Teilen

30. Syarat

last update Veröffentlichungsdatum: 23.08.2026 20:09:48

Luka di jari Rania kini sudah diobati dan terbalut perban rapi, namun tangan gadis itu masih tertahan di dalam genggaman hangat Abiyya.

Alih-alih melepasnya, jemari Abiyya justru mengusap punggung tangan Rania dengan gerakan lambat, seakan menikmati setiap sentuhan kulit mereka.

"Sudah selesai kan, Pak...?" ucap Rania, sembari berusaha menarik tangannya pelan-pelan.

Dan akhirnya Abiyya pun melepaskan tangannya.

Detik itu juga Rania bergerak untuk berdiri, namun di saat yang bersamaan
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
abiyya semakin terobsesi dengan rania
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • My Obsessive Boss   59. Kamu Juga

    Rania masih menatap ke arah jalan yang mereka lewati beberapa saat lalu. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang baru saja mereka dengar. “Kita harus kasih tahu Pak Abiyya," gumannya pelan. Tian yang sedang mengendarai motor langsung menggeleng. “Jangan sekarang.” Rania menatapnya. “Kenapa?” “Karena kita belum punya bukti," sergahnya penuh sesal. Seharusnya tadi mereka merekam percakapan itu dengan ponsel. Tapi sepertinya baik Tian maupun Rania sama-sama terlalu shock, hingga tidak berpikir ke sana. “Tapi... kita kan sudah mendengarnya sendiri," tukas Rania. “Kita memang mendengar percakapan mereka,” jawab Tian. “Tapi kalau besok mereka bilang kalau pembicaraan tadi bukan tentang Pak Abiyya atau transaksi yang kita pikirkan, lalu bagaimana kita mau menjelaskannya?” Kalimat Tian itu serta-merta membuat Rania terdiam, lalu pria itu pun kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Apalagi mereka itu adalah Pak Hendra dan Pak Fikri. Mereka punya jabata

  • My Obsessive Boss   58. Perangkap

    Malam hari pun tiba.Setelah matahari tenggelam dan udara di sekitar resort mulai terasa lebih sejuk, Rania akhirnya bersiap untuk keluar.Kondisi kakinya sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan ia merasa tidak perlu lagi mengenakan kruk.Namun untuk sesaat, Rania sempat ragu ketika mengingat kejadian siang tadi.Apa ia tetap akan keluar untuk cruise di malam hari dengan Tian?Tapi... yang ikut kali ini bukan hanya Tian, melainkan juga Kirby dan beberapa staf lainnya. Jadi sepertinya Rania merasa tidak ada alasan untuk menolak.Lagipula, ia hanya ingin menikmati malam terakhir mereka di resort tanpa terus memikirkan sikap Abiyya yang semakin lama semakin aneh. Beberapa menit kemudian, Rania bersama Kirby, Tian, dan beberapa staf lainnya sudah berada di area parkir dekat pantai.Sebuah motor listrik milik resort telah disiapkan.“Sudah lengkap semuanya?” tanya Tian sambil memastikan semua orang sudah berada di tempat.Kirby mengangkat tangan. “Siap! Pasukan sudah lengkap!” serunya deng

  • My Obsessive Boss   57. Memangnya Aku Bercanda?

    Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan bersama pa

  • My Obsessive Boss   56. Menandai

    Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat.Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata."Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas.Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa."Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan."Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya."Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan."Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu ragu."Ia mendek

  • My Obsessive Boss   55. Sebagian Kecil dari Abiyya yang Sebenarnya

    Tiga kata itu terasa berbeda, seolah memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Seolah selama ada sesuatu yang menyangkut dirinya... maka Abiyya tidak akan membiarkannya begitu saja. Rania belum sempat mengatakan apa-apa ketika pria itu tiba-tiba saja ikut duduk di sampingnya, lalu bergerak mendekatkan wajahnya. Secara refleks, Rania pun mundur hingga punggungnya hampir menyentuh batang pohon di belakangnya. “Pak...??” Gerakan Abiyya pun berhenti, saat wajahnya kini telah berada tepat di hadapan Rania, begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan tubuh Abiyya setelah pertandingan. Aroma keringat samar bercampur dengan wangi segar parfum Abiyya terasa memenuhi udara di antara mereka. Namun anehnya... Rania tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang berdetak semakin cepat. Abiyya mengangkat satu tangannya, kemudian menahannya di samping kepala Rania. Membuat gadis itu menelan ludah, karena terkurung di antara tubuh Abiyya dan batang pohon. Lalu tatapan p

  • My Obsessive Boss   54. Karena Aku Bisa

    Setelah pertandingan berakhir, seluruh peserta kemudian diarahkan menuju taman di sisi resort untuk menikmati brunch yang telah disiapkan oleh pihak resort. Ada beberapa meja panjang yang tertata dengan estetik di bawah beberapa payung besar, dipenuhi oleh aneka makanan lezat dan minuman menyegarkan. Suasana pun kembali ramai oleh percakapan dan tawa para peserta. Meskipun bagi Rania, suasana itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Baru saja beberapa langkah ia memasuki area brunch, Rania sudah bisa merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Ada yang sekadar melirik, ada pula yang terang-terangan menatap dengan sorot sinis. Beberapa staf wanita bahkan langsung berbisik ketika Rania lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Rania tidak perlu mendengarnya untuk mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Pasti dirinya jadi pergunjingan karena Pak Abiyya yang selalu membelanya. Seketika perutnya pun terasa tidak nyaman, dan selera makanny

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status