LOGINClaire has had a crushed on her best friend's dad, Rawls, since she was sixteen years old. Now that she is all grown up, she wants it to be so much more. Does she take the chance and tell him how she feels? Or does she just sit in her window and dream about him.
View MoreMenjadi seorang sugar baby, bukanlah keinginan gadis cantik nan seksi yang bernama Giara Divania. Gadis berusia 20 tahun ini terpaksa menjadi seorang sugar baby, karena dia harus membiayai Ibunya yang tengah sakit keras.
Ayahnya telah meninggal sejak sepuluh tsahun lalu. Semenjak itu, Giara mencoba bekerja keras berjualan demi membantu sang Ibu. Dua tahun terakhir, Ibunya mengidap penyakit diabetes dan jantung, yang menyebabkan Giara harus bekerja ekstra untuk menggantikan posisi Ibunya berjualan kue.
Berjualan kue nyatanya tak mampu mencukupi kebutuhan Giara dan sang Ibu. Terlebih biaya berobat jalan tentu saja membutuhkan uang yang tak sedikit. Giara saat ini juga tengah kuliah di sebuah universitas.
Hingga akhirnya, Giara diajak oleh salah satu teman masa SMA-nya yang bernama Belva Natasya. Belva bekerja di sebuah diskotek, dan Belva menyarankan agar Giara menjadi sugar baby Om-Om yang ber-uang. Demi menyambung hidup, hal itu tentu saja akan memudahkan Giara untuk mendapatkan uang.
Awalnya Giara menolak, karena baginya, menjadi seorang sugar baby tak jauh berbeda dengan menjadi seorang pelac*r. Giara tak ingin melakukan hal tersebut. Namun, karena melihat kecantikan dan kemolekan tubuh Giara, Belva yakin, pasti akan banyak pria-pria tua kaya yang menginginkannya.
Konteks sugar baby yang Belva jelaskan tentu saja bukanlah seperti wanita malam yang menyerahkan tubuhnya pada pria hidung belang. Namun, menjadi sugar baby di sini adalah, menemani para sugar daddy yang kesepian dan selalu ada bersama mereka di kala sugar dady membutuhkannya.
Hanya sekadar menjadi kekasih gelap dan berjalan-jalan bersama menuntaskan rasa kesepiannya. Itulah yang sering Belva katakan. Tawaran yang tak cukup buruk, hingga akhirnya Giara menyetujuinya. Kini, telah satu tahun lamanya ia berprofesi menjadi seorang sugar baby.
Siang ini, Belva tengah beristirahat di kantin kampusnya bersama dengan Belva. Belva adalah satu-satunya sahabat Giara, yang tahu seluk-beluk kehidupan Giara. Karena Belva juga lah yang menjadi jalan awal menjadikan Giara sebagai sugar baby.
"Malam ini lo kencan sama siapa?" tanya Belva.
"Sama Om Roy. Dia ngajak gue makan malam di kapal pesiar. Romantis banget, 'kan?"
"Hati-Hati lho, bukannya Om Roy itu istrinya galak?"
"Gue gak ngapa-ngapain sama Om Roy. Gue cuma nemenin dia doang. Sebatas saling merangkul itu wajar, 'kan?"
"Pokoknya lu harus ekstra waspada. Denger-Denger, Om Roy cari sugar baby kayak kita tuh karena istrinya galak. Dia mumet sama istrinya, jadi dia cari kesenangan di luar." jelas Belva.
"Walaupun begitu, Om Roy tipe yang setia dan penurut sih kalau kata gue. Dia tuh cinta sama istrinya, tapi sayang sikap posesif istrinya bikin Om Roy merasa terkekang. Selama jalan sama gue, dia baik banget. Dia gak pernah sedikitpun megang bagian sensitif milik gue. Dia cuma ngerangkul dan megang tangan doang. Hanya sebatas itu, sih. Intinya, Om Roy cuma mau menenangkan dirinya, dari sifat posesif istrinya yang galak itu! Makanya dia cari pelampiasan ke gue." Giara nampaknya tahu seluk-belu pria tua yang bernama Om Roy.
"Lo emang hebat sih cari sugar daddy yang bener-bener just want to fun aja. Jangan sampe lo ninju sugar daddy yang mau nidurin lo lagi. Khawatir gue sama lo." Balas Belva.
