LOGINBudi geleng kepala. “Ini karena panik. Kita liat aja nanti. Aku nyesel nggak berangkat lebih pagi.”
Mereka ikut arus manusia, dorong-dorongan sampe akhirnya nyampe pasar induk Palangkaraya. Di depan ada barisan polisi bersenjata lengkap senapan otomatis, rompi anti peluru. Mereka jaga ketat, bikin orang takut tapi juga tenang. Area distribusi dibatasi tali kuning, polisi berdiri setiap 1 meter. Ada sekitar 400–500 titik kasir, tapi antrean geraknya lambat banget.“Ah!” seseorang di dalam mobil berteriak keras. Rina langsung meraih lengan Budi erat-erat. Kukunya menusuk kulit Budi, tapi dia nggak merasakan sakit. Perhatiannya tertuju ke luar jendela: seekor tikus abu-abu sebesar anak kucing melesat kencang menyeberang jalan. Badannya gede banget dibanding tikus biasa, dan kelihatan sangat berani. Dia nggak langsung kabur, malah ngumpet di semak-semak dekat situ. Bulunya abu-abu mengkilap, giginya runcing tajam, dan matanya merah menyala kayak darah. “Ayo, lo binatang sialan!” Sopir berteriak sambil injak gas dalam-dalam. Mobil langsung ngebut. Tikus itu ngeliatin mobil sampai hilang dari pandangan, lalu lompat nyebrang jalan dan lari ke arah lapangan kosong. Mereka lagi deket bukit yang katanya sumber tikus-tikus itu. Mobil nyampe pertigaan, belok masuk ke celah bukit. Pohon-pohon di sekitar banyak yang gosong habis terbakar. Bahkan bekas bom masih kelihatan: kawah hitam dan pohon tumbang. Jalanan penuh batu kecil dan kerikil yang nyelonong
Mereka berdua naik ke bus antar kota yang baru saja tiba. Kursi di samping Rina sudah terisi, jadi Budi meminta tukar tempat dengan penumpang di sana. Dia membantu Rina menata barang bawaannya, lalu duduk di sebelahnya. Di seberang mereka ada dua gadis dan seorang cowok. Budi secara alami lebih memperhatikan kedua gadis itu. Mereka tampak baru saja menangis. Mata mereka merah dan wajahnya penuh ketakutan. Cowok itu tinggi kurus, mukanya penuh jerawat. Dia menghibur kedua gadis itu dengan lembut. Ketiganya kelihatan akrab, dan Budi menduga mereka kuliah bareng di universitas. “Ada apa sama bus tadi? Kok banyak darah di mana-mana?” Budi mengetuk pelan meja kecil di depan, bertanya pada cowok itu. Cowok itu menatap Budi dulu sebelum menjawab, “Tiba-tiba ada gerombolan besar burung-burung liar nyelonong ke arah bus. Untung badannya tebal dan kuat, kacanya juga tebal antipecah. Kalau enggak, kita semua bisa luka parah.” “Banyak banget? Burung
Budi geleng kepala. “Ini karena panik. Kita liat aja nanti. Aku nyesel nggak berangkat lebih pagi.” Mereka ikut arus manusia, dorong-dorongan sampe akhirnya nyampe pasar induk Palangkaraya. Di depan ada barisan polisi bersenjata lengkap senapan otomatis, rompi anti peluru. Mereka jaga ketat, bikin orang takut tapi juga tenang. Area distribusi dibatasi tali kuning, polisi berdiri setiap 1 meter. Ada sekitar 400–500 titik kasir, tapi antrean geraknya lambat banget. Panasss… lembab… keringat netes deras. Budi nggak masalah badannya udah lebih kuat setelah latihan dan level up. Rina keliatan lemes, mukanya merah. “Gimana kalau kita maju ke depan? Coba nyelonong,” usul Budi. “Nggak bakal bisa kali,” kata Rina sambil kipas-kipas pake tangan. “Coba aja. Pegang tanganku erat.” Budi tarik tangan Rina, dorong masuk celah-celah kerumunan. Kekuatannya 1,5 kali orang biasa bikin mereka maju lebih gampang. A
Budi fokus banget, coba analisis situasi dunia dari kata-kata presenter. Di atas kontrakan, tetangga lagi ribut keras. “Lu cuma bisa makan doang! Besok kita mati kelaparan kalau lu nggak bisa dapet beras!” suara cewek marah-marah. “Lu pikir gue apa? Supermarket kosong, pasar basah nggak ada stok, pasar grosir tutup! Besok gue coba lagi, ya?” suara cowoknya ngeluh sambil mendesah. “Lu suruh gue nunggu terus! Sampai kapan? Kita udah kehabisan beras! Gue bilang berulang kali belanja stok kemarin, lu nggak mau denger. Bilang nggak bisa cuti. Sekarang apa? Kantor lu tutup!” Brak! Suara gelas pecah, anak kecil nangis kenceng. “Ya udah! Besok gue ke pasar gelap! Gue dapetin makanan apapun harganya, puas belum? Udah diem, malu-maluin!” Suara mereka pelan-pelan reda. Dua minggu terakhir dunia berubah drastis. Berita TV dan medsos rame soal tanaman tumbuh liar, hewan mutasi,
Malam itu Budi mutusin nggak jadi karaoke bareng Mbak Wulan. Ibu Mbak Wulan nelpon mendadak, suaranya panik, jadi Mbak Wulan buru-buru pulang meski keliatan males. Rina juga nggak pulang pasti lagi urus pemakaman Mas Joko sama keluarga atau urusan duka lainnya. Budi sendirian di kontrakan, nyalain PC buat main game, tapi jarinya nggak gerak. Pikirannya berantakan. Dada sesak, kayak ada yang nyangkut di tenggorokan. Dia pengen teriak, tapi nggak tahu kenapa. Akhirnya dia matiin PC, jalan ke ruang tamu, mulai bayangan tinju. Skill Silat-nya cuma level 4, tapi pas digabung sama Ketangkasan 12 poin sekarang, pukulannya jadi gila. Gerakan tangan cepet banget, udara berdesir. Tiap pukulan ke udara kayak ngebayangin musuh bisa bikin orang luka parah, bahkan mati kalau kena titik vital. Awalnya cuma buat lepas stres, tapi lama-lama ketagihan. Setiap gerakan penuh tenaga, badan panas, darah mengalir kenceng. Dia ngerasa hidup lagi. Bip.
Taman Palangkaraya adalah spot hits di kota tempat kencan favorit, piknik, jogging, sampe foto-foto. Tiap musim indah: musim hujan daun hijau lebat, musim kemarau bunga-bunga mekar. Danau di tengahnya kayak permata biru, bunga teratai lagi rame berbunga. Karena cuaca aneh belakangan, air danau makin jernih, kayak safir gede di tengah taman. Hari Sabtu, taman rame banget. Pasangan mesra di rumput, keluarga piknik, anak kecil lari-larian. Budi turun dari ojek, langsung lari ke area BBQ di pinggir danau. Nggak lama, dia nemuin mereka. Kelompoknya lagi sibuk nyiapin. Pak Candra lagi oles minyak ke daging kambing, sambil ngobrol sama Mbak Lia (bagian keuangan). Mbak Wulan lagi pegang terong, taburin cabe bubuk. Mbak Lia cewek cantik di kantor: kulit putih, muka oval, mata besar. Tapi agak sombong, dingin sama cowok. Budi nggak terlalu deket sama dia, penasaran gimana Pak Candra bisa ajak dia ikut. “Aku datang tela







