แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Arsynta
"Yang dikatakan Gilang memang benar. Kamu pacaran denganku ternyata demi uangku."

Sambil berkata begitu, dia mentransferku 1 ribu lewat ponselnya.

Dia juga menambahkan keterangan pada transfer itu.

Hanya dua kata yang ditulis sebagai catatan, yaitu pria mokondo.

Selama tujuh tahun penuh kami bersama, aku tidak pernah menghabiskan sepeser pun uangnya.

Bahkan saat hari raya atau hari peringatan hubungan kami, akulah yang selalu menyiapkan hadiah untuknya.

Dia menerimanya dengan tenang seolah itu memang sudah sewajarnya.

Namun, karena dia tidak pernah menyiapkan hadiah untukku, dia malah menyindir dengan berkata bahwa pria membeli hadiah untuk menyenangkan pacarnya adalah hal yang sudah sewajarnya.

Inilah aku yang dia gambarkan dengan sebutan pria mokondo di setiap ucapannya.

Inilah Nona Besar Keluarga Kota Cendana, pewaris kekayaan ratusan triliun.

Aku pun teringat daftar hadiah yang dia siapkan untuk Gilang Saputra.

Aku teringat ibuku yang disiksa penyakit hingga tubuhnya tak berbentuk lagi, tetapi tak punya uang untuk berobat, dan akhirnya meninggal dalam penderitaan.

Bahkan satu detik pun, aku tak ingin lagi menghadapinya.

Baru saja aku berdiri hendak pergi, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu.

Gilang berjalan masuk sambil melepaskan mantel yang dikenakannya.

Memperlihatkan pakaian berlubang yang seksi di dalamnya.

Namun, saat melihatku, dia tampak terkejut, lalu buru-buru mengenakan kembali mantelnya.

"Yunus, kenapa kamu datang?"

Aku menoleh menatap Fiona.

"Kalau aku tidak salah ingat, ini adalah rumah yang kita sewa bersama."

"Bukan saja kamu dengan sembarangan memberi tahu kata sandi kepada orang lain, kamu bahkan membiarkan orang lain masuk begitu saja?"

Mendengar aku berkata begitu, Gilang langsung menunjukkan ekspresi seolah-olah mendapat perlakuan sangat tidak adil.

Dia berlari beberapa langkah, duduk di samping Fiona, lalu menarik lengannya.

"Kak Fiona, bagaimana mungkin aku dianggap orang lain? Aku cuma lupa membawa kunci rumah, jadi ingin menumpang menginap semalam."

"Lagi pula, kalau bukan karena Kak Fiona bersedia tinggal serumah, kamu harus menanggung sewa sendirian."

"Bagaimanapun, kamulah yang sebenarnya diuntungkan."

Ucapan yang menghasut seperti ini, entah sudah berapa banyak yang dia katakan tanpa sepengetahuanku.

Setelah mendengarnya, Fiona sama sekali tidak merasa dirinya salah, malah merasa apa yang dikatakan Gilang masuk akal.

"Gilang benar. Aku jelas punya rumah sendiri, tapi masih harus patungan bayar sewa. Itu benar-benar merugikanku."

"Ini tidak ada bedanya dengan mengeluarkan uang untuk menyewa seseorang tidur bersamaku."

Setelah berkata begitu, dia mengeluarkan kode pembayaran miliknya dan menunjukkannya di depanku.

"Kamu juga tidak mau orang lain bilang kamu pria mokondo, 'kan?"

"Kalau begitu, kembalikan saja uang sewa rumah yang selama tujuh tahun ini aku bayarkan."

Apartemen kecil dengan luas lebih dari empat puluh meter persegi ini adalah tempat yang aku dan Fiona sewa saat kami baru mulai berpacaran.

Setelah lulus kuliah, demi mendapatkan lebih banyak uang, aku memutuskan tetap bekerja di Kota Mandalika.

Dengan kemampuanku saat itu, aku hanya mampu menyewa kamar kecil yang sempit di daerah yang jauh dari pusat kota.

Fiona yang mengatakan tempatnya terlalu jauh, sehingga tidak mudah baginya untuk datang menemuiku.

Fiona juga yang bilang bahwa rumah kecil itu sama sekali bukan tempat yang layak untuk ditinggali manusia. Bahkan saat bermesraan denganku pun suasana hatinya jadi rusak.

