Share

5. Malam Itu

Author: Black Aurora
last update publish date: 2026-08-02 00:39:55

'Uh, pusing sekali.'

Rania membuka perlahan kedua matanya yang semula terpejam rapat, untuk melihat dimanakah gerangan ia sekarang berada.

Karena tubuhnya yang sangat sensitif dengan alkohol, baru menenggak dua sloki saja rasanya telah membuat seluruh tenaga dan kesadarannya telah menghilang entah kemana.

Kepalanya berat, dan sekujur tubuhnya terasa sakit sekali.

Ia pun berjanji dalam hati, tak kan pernah lagi-lagi berani menyentuh alkohol laknat itu untuk selamanya.

Namun Rania pun sontak mengernyit, ketika menyadari bahwa saat ini ia tengah berada di dalam sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.

Tunggu. Mobil siapa ini...??

"...Kamu sudah sadar?"

Suara maskulin yang terdengar mengalun memasuki indra pendengarannya itu membuat Rania terkejut, dan sontak menoleh ke sumbernya.

"P-Pak Abiyya??!" Tukas Rania, seraya mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya.

Sosok pria yang sedang menyetir di sampingnya hanya tersenyum kecil, sembari melirik sekilas ke arah Rania dan kembali fokus ke jalanan sedetik kemudian.

"Hai. Kamu tadi mabuk berat, dan akulah yang berinisiatif untuk mengantarkan pulang. Nggak apa-apa, kan?"

Rania menelan ludahnya yang terasa berat. 'Pak Abiyya... yang mengantarnya pulang?? Ya ampun, Tuhan. Ini bukan mimpi kan??'

"...Rania? Kamu nggak apa-apa?" Abiyya pun kembali bertanya dengan nada cemas, ketika tak ada jawaban apa pun dari gadis itu.

Ugh. Sebenarnya Rania ingin menjawab kalau ia tidak apa-apa, justru diam-diam merasa bahagia karena pria yang selama ini ia kagumi bisa berada sedekat ini, dalam satu mobil pula!

Tapi masalahnya...

"HUEKKH!!!!"

Rania buru-buru menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan isi perutnya yang mendadak saja menjadi bergejolak tak karuan, mungkin juga karena efek mabuk.

Aaghh, jangan sampai ia muntah di dalam mobil mewah ini... dan di depan pria yang ia sukai pula!!!

"Kamu mau muntah??"

Dengan dua tangan yang masih terkatup di depan mulutnya, Rania pun meringis sembari mengangguk.

"Tunggu. Aku pinggirkan dulu mobilnya."

Sekuat tenaga gadis itu menahan isi perut yang meronta ingin keluar, hingga akhirnya Abiyya menghentikan mobilnya di bahu jalan.

Semula Rania hendak berlari keluar dari mobil untuk mengeluarkan muntahnya, namun tiba-tiba saja Abiyya menahannya.

Pria itu membuka laci dasbor, dan mengeluarkan plastik gulungan baru dan bersih dari dalamnya.

"Ini. Muntahkan di sini saja," ucap pria itu sembari menadahkan plastik itu di depan wajah Rania.

"Hueeekk!!!"

Karena sudah tidak sanggup menahan mual yang serasa mengaduk perutnya, Rania pun akhirnya mengesampingkan rasa malu dan mengeluarkan muntahnya di dalam plastik yang masih dipegangi oleh Abiyya.

Ya ampun, entah mau taruh dimana mukanya setelah malam ini!

"Sudah enakan?"

Dengan wajah yang masih menunduk di atas plastik penuh muntah, Rania pun mengangguk lemah.

Ia masih enggan untuk menatap Abiyya karena malu.

"Jangan, biar aku saja yang menutupnya, Pak." Rania tampak kaget karena Abiyya tiba-tiba menarik plastik berisi cairan menjijikkan itu dari wajah Rania, dan mengunci bagian atasnya agar tidak tumpah kemana-mana.

"It's okay. Oh iya, ada air mineral di situ, kamu minum saja," tunjuk Abiyya ke arah samping kursi Rania.

Sementara Rania minum dan berkumur-kumur membersihkan mulutnya, Abiyya melapisi plastik itu dengan dua plastik lain sebagai jaga-jaga, sebelum ia nanti menemukan tempat sampah di sepanjang jalan dan membuangnya.

"Maaf sudah merepotkan Pak Abiyya," ucap Rania malu dan penuh sesal, terutama karena mobil bosnya kini pasti jadi bau muntahnya.

"It's fine. Sebenarnya ini salahku juga, seharusnya tidak membawa kalian semua ke klub," sahut Abiyya sambil mendesah pelan.

Tanpa sadar ia menatap bibir Rania yang basah karena air minum, lalu mengambil tissue dan menyapukan material lembut itu ke mulut Rania.

Gerakan spontan Abiyya itu membuat Rania lagi-lagi terkejut, dan tanpa sadar membuat pegangannya di botol air mineral pun menjadi terlepas.

"Ah!! M-maaaff, Pakk!!!" Seru Rania panik, saat air yang tersisa di botol yang jatuh itu malah terciprat dan membasahi kemeja Abiyya.

Tanpa berpikir panjang lagi dan karena dipenuhi oleh perasaan bersalah, kini Rania-lah yang menarik beberapa lembar tissue dari kotaknya, lalu menggunakannya untuk membersihkan baju Abiyya yang basah.

Posisi kepala Rania yang tanpa sengaja menjadi begitu dekat dengan dada Abiyya, membuat aroma wangi rambut gadis itu terhidu ke dalam indra penciuman Abiyya.

'Seperti wangi permen yang manis,' guman pria itu dalam hati.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Margaretha Indrayani
lanjut thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • My Obsessive Boss   59. Kamu Juga

    Rania masih menatap ke arah jalan yang mereka lewati beberapa saat lalu. Pikirannya terus tertuju pada percakapan yang baru saja mereka dengar. “Kita harus kasih tahu Pak Abiyya," gumannya pelan. Tian yang sedang mengendarai motor langsung menggeleng. “Jangan sekarang.” Rania menatapnya. “Kenapa?” “Karena kita belum punya bukti," sergahnya penuh sesal. Seharusnya tadi mereka merekam percakapan itu dengan ponsel. Tapi sepertinya baik Tian maupun Rania sama-sama terlalu shock, hingga tidak berpikir ke sana. “Tapi... kita kan sudah mendengarnya sendiri," tukas Rania. “Kita memang mendengar percakapan mereka,” jawab Tian. “Tapi kalau besok mereka bilang kalau pembicaraan tadi bukan tentang Pak Abiyya atau transaksi yang kita pikirkan, lalu bagaimana kita mau menjelaskannya?” Kalimat Tian itu serta-merta membuat Rania terdiam, lalu pria itu pun kembali melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Apalagi mereka itu adalah Pak Hendra dan Pak Fikri. Mereka punya jabata

  • My Obsessive Boss   58. Perangkap

    Malam hari pun tiba.Setelah matahari tenggelam dan udara di sekitar resort mulai terasa lebih sejuk, Rania akhirnya bersiap untuk keluar.Kondisi kakinya sekarang sudah jauh lebih baik, bahkan ia merasa tidak perlu lagi mengenakan kruk.Namun untuk sesaat, Rania sempat ragu ketika mengingat kejadian siang tadi.Apa ia tetap akan keluar untuk cruise di malam hari dengan Tian?Tapi... yang ikut kali ini bukan hanya Tian, melainkan juga Kirby dan beberapa staf lainnya. Jadi sepertinya Rania merasa tidak ada alasan untuk menolak.Lagipula, ia hanya ingin menikmati malam terakhir mereka di resort tanpa terus memikirkan sikap Abiyya yang semakin lama semakin aneh. Beberapa menit kemudian, Rania bersama Kirby, Tian, dan beberapa staf lainnya sudah berada di area parkir dekat pantai.Sebuah motor listrik milik resort telah disiapkan.“Sudah lengkap semuanya?” tanya Tian sambil memastikan semua orang sudah berada di tempat.Kirby mengangkat tangan. “Siap! Pasukan sudah lengkap!” serunya deng

  • My Obsessive Boss   57. Memangnya Aku Bercanda?

    Tak terasa, waktu makan siang telah tiba. Suasana restoran resort pun jauh lebih ramai dibandingkan pagi tadi. Rania makan satu meja bersama Kirby dan beberapa staf pria dari cabang lain. Kakinya memang masih sedikit sakit, tetapi setidaknya sekaranr sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa tertawa beberapa kali ketika salah seorang staf menceritakan kejadian konyol yang terjadi di cabangnya. “Serius? Terus kepala cabang kalian bilang apa?” tanya Rania sambil menahan tawa. “Dia bilang, ‘Kalau kalian mau baku hantam, jangan di depan pelanggan! Minimal tunggu dulu sampai mereka selesai makan.’” Tawa kecil pun langsung pecah di meja. Rania ikut tertawa, sampai tiba-tiba ia mendengar suara kursi di sampingnya yang bergeser. Gadis itu pun serta-merta menoleh, dan ia melihat... Abiyya. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menarik kursi, duduk tepat di sebelah Rania, lalu makan dari piring yang ia bawa sendiri. Sontak saja Rania terdiam. Biasanya Abiyya makan bersama pa

  • My Obsessive Boss   56. Menandai

    Angin laut berhembus pelan membawa suara debur ombak yang samar, namun suasana di antara kedua manusia itu justru terasa semakin berat.Abiyya menatapnya dengan senyum tipis yang tak hilang dari bibirnya, namun ada sesuatu di balik tatapan itu yang kini terlihat lebih tajam dan nyata."Kamu takut padaku?" tanyanya pelan. Bukan dengan nada yang menuduh, hanya menanyakan fakta yang sudah terlihat jelas.Rania menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa."Lebih tepatnya... takut, karena tidak tahu seberapa jauh Pak Abiyya akan pergi demi apa yang Bapak inginkan."Abiyya tersenyum samar, lalu meraih jemari Rania. Ujung jarinya menyentuh pergelangan tangan gadis itu dengan gerakan yang lambat dan berulang, seolah sedang menghafal bentuknya."Kalau begitu, biar aku katakan satu hal padamu," ucapnya pelan."Aku tidak menuntutmu untuk menerimaku seutuhnya, untuk sekarang. Tapi aku juga tidak akan berpura-pura bahwa perasaanku ini akan berkurang atau hilang, hanya karena kamu ragu."Ia mendek

  • My Obsessive Boss   55. Sebagian Kecil dari Abiyya yang Sebenarnya

    Tiga kata itu terasa berbeda, seolah memiliki makna tersembunyi di dalamnya. Seolah selama ada sesuatu yang menyangkut dirinya... maka Abiyya tidak akan membiarkannya begitu saja. Rania belum sempat mengatakan apa-apa ketika pria itu tiba-tiba saja ikut duduk di sampingnya, lalu bergerak mendekatkan wajahnya. Secara refleks, Rania pun mundur hingga punggungnya hampir menyentuh batang pohon di belakangnya. “Pak...??” Gerakan Abiyya pun berhenti, saat wajahnya kini telah berada tepat di hadapan Rania, begitu dekat hingga gadis itu bisa merasakan kehangatan tubuh Abiyya setelah pertandingan. Aroma keringat samar bercampur dengan wangi segar parfum Abiyya terasa memenuhi udara di antara mereka. Namun anehnya... Rania tidak merasa terganggu, kecuali jantungnya yang berdetak semakin cepat. Abiyya mengangkat satu tangannya, kemudian menahannya di samping kepala Rania. Membuat gadis itu menelan ludah, karena terkurung di antara tubuh Abiyya dan batang pohon. Lalu tatapan p

  • My Obsessive Boss   54. Karena Aku Bisa

    Setelah pertandingan berakhir, seluruh peserta kemudian diarahkan menuju taman di sisi resort untuk menikmati brunch yang telah disiapkan oleh pihak resort. Ada beberapa meja panjang yang tertata dengan estetik di bawah beberapa payung besar, dipenuhi oleh aneka makanan lezat dan minuman menyegarkan. Suasana pun kembali ramai oleh percakapan dan tawa para peserta. Meskipun bagi Rania, suasana itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Baru saja beberapa langkah ia memasuki area brunch, Rania sudah bisa merasakan beberapa pasang mata mengarah kepadanya. Ada yang sekadar melirik, ada pula yang terang-terangan menatap dengan sorot sinis. Beberapa staf wanita bahkan langsung berbisik ketika Rania lewat. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi Rania tidak perlu mendengarnya untuk mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan. Pasti dirinya jadi pergunjingan karena Pak Abiyya yang selalu membelanya. Seketika perutnya pun terasa tidak nyaman, dan selera makanny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status