Short
Kemarin yang Tidak Terbalas

Kemarin yang Tidak Terbalas

Oleh:  YunitaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
7Bab
4Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Kami menjalani hubungan jarak jauh selama 3 tahun. Setelah lembur sebulan penuh, akhirnya aku berhasil menyisihkan waktu untuk menemui pacarku. Namun saat aku tiba, dia justru tidak bisa dihubungi. Di kota asing itu aku menunggu selama 10 jam penuh sendirian. Baru setelah itu dia membalas pesanku dengan santai. Begitu panggilan tersambung, sahabatku yang paling akrab tertawa riang, “Minnie, kejutan! Aku sudah lebih dulu menjelajahi Kota Beryl untukmu. Seru sekali! Moses benar-benar pantas menjadi pemandu wisata!” Dia terus berceloteh membagikan berbagai cerita lucu, seolah sama sekali tidak melihat 30 panggilan tidak terjawab yang memenuhi ponsel Moses. Aku hanya mendengarkan dalam diam. Hingga dia berkata jika udara terasa sangat dingin, lalu Moses mengambil alih telepon dan berkata singkat, “Aku antar dia ke hotel dulu. Tunggulah sebentar lagi.” Setelah suaranya berhenti, aku segera bertanya, “Tahukah kamu sudah berapa lama aku menunggu?” Moses terdiam sesaat. Saat kembali berbicara, suaranya terdengar dingin. “Dia itu sahabatmu. Hal seperti ini pun harus kamu perdebatkan?” Nada menyalahkan yang begitu terang-terangan membuatku kehilangan keinginan untuk berkata apa pun. Setelah menutup telepon, mobil tumpangan yang akan membawaku kembali ke Kota Mine akhirnya tiba. Sopir itu melirikku sekilas, lalu tidak kuasa menahan diri untuk berkata, “Nona, ini sudah tengah malam dan daerah ini keamanannya kurang bagus. Bagaimana bisa keluargamu tega membiarkanmu sendirian di tempat seperti ini?” Aku menunduk menatap sepatuku yang basah oleh salju yang mencair, dan berkata iya. Kemudian aku tersenyum tipis dan melanjutkan, “Mulai sekarang, tidak akan pernah terjadi lagi.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

2 jam kemudian Moses baru menyadari bahwa aku sudah tidak ada.

Nada dering ponselnya adalah lagu rock yang sedang populer di luar negeri.

Aku tidak pernah menyukainya. Dulu aku pernah dengan manja memintanya mengganti itu dengan musik yang kusukai.

Namun Moses sangat tidak senang.

Aku masih mengingat jelas nada suaranya yang dingin dan keras, “Apa semuanya harus mengikuti kemauanmu?”

Aku merasa sangat malu dan segera meminta maaf.

Namun barusan, sahabatku Valen tiba-tiba mengunggah status baru di media sosial.

[Dasar menyebalkan. Lagu yang kurekomendasikan untuk si bodoh itu 3 bulan lalu sudah kudengar hingga muak, tetapi ternyata dia masih memakainya ….]

Tiga menit yang lalu, Moses membalas komentarnya.

[Siapa si bodoh itu?]

Valen langsung menjawab.

[Dirimu!]

Ponselku masih terus berdering.

Tiba-tiba aku ingin tertawa. Sebenarnya, berapa hati yang dimiliki Moses hingga bisa bimbang di antara 2 wanita sekaligus?

Karena aku tidak kunjung mengangkat telepon, rentetan panggilan itu berubah menjadi pesan.

[Sebenarnya kamu pergi ke mana? Berhentilah merajuk, ya? Ini sudah malam, aku benar-benar lelah ….]

Moses terus mengeluh.

Mungkin karena benar-benar khawatir, sopir yang mengantarku tiba-tiba berbicara lagi.

“Nona, mungkin kamu belum tahu. Lusa kemarin, di terminal itu terjadi kasus pemerkosaan. Korbannya bahkan tidak berhasil diselamatkan. Seluruh kota pun dibuat gempar.”

“Jadi saya benar-benar kaget saat melihatmu sendirian malam ini. Kalau jadi orang tuamu, saya pasti tidak akan bisa tidur semalaman karena khawatir.”

Jari-jariku sedikit gemetar. Tatapanku kembali jatuh ke layar ponsel.

[Kenapa kamu sangat tidak pengertian? Aku cuma telat menjemputmu sebentar ….]

[Valen itu tamu dan juga sahabatmu. Memangnya kenapa jika kamu sedikit mengalah?]

Tanpa sadar, tanganku yang menggenggam ponsel mulai bergetar. Dadaku terasa seperti disayat-sayat pisau.

Melihat mataku memerah, sopir itu langsung panik, “Jangan menangis, jangan menangis. Paman tidak akan bicara lagi.”

Aku menggeleng pelan dengan mata memerah. Entah mengapa, justru aku merasa sedikit lega.

“Tidak … aku yang seharusnya berterima kasih pada Paman.”

Tidak lama kemudian, Moses kembali mengirim pesan.

[Sudahlah. Aku benar-benar sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujukmu. Tenangkan dirimu dulu ….]

Dari 28 pesan yang dia kirim, 27 di antaranya berisi tuduhan dan menyalahkanku.

Pada akhirnya, dia malah berkata sudah tidak sanggup membujukku lagi.

Rasa kantuk datang menerjang seperti ombak. Aku mematikan ponsel, lalu memejamkan mata begitu saja.

Saat terbangun, aku sudah sampai di rumah. Karena melihatku tertidur sangat lelap, Pak Sopir bahkan rela menungguku selama 3 jam.

Aku pun memberinya tambahan 200 ribu.

Beliau tersenyum senang. Sebelum pergi, dia masih sempat berpesan, “Nona, cepat ganti sepatumu begitu masuk rumah. Itu sudah basah kuyup.”

Hatiku terharu. Aku mengangguk sambil mengiyakannya.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status