Dia ingin menyewa tempat yang lebih besar bersamaku.

Karena itu, dengan menanggung tekanan sewa yang tinggi, aku menggunakan waktu yang kuhemat dari perjalanan untuk mencari pekerjaan paruh waktu lagi.

Sekarang, dia bukan hanya memintaku mengembalikan setengah biaya sewa yang telah dia bayar selama tujuh tahun ini.

Dia bahkan merasa seolah-olah dia telah mengeluarkan uang untuk tidur denganku, dan merasa sangat dirugikan.

"Fiona, selama tujuh tahun ini, sebenarnya kamu menganggapku apa?"

Rasa terhina dan marah di wajahku sebenarnya hanya karena aku menyesali diriku sendiri.

Tujuh tahun masa muda ternyata terbuang sia-sia pada orang seperti ini.

Tangan yang terulur ke arahku, ketika melihat ekspresiku yang muram, sempat bergetar sedikit.

Dia mengerucutkan bibirnya, lalu menarik kembali tangannya.

"Aku cuma bercanda denganmu saja, palingan …."

Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Gilang sudah kembali berdecak dua kali, memperlihatkan ekspresi penuh penghinaan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 12

    "Aku benar-benar mencintaimu, aku bisa memberimu apa pun yang kamu inginkan .…"Celia tetap berdiri di hadapanku dengan wajah penuh penghinaan."Bu Fiona, aku juga tahu sedikit tentang urusan kalian. Aku takut Yunus sedih, makanya selama ini tidak aku katakan. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak akan setiap hari memikirkan apakah dia pria Mokondo.""Bahkan jika ada orang yang memprovokasi, tapi di pelelangan juga terbukti, kamu tidak mencintainya.""Aku memberikan hadiah kepadanya tanpa mengharapkan balasan. Yang penting dia bahagia, berapa pun uang yang dikeluarkan, aku rela. Aku hanya ingin melihat kebahagiaan di wajahnya saat menerima hadiah itu.""Tapi kamu tidak bisa melakukannya, kamu terlalu memandang uang.""Kalau menyukai seseorang, kamu akan memberikan yang terbaik untuknya, tapi kamu tidak melakukannya."Kata-kata Celia menghantam hati Fiona satu per satu.Melihat aku memegang erat tangan Celia, dia pun tahu, aku tidak akan kembali padanya lagi.Dan aku juga tidak

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 11

    Celia memang begitu, begitu tegang dia jadi gagap."Aku sudah tahu. Besok aku akan pakai baju favoritku sendiri. Jangan berpikir macam-macam, aku juga tidak memikirkan apa pun."Keesokan paginya, aku menatap lemari yang penuh dengan baju-baju pemberian Celia, lalu mengusap dahi sambil tersenyum pahit.Yang mana yang dia suka?Aku mengingat setiap ekspresi wajahnya saat memberikan hadiah, dan sungguh, aku tidak bisa menemukan kekurangannya.Dia tampak benar-benar hanya peduli apakah aku menyukainya atau tidak.Tiga jam kemudian, aku akhirnya membuat pilihan akhir.Sebuah kemeja biru muda yang elegan, sangat cocok dipadukan dengan jam tangan yang dia berikan.Celia awalnya berniat menjemputku, tetapi aku menolak.Aku ingin pergi sendiri, diam-diam memberi kejutan padanya.Dengan tindakan nyata, aku memberitahunya bahwa aku sangat menyukai setiap hadiah yang dia kasih.Hanya saja, saat hampir masuk ke taman, aku melihat Fiona.Awalnya ingin cepat-cepat pergi, tetapi tanganku ditahan olehn

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 10

    Setelah laporan selesai dibuat, semangkuk mi telur juga diletakkan di depanku.Saat aku baru makan setengah, Celia tersenyum dan berkata, "Sudah kenyang?"Setiap kali aku mulai kenyang, kecepatan makanku pasti melambat.Perhatian orang lain, selalu harus dihargai sampai habis. Meskipun sudah kenyang, aku tetap akan perlahan menghabiskan makananku."Kalau sudah kenyang, jangan makan lagi, nanti kekenyangan malah tidak enak."Aku menggigit garpu, lalu tertawa kecil."Celia, kamu itu cacing di otakku ya? Kamu sungguh memahamiku.""Hahahaha, mau bagaimana lagi? Semua pikiran polosmu jelas terlihat di wajahmu. Aku tidak ingin tahu saja susah."Pikiran polos?Ini pertama kalinya seseorang menggambarkanku seperti ini.Fiona selalu menganggapku pria Mokondo yang penuh perhitungan.Kalau aku benar-benar seperti yang dikatakan Celia, kenapa selama bertahun-tahun, Fiona tidak pernah peduli dengan perasaanku?Melihat wajahku agak berbeda, Celia segera membuka pembicaraan."Kenapa? Aku salah bicara

