LOGIN'Uh, pusing sekali.'
Rania membuka perlahan kedua matanya yang semula terpejam rapat, untuk melihat dimanakah gerangan ia sekarang berada. Karena tubuhnya yang sangat sensitif dengan alkohol, baru menenggak dua sloki saja rasanya telah membuat seluruh tenaga dan kesadarannya telah menghilang entah kemana. Kepalanya berat, dan sekujur tubuhnya terasa sakit sekali. Ia pun berjanji dalam hati, tak kan pernah lagi-lagi berani menyentuh alkohol laknat itu untuk selamanya. Namun Rania pun sontak mengernyit, ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tunggu. Mobil siapa ini...?? "...Kamu sudah sadar?" Suara maskulin yang terdengar mengalun memasuki indra pendengarannya itu membuat Rania terkejut, dan sontak menoleh ke sumbernya. "P-Pak Abiyya??!" Tukas Rania, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Sosok pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya tersenyum kecil, sembari melirik sekilas ke arah Rania dan kembali fokus ke jalanan sedetik kemudian. "Hai. Kamu tadi mabuk berat, dan akulah yang berinisiatif untuk mengantarkan pulang. Nggak apa-apa, kan?" Rania menelan ludahnya yang terasa berat. 'Pak Abiyya... yang mengantarnya pulang?? Ya ampun, Tuhan. Ini bukan mimpi kan??' "...Rania? Kamu nggak apa-apa?" Abiyya pun kembali bertanya dengan nada cemas, ketika tak ada jawaban apa pun dari gadis itu. Ugh. Sebenarnya Rania ingin menjawab kalau ia tidak apa-apa, justru diam-diam merasa bahagia karena pria yang selama ini ia kagumi bisa berada sedekat ini, dalam satu mobil pula! Tapi masalahnya... "HUEKKH!!!!" Rania buru-buru menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isi perutnya yang mendadak saja menjadi bergejolak tak karuan, mungkin juga karena efek mabuk. Aaghh, jangan sampai ia muntah di dalam mobil mewah ini... dan di depan pria yang ia sukai pula!!! "Kamu mau muntah??" Dengan dua tangan yang masih terkatup di depan mulutnya, Rania pun meringis sembari mengangguk. "Tunggu. Aku pinggirkan dulu mobilnya." Sekuat tenaga gadis itu menahan isi perut yang meronta ingin keluar, hingga akhirnya Abiyya menghentikan mobilnya di bahu jalan. Semula Rania hendak berlari keluar dari mobil untuk mengeluarkan muntahnya, namun tiba-tiba saja Abiyya menahannya. Pria itu membuka laci dasbor, dan mengeluarkan plastik gulungan baru dan bersih dari dalamnya. "Ini. Muntahkan di sini saja," ucap pria itu sembari menadahkan plastik itu di depan wajah Rania. "Hueeekk!!!" Karena sudah tidak sanggup menahan mual yang serasa mengaduk perutnya, Rania pun akhirnya mengesampingkan rasa malu dan mengeluarkan muntahnya di dalam plastik yang masih dipegangi oleh Abiyya. Ya ampun, entah mau taruh dimana mukanya setelah malam ini! "Sudah enakan?" Dengan wajah yang masih menunduk di atas plastik penuh muntah, Rania pun mengangguk lemah. Ia masih enggan untuk menatap Abiyya karena malu. "Jangan, biar aku saja yang menutupnya, Pak." Rania tampak kaget karena Abiyya tiba-tiba menarik plastik berisi cairan menjijikkan itu dari wajah Rania, dan mengunci bagian atasnya agar tidak tumpah kemana-mana. "It's okay. Oh iya, ada air mineral di situ, kamu minum saja," tunjuk Abiyya ke arah samping kursi Rania. Sementara Rania minum dan berkumur-kumur membersihkan mulutnya, Abiyya melapisi plastik itu dengan dua plastik lain sebagai jaga-jaga, sebelum ia nanti menemukan tempat sampah di sepanjang jalan dan membuangnya. "Maaf sudah merepotkan Pak Abiyya," ucap Rania malu dan penuh sesal, terutama karena mobil bosnya kini pasti jadi bau muntahnya. "It's fine. Sebenarnya ini salahku juga, seharusnya tidak membawa kalian semua ke klub," sahut Abiyya sambil mendesah pelan. Tanpa sadar ia menatap bibir Rania yang basah karena air minum, lalu mengambil tissue dan menyapukan material lembut itu ke mulut Rania. Gerakan spontan Abiyya itu membuat Rania lagi-lagi terkejut, dan tanpa sadar membuat pegangannya di botol air mineral pun menjadi terlepas. "Ah!! M-maaaff, Pakk!!!" Seru Rania panik, saat air yang tersisa di botol yang jatuh itu malah terciprat dan membasahi kemeja Abiyya. Tanpa berpikir panjang lagi dan karena dipenuhi oleh perasaan bersalah, kini Rania-lah yang menarik beberapa lembar tissue dari kotaknya, lalu menggunakannya untuk membersihkan baju Abiyya yang basah. Posisi kepala Rania yang tanpa sengaja menjadi begitu dekat dengan dada Abiyya, membuat aroma wangi rambut gadis itu terhidu ke dalam indra penciuman Abiyya. 'Seperti wangi permen yang manis,' guman pria itu dalam hati. ***"Ngghh... Pak Abiyya..." Rintihan lembut Rania itu semakin membakar gairah Abiyya hingga setiap detik, sekujur tubuhnya semakin terasa panas. Abiyya pun semakin cepat menghujamkan dirinya ke dalam Rania, memacu dengan keras dan kuat hampir tanpa jeda. Rintihan Rania yang semula lirih itu pun semakin lama semakin keras disertai desahan napas yang memburu. Jemarinya meremas bahu bidang pria itu, kuku-kukunya tanpa sadar mencengkeram kuat hingga meninggalkan jejak merah di kulitnya yang berkeringat. Pria itu menunduk dan menyandarkan dahinya di bahu Rania. Gerakannya semakin dalam dan tak kenal lelah, seolah ingin menyatu dengan wanita itu sepenuhnya. Dunia di luar sana seakan tak lagi ada. Hanya ada mereka berdua, rasa panas yang meluap, dan kenikmatan yang semakin mendekati puncaknya... "Pak Abiyya..?" Anehnya... terdengar suara lain yang memanggilnya samar di awal, seakan terhalang oleh kabut tebal. "Pak Abiyya..!" Tiba-tiba panggilan itu terdengar lebih jelas
Rania merasa tubuhnya ringan seperti melayang. Karena kepalanya masih terasa pusing, gadis itu memilih tetap memejamkan mata. Ia sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada dalam gendongan Abiyya, karena aroma parfum yang segar bercampur dengan wangi maskulin khas pria itu memenuhi indra penciumannya. Entah kenapa, aroma itu perlahan meredakan rasa gugup yang sejak tadi mencengkeram dadanya. Tanpa sadar, Rania menghirupnya sedikit lebih dalam. Efek alkohol membuat seluruh pertahanannya melemah. Terlebih setelah sesi ciuman panas yang terjadi di dalam mobil beberapa menit lalu. "Kita... mau ke mana, Pak?" tanyanya lirih. Tubuhnya masih lemas. Ia bahkan tak berniat membuka mata, sepenuhnya membiarkan Abiyya membawanya. "Ini apartemenku, Rania," jawab Abiyya dengan suaranya yang berat. Rania mengangguk pelan. Sesaat kemudian, tanpa sadar ia menyandarkan pipinya lebih dalam pada dada bidang pria itu. "Aku... sangat suka dengan aroma parfum Bapak," gumannya lirih. Lan
Tak pelak ia pun merasa agak takjub, karena aroma ini terasa unik dan terlalu kekanakkan untuk gadis seusia Rania, namun ternyata cukup menyenangkan juga untuk dihirup. Rania terkejut ketika sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya yang sedang membersihkan kemeja Abiyya. Gadis itu pun mendongak, lalu kembali terkesiap. Terlambat menyadari bahwa wajahnya ternyata sangat dekat dengan wajah Abiyya, dengan ujung hidung yang nyaris bersentuhan. Bahkan Rania bisa merasakan desau napas pelan Abiyya yang lembut menerpa wajahnya, terasa hangat dan menenangkan. DEG! Tanpa bisa ia cegah, Rania pun merasakan kulit wajahnya yang mulai memanas karena merona. Tidak. Pasti warnanya berubah menjadi amat sangat merah dan memalukan! Semula Abiyya hanya bermaksud untuk menghentikan tangan halus dan berkulit pucat itu agar tak perlu lagi membersihkan kemejanya yang basah. Ia pun memegang pergelangan tangan Rania, dengan tujuan untuk menjauhkan dari tubuhnya, namun ma
'Uh, pusing sekali.' Rania membuka perlahan kedua matanya yang semula terpejam rapat, untuk melihat dimanakah gerangan ia sekarang berada. Karena tubuhnya yang sangat sensitif dengan alkohol, baru menenggak dua sloki saja rasanya telah membuat seluruh tenaga dan kesadarannya telah menghilang entah kemana. Kepalanya berat, dan sekujur tubuhnya terasa sakit sekali. Ia pun berjanji dalam hati, tak kan pernah lagi-lagi berani menyentuh alkohol laknat itu untuk selamanya. Namun Rania pun sontak mengernyit, ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Tunggu. Mobil siapa ini...?? "...Kamu sudah sadar?" Suara maskulin yang terdengar mengalun memasuki indra pendengarannya itu membuat Rania terkejut, dan sontak menoleh ke sumbernya. "P-Pak Abiyya??!" Tukas Rania, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Sosok pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya tersenyum kecil, sembari melirik sek
"Minum, minum...!!" Abiyya mengernyit sembari melirik ke arah kerumunan beberapa orang di meja sebelah, yang berteriak-teriak heboh sambil menepuk-nepuk meja. Saat ini dia dan seluruh staf resto The Journal sedang merayakan ulang tahun di sebuah di salah satu klub malam eksklusif. Abiyya sengaja khusus menyewa private room, agar mereka lebih nyaman dan tidak ikut berbaur dengan orang asing di sana, juga demi untuk keamanan para staf wanitanya. "Mereka sedang ngapain?" Tanya Abiyya sambil menjuk meja seberangnya kepada Arkan, yang kebetulan satu meja dengannya. Di dalam private room ini, tersedia beberapa meja bulat dan kursi-kursi, juga sofa panjang yang terletak di depan televisi layar lebar untuk karaoke. "Oh, biasalah Pak. Paling-paling juga lomba minum," sahut Arkan santai sembari menenggak birnya. Ia sedang bermain kartu dengan Abiyya dan beberapa staf yang lain. Abiyya kembali melirik ke meja seberangnya, berusaha melihat siapa yang disuruh minum. "Hei, Rania tid
(Flashback) "Kemana semua orang??" Pria itu mengernyitkan keningnya heran ketika ia baru saja memasuki pintu ke dalam "The Journal", sebuah bisnis restoran miliknya. Saat ini waktu memang sudah menunjukkan jam 10.30 malam, dan The Journal biasanya menutup usahanya setiap jam 10 malam. Anehnya, tak ada seorang pun di sini sekarang, padahal biasanya masih banyak yang berlalu lalang membersihkan lantai dan membereskan kursi-kursi. Lampu-lampu pun semua masih menyala, dan kursi-kursi juga tampak belum dibereskan. Itu artinya mereka belum pulang kan? Ataukah malam ini mereka telah mangkir dari tanggung jawab? Pria itu, Abiyya, akhirnya memutuskan untuk tetap masuk ke dalam resto. Ia sengaja berjalan memutar lebih dulu ke arah gudang bahan baku, dapur, dan area restroom. Ia pun semakin heran ketika ternyata benar-benar tidak menemukan siapa pun di mana-mana. Seolah resto ini ditinggalkan begitu saja dalam keadaan belum beres, belum terkunci, dan dengan seluruh lampu yang







