LOGINEleanor Gitz has always lived in the shadow of her sister, Delilah. It wasn't like this until when a rogue attacked the pack and left Eleanor gravely injured and barren, she became a permanent stain on her family’s reputation, now seen as a liability rather than a daughter to be proud of. But everything changes when Nickolas Volkov, the ruthless Alpha of the Shadowood pack and a tech billionaire, breaks off his engagement with Delilah to claim Eleanor as his mate. The scandal shatters her family, and Eleanor is sent out of her pack. Will she find her place beside Nickolas, or will the past and the pressures of her new life tear them apart forever?
View MoreAwalnya, hidup Alissa sangat bahagia. Namun, semua berubah saat Alissa mendadak sakit. Karena kondisi yang lemah, ia sekarang tidak dapat melayani suaminya, Erick dengan baik. Justru sebaliknya, Erick lah yang selalu setia melayaninya.
Di dalam kamar, Alissa baru saja menyelesaikan makan malamnya dengan bantuan Erick. "Mas, maaf! Harusnya aku yang melayani kamu, tapi sekarang ...." Sentuhan jari telunjuk Erick tepat di bibir Alissa, seketika menghentikan ucapannya.
"Ssst! Kamu ngomong apa sih, Sayang? Sudah, jangan dipikirkan lagi!" pinta Erick. Alissa pun hanya bisa mengangguk, pasrah menuruti apa yang diucapkan suaminya itu.
"Oh ya, Sayang. Kamu belum minum obat, kan? Biar aku panggilkan Riana supaya menyiapkan obat untukmu." Erick pun beranjak pergi dan meninggalkan Alissa sendiri di kamarnya.
Alissa melihat kepergian Erick dengan tatapan sayu. Ia termenung, merutuki dirinya sendiri yang tidak berdaya karena sebuah penyakit. Ia tidak mengerti, sebenarnya sakit apa dirinya. Kenapa semakin hari tubuhnya semakin lemah, seakan mati rasa? Erick tidak pernah memberi tahu ia sakit apa, tetapi Alissa tak pernah mencurigai apapun. Ia sepenuhnya percaya bahwa Erick akan melakukan yang terbaik untuknya.
Tak berselang lama, suara pintu terbuka, tampak Riana masuk ke dalam kamar. Lima bulan yang lalu Riana datang sebagai pengasuh putrinya, Ellena. Namun, sejak Alissa sakit Riana juga yang merawatnya.
"Sudah waktunya untuk minum obat, Nyonya!" ucap Riana seraya melarutkan obat.
"Kenapa obatnya harus dilarutkan?" tanya Alissa, penasaran. Selama ini Alissa bertanya-tanya, kenapa ia selalu minum obat dengan cara dilarutkan seperti itu? Tidak seperti minum obat pada umumnya.
"Saya tidak tahu, Nyonya! Kata Tuan memang seperti ini."
Alissa hanya mengangguk mendengar jawaban Riana karena Alissa sudah tidak akan ragu lagi jika itu perintah suaminya.
Riana memberikan larutan obat itu pada Alissa. Alissa pun menerima obat itu, tetapi tatapannya tiba-tiba tertuju pada wajah Riana yang kini tampak berbeda dengan saat pertama kali datang. Sekarang wajah Riana tampak sangat cantik dan terawat.
"Riana! Kamu makin cantik ya sekarang," ucap Alissa frontal begitu saja.
Seketika Riana menjadi gugup, ia langsung salah tingkah di hadapan Alissa. "Ma-maaf! Apa saya tidak boleh memakai riasan? Kalau begitu, biar saya hapus riasan saya," ucap Riana untuk menghilangkan rasa gugupnya. Sementara tangannya mengusap wajah untuk menghapus riasan di wajah.
Allisa yang merasa bersalah seketika berkata, "Boleh, boleh! Maaf, Aku cuma penasaran saja tadi. Jangan dihapus!" Sedangkan Riana, tanpa disadari Alissa, menundukkan kepala sambil tersenyum licik.
Alissa mengarahkan gelas obat yang ia terima dari Riana ke mulutnya. Namun, ia merasa berat sekali untuk meminum obat itu. Ia teringat saat setiap kali minum obat, maka ia akan langsung tertidur pulas seperti orang pingsan. Bahkan saat terbangun dari tidurnya, ia merasa tubuhnya semakin lemas. Ingin sekali Alissa menolak minum obat itu, tapi ia tidak enak hati pada Erick yang telah berusaha menyembuhkannya.
Begitu lama gelas obat itu di dekat mulut Alissa, tapi ia masih saja enggan untuk meminumnya. Tiba-tiba ia berpikir untuk tidak minum obat itu. Ia ingin tetap terjaga untuk memberi kejutan pada Erick. Malam ini ia ingin sekali melayani Erick dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Nyonya! Ada apa? Kenapa tidak segera diminum?"
Pertanyaan Riana membuat Alissa tersentak. Alissa pun segera menjauhkan gelas itu dari mulutnya. "Riana, aku baru ingat kalau tissue ku habis. Tolong, ambilkan di lemari itu!" pinta Alissa, seraya menunjuk lemari untuk mengalihkan perhatian Riana.
Tanpa curiga, Riana mengangguk, lalu berbalik menuju lemari untuk mencari tissue nya. Alissa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menuang larutan obat itu ke selimut tebal miliknya dan menyisakan sedikit agar Riana mengira ia sudah meminumnya. Lalu, Alissa menaruh gelas itu di meja. Tak lama, Riana kembali dengan membawa tissue yang Alissa minta.
Riana pun tampak tersenyum puas melihat gelasnya sudah kosong. Sementara Alissa, ia juga sangat senang karena berhasil mengelabuhi Riana. Akhirnya, ia bisa memberi kejutan pada Erick.
Lima menit kemudian, Alissa memulai aksinya. Ia pura-pura tertidur di depan Riana. "Hoah, sepertinya obatnya mulai bereaksi, Riana! Aku istirahat dulu, ya!" pamit Alissa, seraya memasang selimut di tubuhnya lalu memejamkan mata.
Cukup lama Alissa pura-pura tidur, tetapi ia tidak mendengar Riana keluar dari kamarnya. Alissa menjadi bertanya-tanya dalam hati, 'apa yang sedang dilakukan Riana? Kenapa ia tidak keluar?'
Sementara itu, Riana yang sedang berdiri di depan meja rias, membenahi riasan yang sudah ia hapus tadi. Riana ingin tampil cantik malam ini.
Tak berselang lama, terdengar suara pintu terbuka. Kemudian terdengar langkah seseorang masuk ke dalam. Alissa begitu senang. Suara itu pasti milik suaminya Erick dan sebentar lagi Riana akan keluar. Saat itulah Alissa akan bangun dan mengutarakan keinginannya untuk melayani Erick. Namun, Keinginan Alissa tertahan saat mendengar sesuatu dari bibir Erick.
"Bagaimana Sayang? Apa obat untuk istriku sudah bekerja?" tanya Erick, lalu merengkuh tubuh ramping Riana dari belakang.
"Tentu sudah, Sayang! Aku kan tidak mau melewatkan malam kita."
Deg
Tenggorokan Alissa tercekat, mendadak napasnya sesak kala mendengar panggilan sayang suaminya pada Riana, begitu juga sebaliknya. 'Apa ini? Apa yang terjadi?' ucapnya dalam hati.
Bibir Alissa bergetar, wajahnya terasa panas, sementara matanya semakin terpejam erat karena menahan amarah. Alissa mengurungkan niatnya untuk memberi kejutan pada Erick. Ia akan tetap berpura-pura tidur untuk mencari tahu yang sebenarnya.
"Hm, bagus! Malam ini, kamu cantik sekali, Sayang. Ayo, layani aku sekarang!" ucap Erick.
"Apapun akan kulakukan untukmu, Sayang." Riana menarik dan menggiring Erick hingga keduanya terjatuh duduk di tepi kasur. Tanpa keduanya sadari, Alissa yang sedang berbaring di sampingnya masih terjaga.
Hati Alissa berdenyut nyeri, sakit bagai tertusuk ribuan duri kala merasakan dua orang di sampingnya bercumbu mesra. Sepanjang malam ia harus mendengar dan merasakan suaminya bercinta dengan wanita lain di ranjang yang sama dengannya. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat hancur. Di dalam selimut, kedua tangan Alissa terkepal begitu kuatnya. Sebisa mungkin ia harus bisa menahan amarahnya. Ia tidak ingin gegabah. Ia harus tahu apa yang sebenarnya Erick inginkan darinya.
.
Alissa baru saja membuka matanya. Ia bangun, lalu duduk bersandar pada headboard. Ia melihat ke arah sekelilingnya, tetapi tidak mendapati Erick di sana. Tak lama kemudian, ia melihat Erick masuk dengan membawa makanan serta obat yang harus ia minum. Erick pun menaruh makanan itu di meja samping ranjangnya.
"Sayang, kamu sudah bangun? Sudah waktunya kamu sarapan. Aku suapi, ya?"
Alissa mrnatap Erick sambil tersenyum kecut. Ia merasa telah tertipu mentah-mentah oleh Erick. Sekarang, baginya Erick hanya seorang manusia bermuka dua. Seperti laki-laki sempurna, tetapi kenyataannya tak lebih dari laki-laki brengsek. Di depan Erick selalu bersikap baik, tetapi di belakang ternyata dia menancapkan duri yang begitu tajam.
"Biar aku sendiri, Mas! Bukankah kamu harus segera ke kantor?"
"Itu bisa nanti, Sayang. Yang terpenting sekarang adalah kamu," sahut Erick.
"Tidak, Mas! Aku juga ingin belajar mandiri, nggak bergantung sama kamu terus."
Erick mengerutkan keningnya, entah kenapa ia merasa Alissa sedikit aneh hari ini. Namun, sejurus kemudian ia mengabaikan perasaannya. "Baiklah! Aku berangkat ke kantor dulu ya, Sayang," pamit Erick seraya mencium kening Alissa sebelum pergi. Alissa bergeming, tak menanggapi Erick.
Setelah Erick pergi, Alissa pun memakan sarapannya. Lalu mengambil larutan obat yang ada di meja yang sudah disiapkan untuknya. Namun, tiba-tiba saja ada kucing miliknya yang lompat dari arah samping dan menabrak tangannya. Alhasil obat itu pun tumpah ke lantai. Setelahnya kucing itu ternyata tidak pergi, melainkan meminum larutan obat yang menggenang di lantai. Suatu pandangan di depan mata seketika membuat Alissa terbelalak. Ia sangat terkejut saat mendapati kucingnya itu tiba-tiba mati.
"Apa yang terjadi? Kenapa kucing ini mati setelah minum obat itu?"
***
Eleanor PovThe soft hum of conversation and the clinking of glasses filled our pack grand dining hall, but the roar of my wolf cover it all. She had been dormant for years never spoke—until tonight.Mate. The word had slammed into my mind the moment I walked into the room, locking eyes with him. Nickolas.My heart raced the moment I saw him and I’d forced myself to look away almost immediately. It couldn’t be true. It shouldn’t be true. Nickolas wasn’t mine. He belonged to Delilah.Now, as I sat at the far end of the table, I couldn’t stop my eyes from straying to where they sat together. Delilah was perched close to him. She laughed lightly as she leaned toward him, her hand brushing his arm.My stomach twisted painfully. I clenched my glass tighter, as I tried to control myselfThis isn’t real, I told myself. It can’t be real.But my wolf was relentless. She growled and whined, clawing at the edges of my mind, demanding that I look at him. That I claim what was ours.He’s not ours,
NICKOLAS PovSILVERCLAW HOLLOWAs our convoy rolled into Silverclaw Hollow pack, I leaned back in my seat, my eyes scanned the towering structure that loomed ahead. The pack house was a big mansion built in the heart of a dense forest, with high stone walls encased in creeping ivy and towering oak trees. The architecture was a mix of old-world charm and modern elegance, its sharp gables and grand archways a testament to the pack’s wealth and influence.The pack members had lined up along the driveway leading to the entrance, their heads bowed in respect as our convoy passed.When our cars came to a halt, I stepped out first. My mother emerged next, her posture was straight and commanding as ever, she adjusted her fur-lined coat.A group of high-ranking wolves approached us. The man leading them was tall and broad-shouldered, his silver-streaked hair. His wife, a woman with a piercing green eye, stood at his side. Clearly the Alpha of Silverclaw Hollow, stepped forward.“Alpha Nickolas
Eleanor povI stood in the middle of my room, surrounded by a battlefield of my own discarded dresses. Silky fabrics in shades of emerald, crimson, and gold lay crumpled across the floor, each one tossed aside after I’d decided it wasn’t “right.” My closet doors hung open, it's been an hour, and I couldn't decide on what to wear.“Why is this so damn hard?” I muttered, running a hand through my hair in frustration.Nicholas’s family was coming tonight. The Shadowood pack, with their reputation for ruthlessness and their dominance power, I can't believe such a family is just an hour away from stepping into our home. My sister Delilah, of course, would be the star of the evening, dazzling everyone with her charm and beauty. But I... I couldn’t just fade into the background. Not tonight.I picked up a deep burgundy dress and held it against myself in the mirror. It was elegant, with a high neckline and a subtle slit up the side, but it felt too restrained. It will appear too formal. I to
NICKOLAS POV (SHADOWOOD PACK)I pressed my palms against the warm wooden railing of the balcony, staring out at the sprawling city below. The lights from the Shadowood Pack’s territory stretched endlessly, illuminating the night like a restless beast which refused to sleep. From up here, the noise of the pack, the howling wolves, distant laughter, the hum of traffic—was nothing more than a faint murmur.I dragged deeply on my cigarette, the smoke curling into the air. Behind me, the faint scent of sweat and perfume clung to the room, a reminder of the hours I’d just spent with Emerald.“Hey,” she murmured, her hand sliding across my back. “Come back to bed.”I didn’t bother turning around. “I thought you’d left,” I said.There was a pause, just long enough for me to catch the hurt in her silence. “I thought maybe we could talk,” she finally said, trying to sound casual.A humorless smirk tugged at my lips. Talk? What part of our arrangement made her think there was room for that?“We
“But on one condition,” I said, glancing at Delilah from the corner of my eye.She raised an eyebrow, she looked curious to what I was about to say . “What’s that?”“Dad instructed me to pick your dress for you,” I said, trying to keep my voice neutral, though I knew exactly how she would react.De
*Eleanor*"I can't take this anymore, God!" Delilah's voice rang out, it was so loud, as she stormed into my office. She slammed her hand on the table, the sound was so sharp and loud. I dropped the pen I was holding and rushed to her side. Her body was practically vibrating with anger, her fists












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.