LOGINThe unnatural heat flooding my veins, the unfamiliar ache low in my belly - I was in heat for the very first time. And Kai had sensed it instantly. "Please..." The whispered plea fell unbidden from my lips. A pleased rumble reverberated in Kai's broad chest. "What do you want?" His voice was guttural, laced with desire and command. "Say it." My throat constricted around the shameful words. But my wolf, Crystal, shoved them out. "I... I want you. Please!" Kai's hungry look intensified. "Please what?" "Take me..." It was part sob, part moan. "Make me yours!" ... Betrayed... Sold... And Rejected... Tracy finally ran away from the cold alpha who despised her for being his mate when she realized she was carrying his child. Three years later, Tracy had built her dream life, better and stronger. But what would happen to her little perfect world when Alpha Kai finally found her? ... Only after Tracy left did Alpha Kai realizes she was his true mate and not some gold digger planted by the elders after his throne. Regretting his coldness towards her, Kai chased her back. But Tracy was now a sophisticated single mother who had lots of men groveling for her attention. Would she forgive and accept him back?
View MoreEntah sejak kapan wanita itu dibohongi, namun kali ini satu persatu hal yang tidak dirinya ketahui lantas membuatnya tersadar; bahwa hidupnya terajut dalam kebohongan.
Navierra Clarabelle, wanita itu tidak pernah menyangka jika pada akhirnya cinta yang dirinya pupuk dengan mengorbankan seluruh hidupnya menjadi kehancuran besar. "Aku bisa jelaskan!" Itulah kalimat yang diucapkan suaminya tatkala dirinya membuka pintu kamar hotel setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya bahwa sang suami berada di sini. Bibir wanita itu tersenyum miring menyadari ada banyak sekali hal yang tidak dirinya sadari, salah satunya adalah perselingkuhan yang entah sudah sejak kapan berlangsung. Matanya memerah marah dan memandang ke arah wanita yang menghabiskan waktu bersama suaminya itu, kecewa juga dengan kepercayaannya yang malah disalahgunakan. "Aku berusaha mempercayaimu sepenuhnya, tapi kenapa harus dia?" Erick Anderson tahu bahwa malam ini dirinya sudah terpergok, mau tak mau harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, "Clara, jangan salahkan aku kenapa berbuat seperti ini. Semua juga salahmu!" Clara tahu bahwa pria ini tidak akan pernah mengakui kesalahannya meskipun sudah terpergok di depan mata, bahkan berani memutarbalikkan fakta untuk menyalahkannya. "Awalnya aku hanya ingin menanyakan apa benar kau melakukan penggelapan dana perusahaan, tapi apa ini? Kau berselingkuh?" ujar wanita itu dengan kilatan emosi yang memuncak. Erick mencoba tenang dan mendekat, sementara wanita yang bermalam bersamanya hanya berdiam diri di depan pintu kaca balkon yang terbuka. "Dengarkan penjelasanku!" Erick terlihat memaksa untuk memberikan penjelasan. Namun, Clara tidak sebodoh itu untuk percaya lagi. Selama dua tahun pernikahan mereka, ia sangat percaya, bahkan tidak pernah berpikir jika suaminya akan seperti ini. Kini ia tahu bahwa tak selamanya perasaan itu berbalas, suaminya telah mengkhianatinya dan memilih Aretha, sesosok sahabat baik yang selalu dirinya banggakan. "Apa dana perusahaan yang kau gelapkan itu dipakai untuk membahagiakan Aretha?" tanya Clara dengan suara bergetar. Suaminya ini bukan apa-apa tanpanya, mereka menikah karena Clara yang menginginkannya dan berharap keduanya bisa bahagia. Sayangnya, hanya ia yang bahagia dan suaminya tidak sama sekali. Erick tidak bisa menjawabnya untuk kali ini, namun sorot matanya menunjukkan bahwa dirinya sedang tidak ingin bertengkar, "Tenanglah!" "Tenang katamu? Dana perusahaan kacau balau, aku hampir bangkrut karena ulahmu! Sekarang kau bermesraan dengan wanita ini alih-alih memperbaiki semuanya, di mana otakmu?!" Emosi itu dirinya dikeluarkan bersamaan dengan kekecewaan tanpa arah. Clara lantas mengambil sebuah vas bunga di atas meja kamar hotel itu, hendak melemparkannya ke arah mereka. "Clara!" Erick menahannya, namun tenaga Clara yang keras kepala dibanding biasanya hingga pria itu berusaha mengeluarkan usaha lebih. Duk! Vas yang tadinya Clara hendak lempar ke arah Aretha justru dihalangi oleh kepala Erick hingga dahi suaminya itu terluka. Pria ini bahkan sanggup terluka demi melindungi selingkuhannya, membuat hati Clara semakin sakit. Erick pegang dahinya yang berdenyut, ternyata istrinya bisa bersikap seperti ini juga. Namun, ia tidak bisa membiarkan Clara melukai Aretha, bahkan kini ia berusaha merebut vas kaca tersebut. "Lepaskan!" Clara semakin tidak terkendali. Prang! Tidak mengenai Aretha yang sudah menghindar, Erick dengan dahi yang berdarah tetap menghentikan Clara sampai akhirnya wanita tersebut terdorong sedikit keras. "Aku bilang berhenti, Clara! Inilah kenapa aku memilih berselingkuh!" Bukannya merasa bersalah, Erick justru meminta pembenaran atas kelakuan buruknya, sementara Clara dengan mata yang masih berkilat marah itu menegakkan tubuhnya lagi. Dadanya sakit sekali, teringat jika dulunya sang kakek menyuruhnya untuk segera menikah, nyatanya menikah justru membawanya ke lubang neraka tanpa akhir. "Aku membenci kalian berdua! Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku!" Clara menghempaskan genggaman Erick dengan sekuat tenaga, lalu dengan air mata berlinang mencengkram lengan Aretha di belakangnya. “Aretha! Bukankah kau temanku?” serunya sambil mengguncang Aretha. “Kau sudah gila! Lepaskan aku!” teriak Aretha, mendorong Clara menuju balkon yang terbuka. Tenaga Aretha yang kuat itu membuat Clara tidak bisa berkutik. Tiba-tiba saja Clara sudah ada di tepi balkon, punggungnya menyentuh pembatas itu, sedikit lagi saja akan jatuh. Jemari lentiknya menyentuh leher Clara dan menekannya, membuat napas Clara sesak. “E-Erick …” rintihnya, berharap suaminya itu menolongnya. "Aretha, hentikan!" teriak Erick panik. Lengan Clara menggapai ke arah Erick saat pria itu mendekat, dan … Erick justru menarik Aretha ke dalam pelukannya. Pegangan Aretha pada Clara terlepas. Pemandangan terakhir yang dilihat Clara adalah pelukan protektif Erick pada wanita selingkuhan itu, sebelum tubuhnya jatuh dari tepi balkon. Mata Clara terpejam saat ia merasa terhempas ke udara. BRUK! Selanjutnya Clara tidak tahu, tubuhnya menghantam sesuatu yang keras dan rasanya sakit sekali. Apa ia akan mati malam ini? Di atas sana Erick dan Aretha melihat ke arahnya, darah mengucur dengan deras dari kepala, menandakan kesadarannya yang semakin minim sampai akhirnya ia tidak bergerak lagi. ***"Clara?"
Terbangun ketika seseorang memanggil namanya, wanita itu membuka mata dan kemudian terkejut saat kini mendapati dirinya berada di dalam mobil.
Seorang pria di sampingnya lantas memandang ke arahnya dengan tatapan biasa, "Kita sudah sampai."
Sampai? Clara melihat ke sekitar dan ia tersadar bahwa mereka berdua sudah berada di area parkir kantor catatan sipil.
Namun, bukannya menanggapi pria tersebut, dirinya lantas melihat keadaannya sendiri dan menyentuh kedua pipinya lalu melihat pantulan wajahnya pada kaca mobil.
Bukankah ia baru saja jatuh dari ketinggian karena Aretha yang mendorongnya?
Kenapa sekarang ia berada di mobil bersama Erick?
Sementara pria itu tiba-tiba berucap, "Aku sudah memikirkannya, Clara. Aku tidak bisa menikah denganmu sekarang, tapi kakekmu terus menekanku dan kau memaksaku."
Mendengar hal itu, Clara yang masih bingung lantas mengerutkan kening, "Apa?"
Melihat Clara yang memandangnya tak paham, Erick ikut bingung karena sebelumnya mereka membicarakan hal ini dan bertengkar, "Aku sudah menjelaskannya tadi, tapi kau marah dan memilih tidur. Kau tidak ingat?"
Wanita itu yakin bahwa dirinya tidak sedang bermimpi, apalagi kejadian yang menimpanya terkait Aretha sama sekali bukan sesuatu yang kebetulan.
Ia tidak tahu, namun adegan di dalam mobil sama persis saat ia dan Erick mendaftarkan pernikahan mereka kala itu.
Apa dirinya kembali ke masa lalu?
Kia's POVThe elders were still very much in shock that I had a son."Honestly, exactly how long is it going to take them to get used to it?""We have to run a DNA test immediately," one of them said."Get on with it already! How many times have you said that?" I asked. "Or are you scared of finding out the truth?"He bared his teeth at me, but I smiled smoothly. I had nothing to fear since I had done all my preparations and I knew the truth.My confidence was probably disarming to them, but they still went ahead with the DNA test."Come along, boy," one of them said to Kian.I looked to my side at him. "Go on now. They won't hurt you. You'll be back with us before you know it." He nodded silently and went along with the elder."Are you sure this is not a bit too rushed?" Tracy asked."I'm sure," I said. "I guess what, I've never been happier in my life." I leaned in and kissed her on her cheek.She seemed a little nervous accepting the kiss from me. I could see clearly in her look th
Kia's POVEven after waiting for someone, he did not show up, and I began to wonder whether something was wrong. The boy had finished telling me his story, and now it was my turn. He looked at me expectantly."Before we have this very serious conversation," I said, "since he is not here, I think we would just do it without him."I looked at him seriously. "Now, are we going to have to do it a second time because he is not here? Because you have two people to apologize to.""No," she said. "Never mind that.""All right," I said."I'm sorry," she said."Sorry for what?" Kian asked her.A single tear streamed down her cheek as she spoke. "Your father is Kia here," she pointed a finger at me. "I've kept the two of you separated for so long now, and I'm very sorry about it."He looked stunned, but I wasn't surprised at all. After all, I had figured it out myself.She looked at me, her eyes pleading. "I'm so sorry," she said. "I am ready to accept whatever punishment you have for me," she s
Garvin's POVArriving at the hospital, I found myself walking straight towards Tracy's ward. Right now, I hardly knew what I wanted or why I was here. What I did know was that I had only an hour to spend. After that, I'll go back to the office to see how far we are with the documents and the secretary.I felt really excited to give the secretary the job of spying on the elders because I knew that it would surely be very fun."Yes, and then I will order her to deny any connections with me immediately if she gets caught," I thought, the plan making more and more sense in my mind. The more I thought about it, the more excited I became."Who knows? They might have information about who sent her to them," I thought. The thoughts were very exciting to me.Shaking all of them out of my mind, I focused on the task at hand. Right now, I was in the hospital to find Tracy, wasn't I? To confront her about the life-changing news that she had hidden from me for so long.She was going to pay for it
Kia's POVI kept on checking my watch, waiting for Garvin to come before I broached the subject with her. After all, it would not be a bad idea for me to finish the topic once and for all when he was here. It was going to be a very nice party, and I was probably going to enjoy it.No, I realized, looking at her face. I was not going to enjoy anything about the Great reveal. It was going to hurt to hear it from her that I was the father of the boy. And him coming here could make the environment a lot more tense than it should be.Tracy was looking at me. I could feel her eyes. I wondered whether I should glance up to meet them and whether she would see the betrayal in mine. I had been waiting to confront the topic ever since, but now I found myself backing out. Later, there was no rush, after all.She was looking at me, staring intently, so much that I had to look up at her.Our eyes met, and I couldn't help but feel a crushing sorrow mixed with disappointment at the crimes she had com
Kia's POVEven I couldn't figure out the reason why I was on my way to get every pasta by myself instead of just ordering it online. Or maybe I should give it to a servant to get it; any one of those options will do, but I found myself going personally."Do I just want to get out of our presence for a
Kia's POV“He won't,” Garvin said solemnly. I can't explain why I felt at peace knowing that for the first time in the history, Garvin and I were negotiating on something, uniting for a common cause, the thought filled me with immense joy.'i suggest you be on alert, Garvin isn't someone you should tr
Garvin's POV “What are you doing here,” I asked, unable to make out the sight before me. I recognized that wolf anywhere. it was Kia, his chestnut brown fur which was the exact color of his hair could not be wrong. Plus the terrifying size of the wolf as well. What was he doing here? Alone with Kian
Tracy POV.Gripping the steering tightly, I roared the Bentley Flying Spur I had gifted myself on my birthday.Glancing at the digital clock, '9;39am' it read._At least I have a bit of time to go home and get changed. I need to hurry up if I want to return to the hospital fast._ "Let me go. I say leav












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews