LOGINAng magtitimbang kung sino ang mas higit na mahalaga, ang kaibigan ba o ang kasintahan? Ang sakit kaya na nagmula sa nakaraan ay matatanggal ng kasalukuyan?
View More“William! Tunggu sebentar, Mommy akan memperbaiki dasimu,” tutur Nyonya Martha Danielson kepada putra tunggalnya. Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu hotel tempat William dan Amelia akan mengikat janji suci pernikahan mereka.
“Iya, Mommy.” jawab William Danielson, lalu membiarkan sang ibu memperbaiki letak dasinya yang sedikit miring. “Nah … ini baru sudah rapi!” tutur Nyonya Martha sambil tersenyum ke arah sang putra. “Anak Daddy sungguh tampan!” puji Tuan Amos Danielson. “Iya dong, Dad. Siapa dulu ibunya?” “Dan siapa dulu ayahnya!” “Ha-ha-ha!” Ketiganya pun tertawa bersama dengan penuh kebahagiaan. “Tak terasa akhirnya, hari ini kamu dan Amelia akan menikah. Mommy dan Daddy akan mendoakan kalian berdua. Semoga pernikahan kalian senantiasa diberikan kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Jadilah kepala keluarga yang bijaksana untuk istrimu.” seru sang ayah. “Thank you support-nya, Dad. Aku akan ingat selalu semua nasihat dari Daddy.” sahut William kepada sang ayah. “Mommy juga turut mendoakanmu dan Amelia. Semoga kalian bahagia dan diberikan kesehatan yang prima. Mommy dan Daddy menunggu cucu dari kalian. Kamu tahu kan William? Kamu putra tunggal kami. Jadi Mommy mau request tiga orang cucu dari kalian!” sergah Nyonya Martha. “He-he-he! Banyak amat, Mom? Kenapa tidak sebelas orang saja? Sekalian aku bisa membentuk satu tim sepak bola,” canda William kepada ibunya. “Kalau kamu sanggup kenapa tidak, William? Mommy dan Daddy akan sangat senang memiliki banyak cucu. Daddy rasa, kamu juga sanggup mewujudkan semuanya. Tenagamu sangat kuat, bukan?” celutuk Tuan Amos. “Ha-ha-ha. Aku seorang olahragawan, Dad! Tentu saja tenagaku kuat. Tapi sebelumnya aku akan mendiskusikan hal ini kepada Amelia,” ujar William kepada kedua orang tuanya. “Mommy setuju, kamu memang harus membicarakan hal ini kepadanya. Karena Amelia lah yang hamil selama sembilan bulan.” “Siap, Mommy!” sahut William. Pernikahan William Danielson, seorang pengusaha sukses yang tinggal di Jakarta Indonesia dan Amelia Joanna Lewis, kekasihnya adalah sebuah perayaan cinta yang berlangsung di sebuah hotel bintang lima di kawasan Jakarta Selatan. Pesta pernikahan ini bukan hanya sekedar pernikahan biasa, melainkan sebuah pernikahan royal wedding yang mewah dan elegan. Pintu masuk hotel tersebu telah dihiasi dengan bunga-bunga mawar putih dan lili yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Karpet merah yang panjang membentang dari pintu masuk hingga ke altar pernikahan, memberikan kesan seolah-olah kita berada di sebuah acara penghargaan Hollywood. Saat memasuki ruangan utama, mata para tamu undangan llangsung tertuju pada dekorasi yang megah. Langit-langit tinggi hotel tersebut telah dipenuhi dengan lampu kristal yang berkilauan, menciptakan suasana yang glamour dan mewah. Meja-meja tamu ditata dengan rapi, masing-masing diberi nama dengan tulisan tangan yang indah. Di tengah-tengah ruangan, terdapat sebuah panggung besar dengan latar belakang bunga-bunga putih dan lampu yang berkilauan. Tamu-tamu yang datang adalah orang-orang terpilih, semuanya merupakan rekan bisnis dan kolega bisnis dari William Danielson selalu CEO dari WD Corp. Para tamu dan undangan tampak elegan dengan gaun dan jas mewah mereka. Suasana penuh kegembiraan dan harapan, setiap wajah menunjukkan kebahagiaan dan kekaguman atas keindahan dan kemegahan acara ini. Acara dimulai dengan kedatangan pengantin pria, William Danielson. “Hadirin sekalian, mari kita kita sambut mempelai pria, yang sangat tampan dan berwibawa … Tuan William Danielson!” seru sang master ceremony dengan suara lantang. Tuan Muda William Danielson tampak begitu sangat tampan dengan setelan jas hitamnya, rambutnya yang rapi dan senyum lembut di wajahnya. Sang pria mulai berjalan dengan percaya diri menuju altar, menunggu calon istrinya. Suara musik klasik nan romantis khas wedding party mulai berkumandang di area dalam ballroom hotel megah itu mengiringi langkah William menuju ke depan altar, di mana sang pemuka agama sedang menunggunya. “Wah … wajah mempelai pria sungguh berseri-seri. Sepertinya sudah tidak sabar melihat sang mempelai wanita. Baiklah … hadirin sekalian tanpa menunggu lama lagi, kita panggilkan mempelai wanita yang sungguh sangat cantik dan rupawan Nona Muda Amelia Joanna Lewis,” ujar sang MC masih dengan suara lantang. Tak berapa lama kemudian, Amelia Joanna Lewis muncul di pintu masuk. Gadis itu tampak seperti seorang putri dengan gaun pengantin putihnya yang indah, hasil rancangan desainer terkenal. Rambutnya dihiasi dengan mahkota bunga dan kedua tangannya memegang sebuah buket bunga mawar putih. Saat dia berjalan di karpet merah, semua mata tertuju padanya, seolah waktu berhenti sejenak. Mata Amelia tertuju ke depan altar di mana William, sang calon suami pria yang begitu sangat dicintai olehnya sedang berdiri tegak dengan senyum sumringah di sudut bibirnya. Tuan Hans Lewis dan istrinya, Nyonya Stella Lewis juga turut bahagia melihat putri kesayangan mereka akhirnya menikah juga dengan pria mapan dari keluarga Danielson. Setelah sampai di depan Altar, William terlihat meraih tangan calon istrinya Amelia. Keduanya sedang mendengarkan pemuka agama yang sedang memberi wejangan kepada kedua mempelai sebelum mereka mengucapkan janji suci pernikahan. Kemudian setelah itu, sang pemuka agama memberi aba-aba kepada keduanya untuk saling mengucapkan janji nikah. “Ananda William silahkan saling berhadap-hadapan dengan Ananda Amelia. Sekarang tiba saatnya bagi kalian untuk mengucapkan janji nikah dimulai dari Anda,” tutur pemuka agama sambil menatap ke arah mempelai pria. Lalu William pun mulai mengucapkan janji dengan suara tegas dan jelas serta berani, "Saya, William Danielson, telah memilih engkau, Amelia Joanna Lewis menjadi istri saya yang sah dan satu-satunya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai hanya maut yang memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus kepadamu." Lalu kemudian, tiba giliran mempelai wanita yang akan mengucapkan janji suci pernikahan. Masih dengan posisi saling berhadap-hadapan, Amelia pun menatap William, pria yang telah mencuri hatinya. Lalu dengan lembut sang mempelai wanita pun mulai mengucapkan janji nikah itu, dengan perasaan yang menghangat. "Saya, Amelia Joanna Lewis telah memilih engkau, William Danielson. Menjadi suami saya yang sah dan satu-satunya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai hanya maut yang memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus kepadamu." Lalu pemuka agama dengan lantang angkat bicara, "Demikian mereka bukan lagi menjadi dua melainkan satu. Jadi ... apa yang yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia."Aubrey's p.o.v.Nakaupo ako habang hawak ang suklay sa aking kamay na sinusuklay ito sa aking maitim at makapal na buhok dito sa harapan ng salamin sa loob ng aking sariling kwarto. Iniisip ko lang kung sino ba talaga ang Neil Luzbac iyon sa buhay ng kapatid ko at bakit parang sobrang kilala niya si kuya Greg pero hindi naman siya nabanggit nito saakin dati pa except sa isang tao daw ang sobrang kinukulit siya sa tuwing magkikita sila ng hindi sinasadya.Isang tunog ng pagbukas ng pintuan ang nagpakawala sa akin mula sa iniisip ko. Napalingon ako sa taong pumasok na si Yaya Anita at may dala siya na isang basong gatas."Hija, uminom ka muna nitong gatas bago matulog." Ang bungad na sambit ni Yaya sa akin habang naglalakad siya papalapit sa puwesto ko."Salamat po." Ang sagot ko sabay ngiti sakanya para hindi niya mahalata ang gumugulo sa isipan ko."Ayos ka lang ba? Bakit parang may gumugulo sa isipan mo?" Ang nagtatanong na saad ni Yaya habang iniaabot sa akin ang gatas na kinuha ko
"Luha"Cecilia's p.o.v.Tahimik na nakaupo kasama ko dito ngayon si Jorge sa loob ng kanyang sasakyan sa may driver seat at nasa tapat na kami ng labas ng bahay namin ng pamilya ko kasi inihatid lang naman ako ng aking minamahal na kasintahan."Kanina ka pa tahimik sa biyahe natin a. Is there something wrong?" Ang nag-aalala na tanong ko sakanya na nakahawak lang ang kamay sa manibela nitong kotse niya."Wala naman. I'm just feel so tired and sleepy. Nakita mo naman hindi ba na after ng praktis sa cheerleading then sa basketball naman kaya sobrang pagod lang siguro ako." Ang malumanay niya na sagot pero ramdam ko na may iba pa siyang rason na mas mabuti na rin siguro kung huwag ko na lamang alamin pa just to avoid the hurt with myself."I see and parang iba nga ang pagiging ganado mo kanina sa praktis sa basketball than before. You're seems like inspired for unknown reason." Ang pagpupuri kong sagot sakanya na ewan ko ba kung bakit ko pa iyon nasabi sakanya. Napatingin siya sa akin ng
Tina's p.o.v.Nakatayo lang ako dito sa may parking area ng school habang may earphone na napasak sa aking magkabilang tenga para hintayin ang aking sundo at hawak ko ang aking cellphone sa kamay kasabay ng pagkulikot ko nito para pumili ng kantang papakinggan."Tina! Hoy girl!" Ang rinig ko mula sa paligid na tinatawag ang aking pangalan. Napalingon ako sa pinanggagalingan ng boses sa may kanan ko sa gilid at nakita ko si Aubrey na kumakaway sa akin habang naglalakad siya papunta sa aking kinatatayuan. Tinanggal ko naman ang bagay na nakalagay sa aking tenga."Anong ginagawa mo dito? Hindi ba dapat nasa praktis ka ninyo sa cheerleading kasi balita ko kinuha ka raw ni Keith as his representative?" Ang bungad ko naman na tanong sakanya ng makarating na siya sa kinatatayuan ko at tumabi sa aking gilid."Oo nga e. Para nga akong mababalian ng buto sa hirap ng mga steps tapos may nalalaman pa sila na pahagis-hagis saka tumbling. Mabuti na nga lang at natapos agad ang ensayo namin kasi kung
Aubrey's p.o.v.Sobrang awkward! Ganito pala ang pakiramdam kapag nakita mo muli ang iyong dati na naging karelasyon tapos wala kayong naging formal na paghihiwalay noon.Hindi ko alam kung paano makikisabay sa mga maaaring mangyari at kung paano ako makikitungo sa mga taong makakasalamuha ko basta ang alam ko lang sa ngayon ay naglalakad ako kasama ang dalawang lalaki sa magkabilang gilid ko para pumunta sa basketball court daw nitong paaralan. Napakatahimik nga nilang dalawa maging kahit ako."Ehem! Ang tahimik 'no? Matanong ko lang pala, kailan ka pa dumating?" Ang normal na tanong bigla ni Jorge na nasa kaliwang gilid ko. And finally he break the silence first."Kahapon lang pero inasikaso na naman nina yaya ang enrollment ko since one week before I come back there sa Philippines." Ang sagot ko naman at syempre nasa relaks lang na tono ang pananalita ko para hindi naman nila mahalata na may kaba din akong nararamdaman kahit paano."Sina Tita at Tito, kumusta na pala sila? Yung kuy
Jorge's p.o.v.Dahan-dahan ko na iminulat ang aking mga mata kasabay ng aking mga pag-unat nitong kamay ko. Umupo ako ng maayos saka tinanggal ang kumot na nakabalot sa aking katawan."Thank you lord for this another day of blessing na natanggap ko." Ang pasasalamat ko na banggit sa hangin kasabay
Keith's p.o.v.Maaga akong nagising para mamili ng grocery sa condominium unit na tinitirahan ko. Nasa isang grocery store na rin ako dito sa loob ng pamilyar na SM sa lugar namin para bumili ng mga kailangan sa aming bahay. Hawak ko na sa aking kamay ang isang cart na may dalawang basket dahil med
Cecilia's p.o.v.People define that the family is the highest institution in every community in worldwide, and they said that family are always there for you whatever it happens but still they care about your good even in sadness or in pain.Paglingon-lingon lang ako sa mga kasama ko dito sa kusina
Aubrey's p.o.v.Sabi nila past is past so make it leave behind pero iba rin pala talaga kapag niloko ka ng taong mahal mo kasi you can't move on hangga't hindi mo hinaharap ang tunay na sakit nito kahit pa sabihin na ginawa mo ng lahat para kalimutan siya at kahit sa tingin mo ay nakalimutan mo na
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews