My Marriage Is A Contract- Craving The Girl He Always Wanted

My Marriage Is A Contract- Craving The Girl He Always Wanted

last updateLast Updated : 2024-01-23
By:  Martins BlackOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
18Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

"You need me." He told me. My eyes narrowed slightly at the way he was so sure. "I don't," I said. He arched a brow. "Jenny, you need me as much as I need you. I just want to help you and in return, you will be my wife for a year till I get my potential bride and by doing that, I will be able to get my mother off my neck." He said. I knew what he said was true and that I needed him. "Okay, for just a year?" "Yes, just a year." He replied. * * * * She needed him. He wanted her. Jenny Darlington knew she only had herself to blame when Jason Thorne, her unrelenting neighbor, made that request. She had accepted his help to claim custody of her kid and in return, she will be his wife for twelve months. She soon realized that Jason was not all the jovial and funny guy he showed. He was seductive and alluring. He was the guilty pleasure of ladies who wanted to be beneath him, writhing and moaning in pleasure. He hummed with whispers of temptation - the temptation to sin and surrender, to let him make you his. He was capable of awakening every dead need and desire. But he was not capable of one thing. That thing has been the secret he carried in his heart for years. Jenny thought she had accepted a minor thing, only for her to find out that what she had accepted was not ordinary. She accepted Sin In Tom Ford Suit. What happens when she resumes her new job and she figures out that her new boss was her... Contract husband?

View More

Chapter 1

0 •• Prologue

Pagi itu, sinar matahari menyusup perlahan melalui celah-celah jendela rumah kecil di pinggir desa. Rumah itu sederhana, dengan dinding kayu yang mulai memudar warnanya dan atap seng yang sering berbunyi pelan saat diterpa angin. Di dalam rumah, suara aktivitas keluarga mulai terdengar, seperti simfoni yang berulang setiap pagi.

Aris kecil membuka matanya perlahan. Ia mengucek-ucek matanya dengan tangan mungilnya, lalu menguap lebar. Dengan langkah tertatih-tatih, ia keluar dari kamar kecilnya. Wajahnya terlihat polos dengan rambut yang masih berantakan. Tapi, ada semangat berbeda di matanya pagi itu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kelima. Dalam pikirannya, ulang tahun adalah hari istimewa, penuh kebahagiaan, hadiah, dan cinta dari orang-orang terdekat.

Namun, begitu kakinya menginjak ruang tengah, harapannya mulai memudar.

Di meja, ia melihat sebuah kotak hadiah besar yang tampak baru, masih terbungkus plastik rapi. Hatinya melompat girang. “Itu pasti untukku,” pikirnya. kotak besar itu adalah sesuatu yang sudah lama ia inginkan. Ia hampir mendekati meja itu ketika suara langkah kaki Alena, saudara tirinya, menggema di ruang tengah.

“Bu! Itu hadiah untuk Alena, kan? wah boneka barbie , Alena suka banget!” seru Alena dengan nada penuh antusias.

Ibu mereka, yang sedang sibuk di dapur, berhenti sejenak dan menoleh dengan senyum hangat. “Iya, ini untuk Alena. Kamu memang pantas mendapatkannya,” jawabnya lembut.

Mendengar itu, hati Aris mencelos. Ia berdiri mematung di sudut ruangan, menatap Alena yang melompat-lompat kegirangan. Sementara itu, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin ada hadiah lain yang menunggunya.

Dengan langkah kecil, ia mendekati ibunya. Wajahnya masih dihiasi senyuman kecil meski dalam hati ia mulai merasa ragu. “Ibu, hadiah untuk Aris yang mana?” tanyanya pelan dengan nada polos khas anak kecil.

Ibunya menghentikan pekerjaannya, lalu menoleh dengan pandangan dingin. “Aris, jangan ganggu ibu. Sana, main di luar,” ucapnya tanpa memikirkan perasaan anak kecil itu.

Aris terdiam di tempatnya. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Seolah harapan yang tadi ia peluk hangat kini jatuh berkeping-keping. Ia mencoba mencari perlindungan pada sosok ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu sambil memegang sebuah kotak besar lain. Hatinya kembali dipenuhi harapan. “Mungkin itu hadiah untukku,” pikirnya.

Namun, sebelum ia sempat bertanya, Alena kembali lebih dulu. “ ayah ! Itu untuk Alena juga, kan? ayah memang sayang sama Alena!”

Ayahnya tertawa kecil dan mengangguk sambil menyerahkan kotak itu pada Alena. “Iya, ini untuk Alena. Kamu memang anak ayah yang paling pintar.”

Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menusuk hati Aris. Ia mencoba memanggil dengan suara pelan, “ayah ... kan hari ini ulang tahun Aris juga ...”

Namun, ayahnya hanya melirik sekilas sebelum berkata, “Kamu kenapa berdiri di situ? Jangan ganggu ibumu.”

Hati Aris benar-benar hancur. Ia menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. Ia berbalik, melangkah pelan menuju kamarnya yang kecil.

Di dalam kamar itu, ia duduk di atas kasur tipis yang sudah usang. Tangannya memeluk erat sebuah bola lusuh yang merupakan satu-satunya benda berharga miliknya. Bola itu sudah compang-camping, dengan warna yang mulai pudar. Tapi bagi Aris, benda itu adalah teman setia, yang selalu ada saat ia merasa sendirian.

“Aris nggak butuh hadiah... Aris cuma ingin Ibu sama ayah bilang selamat ulang tahun,” bisiknya lirih pada bola itu.

Sementara itu, di luar kamar, suara tawa Alena memenuhi rumah. Ibunya membantu Alena membuka hadiah dan memainkan boneka Barbie baru itu. Semua orang tampak bahagia, kecuali Aris, yang hanya bisa mendengar kebahagiaan itu dari balik pintu kamarnya.

Menjelang sore, Aris akhirnya keluar dari kamarnya. Ia berjalan pelan menuju halaman belakang, tempat favoritnya untuk menghabiskan waktu sendirian. Di sana, ada sebuah pohon besar dengan akar yang mencuat dari tanah, seperti tangan-tangan yang merangkulnya. Pohon itu sering menjadi tempat ia menyendiri, merenung, atau sekadar berusaha melupakan kesedihannya.

Aris duduk di bawah pohon itu, menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Mungkin kalau Aris jadi anak yang lebih baik, Ibu sama ayah akan suka sama Aris,” gumamnya.

Tak lama kemudian, Alena muncul dari balik pintu. Dengan gaun baru yang cantik, ia tampak bersinar. “Aris, kenapa kamu duduk di sini sendirian?” tanyanya dengan nada ceria.

Aris menoleh dan mencoba tersenyum meski hatinya terasa berat. “Nggak apa-apa. Kamu cantik banget pakai baju itu,” jawabnya dengan tulus.

Alena tersenyum bangga. “Iya, ibu bilang aku memang cantik. Kamu nggak punya baju baru, ya?”

Aris hanya menggeleng pelan. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan itu, takut memperpanjang percakapan yang hanya akan membuatnya semakin sedih.

Ketika malam tiba, rumah kembali sunyi. Aris berbaring di kasurnya, memandang langit-langit kamar yang gelap. Tangannya memeluk bola lusuh itu erat-erat, seperti berusaha mencari kenyamanan di tengah kesepiannya.

“Besok pasti lebih baik,” bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hati. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa harapan itu hanya ilusi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status