LOGINBetrayed by her lover on the day of their wedding, as a form of revenge she kisses a mysterious man in front of her former love. Robin Heymers is a young, independent woman working towards building her business. But all comes crashing down when a scandal about her and a rich CEO by the name of Ethan Acres, makes its way to the media. Being the cause of the scandal she is cornered into a marriage, right after canceling her previous engagement. And so begins her new life of fake smiles and affection. But what happens when two strangers drawn to one another begin living together? Sheets entangle between them and a passion like no other sets ablaze. Physical attraction is always the gateway to a new love. So will this blossom into something more?
View More“Tidak! Tolong! Jangan! Jangan lukai dia! Tolong! Kumohon, kumohon, aku akan melakukan apapun juga!” teriak seorang pria dengan suara ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya berubah menjadi sangat pucat dan dia benar-benar menyedihkan.
Jeritannya semakin menjadi tatkala silaunya cahaya kilat dan guntur yang saling bersusulan menggelegar di angkasa malam ini. Hujan masih turun dengan deras di luar. Lisa segera menghampirinya dan mencoba untuk menenangkan pria itu. “Tenang, tenanglah, ada aku di sini,” ucap Lisa padanya dengan menepuk pelan punggungnya. Namun, tiba-tiba saja, pria itu membalikkan tubuhnya dan menarik tangan Lisa lalu memeluknya dengan sangat erat. “Tolong, kumohon tolong aku!” Dia berkata lirih. Jantung Lisa berdetak cepat dan darahnya berdesir deras, pria ini memeluknya, dia bahkan belum pernah merasakan hal demikian dari pria yang bukan mahramnya, tetapi entah kenapa rasa empatinya saat ini sangat tinggi membuatnya sangat iba dengan pria ini. “Sabarlah, kamu aman sekarang.” Suara lembut Lisa membuatnya perlahan bisa mengatur ritme napasnya menandakan pria ini sekarang sudah jauh lebih tenang. Namun demikian, pelukannya pada Lisa masih kuat seolah tidak ingin dilepaskan. Tiba-tiba saja, seketika penerangan padam disusul dengan cahaya kilat yang memenuhi ruangan, semakin erat saja pria ini melakukannya, apalagi setelahnya suara petir seolah memecahkan tempat ini. Jantung Lisa kembali berdetak kencang, tubuhnya yang mulai tenang tadi menjadi bergetar hebat kembali, hanya saja kali ini mulut pria itu terkunci rapat. “Tenanglah dulu, aku akan mengambil lilin di belakang.” Lisa berkata menenangkannya. Pria itu menggeleng lalu bersuara lirih menyanyat. “Tolong jangan tinggalkan aku.” Baru saja Lisa ingin membujuknya lagi, kamar ini mendadak terang dengan sinar penerangan dari arah luar masuk melalui celah gorden yang masih terbuka. Banyak pasang mata melihat mereka dalam keadaan seperti ini, yang mana semua orang pasti akan sangat salah paham dengan posisi mereka. Berpelukan di dalam sebuah kamar yang gelap dan hanya berdua saja. “Lisa! Keluar kamu!” Teriak suara dari luar. Lisa benar-benar terkejut, dia ingin segera melepaskan pelukannya, tetapi suara dari luar itu terdengar seperti langsung menerobos masuk ke dalam rumah dan membuat kegaduhan “Pak Duha! Lihat, ini kelakuan putrimu!” serunya dengan lantang. Lisa terlihat panik, dia berusaha untuk menjelaskan. “Tidak-tidak, ini salah paham ini–” “Kita harus menikahkan mereka!” timpal yang lain lagi. Lisa sangat terkejut dengan pernyataan barusan. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya, dia bermaksud untuk menjelaskan pada ayahnya, tetapi ayahnya memandang dirinya dengan tatapan kecewa. “Tidak, kejadiannya tidak seperti yang bapak-bapak pikirkan ini. Ayah ini semua–” “Jangan berkilah kamu! Untungnya kita cepat datang, kalau tidak kalian pasti sudah melakukan hal diluar norma agama!” Seseorang dengan janggut tebal yang berseru pertama kali tadi bicara dengan nada tinggi pada Lisa. “Pak Duha, Bapak salah satu orang yang terhormat di kampung kita ini, jadi lebih baik kita nikahkan mereka saja malam ini!” Mata Lisa mulai berkaca-kaca, bagaimana mungkin dia menikah dengan pria ini?! “Pak, benar seperti yang Bapak ini bilang, kalau tidak mau Lisa mencoreng nama keluarga kita, kita harus menikahkan mereka.” Suara itu sangat dikenal oleh Lisa, dia adalah Ibu Ida, ibu sambungnya. Lisa menjadi sangat terpojok karena hal ini, tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan pada mereka. Lisa lalu melihat pria itu, jelas makin tidak ada harapan. Pria itu seolah-olah hidup di dunianya sendiri di saat yang segenting ini, pandangannya kosong ke arah depan dan wajahnya terlihat jelas seperti orang bodoh. “Bener, Pak! Perbuatan Mbak Lisa ini tidak dibenarkan, lagipula, takutnya kita juga kena imbasnya! Jadi, mending Mbak Lisa dinikahkan saja sama orang itu!” Kali ini suara Yasmin, adik tiri Lisa, ikut menggema di ruangan ini. Lisa benar-benar tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan, ada rasa sesal yang dalam atas perbuatannya sendiri pada pria itu, tetapi dia tahu, segala sesuatu yang sudah digariskan jelas tidak bisa diubah begitu saja. “Ayah, Lisa tidak begitu, Yah, Lisa tahu batasan–” “Halah batasan! Jangan sok suci kamu! Kalau tahu batasan ngapain kamu berduan di kamar dengan dia? Pake peluk-peluk segala. Pak, kita harus menikahkan Lisa malam ini juga, kalau tidak nama baik keluarga kita menjadi taruhannya.” Ida mendesak Duha yang masih diam melihat anaknya. Lisa melihat ke arah Duha dengan tatapan memohon, tetapi sepertinya sang ayah tidak bisa berbuat banyak. “Baiklah, saya akan menikahkan anak saya malam ini juga dengannya,” putus Duha. Hal ini membuat Lisa tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia tahu betul ayahnya ketika memutuskan sesuatu, sulit untuk ditarik kembali. “Ayah …,” lirih Lisa pada Duha, matanya menatap sendu, tetapi pria itu seolah menulikan telinganya. Saat ini yang ada dalam kepalanya adalah menikah dengan pria ini. Pria asing yang bahkan namanya sendiri saja dia tidak ingat! Duha masih tetap tinggal di kamar ini, dia melihat ke arah Lisa dengan tatapan kecewanya, matanya juga melihat tajam ke arah Lisa. “Lisa, ayah tahu kamu tidak akan melakukan apapun, tapi keadaannya cukup berbeda, semua orang bisa dengan jelas melihat kalau kamu dan dia memiliki hubungan tak biasa.” Duha berkata pada putrinya dengan suara yang berat. “Tapi Yah, ayah tahu sendiri dia ini bagaimana, kita tidak tahu asal-usulnya, bahkan hal paling kecil saja tentang namanya dia tidak tahu. ” tunjuk Lisa dengan suara tercekat pada pria itu. Duha hanya mengangguk dan menarik napas berat. “Menikahlah dengannya.” Kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya bagai sebuah godam yang memukul hatinya dengan paksa. “Tapi ….” “Ini yang terbaik saat ini.” Ayahnya mengelus pelan pucuk kepala Lisa sebelum akhirnya keluar dari kamar ini, meninggalkan Lisa dan pria asing itu dalam kamar ini. Lisa hanya diam, dia tetap tak kuasa untuk meneteskan air matanya saat Ayahnya keluar dari tempat ini. Sebelum berpesan padanya agar segera bersiap-siap untuk merapikan diri. Tiba-tiba, pria itu menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi Lisa. “Jangan menangis,” ucapnya dengan suara husky-nya membuat Lisa terkejut mendengarnya. “Kamu …?” Lisa tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tatapan pria itu sungguh dalam. “Gandha, namaku Gandha,” ujarnya. Lisa mengerutkan keningnya. Pria ini mengatakan siapa namanya? Apa dia tidak salah dengar? Belum sempat dia mendekati pria itu dan bertanya lebih jauh, suara Ida kembali terdengar nyaring di kamar ini. “Lisa! Kamu harus memakai pakaian yang rapi, biar tidak memalukan keluarga kita! Cukup kamu yang berdua-duaan dengan orang gila ini saja yang membuat keluarga kita malu!” hardik Ida. Lisa mematung, otaknya masih mencoba untuk berpikir cepat dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, dia kembali disadarkan saat tangan Ida menariknya paksa keluar dari tempat itu.Climbing a mechanic staircase, Robin winced with each step. After her discharge from the hospital, she was made to take physical therapy since she had been lying in bed for so long. It was a bit odd for her to be relearning how to walk at her age, but she needed to get back to who she was before."Alright, Mrs Acres. That is it for today. You did a great job"Her trainer complimented ending the session. Smiling at him with relief she could not be happier to be finished. "Thank you, Seb. Especially for coming all the way here"Unstraping the belt around her waist she threw it aside before placing her hands on her waist in exhaustion. "That is no problem at all. Besides, who else can brag about being in the infamous house of the Ethan Acres? I'll be telling this story for generations"Laughing at the joke she held a hand up to her lips. While the two were busy laughing they did not notice someone else entering the room. "I see you two are enjoying yourselves"Surprised at the voice t
Walking through the familiar large door Robin looked back at the man helping her up the stairs. His expression was somewhat solemn and dare she assume sad. She had no idea just what went on during the past three months of her hospitalisation for him to have a drastic change. Though he had always shown kindness towards her, these days it seemed that he was being extra cautious and caring. Like the time he peeled her orange for her, or when he was constantly asking if she needed anything during their ride home. They were little things and yet they seemed so sweet. What took the cake was when he brought her a bouquet of her favourite flowers, daisies. Out of all the gifts she had received while at the hospital, his was the best of them all. Recalling the gesture she smiled to herself. As they made their way to the bedroom, Robin turned to the left side where her room was. "Where are you going?"Ethan asked with a scowl. She looked up at him in confusion before answering with the most
Groaning awake her eyes fluttered open. Blinking away the fuzzy cloud over her eyes she tried to bring her hand over to help relieve the strain in her eyes, but something prevented her from doing so. Looking over at her hand she saw a larger, much rougher hand desperately clinging to hers. Looking up to the owner of the hands she froze at the full, head of dark hair sitting atop the bed. Although his face was out of view she easily recognized the man. That familiar warmth his hand brought, the large frame hunched over with slow steep breaths rising and falling at each breath he took. How could she ever forget the man she fell so in love with?She sat that for a while just staring at his hair, a small smile hovering on her lips. She had no idea just how much time had passed but it did not matter to her. She could spend years just watching him sleep and would feel satisfied with that alone.Noticing his shoulders shake awake she remained still, only observing the way his muscles moved.
"Oh, my dear little flower!"In rushed a worried Jen with arms out wide in a hug. Opening her arms to welcome the embrace the two held onto each other. Breaking from the comfort Robin smiled up at her."Madame Pourrie, thank you for coming"A tired yet happy Robin said to the well-dressed woman. She wore a large fur coat with a frilling top and a tight long skirt, topped with a top hat tilted to the side. Robin chuckled to herself at the older woman. who else other than the Madame would dress in such a fancy manner?"Pish, posh child did I not tell you to stop calling me that?"She reprimanded the dark-haired woman, slapping her on the arm forgetting she was an active patient. "Madame! She's a sick patient. You can't just hit her like that!"Laurelyn yelled at the former lady as she rushed into the room before pushing her aside to tend to Robin. Gazing down at the poor young woman in her bed she gave her a look of concern as she rubbed her arm where the Madame hit her."Oh, my apolo






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.