Giara terkekeh, "Lo tenang aja. Gak sia-sia kan gue belajar silat selama sekolah. Ini nih hasilnya,"
"Ya tetep aja gue khawatir sama lo, Ra. Lo itu cewek, gimana kalau mereka macem-macem, dan ngelakuin hal gila sama lo? Pokoknya lo harus hati-hati deh. Daripada nyawa lu melayang, mending lu kasih aja sekalian sama plus-plusnya! Entar juga lo ngerasain enak, kok." Saran Belva.
"Gak mau gue. Ogah banget. Gila lu ya? Jangan menjerumuskan gue! Dalam hidup ini, gue punya tujuan. Gue jadi sugar baby cuma niat cari tambahan uang buat berobat nyokap. Jangan ngajak yang gak bener deh. Kalo lo udah terjerumus ke arah sana, ya lo aja sendiri! Jangan ajak-ajak gue." Sentak Giara.
"Ya ampun, sorry deh sorry. Iya, iya gue ngerti tujuan lo jadi gula. Gue gak akan ajak-ajakin lo buat ngelakuin hal kayak gitu!"
"Emangnya gue kayak elu apa? Yang sering banget beli testpack saking takutnya!"
"Ssshhtt, jangan berisik! Nanti anak-anak denger!" Belva meminta agar Giara jangan terlalu keras berbicara.
"Abisnya lo mancing-mancing terus sih!"
"Sori deh sori,"
Selang beberapa waktu berlalu, akhirnya jam istirahat mereka berakhir. Giara dan Belva akhirnya masuk kelas lagi, karena ada satu mata kuliah lagi yang harus mereka selesaikan.
Giara sudah jengah berada di kampus. Ia ingin segera bertemu dengan Om Roy, dan makan malam bersama pria tua nan kaya raya itu. Giara menikmati profesinya saat kni, karena ia tak perlu bingung memikirkan uang saku untuk kuliah dan berobat Ibunya.
Tiba-Tiba, dosen senior yang bernama Pak Sugandi, masuk kelas dan memberi tahu para mahasiswa, bahwa dirinya akan dipindahkan menjadi dosen pembimbing untuk mahasiswa tingkat akhir.
Sebagai gantinya, Pak Gandi telah membawa dosen baru yang lebih fresh dan muda, untuk mendampingi mata kuliah kali ini. Dosen baru itu tentu saja yang akan menggantikan Pak Gandi untuk mengajari mereka semua.
"Karena saya harus mendampingi mahasiswa tingkat akhir, jadi kalian semua untuk mata kuliah hukum pidana, akan dibimbing oleh dosen baru yang akan menggantikan saya secara permanen. Mau tidak mau, kalian harus menerimanya. Kalian pasti berat kan kehilangan saya?" Pak Gandi sedikit terkekeh.
Banyak sekali respon kecewa yang mereka perlihatkan. Bukan tanpa alasan, mereka memang menyukai sosok Dosen seperti Pak Gandi, karena Pak Gandi jika mengajar selalu cepat dan tak banyak bicara.
Giara termasuk orang yang menentang Pak Gandi pindah mengajar, karena jika dengan Pak Gandi, Giara akan mudah sekali pulang kampus dan tak pernah menyulitkan. Dengan dosen baru? Bagaimana nanti orangnya? Akankah se-asyik Pak Gandi? Atau bahkan lebih kejam?
"Silakan masuk, Pak Nicko Alandani, sebagai dosen pengganti, yang akan membimbing mata kuliah kalian untuk kedepannya. Beri tepuk tangah yang meriah untuk kedatangan Pak Nicko, sebagai bagian dari kampus kita " Seru Pak Gandi.
Seorang pria gagah berusia 34 tahun itu pun memasuki ruangan kampus. Wajahnya yang tampan, dan tubuhnya yang atletis, membuat semua mahasiswi bersorak sorai karena melihat ketampanannya.
Dialah dosen muda yang akan menggantikan sosok Pak Sugandi. Wajahnya yang tampan tak bisa dibohongi. Banyak sekali mahasiswi yang tertarik melihat dosen muda itu berdiri di depan kelas.
"Kalian bisa berkenalan lebih intens dengan Pak Nicko ini ya. Terlihat sekali jika dia masih muda bukan? Pasti asyik dan tidak kolot seperti saya. Baiklah, kita berjumpa lagi di lain waktu. Akhir kata, saya ucapkan terima kasih pada kalian semua, yang telah belajar dan bekerja sama dengan saya. Mata kuliah ini akan dilanjutkan oleh Pak Nicko. Selamat dan tetap semangat ya," Pak Sugandi melambaikan tangannya.
"Selamat siang menjelang sore. Perkenalkan, nama saya Nicko Alandani. Saya berusia 34 tahun, dan saya akan menggantikan posisi Pak Sugandi untuk mengajar mata kuliah hukum perdata dan pidana di fakultas ini. Semoga kita selalu diberikan kesehatan. Mohon kerjasamanya, daei rekan-rekan mahasiswa sekalian." Ucao Nicko begitu sopan dan ramah.
Mereka bertepuk tangan dengan meriah. Selain tampan, siara Nicko juga begitu nyaring di telinga mereka. Nicko benar-benar merupakan sosok dosen baru idola mahasiswi di fakultas ilmu hukum ini.
Sebenarnya, ada beberapa mahasiswa yang keberatan jika Pak Gandi pindah. Belva dan Giara saling menatap. Mereka sedikit kebingungan, dengan kehadiran dosen baru ini. Namun, karena ketampanan dan kharisma Nicko, mengalahkan keraguan mereka. Semua mahasiswi begitu memuji dan mengelu-elukan dosen baru mereka.
"Ya Tuhan, cakep banget dosennya. Pasti betah deh kita ada di kelasnya." Bisik salah satu teman Giara.
"Bener banget. Selama suntuk ngerjain tugas dan materi, kita bisa penyegaran dengan menatap wajah tampannya. Bener gak?" timpal Anya.
Tak kalah dengan rekan yang lain, sebagai wanita normal pun, Belva merasa jika Nicko benar-benar tampan. Tanpa disadari, Belva refleks memuji ketampanan Nicko yang tengah berdiri didepan kelas.
"Bener banget ucapan anak-anak yang lain. Dosen baru ini cakepnya bukan main! Dia tampan dan berkharisma banget. Gue kayaknya bakalan lebih fokus sama wajahnya daripada sama pelajarannya." Ujar Belva menatap Nicko, sembari memegang dagunya.
"Alah, cakep doang buat apa? Modal cakep gak cukup bikin cewek bahagia. Kenapa harus pada tergila-gila sama ketampanannya sih? Bagi gue, biarpun tua dan udah keriput, yang penting banyak duitnya! Itu lebih greget dan bikin kita bahagia!" Sambar Giara, membalas perkataan Belva tentang Nicko, sang dosen baru.
"Ya Tuhan, lu emang udah gelap mata. Yang dipikirin cuma duit-duit mulu, sih! Jangan jelek-jelekin Pak Dosen baru ini, nanti lu kualat, baru rasa lu. Gimana kalo nanti lu malah jatuh cinta sama dia?" serang Belva.
"Astaga, amit-amit tujuh turunan deh. Gue gak minat sama cowok tampan. Gue cuma minat sama cowok berduit. Cowok tampan itu bisanya cuma nyakitin, tahu gak!" Balas Giara.
"Gue sumpahin lu jatuh cinta beneran ama nih dosen baru!"
"Cih, sumpah lu gak akan mempan buat gue." Ucap Giara seraya menatap Nicko, yang dikata mereka begitu tampan.
Tanpa sadar, ternyata pandangan mata mereka beradu. Nicko dan Giara saling menatap. Karena salah tingkah, Giara langsung memalingkan pandangannya kearah lain. Ini sangat tak diduga, kenapa saat Giara menatap Nicko, Nicko juga tengah menatapnya?
Ck, sial. Ngapain gue harus liatin dia? Ucap Giara dalam hati.
*Bersambung*
Finally, we come to a stop, and the engine goes quiet. The door slides open, and the cold night air rushes in, bringing with it the smell of salt and the distant sound of waves crashing against the shore. We're at the beach house —the same place where Fiona had promised to lead us to Evie. The irony is not lost on me.I climb out, my eyes scanning the area for any sign of movement. The moon is high in the sky, casting a silver light over the sand and the crashing waves. The beach house is a dark silhouette in the distance, looking as abandoned and desolate as the rest of the coastline.Fiona emerges from the shadows, her eyes locking onto mine with an intensity that sends a shiver down my spine. For a moment, I'm torn between the fear of what's happening and the relief of seeing her alive. But there's no time for emotion—not now."You came," she says, her voice a mix of surprise and something else—something darker.I nod, my eyes never leaving hers. "Where is she? Where is my daughte
He tilts his head, his eyes narrowing. "Ah, but you see," he says, his voice a low purr, "you don't have a choice." My mind races as I look around the room, desperately seeking a weapon, an escape route, anything to save us. The house seems to shrink around me, the walls closing in as my chest tightens with fear. Mom's eyes are wide with terror, and she shakes her head vigorously, trying to warn me. I understand the message—don't come closer. But I can't just leave her here with him. My survival instincts kick in, and I know I have to act fast. Jonathan takes a step toward me, his eyes gleaming with malice. "Don't be stupid, Claire," he says, his voice like a snake's hiss. "You know what happens when you defy me.” My gaze falls to his hand, and my stomach drops when I see the gun glinting in the moonlight. It's pointed at Mom, her eyes pleading with me to be careful. I can't let him take us—I won't let him hurt my baby. . "We're leaving." The gun in Jonathan's hand is unwa
As he leaves, I fight the urge to follow, to beg him to take me with him. But I know I can't. I'm too much of a liability in my current state. The fear for him, for Evie, for the baby, and for myself is a storm of noise in my head. I need to stay strong, to keep the hope alive. I sit down in the nursery, the silence deafening. The only sound is the faint ticking of the crib mobile above, a reminder of the life we're fighting for. I try to focus on the positive—Fiona’s call, the possibility of finding Evie. But the fear is a living creature, feeding on my doubt. Rawls's footsteps retreat down the hallway, and I listen until the front door clicks shut. My heart feels like it's in a vice, and I take deep breaths to keep the panic at bay. The house is too quiet, save for the occasional muffled murmur of dad's team outside. The thought of Fiona plays in my mind. She's out there, alive, and willing to help. But what if it's a trap? What if Jonathan has somehow turned her against us? I s
As if an answer to my silent plea, the phone on the nightstand starts to ring. The screen flashes with an unknown number, and for a brief, hopeful moment, I wonder if it's a sign. I pick it up, my heart pounding in my chest, and bring it to my ear. "Hello?" The voice on the other end is faint, but it sends a shockwave through my body. "Rawls," the voice says, and my heart skips a beat. It's Fiona. She really is alive. "Fiona?" Rawls says, his voice tight with disbelief. "Is that really you?" There's a pause, and then her voice, clear as a bell, fills the room. "It's me, Rawls," she says, the sound of her voice like a ghost from the past, haunting and yet oddly comforting. "I need to see you. It's about Evie." My hand tightens around the phone. "What do you know?" Fiona's voice is a mix of pain and urgency. "I know where he's keeping her," she says, the words coming out in a rush. "I can help you get her back." "How?" he asks, his voice gruff. "What do you want in exchang
The further along Claire is in her pregnancy the more e concerned I become. No matter how much digging Robert and I have been doing, we cannot find out where Jonathan is holding Evie. We decided to not get the police involved. It may not be the best decision but some of the things were are having t
Robert and I sat in my office, poring over the case files and notes we had gathered on Jonathan Cramer. The silence in the house was suffocating, compared to the chaos that had erupted earlier. The detectives were on thin ice with me. I could not believe they questioned Claire about the paternity o
I know Rawls and Dad are keeping things from me. I can see it in their eyes every time they think I'm not looking. They hover over me like overprotective hawks, their whispers and furtive glances speaking volumes. But I'm not a child anymore. I know something's wrong, something much more than just
Claire said that Thelma is good at digging up information. Hopefully she has something that can help us find Evie and rid our lives of this psychopath. Robert and I were anxious to see what Thelma had found, but I know it will help Claire if they can see each other. "Thelma," Robert said, his vo
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews