LOGINTok. Tok. Tok. Rania sontak menoleh ke arah pintu. Wajahnya pun berubah panik. Sementara itu Abiyya justru masih duduk dengan tenang, tampak sama sekali tidak mengkhawatirkan apa pun.. “Pak Abiyya?” terdengar suara seorang pria dari luar. “Aku Tian. Ada hal yang ingin kubicarakan dengan Bapak.” Seketika Rania menoleh ke arah Abiyya. Tian?? Pemuda itu... kenapa harus datang sekarang?? Ia buru-buru hendak bangkit dari pangkuan Abiyya, tetapi pria itu sempat menahan pinggangnya. “Tunggu dulu,” bisik Abiyya. Rania mendelik. “Tunggu gimana, sih? Ada orang di luar!” “Aku tahu.” Rania menatap pria itu tidak percaya. “Lalu kenapa Pak Abiyya masih~~” “Tenanglah, Sayang.” Abiyya akhirnya melepaskan pelukannya. “Rapikan dulu penampilan kamu.” Kali ini Abiyya membiarkan Rania yang segera berdiri. Gadis itu membenahi seragam dan celemek hitamnya, menyisir rambutnya dengan jemari, lalu mengusap sudut bibirnya yang masih terasa bengkak dan hangat akibat ciuman tadi. Abiyya sendiri mera
Tidak ingin memperpanjang pembicaraan lebih lama dengan Kirby, Rania pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Namun begitu mendapat kesempatan untuk menjauh dari sahabatnya itu, ia segera mengeluarkan ponsel dari saku seragam.Lalu jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan.Rania: Pak, bisa bicara sebentar?Balasan pun datang tidak sampai satu menit kemudian.Abiyya: Oke. Aku tunggu di ruangan, Sayang.Rania memutar bola mata, lalu segera memasukkan ponselnya kembali dan berjalan menuju ruang manajer.Setelah mengetuk pintu dua kali, Rania masuk dan mendapati Abiyya sedang duduk di belakang meja kerjanya."Masuklah, Rania."Gadis itu pun menutup pintu di belakangnya.Namun baru saja ia hendak membuka mulut, tiba-tiba saja Abiyya sudah bangkit dari kursinya.Pria itu berjalan mendekat, meraih tangan Rania, lalu menariknya perlahan hingga gadis itu terduduk di atas pangkuannya."Pak Abiyya!" Rania sontak menegakkan tubuh dengan kedua tangan yang bertumpu pada bahu pria tersebut."
Pagi menjelang siang, suasana di The Journal mulai kembali sibuk. Beberapa staf terlihat mempersiapkan area restoran untuk menyambut pelanggan yang akan datang, sementara sebagian lainnya sibuk memeriksa persediaan perlengkapan makan. Rania sedang mengatur kembali beberapa piring kecil dan mangkuk di dalam lemari penyimpanan ketika seseorang muncul di sampingnya. Ia menoleh sekilas, lalu mengernyit saat melihat wajah Kirby. "Hei, kenapa matamu merah begitu?" Kirby yang sedang mengambil beberapa sendok hanya menggeleng. "Enggak apa-apa." Rania menghentikan pekerjaannya, lalu memperhatikan wajah sahabatnya itu lebih saksama. Kelopak mata Kirby tampak sedikit bengkak, bahkan hidungnya pun terlihat kemerahan. "Kamu habis nangis?" Kirby menghela napas panjang. "Semalam." "Kenapa? Lagi berantem sama Devon?" Gadis berambut pendek itu pun akhirnya hanya mengangguk kecil sambil menunduk. Rania meletakkan piring yang dipegangnya, lalu menyandarkan pinggul ke tepi mej
Cahaya pagi yang lembut merayap masuk dari celah tirai kamar suite, menyentuh helai‑helai rambut ikal Rania yang tersebar di atas bantal. Rania mengerjap pelan saat kesadarannya perlahan kembali.Dan hal pertama yang ia rasakan adalah jemari Abiyya yang dengan lembut mengurai dan memainkan helai-helai rambutnya dengan gerakan yang lambat serta penuh kasih sayang. “Sudah bangun?” guman Abiyya dengan suara serak khas baru bangun tidur, tanpa menghentikan gerak jemarinya. Rania mengangguk pelan, lalu menyandarkan pipinya di dada pria itu sambil menghirup aroma segar dan maskulin tubuhnya. “Pak Abiyya sudah bangun sejak kapan?” “Beberapa menit yang lalu. Aku senang bisa melihatmu tidur dengan tenang,” jawab Abiyya sambil mengecup puncak kepalanya. Mereka lalu berbincang tentang hal‑hal ringan. Tentang rasa kopi yang ingin dipesan untuk sarapan, sepatu baru yang ingin Rania beli, hingga kucing liar yang sering ia temui di dekat resto. Hingga Abiyya tiba‑tiba bertanya dengan nada san
Di sebuah rumah mewah yang berdiri megah di kawasan elit, seorang pria tua duduk di atas kursi roda kulit berwarna hitam.Usianya telah melewati kepala tujuh. Tubuhnya kurus, rambutnya memutih, dan kedua kakinya sudah tidak lagi mampu menopang tubuhnya seperti dahulu.Namun ada satu hal yang sama sekali tidak berubah dari dirinya, yaitu sepasang mata tajam yang menyimpan kekejaman di balik tatapan tenangnya.Pria itu sedang berada di ruang kerjanya, ketika seorang pria berpakaian formal berdiri beberapa langkah di hadapannya."Bagaimana?" tanyanya singkat.Bawahannya segera menundukkan kepala."Sesuai perintah Tuan, kami terus mengawasi Tuan Abiyya.""Dan?""Beliau Nona Rania. Malam ini mereka terlihat memasuki sebuah hotel bintang lima di pusat kota, dan memesan satu kamar suite mewah."Keheningan sejenak memenuhi ruangan.Pria tua itu kemudian mengulurkan tangannya ke atas meja. Di sana terdapat beberapa lembar foto yang baru saja diserahkan kepadanya.Salah satunya memperlihatkan s
"Pak Abiyya... Aku tak sanggup lagi..." Kalimat itu adalah izin terakhir yang tidak perlu diminta. Tubuh Rania menegang di bawah pria itu, mencengkeram begitu erat sampai Abiyya mendesis kasar. Dan Abiyya pun melepaskan kendalinya. Beberapa gerakan terakhir pria itu membawa mereka pada puncak yang tak lagi bisa ditunda. Gelombang itu serasa menghancurkan diri Rania. Dengan punggung yang melengkung serta jemari yang tanpa sadar mencakar kulit punggung Abiyya, suara jeritan yang pecah dari mulut Rania pun langsung ditelan oleh ciuman pria itu. Abiyya bisa merasakan setiap denyut di dalam diri Rania, dan sensasi itu pun ikut menyeretnya menuju ledakan rasa. Ia membenamkan tubuhnya sedalam mungkin, dan mengubur wajah di lekuk bahu Rania. Pinggulnya bergetar hebat, sementara erangan rendah dan panjang lolos dari bibirnya ketika akhirnya mencapai pelepasan di dalam dekapan hangat gadis itu. Panas. Berdenyut. Dan lama. Hening. Hanya napas yang mencoba kembali beratu







