Share

Bab 2

Penulis: Ichageul
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-03 05:23:04

"Uzi.. aku boleh minta minum?"

Fauzia yang sedang menyiram tanaman dikejutkan dengan suara seorang lelaki. Tiba-tiba saja Andika sudah berada di belakangnya. Tanpa mempedulikan permintaan Andika, Fauzia melanjutkan pekerjaannya. Dia sudah malas menanggapi Andika. Terkadang pria itu bersikap aneh dan membuat beberapa rekan kerja Fauzia salah paham padanya.

Pernah satu kali atasan Fauzia menegurnya. Menurut sang atasan sikap Fauzia kurang pantas karena selalu memberi respon pada Andika. Padahal jelas-jelas wanita itu sudah bersuami. Tentu saja Fauzia dibuat bingung. Selama ini dia merasa tidak pernah menanggapi Andika namun kenapa semua orang bersikap seolah-olah dirinya bermain api dengan Andika.

"Uzi.. aku haus. Masa minta minum saja tidak boleh."

Fauzia menghela nafasnya lalu melihat pada Andika. Wajah pria itu berkeringat dan nampak lelah. Entah apa yang sudah dilakukannya.

"Tunggu di sini."

Karena tak tega, akhirnya Fauzia masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan minuman. Bukannya menunggu seperti yang diperintahkan Fauzia, Andika justru ikut masuk ke dalam rumah. Seorang tetangga Fauzia yang sedang berada di halaman rumahnya melihat ke arah Andika.

"Ngapain laki-laki itu masuk ke rumah Uzi? Bukannya Angga sedang tidak ada di rumah," gumam wanita bertubuh gempal itu.

Baru saja Fauzia menuangkan air ke dalam gelas, tahu-tahu Andika sudah berdiri di sisinya. Tentu saja hal tersebut membuat wanita itu terkejut.

"Kenapa kamu masuk? Bukannya saya suruh tunggu di depan."

"Di luas panas, aku ngadem sebentar di sini."

"Keluar! Aku ngga mau orang salah paham melihatmu masuk ke rumah. Apalagi tidak ada Kang Angga di rumah."

Tanpa mempedulikan omelan Fauzia, Andika menyambar gelas lalu meneguk isinya sampai habis. Setelah minumannya habis, Andika segera keluar dari rumah. Wajahnya nampak sumringah ketika keluar dari rumah. Sudut matanya melirik tetangga Fauzia yang masih memperhatikannya.

Andika mengeluarkan ponselnya, berpura-pura ada yang menghubunginya. Lalu pria itu sengaja melintas di depan tetangga Fauzia.

"Iya, Uzi sayang. Nanti malam aku ke rumahmu lagi kalau suamimu sudah tidur."

Senyum tipis tersungging di bibir Andika ketika tahu kalau wanita yang dilintasinya menguping pembicaraannya. Sepeninggal Andika, wanita itu bergegas mendekati rumah Fauzia.

"Uzi.. Uzi.." panggilnya.

"Eh Bu Sarni, ada apa?"

"Kamu kenapa sembarangan masukin lelaki ke dalam rumah? Ingat Uzi, kamu itu wanita bersuami dan suamimu juga sedang tidak di rumah. Kamu mau ada hubungan dengan pria tadi atau ngga, saya ngga peduli. Tapi saya ngga suka kamu melakukannya di sini. Nanti kampung kita yang terkena imbasnya kalau ada yang berzina."

Setelah melemparkan tuduhan sepihaknya, wanita bernama Sarni itu segera meninggalkan Fauzia. Ditinggal begitu saja tanpa bisa membela diri, Fauzia tentu saja kesal. Wanita itu memilih masuk ke dalam rumah. Dia segera menghubungi suaminya.

*

*

*

Malam harinya Angga dan Fauzia sedang berbincang di atas kasur. Hal biasa yang mereka lakukan sebelum tidur. Mereka kerap membicarakan apa saja yang dirasa perlu dibahas. Kali ini Fauzia mengeluarkan uneg-unegnya tentang Andika dan tuduhan Bu Sarni padanya.

"Aku kesal banget sama Andika, Kang. Aku malas kerja lagi, aku mau resign aja."

"Terserah kamu kalau mau resign. Nanti Akang akan temui Andika. Akang akan tegur dia. Beraninya dia mengganggu kamu," geram Angga.

Rahang pria itu nampak mengeras. Pria mana yang tidak marah kalau istrinya diganggu pria lain. Fauzia menyadarkan kepalanya di dada Angga.

"Tapi jangan pakai kekerasan, Kang. Aku takut Akang kenapa-kenapa nantinya."

"Kamu tenang aja."

"Terus soal Bu Sarni yang salah paham gimana?"

"Biarkan saja. Toh kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan Andika. Akang lebih percaya kamu."

Sebuah kecupan diberikan Angga di kening istrinya. Kemudian pria itu membelai lembut punggung dan paha istrinya. Fauzia sudah paham apa yang diinginkan suaminya.

"Neng, ayo kita usaha lagi. Siapa tahu yang sekarang membuahkan hasil."

"Iya, Kang."

Tidak ada penolakan dari Fauzia, malah wanita itu nampak bersemangat. Dia juga sudah merindukan sentuhan suaminya. Angga membaringkan Fauzia di kasur dan bersiap untuk mendayung nirwana bersama sang istri.

*

*

*

Dengan tergesa, Kokom, wanita yang terkenal paling suka bergosip di kampung ini berjalan mendekati kumpulan ibu-ibu.

"Eh Bu Kokom mau kemana?"

"Sengaja mau ke sini."

"Wah jangan-jangan ada gosip terbaru ya," terka salah satu ibu.

"Iya. Barusan aku lewat rumahnya Angga. Ngga sengaja aku lagi dengar mereka sedang bertengkar hebat "

"Angga dan Uzi?"

"Iya."

"Masa sih? Bukannya pasangan itu selalu terlihat mesra."

"Terlihat mesra di depan aja kali Bu. Kan dalamnya rumah tangga mereka seperti apa, kita ngga tahu."

"Memangnya mereka bertengkar karena apa?" salah satu Ibu nampak penasaran.

"Aku ngga tahu pasti. Tapi tadi aku sempat dengar, Angga nyebut-nyebut nama Andika."

"Andika yang warga baru itu?"

"Iya."

"Eh aku dengar dari Tuti, memang ada hubungan antara Uzi dan Andika. Uzi malah sampai kena tegur Pak Wahab."

"Kok aku ngga percaya ya?"

"Iya, rasanya ngga mungkin Uzi selingkuh."

"Ya aku mana tahu. Kan cuma dengar selentingan aja."

"Tapi bisa jadi. Kan selama nikah Angga dan Uzi belum dikaruniai anak, siapa tahu Uzi mulai goyah dan coba cari peruntungan berhubungan dengan Andika, hihihi..."

Kokom mengakhiri gosipnya dengan mengeluarkan spekulasi yang semakin membuat situasi tak terkendali. Beberapa di antara mereka mulai ternakan gosip yang disebarkan Kokom, sebagian lagi tidak percaya.

Sedang asik bergibah, tiba-tiba saja orang yang dibicarakan melintas tak jauh dari mereka. Andika berjalan santai melewati kumpulan ibu-ibu tersebut.

"ANDIKA!"

Baik Andika maupun ibu-ibu yang sedang berkumpul dikejutkan dengan suara teriakan seseorang. Nampak Angga berjalan tergesa menghampiri pria itu. Wajahnya terlihat tak bersahabat. Dia kesal karena Andika terus mengirimkan pesan cinta pada istrinya. Sesampainya di dekat Andika, tanpa banyak bicara, Angga langsung menghadiahi bogeman di wajah Andika. Pria itu kemudian menarik kerah kaos pria yang selalu saja menggoda istrinya.

"Aku peringatkan padamu, jauhi Uzi!! Dia itu perempuan bersuami dan aku suaminya!" geram Angga.

"Istrimu duluan yang mendekatiku dan mengirimkan pesan cinta padaku. Mau kubuktikan?"

BUGH!

Kembali sebuah bogeman mendarat di wajah Andika. Kali ini pukulannya cukup keras hingga melukai sudut bibir pria itu. Andika mengusap sudut bibirnya yang berdarah seraya membuang ludah ke tanah.

"Jauhi Uzi!! Atau kamu akan merasakan lebih dari ini!"

Setelah mengatakan itu, Angga segera meninggalkan Andika. Tak dipedulikannya tatapan orang-orang yang tadi melihat aksinya. Yang penting dia sudah melupakan amarahnya pada Andika yang terus saja mendekati dan menggoda Fauzia.

*

*

*

"Kang, ini tanganmu kenapa?"

Fauzia melihat punggung tangan Angga yang sedikit lecet. Tidak ada jawaban dari Angga. Pria itu malah menarik sang istri ke dalam pelukannya.

"Kenapa, Kang?" tanya Fauzia lagi.

"Ngga apa-apa. Tadi akang baru menghajar Andika. Akang beri dia pelajaran supaya tidak terus-terusan mengganggumu."

"Akang ngga pernah main fisik sebelumnya. Pasti ini sakit sekali. Aku obatin ya, Kang."

"Ngga usah."

Tanpa mempedulikan protesan Angga, Fauzia segera beranjak mengambil kotak P3K. Wanita itu membersihkan dulu luka Angga, baru kemudian memberinya Betadine. Fauzia meniup Betadine agar cepat kering. Angga tersenyum melihat perhatian sang istri yang begitu besar.

"Sayang, Akang mau mengatakan sesuatu."

"Soal apa, Kang?"

"Akhir-akhir ini Papa menghubungi akang, menanyakan kapan Akang bergabung dengan perusahaan."

"Akang mau mengurus perusahaan?"

"Akang belum tahu. Akang masih betah tinggal di sini. Di sini sangat tenang dan Akang tidak perlu ikut bersaing mendapatkan perusahaan dengan Rafi atau Om Imron. Tapi Papa butuh bantuan Akang."

"Jadi gimana, Kang?"

"Entahlah. Akang masih menimbang. Kalau Akang memutuskan menerima tawaran Papa, kamu ngga keberatan kan?"

"Ngga, Kang. Akang suamiku, sudah pasti aku harus mendukung apa yang dilakukan suamiku."

"Tapi kamu tahu sendiri, keluargaku tidak menyukaimu. Akang takut mereka menyulitkanmu."

"Ngga masalah. Asal Akang selalu ada untukku. Apa pun akan kuhadapi."

"Terima kasih, sayang."

Angga menarik Fauzia ke dekatnya. Pria itu kemudian menyatukan bibir mereka. Sebelah tangan Angga menahan tengkuk sang istri dan sebelahnya lagi memeluk pinggangnya erat. Keduanya terus menyalurkan cinta melalui ciuman yang begitu mesra dan lembut.

Ciuman Angga berakhir ketika pria itu merasa pasokan oksigen di sekitar mereka semakin menipis. Jari Angga mengusap sisa saliva yang menempel di bibir istrinya.

"Akang punya hadiah untukmu."

"Hadiah apa, Kang?"

"Sebentar, sayang."

Angga bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian dia kembali sambil menggenggam sesuatu di tangannya. Dia kembali duduk di samping Fauzia seraya memperlihatkan sebuah kalung emas di tangannya.

"Akang belikan ini untukmu."

"Ya ampun bagus banget, Kang."

Tangan Fauzia memegangi liontin berbentuk persegi panjang yang tidak terlalu besar. Bagian depannya terdapat tiga batu yang tersusun vertikal.

"Akang pakaikan ya."

Fauzia mengubah duduknya membelakangi suaminya seraya menyibakkan rambutnya. Angga segera memasangkan kalung ke leher istrinya. Mata Fauzia terus memperhatikan liontin yang bentuknya tidak biasa tersebut.

Wanita itu terjengit ketika merasakan kecupan Angga di tengkuknya. Dia membiarkan saja ketika suaminya tak henti mengecup tengkuk dan lehernya. Dia malah menyandarkan kepalanya ke dada sang suami.

"Neng, kita usaha lagi, yuk. Siapa tahu kali ini kita bisa mendapatkan anak."

"Hayu, Kang."

Udara malam ini memang begitu dingin. Cocok rasanya kalau menghangatkan badan dengan berolahraga di atas ranjang. Keduanya segera beranjak menuju kamar . Namun sebelum mereka masuk, lebih dulu terdengar ketukan di pintu.

"Siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Fauzia.

"Ngga tahu. Sebentar Akang lihat dulu."

Angga bergegas mendekati pintu lalu membukanya. Di depannya berdiri Kokom sambil membawa nampan di tangannya. Di atas nampan terdapat dua gelas berisi bandrex.

"Bu Kokom."

"Saya mengganggu ngga, Kang Angga?"

"Ngga. Ada apa ya?"

"Kebetulan saya buat bandrex. Ini buat Kang Angga dan Uzi."

"Ya ampun, terima kasih Bu Kokom."

"Sama-sama, Kang. Saya permisi dulu."

Setelah Angga menerima bandrex buatannya, Kokom pun meninggalkan rumah pasangan tersebut. Angga mengunci dulu pintu, baru kemudian mendekati istrinya.

"Bandrex dari siapa, Kang?"

"Bu Kokom."

"Tumben."

"Iya. Nih minum dulu, mumpung masih hangat."

Angga dan Fauzia menghabiskan dulu bandrex pemberian Kokom. Tubuh keduanya menjadi lebih hangat. Setelah mencuci gelas bekas bandrex, Fauzia mengajak Angga masuk ke dalam kamar.

"Hoaaamm.."

Tiba-tiba saja Fauzia merasakan kantuk datang menjemput. Padahal dia sudah berjanji akan mengarungi nirwana dahulu dengan suaminya.

"Kenapa, sayang?"

"Kok aku tiba-tiba ngantuk."

"Kalau ngantuk, lebih baik kamu tidur. Akang juga mengantuk. Sehabis subuh aja kita mainnya."

Kepala Fauzia mengangguk cepat. Wanita itu merangkak naik ke atas kasur dan segera membaringkan tubuh. Angga ikut berbaring di sampingnya. Pria itu memeluk tubuh sang istri dan tak lama kemudian mulai terlelap.

*

*

*

TOK

TOK

TOK

"UZI!!!"

TOK

TOK

TOK

"UZI!!"

Suara ketukan pintu dan panggilan untuk Fauzia terus terdengar. Kokom sudah berdiri di depan pintu rumah Angga. Dia terus mengetuk dan memanggil Fauzia.

Perlahan Fauzia terbangun dari tidurnya. Telinganya bisa menangkap suara Kokom yang terus memanggilnya diiringi ketukan di pintu.

"Iya, Bu. Sebentar!" teriak Fauzia dengan suara seraknya.

Sejenak Fauzia terduduk di atas kasur mencoba mengumpulkan nyawanya. Diliriknya Angga sudah tidak ada di sampingnya. Baru saja dia hendak turun dari kasur, matanya melihat pada kedua telapak tangannya. Wanita itu terkejut melihat di telapak tangannya terdapat noda darah yang mengering. Dan yang lebih membuatnya terkejut, baju yang dikenakannya pun terdapat noda darah cukup banyak.

"Ini darah apa?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 43

    Mata Fauzia dan Daffa terus melihat pada monitor di depan mereka? Keduanya telinga mereka terus mendengarkan apa yang dikatakan dokter kandungan. Upaya pasangan suami istri itu mengikuti program kehamilan membuahkan hasil. Sekarang Fauzia sedang mengandung buah hati pertamanya. Usia kehamilan Fauzia sekarang sudah memasuki usia lima bulan. "Sejauh ini kondisi janinnya sehat. Air ketubannya juga cukup. Pertumbuhan janinnya juga berjalan normal." Terang sang dokter kandungan setelah memeriksa kehamilan Fauzia menggunakan USG. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di meja kerja sang dokter. "Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Daffa. Pria itu sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak pertamanya. Dokter wanita itu hanya mengulum senyum saja. Mengetahui jenis kelamin anak yang masih dalam kandungan memang sering ditanyakan pasangan yang kontrol kandungan padanya. "In Syaa Allah kalau tidak ada kesalahan, anak Bapak dan Ibu laki-laki." "Alhamdulillah." Kalima

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 42

    "Ananda Muhammad Syahreza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Keyla Salsabila dengan mas kawin sebuah vila senilai 1 milyar rupiah dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Keyla Salsabila binti Egi Sudjana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana saksi?" "Sah!" Baik Reza maupun Ayah dari Keyla sama-sama mengucap syukur. Ijab kabul berhasil dilakukan tanpa hambatan. Reza menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki. Keyla yang terbalut kebaya warna putih gading berjalan mendekatinya didampingi oleh Ibunda tercinta dan Murni. Kedua wanita itu mengantarkan Keyla sampai ke dekat meja akad. Reza bangun dari duduknya kemudian menyambut kedatangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Pria itu membantu Keyla duduk di sebelahnya. "Silakan dipasangkan cincin pernikahannya," ujar sang penghulu. Sebuah kotak beludru diberikan oleh Daffa. Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Kedua pengantin memasangkan cincin ke jari masing-mas

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 41

    Usai menemui Imron, Salim tidak langsung pulang. Pria itu lebih dulu menemui Rafi yang juga ditahan di lapas yang sama. Walau Rafi sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarganya, namun Salim merasa harus memberitahu kabar kematian Anita. Bagaimana pun juga Rafi pernah menjadi bagian keluarga mereka selama dua puluh tahun lebih. Mata Salim memandangi Rafi yang baru saja memasuki ruangan. Wajah pria itu nampak kuyu, tubuhnya juga lebih kurus dan rahangnya sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Dia menarik sebuah kursi di depan Salim. "Bagaimana kabar mu, Rafi?" "Seperti yang Papa lihat." Sebisa mungkin Rafi menghindari tatapan mata Salim, pria yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan Papa. Namun belakangan dia baru tahu kalau dirinya adalah anak haram dari Imron dan Anita. "Bersabarlah Rafi, jalani hukuman mu dengan tenang. Bertobatlah. Papa harap kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik sekeluarnya dari sini." Kepala Rafi terangkat. Sungguh pria itu tidak

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 40

    Di sebuah kamar sel lembaga pemasyarakatan, nampak Anita duduk di atas lantai dingin dengan punggung bersandar ke dinding di belakangnya.Wanita itu masih belum percaya kalau anak yang dikandungnya selama sembilan, ternyata bukanlah Rafi, melainkan Angga. Sungguh wanita itu tidak menyangka takdir akan mempermainkan dirinya sedemikian rupa. Siapa sangka Mita akan menukar bayinya demi membalaskan sakit hatinya.Airmata jatuh membasahi wajah Anita ketika mengingat semua perlakuan buruknya pada Angga hanya karena menganggap anak itu adalah buah hati dari Mita dan Salim.Sekali pun Anita tidak pernah menampilkan senyum di wajah untuk Angga. Yang ada hanya tatapan tajam dan penuh kebencian.Puncaknya ketika wanita itu memutuskan menghabisi nyawa Angga demi bisa mendapatkan harta Salim dan menyelamatkan posisi untuk Rafi. Bersama dengan Imron, keduanya merencanakan pembunuhan keji tanpa mereka tahu kalau orang yang hendak dihabisi adalah darah dagingnya sendiri.Anita memukuli dadanya bebe

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 39

    "Selamat Om. Semoga rumah tangganya samawa dan pernikahan Om langgeng sampai maut memisahkan." Fauzia memeluk Pamannya. Wanita itu bahagia, akhirnya sang Paman mau mengakhiri masa lajangnya bersama sahabatnya. "Terima kasih, Uzi." "Selamat Teh, eh apa aku sekarang harus memanggil Tante?" goda Fauzia. Murni hanya mengulum senyum saja mendengar godaan Fauzia. Jika boleh, dia ingin tetap dipanggil dengan sebutan Teteh. Tapi mengingat statusnya sekarang, mungkin memang lebih cocok jika dipanggil dengan sebutan Tante. Daffa menghampiri Faisal kemudian memeluknya erat. Sejak kecil pria itu sudah mengenal Faisal. Pria yang selama ini selalu bertahan dalam kesendirian, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. "Cepat beri Zia adik sepupu," ujar Daffa sambil tersenyum. "Kamu saja dulu yang punya anak. Masa sudah beberapa bulan menikah, masih belum bisa membuat Uzi hamil." "Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Zia." "Alasan." Daffa hanya tertawa kecil. Dia memang masih ing

  • Misteri Kematian Suamiku   Bab 38

    Sepasang insan masih asik melampiaskan kerinduan dengan melakukan percintaan. Suara deru nafas mereka terdengar bersahutan memenuhi seisi kamar. Peluh juga sudah membasahi tubuh keduanya. Daffa mengerang panjang ketika akhirnya pria itu sampai ke puncaknya. Dia mengeluarkan cukup banyak cairan kental yang sudah ditabungnya selama berada di Sidney. Sebuah kecupan diberikan Daffa di kening istrinya. Fauzia mengangkat tangannya kemudian membelai pipi suaminya dengan lembut. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Pelan-pelan Daffa menggulirkan tubuhnya ke samping. Ditariknya Fauzia ke dalam pelukannya. Beberapa kali kecupan didaratkan di bahu sang istri. "Bagaimana keadaan Reza?" "Bang Reza sepertinya masih belum menerima kalau dirinya anak Pak Salim. Pak Salim meminta Bang Reza tinggal di rumahnya dan membantu mengurus perusahaan. Tapi Bang Reza menolak." "Dia pasti masih terkejut dengan semua ini. Kita harus memberinya waktu." "Apa Mas mengijinkan kalau Bang Reza mau mengurus peru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status