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 9

    Sebenarnya aku lumayan tersentuh, dia sangat sibuk, sebetulnya bisa saja mencari alasan sepele untuk menolakku.Aku berganti pakaian lalu bersama Celia menuju kolam ikan."Kolam ikanmu luasnya sekitar 3 hektar, kedalaman air sebaiknya dijaga sekitar 2,5 meter. Untuk setiap 0,1 hektar gunakan 150 kg kapur hidup untuk membersihkan kolam. Kedalaman airmu kurang, terutama jika kolam itu untuk budidaya ikan."Aku mengeluarkan buku catatan, sambil mencatat, sambil mengangguk, buru-buru bertanya, "Apa ada persyaratan khusus untuk jenis ikan?"Celia berpikir sejenak, lalu menjawab, "Secara umum, untuk kolam ikan dengan skala seperti ini, seharusnya ada sekitar 2000 ekor ikan mas, 1500 ekor ikan bawal, dan sekitar 20 ekor ikan bandeng putih. Tapi untuk awal, bisa mulai dengan jenis ikan yang mudah bertahan hidup.""Untuk pekerja, kamu tidak perlu khawatir, nanti aku akan memperkenalkan beberapa orang yang berpengalaman padamu.""Adapun untuk kolam memancing kelas atas yang ingin kamu kelola, ka

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 8

    Aku kembali ke kampung halaman.Aku pun membuka halaman kecil tempat aku dulu hanya bergantung pada ibu.Aroma yang familier membuat air mata kembali membanjiri mataku.Dengan tak berdaya, aku memeluk abu jenazah ibu dan duduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu.Maaf, Ibu, aku tidak bisa membuatmu hidup enak.Maaf, Ibu, aku tidak bisa mengumpulkan biaya operasi di saat yang penting.Maaf, Ibu, aku tidak bisa membuatmu melihatku menikah.......Aku benar-benar banyak melakukan hal yang membuat Ibu kecewa.Setelah menangis sampai lelah, aku melihat bangku kecil di halaman.Di atasnya masih ada wajah tersenyum yang pernah ibu gambar untukku.Hanya saja bangku itu sudah lama tidak dipakai, hingga ditutupi lumut.Aku mengambil bangku itu dan berjalan ke tepi sungai.Dengan sikat, aku terus menggosok noda-noda di atasnya berulang-ulang.Wajah tersenyum di bangku juga makin jelas.Senyum itu mirip dengan senyum Ibu.Aku meraih dan perlahan mengelus pola di bangku itu, sambil bergumam, "Ibu

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 7

    "Fiona, kalau bukan karena kamu memberi Yunus kesempatan kerja, dia bahkan tidak bisa tinggal di Kota Mandalika.""Ibunya meninggal ya sudah, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Nanti dia tidak boleh lagi menggunakan alasan itu untuk memanfaatkanmu dan mengambil uangmu.""Kalau kamu sekarang pergi menemuinya, itu sama saja memberi dia kesempatan memanfaatkan situasi untuk bermain-main dengan perasaanmu. Pria paling mengerti pria, Yunus memang sedang bermain permainan tarik-ulur."Fiona seketika merasa sosok Gilang di depannya tampak asing.Dia tahu betapa hebatnya aku.Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini di bawah kepemimpinanku telah menciptakan banyak nilai pasar.Justru Fiona yang selama ini diam-diam menekanku.Nyawa seorang manusia yang nyata, ternyata di mulut Gilang begitu tak berharga.Fiona pun baru mulai mengingat dengan saksama masa laluku dengannya.Dia sama sekali tidak mengeluarkan uang untukku, dan tidak ada perilaku pria mokondo.Seolah setiap kali aku histe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status