MasukKami menjalani hubungan jarak jauh selama 3 tahun. Setelah lembur sebulan penuh, akhirnya aku berhasil menyisihkan waktu untuk menemui pacarku. Namun saat aku tiba, dia justru tidak bisa dihubungi. Di kota asing itu aku menunggu selama 10 jam penuh sendirian. Baru setelah itu dia membalas pesanku dengan santai. Begitu panggilan tersambung, sahabatku yang paling akrab tertawa riang, “Minnie, kejutan! Aku sudah lebih dulu menjelajahi Kota Beryl untukmu. Seru sekali! Moses benar-benar pantas menjadi pemandu wisata!” Dia terus berceloteh membagikan berbagai cerita lucu, seolah sama sekali tidak melihat 30 panggilan tidak terjawab yang memenuhi ponsel Moses. Aku hanya mendengarkan dalam diam. Hingga dia berkata jika udara terasa sangat dingin, lalu Moses mengambil alih telepon dan berkata singkat, “Aku antar dia ke hotel dulu. Tunggulah sebentar lagi.” Setelah suaranya berhenti, aku segera bertanya, “Tahukah kamu sudah berapa lama aku menunggu?” Moses terdiam sesaat. Saat kembali berbicara, suaranya terdengar dingin. “Dia itu sahabatmu. Hal seperti ini pun harus kamu perdebatkan?” Nada menyalahkan yang begitu terang-terangan membuatku kehilangan keinginan untuk berkata apa pun. Setelah menutup telepon, mobil tumpangan yang akan membawaku kembali ke Kota Mine akhirnya tiba. Sopir itu melirikku sekilas, lalu tidak kuasa menahan diri untuk berkata, “Nona, ini sudah tengah malam dan daerah ini keamanannya kurang bagus. Bagaimana bisa keluargamu tega membiarkanmu sendirian di tempat seperti ini?” Aku menunduk menatap sepatuku yang basah oleh salju yang mencair, dan berkata iya. Kemudian aku tersenyum tipis dan melanjutkan, “Mulai sekarang, tidak akan pernah terjadi lagi.”
Lihat lebih banyakMoses mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat pasi.Pandangannya tampak berkunang-kunang hingga harus diam cukup lama sebelum akhirnya mampu menegakkan tubuhnya.“Aku menghormati keputusanmu dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Namun ... aku akan terus menunggumu.”Sorot matanya masih menyimpan rasa keras kepala yang begitu kukenal.Aku mengernyit dan hendak mengatakan sesuatu untuk membujuknya.Namun Moses tidak memberiku kesempatan. Dia berbalik dan membuka pintu.Punggungnya yang tinggi tegap menghilang perlahan di balik malam, sosoknya tampak begitu kesepian.Setelah hari itu, Moses benar-benar menepati ucapannya. Dia tidak pernah datang mencariku lagi.Sebulan kemudian, justru Valen yang meneleponku.“Apa sebenarnya yang kamu katakan padanya?!”Suaranya terdengar begitu panik dan kehilangan kendali.“Kenapa dia memblokir semua kontakku? Bahkan alamat rumahnya juga sudah pindah. Kamu yang sudah tidak menginginkannya. Kenapa masih tidak mau melepaskannya?”Di akhir kalimat, suarany
Irama kehidupan di Rivelle jauh lebih santai daripada yang kubayangkan.Selain jam kerja yang cukup padat, waktu luangku benar-benar bisa dinikmati dengan sesuka hati.Aku sering bepergian mengelilingi berbagai negara di Arhco di hari liburku. Di sana, aku juga berkenalan dengan beberapa teman baru.Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, mereka semua ramah dan hangat.Bahkan mereka membantuku melatih kemampuan berbahasa Rivelle dengan antusias.Suatu hari, seorang gadis Rivelle bernama Diana berkata kepadaku, “Jika ingin segera lancar berbahasa Rivelle, carilah pacar orang Rivelle.”Seorang pemuda Rivelle yang duduk di samping langsung mengangkat tangan, “Minnie, aku bersedia!”Ucapan itu membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.Aku pun berpura-pura berpikir sejenak sebelum menjawab, “Akan kupertimbangkan.”Namun, sepertinya Tuhan tidak rela melihatku bahagia.Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku melihat Moses sedang berjongkok menungguku di depan pintu.Entah suda
“Minnie, kamu pergi ke mana? Kenapa pemilik rumah bilang kamu sudah pindah? Pindah ke mana? Kenapa tidak menungguku?! Aku sudah menunggumu selama tiga jam!”Nada suaranya dipenuhi rasa kecewa, marah, dan tidak puas.Setelah dia meluapkan semua emosinya, aku segera berkata, “Moses, hari itu aku menunggumu selama 10 jam. Aku meneleponmu 30 kali. Di tengah salju dan udara sedingin itu, kakiku sampai mengalami radang dingin. Tahukah kamu bagaimana perasaanku saat itu?”Di seberang telepon, Moses terdiam. Yang terdengar hanyalah napasnya yang semakin berat.Aku memandangi jalanan Rivelle di hadapanku, lalu merapatkan mantel yang kukenakan.“Dalam perjalanan pulang, sopir taksi bercerita bahwa beberapa hari sebelumnya telah terjadi kasus pemerkosaan di terminal itu. Kamu tinggal di kota yang sama. Mustahil tidak mengetahuinya.”Ketika mengingat kembali kejadian itu, mataku mulai terasa panas.“Namun, kamu tetap membiarkanku sendirian di sana selama 10 jam. Saat itu aku mengira sesuatu telah
Valen tertegun di tempat. Wajahnya tampak canggung, seolah tidak menyangka aku akan terang-terangan memutuskan hubungan dengannya.Moses mengernyit, “Kalian bertengkar? Sejak kapan?”Aku menatapnya dan menjawab dengan jelas, “4 hari yang lalu. Saat dia ingin ikut bersamaku menemuimu, lalu kutolak.”Karena itulah dia merasa tidak terima. Sebagai balasannya, dia lebih dulu datang menemui Moses.“Hanya karena itu?”Ekspresi Moses masih dipenuhi ketidakpercayaan.Padahal, bukan hanya sekali ini. Selama hampir setahun terakhir, Valen selalu mencari cara untuk mengganggu waktu berdua antara aku dan Moses.Setiap kali aku hendak pergi menemuinya, Valen selalu menahanku. Kadang dia memintaku menemaninya bepergian, kadang mengaku sakit dan membutuhkan bantuanku.Saat aku dan Moses membeli cincin pasangan pun, dia sengaja membeli cincin yang hampir sama dan mengenakan di jarinya.Aku bukan orang bodoh.Karena itu, aku memilih memutuskan hubungan dengannya secara terhormat. Namun, aku tidak perna












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.