Short
Ketika Laranganku Menjadi Motivasi Untuk Menyakitiku

Ketika Laranganku Menjadi Motivasi Untuk Menyakitiku

Oleh:  RainbowTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
19Bab
15.8KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Semua orang di Kota Opela tahu bahwa Maureen dan Raphael adalah pasangan yang selalu bertentangan seperti air dan api. Sebagai tunangan Raphael hanya dalam nama, Maureen menetapkan tiga larangan untuknya. Dilarang balapan liar, dilarang tidak pulang semalaman, dan dilarang menemui cinta pertamanya yang bernama Audrey. Namun, Raphael justru selalu melakukan kebalikan dari apa yang diminta. Entah itu mengebut mengelilingi seluruh jalan lingkar pegunungan di Kota Opela atau menghabiskan malam di kelab hingga mabuk dan tak sadarkan diri. Bahkan pada hari ulang tahun Maureen, dia sengaja membawa Audrey dan menciumnya di bawah langit yang dipenuhi kembang api, menghancurkan harga diri Maureen hingga berkeping-keping. Semua orang menunggu untuk menonton keributan. Mereka menebak, dengan sifat Maureen yang merupakan sosialita nomor satu di Kota Opela, begitu melihat foto ciuman yang tersebar di mana-mana itu, dia pasti akan datang dengan amarah meluap-luap dan menyeret pulang si berandal itu. Satu jam setelah foto-foto itu menjadi viral di internet, Maureen benar-benar datang. Namun, dia tidak mengamuk, juga tidak menyeret siapa pun pulang. Dia hanya berjalan dengan tenang ke hadapan Raphael, lalu mengulurkan tangan kepadanya. Suaranya begitu pelan, seolah-olah akan larut bersama udara. "Raphael, tujuh tahun yang lalu, aku kasih kamu sebuah jimat keselamatan. Sekarang, bisa kamu kembalikan kepadaku?" Ruangan VIP itu langsung sunyi hingga suara jarum jatuh pun bisa terdengar. Raphael juga tertegun. Tanpa sadar, dia menyentuh jimat keselamatan merah yang tergantung di lehernya. Tujuh tahun yang lalu, dia mengalami kecelakaan saat balapan liar dan harus menjalani perawatan darurat di ICU selama satu hari satu malam. Saat sadar, orang pertama yang dilihatnya adalah Maureen.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Mata Maureen merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis. Tubuhnya juga tampak jauh lebih kurus. Saat melihat Raphael membuka mata, air matanya kembali jatuh. Kemudian, dia melepas jimat keselamatan yang selama ini tergantung di lehernya. Dengan gerakan kaku, dia memakaikannya ke leher Raphael.

"Ini dari nenekku. Dari kecil sampai sekarang, aku nggak pernah terluka sedikit pun berkat jimat ini." Suaranya saat itu serak dan terdengar tegas. "Sekarang aku kasih ke kamu. Pakai baik-baik. Mulai hari ini, kamu nggak boleh terluka lagi."

Selama ini, Raphael selalu membenci tunangannya itu. Seharusnya dia langsung melepas jimat itu dan melemparkannya kembali ke wajah Maureen. Namun, entah kenapa dia tidak melakukannya. Dia hanya mencibir dingin.

"Kamu ini benar-benar mau ngatur aku ya? Jangan bilang aku nggak boleh lepas jimat ini seumur hidup."

Maureen terdiam lama sebelum akhirnya berkata pelan, "Kalau nanti cintaku padamu habis, kamu boleh melepasnya. Pada hari itu, aku sendiri yang akan datang untuk mengambilnya."

Entah kenapa, ketika mengingat kalimat itu sekarang, perasaan yang sulit dijelaskan tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Namun, Raphael segera menekannya. Dia tetap bersandar dengan santai di sofa sambil tertawa sinis.

"Buat apa kamu minta kembali?"

"Bukan kenapa-kenapa." Suara Maureen terdengar datar. "Aku cuma nggak mau pinjamkan ke kamu lagi."

Perasaan kesal yang tak terkendali kembali muncul. Raphael menatap wajah di depannya, wajah yang sudah sangat dikenalnya.

Sejak kecil hingga dewasa, wajah itu selalu menampilkan sosok putri keluarga terpandang yang lembut dan anggun. Dia selalu menjaga sikap, selalu menahan diri ..., dan selalu membuatnya bosan.

Dia teringat bagaimana selama bertahun-tahun ini Maureen selalu mengejarnya ke mana-mana. Dia juga teringat bagaimana wanita itu selalu mengaturnya. Tiba-tiba saja, dia merasa memahami sesuatu.

"Oh ...." Raphael sengaja memanjangkan suaranya. Senyum nakal penuh ejekan tersungging di sudut bibirnya.

"Jadi karena selama ini kamu nggak berhasil bikin aku jatuh cinta, kamu sadar kalau cara nempel terus itu sudah nggak mempan, makanya sekarang mulai main tarik-ulur?"

Maureen tidak menjawab. Raphael pun mengira tebakannya benar. Dia berdiri, lalu menatap Maureen dari atas.

"Oke. Kalau kamu mau main tarik-ulur, silakan. Kamu mau ambil jimat ini lagi juga nggak masalah. Habiskan dulu sepiring mangga di meja itu, baru nanti aku kembalikan."

Begitu kata-kata itu terlontar, semua orang di ruangan langsung menarik napas dalam-dalam.

Audrey yang pertama kali tidak bisa menahan diri. Dia menarik lengan baju Raphael dan berkata pelan, "Raph, apa syaratnya nggak keterlaluan? Maureen alergi mangga lho."

Raphael bahkan tidak meliriknya. Matanya tetap terpaku pada Maureen. "Kalau dia merasa itu keterlaluan, dia boleh nggak makan kok. Aku nggak maksa."

Baru saja Raphael selesai bicara, Maureen sudah duduk di depan meja. Dia mengambil sepotong mangga, lalu memasukkannya ke mulut, mengunyah, dan menelan ....

Baru gigitan pertama, bibirnya mulai memerah. Gigitan kedua, bintik-bintik ruam mulai muncul di pipinya. Gigitan ketiga, napasnya mulai memburu dan bercak-bercak merah bermunculan di lehernya.

Ruangan itu sunyi senyap. Raphael terus menatapnya. Dia melihat kulit putih Maureen berubah merah dengan cepat dan napasnya makin berat. Namun, wanita itu tetap tidak berhenti.

Satu potong, dua potong, tiga potong .... Sampai piring itu benar-benar kosong, barulah Maureen mengangkat kepalanya.

Matanya sudah bengkak hingga nyaris tidak bisa dibuka. Bibirnya juga membengkak sampai berwarna keunguan. Suaranya terputus-putus, seolah dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.

"Aku ... sudah habisin mangganya. Sekarang ... bisa kamu ... kembalikan?"

Api di dada Raphael kian berkobar. Dengan marah, dia menendang meja kaca di depannya hingga terbalik. Suara pecahan kaca terdengar nyaring.

"Nih, ambil!" Dia mencabut jimat keselamatan dari lehernya, lalu melemparkannya keras-keras ke tubuh Maureen. "Pergi sana!"

Setelah itu, dia langsung menarik tangan Audrey dan berjalan ke luar tanpa menoleh lagi.

Melihat itu, orang-orang pun pergi satu per satu.

Saat Raphael hampir keluar dari pintu, terdengar suara benturan berat dari belakang. Audrey menoleh dan langsung berteriak, "Raph! Maureen jatuh! Alerginya parah sekali! Apa dia akan baik-baik saja? Kita perlu bawa dia ke rumah sakit nggak?"

Langkah Raphael terhenti. Tanpa sadar, dia menoleh.

Dia melihat Maureen meringkuk di lantai. Seluruh tubuhnya kejang-kejang. Ruam di wajahnya sudah menyatu menjadi hamparan merah yang mengerikan. Napasnya terdengar begitu berat.

Hati Raphael menegang. Dia baru saja hendak menghampiri ketika Audrey tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke dalam pelukannya.

Raphael segera berbalik untuk menopangnya. Keningnya berkerut. "Kamu kenapa? Terkilir? Sakit nggak?"

Audrey bersandar dalam pelukannya dengan wajah sedih. "Aku nggak apa-apa .... Aku masih bisa tahan. Mending kamu lihat Maureen saja. Alerginya kelihatan parah sekali ...."

Raphael menoleh dan melirik Maureen yang tergeletak di lantai dengan tatapan jijik. Entah kenapa, rasa kesal kembali memenuhi dadanya.

Nada bicaranya dingin dan datar. "Nggak usah pedulikan dia. Dia sendiri yang nekat makan mangga. Kalau mati pun, itu akibat ulahnya sendiri. Malah bagus kalau dia mati, nggak ada lagi yang ganggu aku. Ayo, aku antar kamu ke rumah sakit dulu."

Setelah berkata begitu, dia langsung menggendong Audrey dan melangkah pergi.

Ruangan itu kembali sunyi. Maureen tergeletak di lantai. Dengan sisa tenaga terakhir, dia merogoh ponsel dari saku, lalu menelepon ambulans.

"Aku ... di Lust Club Kota Opela ... lantai tiga ... ruang VIP 308 ...." Suaranya terputus-putus hingga hampir tak terdengar. "Alergi ... butuh ambulans ...."

Setelah menutup telepon, dia menempelkan pipinya ke lantai yang dingin, merasakan kesadarannya perlahan-lahan menghilang.

"Tenang saja, Raphael ...," gumamnya pelan. Suaranya begitu lirih, seiring kesadarannya yang meredup. "Sebentar lagi ... kamu akan bebas."

'Kamu masih belum tahu, 'kan? Aku sudah tes DNA ... dan ternyata aku bukan putri Keluarga Wendelyn.'

'Putri kandung mereka ... akan segera kembali. Sedangkan aku ... akan pergi.'

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasanLebih banyak

Hey Liebe
Hey Liebe
..............................
2026-08-20 19:42:44
0
0
Yenita Siregar
Yenita Siregar
gak seruuuu... gak suka
2026-07-03 14:06:04
0
0
Nenden Paxi Damar Juliani
Nenden Paxi Damar Juliani
...........
2026-07-02 01:41:42
1
0
Natha Loyze
Natha Loyze
..................
2026-06-30 20:50:52
1
0
Elel Brata
Elel Brata
ih ih...ih...ending nya di suruh nebak...swtelah membuat ku menangis....astagaaaaa
2026-06-28 22:52:08
2
0
19 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status