Share

Bab 3

Penulis: Ichageul
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-06 09:58:22

"Ini darah apa?" gumam Fauzia pelan.

Untuk sesaat wanita itu masih terlihat bingung sampai teriakan Kokom kembali terdengar, mengembalikan kesadaran Fauzia pada tempatnya.

"Uzi!!!"

TOK

TOK

TOK

"Iya, Bu! Sebentar!!"

Fauzia bergegas beranjak dari kasur. Dia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci bersih tangannya dari noda darah. Kemudian mengganti pakaiannya. Dimasukkannya pakaian yang terdapat noda darah tersebut ke dalam plastik hitam kemudian menyembunyikannya di laci lemari. Wanita itu merapihkan penampilannya sebentar sebelum membukakan pintu.

Nampak Kokom berdiri di depan pintu. Matanya langsung menelisik ke dalam rumah, seolah-olah sedang mencari sesuatu.

"Bu Kokom ada apa ke sini pagi-pagi?" tegur Fauzia yang merasa keberatan dengan kedatangan tetangganya itu.

"Angga mana?"

Fauzia lebih dulu melihat jam yang tergantung di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit.

"Kang Angga sudah berangkat ke sekolah," bohong Fauzia. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu di mana keberadaan suaminya. Saat terbangun, wanita itu tidak mendapati sang suami berada di sisinya.

"Masa? Kok saya ngga lihat Angga lewat tadi."

Rumah Kokom memang tidak jauh dari rumah Fauzia. Dan kalau Angga berangkat kerja, pasti melewati depan rumah Kokom.

"Mungkin Bu Kokom sedang di dalam waktu Kang Angga lewat. Sebenarnya Bu Kokom ke sini mau apa?" kesal Fauzia.

"Saya cuma mau pinjam blender."

"Sebentar."

Fauzia bergegas menuju ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa blender. Segera diserahkannya alat tersebut pada Kokom untuk mengusir wanita itu agar cepat pergi dari rumahnya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Kokom bermaksud hendak pergi, tapi wanita itu kembali lagi.

"Uzi, kamu sedang ribut dengan Angga?"

"Ngga. Bu Kokom jangan ngada-ngada ya."

"Kemarin aku dengar kalian sedang bertengkar hebat."

"Kapan?"

Kening Fauzia nampak mengernyit karena memang tidak ada pertengkaran antara dirinya dengan Angga. Namun wajah Kokom nampak serius, sepertinya dia yakin sekali dengan yang didengarnya kemarin.

"Kemarin. Kamu bertengkar gara-gara Andika."

"Bu Kokom jangan nyebar gosip. Hubungan saya dan Kang Angga baik-baik saja. Dan saya juga tidak ada hubungan apa-apa dengan Andika. Suami saya sangat mencintai saya dan tolong jangan rusak rumah tangga saya hanya karena kecurigaan Bu Kokom. Saya lebih tahu rumah tangga saya dibanding orang lain. Silakan Bu Kokom pergi."

Fauzia sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengusir Kokom. Wanita itu sudah mencampuri kehidupan rumah tangganya. Melihat wajah Fauzia yang sudah tidak ramah lagi, Kokom pun segera berlalu.

Sepeninggal Kokom, Fauzia bergegas masuk ke dalam kamar. Dia membuka kembali bungkusan yang berisi pakaiannya. Diperhatikannya baju tidur miliknya yang terdapat noda darah di bagian dada dan juga bagian bawah. Wanita itu mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.

Seingatnya semalam Kokom datang memberikan bandrex untuknya dan juga Angga. Keduanya menghabiskan minuman tersebut lalu masuk ke dalam kamar. Setelah itu Fauzia tidak mengingat apa-apa lagi. Bahkan rencana mereka untuk bercinta pun tidak diingat lagi oleh Fauzia.

"Ada apa denganku? Kenapa aku tidak ingat kejadian semalam?"

Tak ingin terus kebingungan, Fauzia mencari ponselnya. Wanita itu segera menghubungi nomor Angga. Namun sampai deringan terakhir, suaminya itu tak juga menjawab panggilannya.

"Mungkin Kang Angga sedang mengajar. Lebih baik aku ke koperasi sekarang. Nanti sepulang kerja, aku akan menanyakan pada Kang Angga."

Fauzia memasukkan kembali pakaian miliknya ke dalam plastik hitam lalu menaruhnya ke dalam laci. Selanjutnya wanita itu segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

*

*

*

Ketika sampai di koperasi, hampir semua temannya sudah datang. Pandangan Fauzia langsung tertuju pada meja Andika. Dia tidak bisa menemukan keberadaan lelaki itu di sana.

"Andika tidak masuk kerja?" tanya Fauzia pada salah satu rekannya.

"Sejak kemarin dia tidak kelihatan. Mungkin dia sudah pergi dari desa ini," jawab Murni.

"Aku lihat Angga dan Andika sempat bersitegang. Apa itu gara-gara kamu, Uzi?" tanya Sari.

"Aku?"

"Iya, bukannya kamu selama ini menjalin hubungan diam-diam dengan Andika? Pasti perselingkuhan kalian sudah tercium oleh Angga. Kepergian Andika pasti ada hubungannya dengan Angga."

"Astaghfirullah, kalian ngomong apa sih?"

"Andika sudah menceritakannya padaku kalau kalian ada hubungan. Bahkan Bu Kokom melihat Andika keluar dari rumahmu. Kamu berani sekali, Zi."

Fauzia memperhatikan semua rekan kerjanya. Pandangan semua orang dirasa sangat menghakiminya. Fauzia dituduh melakukan hal yang tidak dilakukannya sama sekali. Hanya Murni saja yang tidak terpengaruh oleh ucapan yang lain.

"Apa kalian punya buktinya kalau Uzi berselingkuh dengan Andika?" tanya Murni.

"Andika yang bilang padaku."

"Bisa saja Andika yang berbohong. Sejak awal masuk dia memang sudah tertarik pada Uzi. Dan Uzi sendiri menyangkal soal perselingkuhan itu. Kalian lebih mempercayai Andika yang baru kita kenal satu bulan dibanding Uzi yang sudah bertahun-tahun?"

Semua terdiam mendengar ucapan Murni. Wanita itu mendekati Fauzia lalu menepuk pundaknya pelan. Murni meminta Fauzia kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaan. Pikiran Fauzia tidak bisa tenang begitu saja. Dia merasa ada yang janggal soal Andika, entah apa.

*

*

*

Malam mulai beranjak turun, namun Angga masih belum pulang ke rumah. Fauzia mulai cemas, dia mencoba menghubungi suaminya, namun masih belum ada jawaban.

Wanita itu mengambil cardigan untuk melapisi pakaiannya lalu bergegas menuju rumah Pak Didi, rekan Angga di sekolah. Tak sampai sepuluh menit, Fauzia sudah sampai di rumah pria itu. Dengan cepat Fauzia mengetuk seraya mengucapkan salam. Tak lama berselang terdengar orang menjawab salam dan pintu terbuka setelahnya.

"Uzi.." panggil Didi.

"Pak Didi, punten kalau Kang Angga kemana ya? Kok sampai sekarang belum pulang? Ada acara apa di sekolah? Saya hubungi hapenya juga tidak dijawab."

"Loh, bukannya Angga ngga masuk hari ini? Justru saya yang mau tanya, Angga kemana sampai ngga masuk dan kasih kabar."

"Hah? Kang Angga ngga ke sekolah?"

Kecemasan langsung merayapi hati Fauzia. Apalagi dia tahu kalau hari ini Andika juga tidak masuk kerja. Apa menghilangnya Angga ada hubungannya dengan Andika?

"Pak Didi, gimana ini? Di mana suami saya sebenarnya?"

"Tenang dulu, Uzi. Lebih baik kamu masuk dulu."

Fauzia mengikuti saran Didi. Wanita itu segera masuk ke dalam rumah. Didi meminta istrinya membuatkan minuman hangat untuk Fauzia. Tak lama kemudian istri Didi datang membawakan segelas teh manis hangat.

"Diminum dulu Dek Uzi."

"Terima kasih, Bu."

Fauzia mengambil gelas berisi teh hangat kemudian menyesapnya pelan. Wanita itu kembali meletakkan gelas di atas meja.

"Coba ceritakan apa yang terjadi sebelum Angga menghilang," ujar Didi.

"Malam itu kami hanya berbincang saja. Kang Angga bahkan baru membelikan hadiah kalung untuk saya," Fauzia memperlihatkan kalung yang diberikan Angga kemarin malam.

"Waktu kamu hendak masuk ke kamar, datang Bu Kokom mengantarkan bandrex untuk saya dan suami saya. Setelah menghabiskan bandrex, kami masuk ke kamar karena saya tiba-tiba mengantuk dan setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi. Besok paginya begitu bangun, Kang Angga sudah tidak ada. Saya pikir Kang Angga sudah berangkat ke sekolah karena saya bangun kesiangan."

Kepala Didi mengangguk-angguk tanda mengerti. Hilangnya Angga secara tiba-tiba tentu saja meninggalkan pertanyaan dan kekhawatiran pada Fauzia. Wajah wanita itu nampak cemas.

"Saya harus bagaimana Pak Didi? Saya harus tanya sama siapa?"

"Lebih baik kita ke Pak RT dulu. Kita laporkan soal hilangnya Angga dan minta bantuan warga untuk mencarinya."

"Baik, Pak."

Bersama dengan Didi, Fauzia pergi ke rumah Pak Bandi, ketua RT tempatnya tinggal. Fauzia kembali menceritakan apa yang terjadi. Bandi memanggil beberapa warga dan mengajaknya mencari Angga.

Hampir dua jam lamanya Fauzia dan warga lain berkeliling mencari keberadaan Angga. Namun pria itu tidak ditemukan sama sekali. Fauzia mulai menangis, dia takut sesuatu terjadi pada suaminya.

"Uzi.. tenang dulu. Kamu jangan menangis. Lebih baik kamu pulang dan biarkan kami yang mencari Angga."

Ditemani istri Didi, Fauzia kembali ke rumahnya. Kabar hilangnya Angga tentu saja menggegerkan tetangga Fauzia, termasuk Kokom. Dia bersama ibu yang lain mendatangi kediaman Fauzia.

Di saat ibu yang lain menemani Fauzia di ruang tamu, Kokom diam-diam menyelinap masuk. Wanita itu menuju dapur, mencari-cari sesuatu entah apa. Kemudian dia mencari ke tempat lain, termasuk kamar mandi. Tapi masih belum menemukan apa yang dicarinya.

Kini hanya tinggal kamar Fauzia saja yang belum digeledah. Sambil mengendap-endap Kokom menuju kamar Fauzia. Ketika perhatian yang lain tidak tertuju padanya, dengan cepat Kokom menyelinap masuk. Wanita itu mulai menggeledah kamar Fauzia.

Dia membuka lemari pakaian dan melihat-lihat isi dalamnya. Kokom lalu membuka laci yang ada di bagian bawah. Matanya menangkap plastik hitam di sana. Dengan cepat dia mengambil plastik tersebut lalu mengeluarkan isinya. Wanita itu terkejut ketika melihat pakaian tidur Uzi yang terdapat noda darah. Buru-buru Kokom keluar sambil membawa baju tersebut.

"Uzi.. ini apa?"

Kepala Fauzia menoleh. Dia terkejut Kokom memegang pakaian miliknya yang terdapat noda darah. Wanita itu ingat betul kalau menyembunyikan pakaian tersebut di laci lemari. Berarti Kokom menggeledah kamarnya tanpa sepengetahuannya.

"Bu Kokom ngapain di kamar saya?!" tanya Fauzia kesal.

"Bu Kokom dapat itu dari mana?" tanya Bu RT.

"Ini saya dapat dari kamar Uzi. Disembunyikan di laci lemari. Ini baju kamu kan? Terus ini darah siapa?"

"Bu Kokom lancang! Untuk apa Bu Kokom menggeledah kamar saya?!"

Wajah Fauzia memerah menunjukkan kemarahan dan kekesalannya. Bu RT mendekati Kokom lalu mengambil baju tersebut. Dia terkejut melihat pakaian tidur Fauzia yang terdapat noda darah.

"Ini darah apa?"

"Mungkin ini darah Angga! Saya curiga dia yang sudah membunuh Angga!" tangan Kokom menunjuk pada Fauzia.

"Bu Kokom jangan asal tuduh! Mana mungkin saya membunuh suami saya sendiri?"

"Bisa aja kalau kamu sudah kepincut laki-laki lain. Bukannya selama ini kamu berselingkuh dengan Andika."

"Tutup mulut Bu Kokom. Justru saya curiga pada Bu Kokom, jangan-jangan Ibu yang sudah kasih obat tidur ke minuman saya!"

Suasana antara Fauzia dan Kokom semakin tegang. Mereka jadi bertanya-tanya tentang hilangnya Angga. Benarkah sesuai dengan tuduhan Kokom? Apalagi ada bukti kuat di tangannya. Bu RT meminta salah satu warga mencari suaminya. Masalah pelik seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan mudah.

Lima belas menit kemudian Pak RT datang bersama warga yang lain. Bu RT segera menjelaskan duduk persoalan yang terjadi. Pak RT mengambil baju di tangan Kokom.

"Pak Usep, segera hubungi Polisi. Sepertinya kita butuh bantuan Polisi ingin kasus ini. Dan jaga Uzi, jangan sampai dia melarikan diri."

"Pak! Saya tidak membunuh suami saya! Saya tidak bersalah!" teriak Fauzia.

"Kamu membunuh atau tidak, biar polisi yang menyelidikinya. Sampai sekarang Angga belum bisa ditemukan. Pak Darman, tolong ajak warga yang lain untuk terus mencari keberadaan Angga. Kita harus menemukannya hidup atau mati."

Fauzia hanya bisa menangis mendengar ucapan Pak RT. Sudah suaminya menghilang, sekarang dirinya dituduh membunuh sang suami. Ingin rasanya Fauzia berteriak kencang dan menangis sejadinya. Namun dia tahu kalau itu bukanlah solusi.

Usai menghubungi Polisi, Usep segera bergabung dengan warga yang lain untuk mencari keberadaan Angga. Bersama dengan empat orang pemuda, Usep menuju kebun pisang milik Pak Bondan. Dengan menggunakan senter, dia mencari guru sekolah itu di setiap sudut.

Tiba-tiba senter Usep mengarah pada sebuah pohon pisang. Betul pohon pisang tersebut mencurigakan, seperti baru ditanam kembali. Dia mengajak empat orang yang bersamanya untuk menggali pohon pisang tersebut.

Dugaannya benar, pohon pisang ditancapkan asal oleh seseorang. Kelima pria itu terus menggali sampai akhirnya mereka menemukan sesuatu yang terbungkus plastik sampah hitam. Usep dan yang lain menarik plastik sampah tersebut. Ketika Usep membuat pengikat plastik, pria itu terpekik begitu melihat isinya.

"Angga!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 43

    Mata Fauzia dan Daffa terus melihat pada monitor di depan mereka? Keduanya telinga mereka terus mendengarkan apa yang dikatakan dokter kandungan. Upaya pasangan suami istri itu mengikuti program kehamilan membuahkan hasil. Sekarang Fauzia sedang mengandung buah hati pertamanya. Usia kehamilan Fauzia sekarang sudah memasuki usia lima bulan. "Sejauh ini kondisi janinnya sehat. Air ketubannya juga cukup. Pertumbuhan janinnya juga berjalan normal." Terang sang dokter kandungan setelah memeriksa kehamilan Fauzia menggunakan USG. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di meja kerja sang dokter. "Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Daffa. Pria itu sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak pertamanya. Dokter wanita itu hanya mengulum senyum saja. Mengetahui jenis kelamin anak yang masih dalam kandungan memang sering ditanyakan pasangan yang kontrol kandungan padanya. "In Syaa Allah kalau tidak ada kesalahan, anak Bapak dan Ibu laki-laki." "Alhamdulillah." Kalima

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 42

    "Ananda Muhammad Syahreza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Keyla Salsabila dengan mas kawin sebuah vila senilai 1 milyar rupiah dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Keyla Salsabila binti Egi Sudjana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana saksi?" "Sah!" Baik Reza maupun Ayah dari Keyla sama-sama mengucap syukur. Ijab kabul berhasil dilakukan tanpa hambatan. Reza menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki. Keyla yang terbalut kebaya warna putih gading berjalan mendekatinya didampingi oleh Ibunda tercinta dan Murni. Kedua wanita itu mengantarkan Keyla sampai ke dekat meja akad. Reza bangun dari duduknya kemudian menyambut kedatangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Pria itu membantu Keyla duduk di sebelahnya. "Silakan dipasangkan cincin pernikahannya," ujar sang penghulu. Sebuah kotak beludru diberikan oleh Daffa. Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Kedua pengantin memasangkan cincin ke jari masing-mas

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 41

    Usai menemui Imron, Salim tidak langsung pulang. Pria itu lebih dulu menemui Rafi yang juga ditahan di lapas yang sama. Walau Rafi sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarganya, namun Salim merasa harus memberitahu kabar kematian Anita. Bagaimana pun juga Rafi pernah menjadi bagian keluarga mereka selama dua puluh tahun lebih. Mata Salim memandangi Rafi yang baru saja memasuki ruangan. Wajah pria itu nampak kuyu, tubuhnya juga lebih kurus dan rahangnya sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Dia menarik sebuah kursi di depan Salim. "Bagaimana kabar mu, Rafi?" "Seperti yang Papa lihat." Sebisa mungkin Rafi menghindari tatapan mata Salim, pria yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan Papa. Namun belakangan dia baru tahu kalau dirinya adalah anak haram dari Imron dan Anita. "Bersabarlah Rafi, jalani hukuman mu dengan tenang. Bertobatlah. Papa harap kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik sekeluarnya dari sini." Kepala Rafi terangkat. Sungguh pria itu tidak

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 40

    Di sebuah kamar sel lembaga pemasyarakatan, nampak Anita duduk di atas lantai dingin dengan punggung bersandar ke dinding di belakangnya.Wanita itu masih belum percaya kalau anak yang dikandungnya selama sembilan, ternyata bukanlah Rafi, melainkan Angga. Sungguh wanita itu tidak menyangka takdir akan mempermainkan dirinya sedemikian rupa. Siapa sangka Mita akan menukar bayinya demi membalaskan sakit hatinya.Airmata jatuh membasahi wajah Anita ketika mengingat semua perlakuan buruknya pada Angga hanya karena menganggap anak itu adalah buah hati dari Mita dan Salim.Sekali pun Anita tidak pernah menampilkan senyum di wajah untuk Angga. Yang ada hanya tatapan tajam dan penuh kebencian.Puncaknya ketika wanita itu memutuskan menghabisi nyawa Angga demi bisa mendapatkan harta Salim dan menyelamatkan posisi untuk Rafi. Bersama dengan Imron, keduanya merencanakan pembunuhan keji tanpa mereka tahu kalau orang yang hendak dihabisi adalah darah dagingnya sendiri.Anita memukuli dadanya bebe

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 39

    "Selamat Om. Semoga rumah tangganya samawa dan pernikahan Om langgeng sampai maut memisahkan." Fauzia memeluk Pamannya. Wanita itu bahagia, akhirnya sang Paman mau mengakhiri masa lajangnya bersama sahabatnya. "Terima kasih, Uzi." "Selamat Teh, eh apa aku sekarang harus memanggil Tante?" goda Fauzia. Murni hanya mengulum senyum saja mendengar godaan Fauzia. Jika boleh, dia ingin tetap dipanggil dengan sebutan Teteh. Tapi mengingat statusnya sekarang, mungkin memang lebih cocok jika dipanggil dengan sebutan Tante. Daffa menghampiri Faisal kemudian memeluknya erat. Sejak kecil pria itu sudah mengenal Faisal. Pria yang selama ini selalu bertahan dalam kesendirian, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. "Cepat beri Zia adik sepupu," ujar Daffa sambil tersenyum. "Kamu saja dulu yang punya anak. Masa sudah beberapa bulan menikah, masih belum bisa membuat Uzi hamil." "Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Zia." "Alasan." Daffa hanya tertawa kecil. Dia memang masih ing

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 38

    Sepasang insan masih asik melampiaskan kerinduan dengan melakukan percintaan. Suara deru nafas mereka terdengar bersahutan memenuhi seisi kamar. Peluh juga sudah membasahi tubuh keduanya. Daffa mengerang panjang ketika akhirnya pria itu sampai ke puncaknya. Dia mengeluarkan cukup banyak cairan kental yang sudah ditabungnya selama berada di Sidney. Sebuah kecupan diberikan Daffa di kening istrinya. Fauzia mengangkat tangannya kemudian membelai pipi suaminya dengan lembut. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Pelan-pelan Daffa menggulirkan tubuhnya ke samping. Ditariknya Fauzia ke dalam pelukannya. Beberapa kali kecupan didaratkan di bahu sang istri. "Bagaimana keadaan Reza?" "Bang Reza sepertinya masih belum menerima kalau dirinya anak Pak Salim. Pak Salim meminta Bang Reza tinggal di rumahnya dan membantu mengurus perusahaan. Tapi Bang Reza menolak." "Dia pasti masih terkejut dengan semua ini. Kita harus memberinya waktu." "Apa Mas mengijinkan kalau Bang Reza mau mengurus peru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status