Beranda / Romansa / My Obsessive Boss / 6. Ciuman Pertama

Share

6. Ciuman Pertama

Penulis: Black Aurora
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 07:52:29

Tak pelak ia pun merasa agak takjub, karena aroma ini terasa unik dan terlalu kekanakkan untuk gadis seusia Rania, namun ternyata cukup menyenangkan juga untuk dihirup.

Rania terkejut ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang membersihkan kemeja Abiyya.

Gadis itu pun mendongak, lalu kembali terkesiap. Terlambat menyadari bahwa wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajah Abiyya, dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan.

Bahkan Rania bisa merasakan desau napas pelan Abiyya yang lembut menerpa wajahnya, terasa hangat dan menenangkan.

DEG!

Tanpa bisa ia cegah, Rania pun merasakan kulit wajahnya yang mulai memanas karena merona.

Tidak. Pasti warnanya berubah menjadi amat sangat merah dan memalukan!

Semula Abiyya hanya bermaksud untuk menghentikan tangan halus dan berkulit pucat itu agar tak perlu lagi membersihkan kemejanya yang basah.

Ia pun memegang pergelangan tangan Rania, dengan tujuan untuk menjauhkan dari tubuhnya, namun masalahnya tiba-tiba saja sesuatu telah terjadi.

Gadis itu... mendadak mendongakkan wajahnya.

'Cantik.'

Abiyya pun mengerjap kaget, saat benaknya tiba-tiba mengucapkan kata yang menggambarkan sosok gadis di hadapannya.

Wajah Rania yang sangat dekat dengan wajahnya, membuat Abiyya dapat melihat dengan sangat jelas wajah cantik dengan rambut hitam bergelombangnya yang tergerai indah.

Gadis ini memiliki alis yang melengkung dan hitam alami, menaungi maniknya yang bulat polos dan mempesona.

Hidungnya mungil namun sangat mancung, dan bibirnya...

Abiyya mengamati bagaimana bibir merah alami tanpa pulasan lipstik itu sedikit membuka, menampilkan barisan gigi rata dan putih berkilau yang mempesona.

"Pak... Abiyya?" Tiba-tiba Rania bersuara dengan gugup.

"...Hm?" Abiyya masih asyik mengamati kulit wajah putih Rania yang kini telah memerah hingga ke lehernya. Lucu sekali.

"Ta-tangan... bisa lepaskan tanganku?"

"Oh. Tangan kamu ya?" Abiyya baru tersadar jika sejak tadi ternyata ia masih menggenggam pergelangan tangan mungil Rania yang ada di dadanya.

"Rania."

"I-iya, Pak?" Rania pun semakin gugup ketika alih-alih melepaskan tangannya, Abiyya malah semakin erat menggenggamnya.

Jantungnya menjadi semakin berdebar tak terkendali, sekujur tubuhnya gemetar seperti menggigil.

Efek dari tatapan manik Abiyya yang tajam menghujam terasa seperti menghipnotisnya.

Rasanya seperti mimpi.

Abiyya Prasetya, pria yang sering ia curi pandang diam-diam di tempat kerja, kini berada begitu dekat dengannya, dan menyentuhnya!

"Kamu harus banyak makan, Rania. Tangan kamu kecil sekali, seperti tangan anak-anak. Sebenarnya usia kamu berapa, sih?"

Rania pun mengerjap kaget mendengar perkataan Abiyya yang sungguh di luar dugaannya.

Namun suara tawa yang terdengar mengalun sesudahnya, membuat Rania tersadar dari keterpakuannya.

"Bercanda," ucap Abiyya lagi dengan alis lebatnya yang menukik naik dan sinar berkilau jahil yang terbias di matanya.

"24 tahun," ucap Rania tiba-tiba, menjawab pertanyaan main-main Abiyya dan membuat pria itu tersenyum kecil.

"24 tahun? Kamu masih sangat muda sekali."

"Memangnya kenapa kalau aku masih muda?" Tanya Rania memberanikan diri.

Abiyya menatap wajah mungil nan cantik yang dipenuhi rasa ingin tahu itu.

Manik bulat Rania masih tampak sayu dan berair, pertanda gadis ini mungkin masih dalam kondisi setengah mabuk sama sepertinya.

Abiyya sendiri tidak mengerti kenapa ia masih saja tetap memegang tangan Rania dan mengobrol random begini, alih-alih segera menjalankan mobilnya kembali untuk mengantar gadis ini pulang.

"Tidak kenapa-kenapa. Kamu masih muda dan cantik, pasti banyak pria yang menyukaimu, kan?"

Rania menggeleng pelan lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.

".... Pak Abiyya," guman Rania pelan.

"Hah? Barusan kamu bilang apa?" Tanya Abiyya bingung.

Sebenarnya, tadi itu Rania mengucapkan, "...yang aku kagumi hanya Pak Abiyya..." tapi ternyata pria itu tak mendengar kalimat depannya.

Dan Rania pun belum bisa memutuskan, apakah ia harus bersyukur atau tidak karena Abiyya tidak mendengarnya.

Melihat Rania yang diam saja dan masih menunduk, Abiyya pun menyentuh dagu lancip gadis itu dengan tangan satunya yang bebas, lalu mendongakkan wajahnya ke atas.

"Bisa diulang?" Ucap Abiyya, yang lagi-lagi memaku tatapan di bibir merah Rania, yang membuatnya tanpa sadar menyentuhkan ibu jari di sana.

Entah apa yang ada di dalam pikiran Abiyya, mungkin bahkan ia tidak berpikir sama sekali, ketika mengikuti nalurinya sebagai lelaki yang langsung memagut benda lembut yang sejak tadi selalu menjadi perhatiannya.

Tentu saja Rania terkejut akan sikap intim dan tiba-tiba dari Abiyya itu!

Namun keterkejutan itu hanya berlangsung selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya benaknya malah bersorak penuh suka cita.

Abiyya telah menciumnya!!

Meskipun Rania tidak mengerti alasan yang sebenarnya akan sikap Abiyya, namun semua itu telah tertutupi oleh euforia.

Rania pun membalas ciuman itu, dan hatinya merekah dalam rasa bahagia mendengar lenguhan puas dari Abiyya.

"Damned, Rania!" Seru Abiyya frustasi, ketika mereka sama-sama menghentikan ciuman itu untuk menarik napas.

Ia sungguh tak menyangka jika gadis mungil dan pendiam ini ternyata sangat seksi dengan caranya sendiri.

Dan hanya karena ciuman Rania... berhasil membuat hasratnya semakin berada di ubun-ubun, dan sangat ingin dituntaskan sekarang juga.

Karena masih ingin merasakan Rania, Abiyya pun memindahkan bibirnya ke leher jenjang berkulit selembut beledu dengan aroma permen yang manis, untuk disesap kuat dan dijilat.

"Rania..."

"...Ya, Pak Abiyya?" Sahut Rania yang masih menelengkan wajahnya sembari memejamkan mata, tampak pasrah dengan apa pun yang dilakukan Abiyya pada lehernya.

"Malam ini, aku menginginkanmu."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
wah abiyya gerak cepat akibat mabuk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • My Obsessive Boss   101. Terlambat

    Sementara itu di tempat lain, Abiyya baru saja keluar dari cabang timur The Journal ketika ia membaca pesan dari Rania. Pesan itu berisi permintaan maaf karena gadis itu terpaksa membatalkan janji kencan mereka malam ini, demi menemani Kirby menemui kekasihnya. Abiyya membacanya sampai selesai, lalu mengembuskan napas pelan. Sebenarnya ia kecewa. Malam ini seharusnya menjadi kencan pertama mereka yang sudah sangat ia nantikan sejak tadi pagi. Namun... Abiyya juga paham jika Rania tidak mungkin meninggalkan Kirby dalam keadaan seperti itu. Akhirnya, Abiyya mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menelepon Rania. Namun keningnya pun mengernyit ketika teleponnya tidak tersambung. Lalu ia mencoba sekali lagi, tapi tetap saja gagal. “Hm... Beraninya dia menonaktifkan ponselnya,” guman Abiyya antara kesal dan gemas. “Lihat saja saat nanti ketemu. Kamu pasti tidak akan selamat di tanganku, Sayang.” Sudut bibirnya pun terangkat membentuk seringai tipis, saat membayangkan

  • My Obsessive Boss   100. Bertemu

    Perjalanan menuju kediaman keluarga Prasetya memakan waktu cukup lama. Sepanjang perjalanan, Rania hanya bisa diam sambil sesekali melirik ke luar jendela. Kirby yang duduk di sampingnya pun tidak banyak bicara. Hingga akhirnya mobil itu memasuki sebuah pintu gerbang besar, lalu melaju melewati jalan panjang yang diapit pepohonan rapi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah bangunan yang membuat kedua gadis itu sejenak terdiam. Rumah itu... lebih pantas disebut istana. Bangunannya besar dengan fasad batu berwarna terang, jendela-jendela tinggi, pilar klasik, serta atap bertingkat yang memberikan kesan seperti kediaman bangsawan Inggris. Taman luas terbentang di kedua sisi halaman, lengkap dengan semak yang dipangkas rapi dan beberapa patung batu yang berdiri di antara pepohonan. Kirby pun turun dari mobil lebih dulu, lalu disusul oleh Rania. Ia mendongak cukup lama sebelum akhirnya mendekatkan wajahnya ke telinga Rania. “Ran...” “Hm?” “Aku tahu Pak Abiyya i

  • My Obsessive Boss   99.Jemputan

    Mereka memilih sebuah kafe yang cukup ramai di pusat kota.Tempat itu tidak terlalu besar, tetapi memiliki dinding kaca lebar yang membuat bagian dalam kafe terlihat jelas dari luar.Kirby dan Devon memilih meja di dekat jendela.Sesuai janjinya, Rania tidak ikut duduk bersama mereka.Ia memilih kursi di area luar kafe, tepat di sisi jendela yang masih memungkinkan dirinya melihat meja Kirby dengan jelas.“Kalau ada apa-apa, aku di sini,” ujar Rania sebelum Kirby masuk.Kirby mengangguk. “Terima kasih.”Rania hanya tersenyum dan mengibaskan tangannya, menyuruh Kirby segera masuk ke dalam. Dari tempatnya duduk, Rania bisa melihat Kirby berjalan mendekati meja Devon, lalu keduanya mulai berbicara.Awalnya terlihat biasa.Devon mengatakan sesuatu, Kirby menjawab, kemudian Devon kembali berbicara.Sayangnya, Rania tidak bisa mendengar percakapan mereka karena terhalang kaca. Ia hanya bisa membaca bahasa tubuh keduanya.Beberapa menit berlalu, dan Rania mulai merasa tidak nyaman saat meli

  • My Obsessive Boss   98. Antara Dua Janji

    Di sudut lain The Journal, Kirby sedang duduk sendirian di meja kecil dekat area belakang.Secangkir kopi di hadapannya sudah hampir dingin tak tersentuh.Kirby menarik napas panjang.Tatapan gadis itu terpaku pada satu pesan dari Devon yang masih terbuka di layar ponselnya.Devon: Aku sudah bicara dengan Mama. Beliau masih belum berubah pikiran.Jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat.Sudah beberapa hari terakhir hubungan mereka terasa berbeda karena masalah ibunya Devon yang terang-terangan menolak hubungan mereka.Ponsel Kirby kembali bergetar.Devon: Jangan berpikir macam-macam. Aku nggak akan putus dengan kamu hanya karena Mama tidak menyetujui hubungan kita.Kirby pun membaca pesan itu berulang kali. Tapi bukannya merasa lega, matanya justru kembali berkaca-kaca.Ia tahu Devon bersungguh-sungguh... namun sampai kapan?Mungkin mereka bisa melawan, tetapi bagaimana jika penolakan itu terus berlangsung?Bagaimana jika keluarga Devon terus memaksanya memilih?Bagaimana jika

  • My Obsessive Boss   97. Merebut Perhatian

    Tok. Tok. Tok. Rania sontak menoleh ke arah pintu. Wajahnya pun berubah panik. Sementara itu Abiyya justru masih duduk dengan tenang, tampak sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.. “Pak Abiyya?” terdengar suara seorang pria dari luar. “Aku Tian. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Bapak.” Seketika Rania menoleh ke arah Abiyya. Tian?? Pemuda itu... kenapa harus datang sekarang?? Ia buru-buru hendak bangkit dari pangkuan Abiyya, tetapi pria itu sempat menahan pinggangnya. “Tunggu dulu,” bisik Abiyya. Rania mendelik. “Tunggu gimana, sih? Ada orang di luar!” “Aku tahu.” Rania menatap pria itu tidak percaya. “Lalu kenapa Pak Abiyya masih~~” “Tenanglah, Sayang.” Abiyya akhirnya melepaskan pelukannya. “Rapikan dulu penampilan kamu.” Kali ini Abiyya membiarkan Rania yang segera berdiri. Gadis itu membenahi seragam dan celemek hitamnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa bengkak dan hangat akibat ciuman tadi. Abiyya sendiri mera

  • My Obsessive Boss   96. Ketukan di Balik Pintu

    Tidak ingin memperpanjang pembicaraan lebih lama dengan Kirby, Rania pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Namun begitu mendapat kesempatan untuk menjauh dari sahabatnya itu, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragam.Lalu jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.Rania: Pak, bisa bicara sebentar?Balasan pun datang tidak sampai satu menit kemudian.Abiyya: Oke. Aku tunggu di ruangan, Sayang.Rania memutar bola mata, lalu segera memasukkan ponselnya kembali dan berjalan menuju ruang manajer.Setelah mengetuk pintu dua kali, Rania masuk dan mendapati Abiyya sedang duduk di belakang meja kerjanya."Masuklah, Rania."Gadis itu pun menutup pintu di belakangnya.Namun baru saja ia hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Abiyya sudah bangkit dari kursinya.Pria itu berjalan mendekat, meraih tangan Rania, lalu menariknya perlahan hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya."Pak Abiyya!" Rania sontak menegakkan tubuh dengan kedua tangan yang bertumpu pada bahu pria tersebut."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status