Share

Bab 4

Author: Arsynta
"Mengundurkan diri? Apa Bu Fiona setuju kamu mengundurkan diri?"

"Oh, ya, kalau kamu sekarang mengundurkan diri, bonus bulan ini seharusnya tidak banyak, nanti gaji selanjutnya akan ditransfer ke satu rekening saja."

Aku mengernyitkan dahi, informasinya terlalu banyak, sampai-sampai aku sempat tidak bereaksi.

Apa maksudnya ditransfer ke satu rekening saja?

Selain itu, sejak kapan aku punya bonus?

Yang paling penting, apa maksudnya dengan Bu Fiona?

Melihat wajahku yang bingung, atasan juga menunjukkan ekspresi tidak mengerti.

"Kamu dan Bu Fiona bukannya pacaran? Bu Fiona secara khusus menginstruksikan bagian keuangan untuk memisahkan gajimu."

"Gaji pokok diberikan padamu, bonus dan kenaikan gaji dimasukkan ke rekening lain, katanya supaya kamu menabung."

"Tak kusangka kamu punya pacar seperti Bu Fiona, tapi masih begitu hemat. Sungguh langka."

Jadi, selama bertahun-tahun, aku hanya menerima gaji awalku saat pertama kali masuk kerja.

Aku terus-menerus meminta kenaikan gaji, ternyata bukan karena aku kurang bekerja keras, tetapi karena Fiona memindahkan uangnya ke rekening lain.

Saat aku ke bagian keuangan untuk meminta riwayat gaji, aku melihat pada kolom bonus yang seharusnya diterima, tertulis jelas empat juta.

Beberapa hari yang lalu, untuk mengumpulkan sisa empat juta itu, aku sampai menunda sehari untuk menyerahkannya ke rumah sakit.

Akibatnya, ibuku tidak sempat menjalani operasi, dan meninggal dunia.

Yang lebih menyedihkan dan sekaligus lucu adalah total bonus yang seharusnya aku terima selama tujuh tahun ini, semuanya diambil oleh Fiona.

Sudah lebih dari cukup untuk mengobati penyakit ibuku.

Aku sungguh terlalu bodoh.

Bodoh sampai hanya tahu bekerja dengan serius, takut dipecat dan kehilangan sumber penghidupan.

Juga bodoh sampai tertipu oleh Fiona, berputar-putar dalam kebingungan tanpa menyadarinya.

Agar dia tidak menganggapku pria mokondo, bukan saja aku tidak pernah memakai uangnya.

Malah dia yang mengambil hasil kerjaku.

Dalam hubungan yang penuh kebohongan dan penghinaan ini, ternyata aku bertahan selama tujuh tahun.

Saat aku memegang slip gaji untuk menghitung dan menagih Fiona, dia malah dengan percaya diri muncul di depanku.

"Yunus, kita cuma bertengkar, tapi kamu sudah kabur dari rumah dan mengancam ingin mengundurkan diri."

"Dari cara kamu marah, sepertinya emosimu makin menjadi-jadi."

Di belakangnya, Gilang tampak senang melihat kesialanku.

Dia pura-pura berjalan mendekat dan berkata, "Yunus, kamu terlalu tidak tahu terima kasih. Kamu hidup dengan uang Fiona dan menempati rumah yang dia sewakan untukmu."

"Tanpa Kak Fiona, emang kamu masih bisa bertahan hidup di Kota Mandalika?"

Orang tanpa malu itu benar-benar bisa berkata bohong tanpa rasa bersalah.

Aku tertawa dengan penuh amarah, baru ingin membantah.

Namun, dihentikan oleh Fiona.

"Gilang tidak salah, kalau bukan karena aku, tujuh tahun ini kamu sudah mati kelaparan."

"Hari ini anggap saja kamu sedang bertingkah. Aku izinkan kamu libur sehari, ikut pulang bersamaku."

"Hari bolos kerja ini, aku tidak akan memotong gajimu."

Makin aku melihat sifat sebenarnya Fiona, makin aku merasa ….

Selama tujuh tahun yang panjang ini, seberapa buta mataku sebenarnya.

Orang-orang di sekeliling mulai menunjuk-nunjukku.

Setelah melihat Fiona tidak menegur, suara mereka pun makin keras.

"Bu Fiona menyembunyikan identitasnya, hanya supaya Yunus tidak merasa rendah diri, dan selalu menyuruh kami merahasiakannya. Itu saja sudah menunjukkan betapa Bu Fiona peduli padanya."

"Makan dari Bu Fiona, tinggal di tempat Bu Fiona, tapi masih marah-marah sama Bu Fiona."

"Ingin langsung jadi kaya, tapi tidak lihat dulu apakah punya modal. Hidup dibiayai Bu Fiona, dia pikir dia itu siapa."

Makin banyak orang di sekitar yang ikut menggosip, Fiona malah makin bangga.

Gilang bahkan terus mendukung, menimpakan berbagai tuduhan yang tidak jelas pada diriku.

"Yunus, bukankah kamu dulu demi minta empat juta dari Kak Fiona, sampai bohong bilang ibumu hampir meninggal menunggu pertolongan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 12

    "Aku benar-benar mencintaimu, aku bisa memberimu apa pun yang kamu inginkan .…"Celia tetap berdiri di hadapanku dengan wajah penuh penghinaan."Bu Fiona, aku juga tahu sedikit tentang urusan kalian. Aku takut Yunus sedih, makanya selama ini tidak aku katakan. Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak akan setiap hari memikirkan apakah dia pria Mokondo.""Bahkan jika ada orang yang memprovokasi, tapi di pelelangan juga terbukti, kamu tidak mencintainya.""Aku memberikan hadiah kepadanya tanpa mengharapkan balasan. Yang penting dia bahagia, berapa pun uang yang dikeluarkan, aku rela. Aku hanya ingin melihat kebahagiaan di wajahnya saat menerima hadiah itu.""Tapi kamu tidak bisa melakukannya, kamu terlalu memandang uang.""Kalau menyukai seseorang, kamu akan memberikan yang terbaik untuknya, tapi kamu tidak melakukannya."Kata-kata Celia menghantam hati Fiona satu per satu.Melihat aku memegang erat tangan Celia, dia pun tahu, aku tidak akan kembali padanya lagi.Dan aku juga tidak

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 11

    Celia memang begitu, begitu tegang dia jadi gagap."Aku sudah tahu. Besok aku akan pakai baju favoritku sendiri. Jangan berpikir macam-macam, aku juga tidak memikirkan apa pun."Keesokan paginya, aku menatap lemari yang penuh dengan baju-baju pemberian Celia, lalu mengusap dahi sambil tersenyum pahit.Yang mana yang dia suka?Aku mengingat setiap ekspresi wajahnya saat memberikan hadiah, dan sungguh, aku tidak bisa menemukan kekurangannya.Dia tampak benar-benar hanya peduli apakah aku menyukainya atau tidak.Tiga jam kemudian, aku akhirnya membuat pilihan akhir.Sebuah kemeja biru muda yang elegan, sangat cocok dipadukan dengan jam tangan yang dia berikan.Celia awalnya berniat menjemputku, tetapi aku menolak.Aku ingin pergi sendiri, diam-diam memberi kejutan padanya.Dengan tindakan nyata, aku memberitahunya bahwa aku sangat menyukai setiap hadiah yang dia kasih.Hanya saja, saat hampir masuk ke taman, aku melihat Fiona.Awalnya ingin cepat-cepat pergi, tetapi tanganku ditahan olehn

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 10

    Setelah laporan selesai dibuat, semangkuk mi telur juga diletakkan di depanku.Saat aku baru makan setengah, Celia tersenyum dan berkata, "Sudah kenyang?"Setiap kali aku mulai kenyang, kecepatan makanku pasti melambat.Perhatian orang lain, selalu harus dihargai sampai habis. Meskipun sudah kenyang, aku tetap akan perlahan menghabiskan makananku."Kalau sudah kenyang, jangan makan lagi, nanti kekenyangan malah tidak enak."Aku menggigit garpu, lalu tertawa kecil."Celia, kamu itu cacing di otakku ya? Kamu sungguh memahamiku.""Hahahaha, mau bagaimana lagi? Semua pikiran polosmu jelas terlihat di wajahmu. Aku tidak ingin tahu saja susah."Pikiran polos?Ini pertama kalinya seseorang menggambarkanku seperti ini.Fiona selalu menganggapku pria Mokondo yang penuh perhitungan.Kalau aku benar-benar seperti yang dikatakan Celia, kenapa selama bertahun-tahun, Fiona tidak pernah peduli dengan perasaanku?Melihat wajahku agak berbeda, Celia segera membuka pembicaraan."Kenapa? Aku salah bicara

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 9

    Sebenarnya aku lumayan tersentuh, dia sangat sibuk, sebetulnya bisa saja mencari alasan sepele untuk menolakku.Aku berganti pakaian lalu bersama Celia menuju kolam ikan."Kolam ikanmu luasnya sekitar 3 hektar, kedalaman air sebaiknya dijaga sekitar 2,5 meter. Untuk setiap 0,1 hektar gunakan 150 kg kapur hidup untuk membersihkan kolam. Kedalaman airmu kurang, terutama jika kolam itu untuk budidaya ikan."Aku mengeluarkan buku catatan, sambil mencatat, sambil mengangguk, buru-buru bertanya, "Apa ada persyaratan khusus untuk jenis ikan?"Celia berpikir sejenak, lalu menjawab, "Secara umum, untuk kolam ikan dengan skala seperti ini, seharusnya ada sekitar 2000 ekor ikan mas, 1500 ekor ikan bawal, dan sekitar 20 ekor ikan bandeng putih. Tapi untuk awal, bisa mulai dengan jenis ikan yang mudah bertahan hidup.""Untuk pekerja, kamu tidak perlu khawatir, nanti aku akan memperkenalkan beberapa orang yang berpengalaman padamu.""Adapun untuk kolam memancing kelas atas yang ingin kamu kelola, ka

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 8

    Aku kembali ke kampung halaman.Aku pun membuka halaman kecil tempat aku dulu hanya bergantung pada ibu.Aroma yang familier membuat air mata kembali membanjiri mataku.Dengan tak berdaya, aku memeluk abu jenazah ibu dan duduk di tanah sambil menangis tersedu-sedu.Maaf, Ibu, aku tidak bisa membuatmu hidup enak.Maaf, Ibu, aku tidak bisa mengumpulkan biaya operasi di saat yang penting.Maaf, Ibu, aku tidak bisa membuatmu melihatku menikah.......Aku benar-benar banyak melakukan hal yang membuat Ibu kecewa.Setelah menangis sampai lelah, aku melihat bangku kecil di halaman.Di atasnya masih ada wajah tersenyum yang pernah ibu gambar untukku.Hanya saja bangku itu sudah lama tidak dipakai, hingga ditutupi lumut.Aku mengambil bangku itu dan berjalan ke tepi sungai.Dengan sikat, aku terus menggosok noda-noda di atasnya berulang-ulang.Wajah tersenyum di bangku juga makin jelas.Senyum itu mirip dengan senyum Ibu.Aku meraih dan perlahan mengelus pola di bangku itu, sambil bergumam, "Ibu

  • Mokondo vs Wanita Materialistis   Bab 7

    "Fiona, kalau bukan karena kamu memberi Yunus kesempatan kerja, dia bahkan tidak bisa tinggal di Kota Mandalika.""Ibunya meninggal ya sudah, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Nanti dia tidak boleh lagi menggunakan alasan itu untuk memanfaatkanmu dan mengambil uangmu.""Kalau kamu sekarang pergi menemuinya, itu sama saja memberi dia kesempatan memanfaatkan situasi untuk bermain-main dengan perasaanmu. Pria paling mengerti pria, Yunus memang sedang bermain permainan tarik-ulur."Fiona seketika merasa sosok Gilang di depannya tampak asing.Dia tahu betapa hebatnya aku.Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini di bawah kepemimpinanku telah menciptakan banyak nilai pasar.Justru Fiona yang selama ini diam-diam menekanku.Nyawa seorang manusia yang nyata, ternyata di mulut Gilang begitu tak berharga.Fiona pun baru mulai mengingat dengan saksama masa laluku dengannya.Dia sama sekali tidak mengeluarkan uang untukku, dan tidak ada perilaku pria mokondo.Seolah setiap kali aku histe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status