mulai jumawa."Itu semua permainan jin, jangan takut. Kita sebagai warga kudu merukyah rumah itu. Liat aja, gimana gak jadi sarang jin, kondisi rumah yang tinggal puing gak dihancurkan. Harusnya rumah yang kebakar segera dihancurkan biar lapang aja," sambung Maliki."Masalahnya pemilik rumah tuh masih belum setuju. Pak RT harus tegas nih, Pak RT. Kalau tidak, bisa mencekam terus kompleks kita. Tadi aja ada
"Husst, jangan bicara kek gitu, Nak," ujar Rozi."Tapi emang iya, ibu semalam ke sini. Dia bilang ...""Cukup! Ayah ndak suka Arumi ngomong yang aneh-aneh. Itu bukan ibu, bukan apa-apa, ndak ada apa-apa," ujar lelaki itu.Dia tampak gelisah karena Arumi berkata seperti itu. Sementara Arumi menunduk
Rumah kontrakan mereka telah terbakar berikut isinya, tak ada yang bisa diselamatkan sama sekali. Akhirnya, Rozi membawa anak sulungnya ke rumah orang tuanya.Pak Abdi dan Hayati, kedua orang tua Rozi, menerima anak dan cucu mereka dengan perasaan sedih dan pedih.Arumi menangis memeluk ayahnya. Ki
Sebuah ledakan terdengar dari dapur. Kompor yang dinyalakan Fahri, terus menerus nenerima panas hingga membuat rumah mereka berasap. Kuali yang bertengger di atasnya meletup hingga terpelanting dan membentur keramik. Belum lagi asap pekat beracun yang terbentuk karena lap terbakar. Api sedang menca
Lima menit setelah Rozi pergi, Rani kembali menangis. Bayi kecil itu sepertinya sangat kehausan. Kamelia menatap tak berdaya ke arah sang bayi. Bisa-bisanya Rozi pergi padahal mereka tidak bisa melakukan apa pun?Sementara Fahri dan Delisa menghambur-hamburkan nasi di ruang depan.Kamelia menangis






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews