MasukTak pelak ia pun merasa agak takjub, karena aroma ini terasa unik dan terlalu kekanakkan untuk gadis seusia Rania, namun ternyata cukup menyenangkan juga untuk dihirup.
Rania terkejut ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang membersihkan kemeja Abiyya. Gadis itu pun mendongak, lalu kembali terkesiap. Terlambat menyadari bahwa wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajah Abiyya, dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan. Bahkan Rania bisa merasakan desau napas pelan Abiyya yang lembut menerpa wajahnya, terasa hangat dan menenangkan. DEG! Tanpa bisa ia cegah, Rania pun merasakan kulit wajahnya yang mulai memanas karena merona. Tidak. Pasti warnanya berubah menjadi amat sangat merah dan memalukan! Semula Abiyya hanya bermaksud untuk menghentikan tangan halus dan berkulit pucat itu agar tak perlu lagi membersihkan kemejanya yang basah. Ia pun memegang pergelangan tangan Rania, dengan tujuan untuk menjauhkan dari tubuhnya, namun masalahnya tiba-tiba saja sesuatu telah terjadi. Gadis itu... mendadak mendongakkan wajahnya. 'Cantik.' Abiyya pun mengerjap kaget, saat benaknya tiba-tiba mengucapkan kata yang menggambarkan sosok gadis di hadapannya. Wajah Rania yang sangat dekat dengan wajahnya, membuat Abiyya dapat melihat dengan sangat jelas wajah cantik dengan rambut hitam bergelombangnya yang tergerai indah. Gadis ini memiliki alis yang melengkung dan hitam alami, menaungi maniknya yang bulat polos dan mempesona. Hidungnya mungil namun sangat mancung, dan bibirnya... Abiyya mengamati bagaimana bibir merah alami tanpa pulasan lipstik itu sedikit membuka, menampilkan barisan gigi rata dan putih berkilau yang mempesona. "Pak... Abiyya?" Tiba-tiba Rania bersuara dengan gugup. "...Hm?" Abiyya masih asyik mengamati kulit wajah putih Rania yang kini telah memerah hingga ke lehernya. Lucu sekali. "Ta-tangan... bisa lepaskan tanganku?" "Oh. Tangan kamu ya?" Abiyya baru tersadar jika sejak tadi ternyata ia masih menggenggam pergelangan tangan mungil Rania yang ada di dadanya. "Rania." "I-iya, Pak?" Rania pun semakin gugup ketika alih-alih melepaskan tangannya, Abiyya malah semakin erat menggenggamnya. Jantungnya menjadi semakin berdebar tak terkendali, sekujur tubuhnya gemetar seperti menggigil. Efek dari tatapan manik Abiyya yang tajam menghujam terasa seperti menghipnotisnya. Rasanya seperti mimpi. Abiyya Prasetya, pria yang sering ia curi pandang diam-diam di tempat kerja, kini berada begitu dekat dengannya, dan menyentuhnya! "Kamu harus banyak makan, Rania. Tangan kamu kecil sekali, seperti tangan anak-anak. Sebenarnya usia kamu berapa, sih?" Rania pun mengerjap kaget mendengar perkataan Abiyya yang sungguh di luar dugaannya. Namun suara tawa yang terdengar mengalun sesudahnya, membuat Rania tersadar dari keterpakuannya. "Bercanda," ucap Abiyya lagi dengan alis lebatnya yang menukik naik dan sinar berkilau jahil yang terbias di matanya. "24 tahun," ucap Rania tiba-tiba, menjawab pertanyaan main-main Abiyya dan membuat pria itu tersenyum kecil. "24 tahun? Kamu masih sangat muda sekali." "Memangnya kenapa kalau aku masih muda?" Tanya Rania memberanikan diri. Abiyya menatap wajah mungil nan cantik yang dipenuhi rasa ingin tahu itu. Manik bulat Rania masih tampak sayu dan berair, pertanda gadis ini mungkin masih dalam kondisi setengah mabuk sama sepertinya. Abiyya sendiri tidak mengerti kenapa ia masih saja tetap memegang tangan Rania dan mengobrol random begini, alih-alih segera menjalankan mobilnya kembali untuk mengantar gadis ini pulang. "Tidak kenapa-kenapa. Kamu masih muda dan cantik, pasti banyak pria yang menyukaimu, kan?" Rania menggeleng pelan lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam. ".... Pak Abiyya," guman Rania pelan. "Hah? Barusan kamu bilang apa?" Tanya Abiyya bingung. Sebenarnya, tadi itu Rania mengucapkan, "...yang aku kagumi hanya Pak Abiyya..." tapi ternyata pria itu tak mendengar kalimat depannya. Dan Rania pun belum bisa memutuskan, apakah ia harus bersyukur atau tidak karena Abiyya tidak mendengarnya. Melihat Rania yang diam saja dan masih menunduk, Abiyya pun menyentuh dagu lancip gadis itu dengan tangan satunya yang bebas, lalu mendongakkan wajahnya ke atas. "Bisa diulang?" Ucap Abiyya, yang lagi-lagi memaku tatapan di bibir merah Rania, yang membuatnya tanpa sadar menyentuhkan ibu jari di sana. Entah apa yang ada di dalam pikiran Abiyya, mungkin bahkan ia tidak berpikir sama sekali, ketika mengikuti nalurinya sebagai lelaki yang langsung memagut benda lembut yang sejak tadi selalu menjadi perhatiannya. Tentu saja Rania terkejut akan sikap intim dan tiba-tiba dari Abiyya itu! Namun keterkejutan itu hanya berlangsung selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya benaknya malah bersorak penuh suka cita. Abiyya telah menciumnya!! Meskipun Rania tidak mengerti alasan yang sebenarnya akan sikap Abiyya, namun semua itu telah tertutupi oleh euforia. Rania pun membalas ciuman itu, dan hatinya merekah dalam rasa bahagia mendengar lenguhan puas dari Abiyya. "Damned, Rania!" Seru Abiyya frustasi, ketika mereka sama-sama menghentikan ciuman itu untuk menarik napas. Ia sungguh tak menyangka jika gadis mungil dan pendiam ini ternyata sangat seksi dengan caranya sendiri. Dan hanya karena ciuman Rania... berhasil membuat hasratnya semakin berada di ubun-ubun, dan sangat ingin dituntaskan sekarang juga. Karena masih ingin merasakan Rania, Abiyya pun memindahkan bibirnya ke leher jenjang berkulit selembut beledu dengan aroma permen yang manis, untuk disesap kuat dan dijilat. "Rania..." "...Ya, Pak Abiyya?" Sahut Rania yang masih menelengkan wajahnya sembari memejamkan mata, tampak pasrah dengan apa pun yang dilakukan Abiyya pada lehernya. "Malam ini, aku menginginkanmu." ***Rania masih menatap ke arah jalan yang mereka lewati beberapa saat lalu. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang baru saja mereka dengar. “Kita harus kasih tahu Pak Abiyya," gumannya pelan. Tian yang sedang mengendarai motor langsung menggeleng. “Jangan sekarang.” Rania menatapnya. “Kenapa?” “Karena kita belum punya bukti," sergahnya penuh sesal. Seharusnya tadi mereka merekam percakapan itu dengan ponsel. Tapi sepertinya baik Tian maupun Rania sama-sama terlalu shock, hingga tidak berpikir ke sana. “Tapi... kita kan sudah mendengarnya sendiri," tukas Rania. “Kita memang mendengar percakapan mereka,” jawab Tian. “Tapi kalau besok mereka bilang kalau pembicaraan tadi bukan tentang Pak Abiyya atau transaksi yang kita pikirkan, lalu bagaimana kita mau menjelaskannya?” Kalimat Tian itu serta-merta membuat Rania terdiam, lalu pria itu pun kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Apalagi mereka itu adalah Pak Hendra dan Pak Fikri. Mereka punya jabata
Malam hari pun tiba.Setelah matahari tenggelam dan udara di sekitar resort mulai terasa lebih sejuk, Rania akhirnya bersiap untuk keluar.Kondisi kakinya sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan ia merasa tidak perlu lagi mengenakan kruk.Namun untuk sesaat, Rania sempat ragu ketika mengingat kejadian siang tadi.Apa ia tetap akan keluar untuk cruise di malam hari dengan Tian?Tapi... yang ikut kali ini bukan hanya Tian, melainkan juga Kirby dan beberapa staf lainnya. Jadi sepertinya Rania merasa tidak ada alasan untuk menolak.Lagipula, ia hanya ingin menikmati malam terakhir mereka di resort tanpa terus memikirkan sikap Abiyya yang semakin lama semakin aneh. Beberapa menit kemudian, Rania bersama Kirby, Tian, dan beberapa staf lainnya sudah berada di area parkir dekat pantai.Sebuah motor listrik milik resort telah disiapkan.“Sudah lengkap semuanya?” tanya Tian sambil memastikan semua orang sudah berada di tempat.Kirby mengangkat tangan. “Siap! Pasukan sudah lengkap!” serunya deng
Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan bersama pa
Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat.Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata."Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas.Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa."Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan."Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya."Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan."Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu ragu."Ia mendek
Tiga kata itu terasa berbeda, seolah memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Seolah selama ada sesuatu yang menyangkut dirinya... maka Abiyya tidak akan membiarkannya begitu saja. Rania belum sempat mengatakan apa-apa ketika pria itu tiba-tiba saja ikut duduk di sampingnya, lalu bergerak mendekatkan wajahnya. Secara refleks, Rania pun mundur hingga punggungnya hampir menyentuh batang pohon di belakangnya. “Pak...??” Gerakan Abiyya pun berhenti, saat wajahnya kini telah berada tepat di hadapan Rania, begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan tubuh Abiyya setelah pertandingan. Aroma keringat samar bercampur dengan wangi segar parfum Abiyya terasa memenuhi udara di antara mereka. Namun anehnya... Rania tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang berdetak semakin cepat. Abiyya mengangkat satu tangannya, kemudian menahannya di samping kepala Rania. Membuat gadis itu menelan ludah, karena terkurung di antara tubuh Abiyya dan batang pohon. Lalu tatapan p
Setelah pertandingan berakhir, seluruh peserta kemudian diarahkan menuju taman di sisi resort untuk menikmati brunch yang telah disiapkan oleh pihak resort. Ada beberapa meja panjang yang tertata dengan estetik di bawah beberapa payung besar, dipenuhi oleh aneka makanan lezat dan minuman menyegarkan. Suasana pun kembali ramai oleh percakapan dan tawa para peserta. Meskipun bagi Rania, suasana itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Baru saja beberapa langkah ia memasuki area brunch, Rania sudah bisa merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Ada yang sekadar melirik, ada pula yang terang-terangan menatap dengan sorot sinis. Beberapa staf wanita bahkan langsung berbisik ketika Rania lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Rania tidak perlu mendengarnya untuk mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Pasti dirinya jadi pergunjingan karena Pak Abiyya yang selalu membelanya. Seketika perutnya pun terasa tidak nyaman, dan selera makanny







