MasukSemua orang di Kota Opela tahu bahwa Maureen dan Raphael adalah pasangan yang selalu bertentangan seperti air dan api. Sebagai tunangan Raphael hanya dalam nama, Maureen menetapkan tiga larangan untuknya. Dilarang balapan liar, dilarang tidak pulang semalaman, dan dilarang menemui cinta pertamanya yang bernama Audrey. Namun, Raphael justru selalu melakukan kebalikan dari apa yang diminta. Entah itu mengebut mengelilingi seluruh jalan lingkar pegunungan di Kota Opela atau menghabiskan malam di kelab hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Bahkan pada hari ulang tahun Maureen, dia sengaja membawa Audrey dan menciumnya di bawah langit yang dipenuhi kembang api, menghancurkan harga diri Maureen hingga berkeping-keping. Semua orang menunggu untuk menonton keributan. Mereka menebak, dengan sifat Maureen yang merupakan sosialita nomor satu di Kota Opela, begitu melihat foto ciuman yang tersebar di mana-mana itu, dia pasti akan datang dengan amarah meluap-luap dan menyeret pulang si berandal itu. Satu jam setelah foto-foto itu menjadi viral di internet, Maureen benar-benar datang. Namun, dia tidak mengamuk, juga tidak menyeret siapa pun pulang. Dia hanya berjalan dengan tenang ke hadapan Raphael, lalu mengulurkan tangan kepadanya. Suaranya begitu pelan, seolah-olah akan larut bersama udara. "Raphael, tujuh tahun yang lalu, aku kasih kamu sebuah jimat keselamatan. Sekarang, bisa kamu kembalikan kepadaku?" Ruangan VIP itu langsung sunyi hingga suara jarum jatuh pun bisa terdengar. Raphael juga tertegun. Tanpa sadar, dia menyentuh jimat keselamatan merah yang tergantung di lehernya. Tujuh tahun yang lalu, dia mengalami kecelakaan saat balapan liar dan harus menjalani perawatan darurat di ICU selama satu hari satu malam. Saat sadar, orang pertama yang dilihatnya adalah Maureen.
Lihat lebih banyakMaureen tertegun. Air mata menggantung di bulu matanya, bergetar pelan, tetapi tidak jatuh.Raphael melepaskan genggamannya. Dia mundur selangkah, lalu mengeluarkan cincin dari sakunya. Itu adalah cincin giok berwarna hijau bening.Di permukaannya terdapat beberapa goresan tipis, bekas saat dia membantingnya."Aku kembalikan ini." Dia menyodorkan cincin itu. Telapak tangannya terbuka, memperlihatkan cincin itu. "Apa pun yang sudah nggak kamu inginkan, aku juga nggak menginginkannya. Tapi kalau yang mau kamu buang adalah aku ...."Raphael menatap Maureen dengan tatapan tegas, seolah telah mengambil keputusan yang sangat penting. "Nggak ada lagi alasan bagiku untuk hidup."Pupil mata Maureen langsung menyempit. Wajahnya seketika memucat. "Apa maksudmu?"Raphael tidak menjawab. Dia berbalik dan pergi dengan langkah lebar. Sepatu kulitnya menghantam lantai semen lorong. Tap, tap, tap .... Setiap langkah terdengar seperti menghantam jantungnya.Maureen berdiri di depan pintu, memandang pung
Raphael menutup telepon. Wajahnya suram. Jari-jarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga benda itu hampir berubah bentuk.Dia lalu menelepon pengacara. Suaranya dingin dan tegas saat berkata, "Aku mau menuntut Audrey.""Dengan tuduhan apa?""Penganiayaan, pencemaran nama baik, fitnah, dan semua tuduhan yang bisa dikenakan padanya. Tuntut semuanya sekaligus.""Buktinya cukup?""Cukup." Raphael menggertakkan giginya. "Kalau kurang, aku akan cari sampai cukup."Setelah menyelesaikan urusan Audrey, dia kembali ke depan penginapan. Hari sudah gelap. Lampu jalan menyala. Cahaya kuning redup menerangi anak tangga dan tubuhnya, membentuk bayangan panjang di belakangnya.Dia mengetuk pintu kamar 301."Ada apa lagi?" Suara Maureen terdengar dari dalam. Dia terdengar lelah, seperti baru saja bangun tidur."Aku lapar," kata Raphael dengan suara serak. "Dulu bukannya kamu paling suka masak buat aku? Masakkan aku sekali lagi, boleh?"Di balik pintu, tidak ada jawaban untuk waktu yang lama. Begit
Raphael duduk di depan penginapan itu sepanjang sore. Dia tidak pergi, hanya duduk di anak tangga depan.Jasnya sudah dilepas dan diletakkan di atas lutut. Lengan kemejanya digulung sampai ke siku. Beberapa bekas gigitan nyamuk muncul di lengannya. Namun, dia bahkan tidak menggaruknya.Dia menelepon Dwayne. Suaranya serak saat berkata, "Tolong selidiki Audrey.""Selidiki apa?""Semua yang pernah dia lakukan selama bertahun-tahun ini. Terutama yang berhubungan dengan Maureen."Dwayne terdiam sejenak. Suara ketikan keyboard terdengar dari seberang telepon. "Akhirnya kamu sadar juga?""Sudah, jangan banyak omong. Cepat selidiki."Satu jam kemudian, Dwayne mengirimkan sebuah berkas. Isinya lebih dari sepuluh halaman dan dipenuhi tulisan rapat. Lengkap dengan tangkapan layar, rekaman suara, dan bukti transfer.Raphael membukanya. Makin lama membaca, wajahnya makin suram. Apa yang dilakukan Audrey selama ini jauh lebih dari sekadar kasus penculikan dan fitnah.Dia pernah menyuruh seseorang m
Bos wanita itu mendecak, lalu kembali mengupas kacang. "Dia nggak bilang kalau punya tunangan. Dia malah bilang kalau dia nggak punya keluarga."Hati Raphael langsung terasa nyeri seperti digores pisau tumpul. Bukan rasa sakit yang tajam, melainkan rasa nyeri yang berat dan menyesakkan. Rasa sakit itu datang berulang kali.Dia tidak mengatakan apa-apa, langsung berjalan menuju lantai tiga. Langkahnya begitu lebar hingga satu kali melangkah melewati dua anak tangga sekaligus.Raphael berhenti di depan kamar 301, lalu menarik napas dalam-dalam. Jari-jarinya sedikit menekuk, lalu dia mengetuk pintu.Pintu terbuka. Tampak Maureen berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan kaus yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Bagian kerahnya bahkan sudah melar. Rambutnya diikat seadanya sehingga beberapa helai rambut jatuh di sisi wajahnya.Wajahnya masih pucat seperti sebelumnya. Bibirnya pecah-pecah. Perban di pergelangan tangan juga belum dilepas. Perbannya sudah agak kotor, bahkan
Maureen bersandar pada kusen pintu. Demam membuat seluruh tubuhnya lemas. Bibirnya pucat, suaranya terdengar tak bertenaga. "Aku nggak melakukannya. Nggak ada yang perlu dijelaskan.""Kamu nggak melakukannya?" Raphael melangkah mendekat sedikit demi sedikit. Amarah di matanya seolah akan menyembur k
Maureen tidak menanggapi. Dia hanya menunduk, menyembunyikan emosi yang ada di dalam matanya.Raphael juga malas berbicara lebih jauh dengannya. Dia berdiri, lalu berjalan ke ruang tengah sambil melihat ke sekeliling."Mana Boba?"Boba adalah seekor kucing ragdoll. Raphael dan Audrey telah memelihar
Maureen ingin menjelaskan, ingin mengatakan bahwa dia dijebak.Namun, ketika bibirnya terbuka, yang bisa dia rasakan hanyalah darah pekat di dalam mulutnya.Tatapan Raphael tertuju pada piano grand putih di sudut ruangan. Piano itu dibawa Maureen saat pertama kali pindah ke vila ini. Itu adalah bend
Maureen mengambil ponsel itu. Video di layar mulai diputar.Seorang pria yang wajahnya tidak terlihat jelas sedang berlutut di lantai. Tubuhnya penuh luka, bibirnya robek dan berdarah. Sambil menangis kesakitan, dia terus berteriak, "Ini perintah Bu Maureen! Bu Maureen yang nyuruh kami menculik Bu A


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak