LOGINI'm on my knees because they told me to kneel. Not because I have to—because I want to. Because when Haruto's hand grips my hair and Marcus whispers "good girl" in my ear and Julian watches with those grey eyes that miss nothing, I feel more loved than I ever have alone. Haruto pulls my head back, makes me look up at all three of them. "Whose are you?" he asks. "Mine," Marcus answers first, running a thumb across my bottom lip. "Ours," Julian corrects quietly, and the word settles in my chest like a heartbeat. They take turns using my mouth,and my body. Haruto is desperate and possessive, fucking my throat like he's still making up for six years of silence. Marcus holds my hand through it, sweet even when he's rough. Julian watches until he can't anymore, then joins, then takes over. When they lay me on the bed and surround me—Haruto inside me, Marcus at my mouth, Julian whispering filthy praise in my ear—I understand. This isn't about control. It's about being so completely theirs that nothing else matters. Not even the woman who wants me dead. But that's later. Right now, I have three men who love me, and I'm exactly where I belong. On my knees. On my back. In their arms. Always.
View More"Bukankah sudah kukatakan tadi kalau Melli ini adalah istriku," ucap Mas Arka dengan suara lantang.
Deg! Mendengar Mas Arka mengatakan itu membuat hatiku terasa sesak. Ku telan ludah yang terasa pahit ini dengan susah payah, sama pahitnya dengan hidupku.Selama menjadi istrinya, sudah menjadi hal biasa dibentak olehnya. Tapi apa-apaan dia, tiba-tiba pulang membawa wanita yang diakuinya sebagai istri, lalu aku?"Mas, jelaskan padaku! Apa maksud semua ini?" tanyaku menatapnya tajam."Apalagi yang harus aku jelaskan? Bukankah sudah ku katakan tadi. Lebih baik kamu langsung kenalan sendiri sama Melli, biar kalian cepat akrab," ujar Mas Arka tanpa dosa.Apa katanya tadi? Aku akrab sama pelakor? Huh, tidak akan."Hai … Mbak, kenalin aku Melli, madumu," ujar pelakor itu tersenyum mengejek sambil mengulurkan tangannya dan menekan nada bicaranya saat mengucap kata madumu.Tak ku tanggapi uluran tangannya, tak sudi aku menyentuh tangan kotor itu. Tangan wanita perebut suami orang.Melihatku yang tidak menanggapinya, mulut Meli seketika langsung merengut."Tuh, Mas, lihat Mbak Rada tidak mau kenalan sama aku," ucapnya manja dengan tangan yang bergelayut pada lengan Mas Arka."Sudahlah Sayang, biarkan saja dia. Yuk kita masuk ke dalam, aku capek!" kata Mas Arka, lalu mengajak Melli untuk masuk ke dalam kamar utama dan kemudian menutupnya.Tunggu dulu, kenapa Mas Arka membawa masuk wanita itu ke dalam kamar kami? Itu kamarku dan hanya aku yang boleh menempatinya, tidak akan kubiarkan.Tok! Tok! Tok!"Mas … Mas Arka! Buka pintunya!" panggilku sambil terus mengetuk pintu, tanganku sampai sakit karena tak kunjung dibuka."Ada apa lagi, sih?" tanyanya setelah pintu terbuka, terlihat Mas Arka hanya mengenakan kaos dalam, ku lirik ke dalam kamar tampak pelakor itu tengah berbaring di atas kasur."Kenapa Mas membawa masuk pelakor itu ke dalam kamar kita!" kataku tak terima."Jaga mulut kamu, Rada! Melli itu sudah menjadi istriku, hargai dia! Mulai sekarang Meli akan menempati kamar utama!" ujar Mas Arka dengan nada membentak."Lalu aku?" lirih aku bertanya."Kamu tempati kamar belakang atau kamu bisa tidur dengan Musda," ucapnya santai. Musda adalah anak kami yang masih berusia empat tahun."Kenapa, Mas?" tanyaku masih tak percaya."Karena kamu itu HANYA IBU RUMAH TANGGA!" ucap Mas Arka menekan kata hanya ibu rumah tangga lalu kembali menutup pintunya dengan keras di depan mataku.Brakk!Aku menangis tergugu duduk lemas di atas lantai, teganya mas Arka menduakanku bahkan membawa wanita itu tinggal di rumah ini dan menempati kamar utama. Seolah-olah menegaskan kalau posisiku di rumah ini memang sudah tergantikan. Kudengar suara tertawa cekikikan pelakor itu di dalam kamarku. Entah apa yang mereka berdua lakukan. Sedangkan selama ini Mas Arka selalu kasar padaku, bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya tertawa saat bersamanya."Bun … bunda kenapa?" tanya Musda sambil berjalan menghampiriku dengan masih mengucek matanya, gadis kecilku itu sudah bangun rupanya."Bunda nangis?" lanjutnya menatap mataku yang masih terlihat sembab."Bunda nggak nangis kok, tadi cuma kelilipan debu. Sayangnya Bunda udah bangun ya, pintar sekali sudah bisa bangun sendiri?" ujarku mengalihkan pembicaraan. Musda ini sangat kritis anaknya, jika bertanya dan mendapatkan jawaban yang belum memuaskan, dia akan terus-terusan bertanya.Ku usap kepalanya, Musda anak yang pintar dan penuh cinta. Itulah alasanku masih bertahan hingga sekarang, karena dia kekuatanku.Aku mengangkat tubuh mungil gadis kecil ini. Ingin aku pergi jauh bersamanya, tapi apakah aku bisa memberikan semua seperti yang mas Arka berikan selama ini. Mirisnya hidupku, satu sisi aku ingin berlari, tapi disisi lainnya langkahku tertahan disini, hanya untuk anakku Musda.Masih terngiang di benakku saat mas Arka mengatakan, kalau aku hanya ibu rumah tangga. Jangan mengatur apapun yang dilakukannya, karena tugasku hanya membersihkan rumah, mengurus anaknya dan menerima serta patuh pada setiap perintahnya. Nyeri sekali hati ini saat mengingat itu. Bukankah ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Bahkan madrasah pertama bagi seorang anak adalah ibunya.Dulu Mas Arka sangat menyayangiku. Bahkan dia memintaku untuk berhenti bekerja saat aku hamil Musda, katanya aku cukup di rumah saja menjadi nyonya. Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung saat itu. Mas Arka mulai berubah saat kelahiran Musda, dia bilang aku berubah setelah melahirkan. Aku menjadi lusuh, cerewet dan jelek.Kesalahan terbesarku adalah mengabaikan setiap kata yang diucapkan oleh mas Arka. Mas Arka ingin pergi nonton, ingin berkencan dan berlibur hanya berdua tanpa Musda. Bukannya aku tidak ingin, tapi aku tak tega untuk meninggalkan Musda yang saat itu masih menyusu padaku. Sungguh saat itu aku merasa bahwa mas Arka hanya cemburu pada Musda. Karena semua hal yang aku lakukan hanya terfokus pada Musda kecil. Kupikir semua akan berubah seiring dengan berjalannya waktu.Tapi ternyata aku salah, mas Arka tetap membenciku sampai sekarang, walaupun Musda sudah berumur empat tahun. Mas Arka terus mengabaikanku dan tidak pernah menyentuhku lagi. Pria normal manapun tidak akan sanggup bertahan begitu lama. Dan semua itu terjawab sudah hari ini.¤¤¤¤¤¤¤Setelah memandikan Musda, aku mengajaknya untuk sarapan. Celotehannya membuatku melupakan sejenak kesedihanku pagi ini. Sedang asyiknya sarapan dan bercengkrama, tiba-tiba Mas Arka keluar dari kamar bersama si ulat bulu itu itu."Hai … anak manis, lagi sarapan, ya?" sapa pelakor itu pada putriku.Diusapnya punggung Musda, awas saja kalau sampai anakku jadi gatal karena usapannya. Mereka berdua duduk berdampingan sambil berpegangan tangan di seberang meja tepat di depanku dan Musda. Membuatku seketika kehilangan nafsu makan."Tante pirang ini siapa ya? Kok pegang-pegang tangan ayah Musda?" tanya Musda dengan polosnya."Tante ini namanya Melli, bunda baru kamu, Nak," jawab Mas Arka, kulihat si ulat bulu itu tersenyum ke arah Musda."Bundaku kan ini, Yah … Ayah lupa ya kalau Bundaku namanya Rada. Iya kan, Bun?" kata Musda sambil menatapku bingung, meminta penjelasan.Aku hanya diam mendengar pertanyaan Musda. Ku telan ludah yang terasa pahit ini, bingung harus menjelaskan bagaimana padanya."Udah lanjutin aja sarapannya, nanti abis itu jalan-jalan sama Bunda Melli, kamu mau kan?" ujar ulat bulu itu mengalihkan perhatian anakku, rupanya dia berusaha mendapatkan hati Musda. Tidak akan kubiarkan dia mendapatkan semua yang aku punya. Cukup Mas Arka saja yang tergoda, Musda jangan sampai."Ayo sayang kita ke taman, tadi katanya pengen main ayunan," ajakku pada Musda.Belum sempat aku berdiri, Mas Arka sudah menendang kakiku dari bawah meja makan, membuatku seketika langsung meringis menahan sakit."Melli mau lebih dekat dengan anakku, jangan kau halang-halangi. Kalau kau mau ke taman, pergilah sendiri! Anakku jangan kau ajak, dia akan malu nanti jalan bersama wanita lusuh dan jelek sepertimu," ujar Mas Arka sambil menatapku jijik.Aku menatap Mas Arka nanar, segitu hinakah aku di matanya sampai dia begitu terlihat jijik padaku. Sedangkan si pelakor itu tertawa mengejekku dengan penuh kemenangan.¤¤¤¤¤¤¤The Morning AfterPAIGEI wake up slowly.Sunlight cuts through the curtains. Warm. Golden. Too bright.I blink. Stretch. Feel arms around me. Three pairs of arms.Haruto is on my left. His hand is on my stomach. His breathing is deep. Peaceful.Marcus is on my right. His face is buried in my hair. His arm is wrapped around my waist.Julian is at my feet. His head is on my thigh. His grey eyes are already open.Watching me."You're awake," he says. Quiet. So he doesn't wake the others."I'm awake.""How do you feel?"I think about it. My body is sore. In a good way. My heart is full. In a way I don't have words for."Happy," I say. "Really happy."He almost smiles. "Good."Haruto stirs beside me. His hand tightens on my stomach. His eyes flutter open."Paige.""Morning.""You stayed.""I stayed."He pulls me closer. Kisses my shoulder. "I didn't think you would.""Why not?""Because I'm not used to people staying."I turn in his arms. Face him. "Get used to it."Marcus mumbles someth
ThreePAIGE"She loves us. All of us. I believe her now."I read Julian's message for the fifth time. Then a sixth. Then a seventh.He sent it to Marcus and Haruto. But Marcus forwarded it to me. Said I should know. Said Julian doesn't say things like that often.I stare at the words. My chest feels full. Too full.He believes me.After everything. After all the doubt and jealousy and late-night conversations. He finally believes me.My phone buzzes.Marcus: Tonight. My place. All of us. No more waiting.I read it three times.Me: All of us?Marcus: All of us. You. Me. Haruto. Julian. Together. For the first time.My heart stops. Starts again. Faster.Me: Are you sure?Marcus: I've never been more sure of anything.Me: And the others?Marcus: Haruto agreed. Julian agreed. Now we need you.I stare at the screen. My hands are shaking.Me: Okay.Marcus: Okay?Me: Okay. Tonight. Your place. What time?Marcus: 8 PM. Come hungry. Come ready. Come however you are.I set the phone down. Stare
JULIANShe loves me. All the way. Always has.I read Marcus's message for the third time. Then a fourth. Then a fifth.He sent it an hour ago. A screenshot of something Paige said to him. Something private. Something I wasn't meant to see.But Marcus wants me to know. Wants all of us to know. That she loves us. All the way. Always has.I set my phone down. Stare out the window.The city is awake now. Morning light spills between buildings. Traffic hums. People rush to work. Normal people living normal lives.I haven't slept.Not because I was waiting for her. Not because I was jealous. Just... because.Because sleep doesn't come easy when your mind won't quiet.She loves me.She said it. In my apartment. After dinner. After everything.But does she? Really? Or does she love the idea of me? The mystery. The quiet. The challenge.I don't know.That's the problem. I don't know.---My phone buzzes.Dante: You awake?Me: Always.Dante: Thinking about her?Me: Always.Dante: You need to sl
MARCUSThank you for choosing me. Even when you didn't have to.The words hang in the dark long after she falls asleep.I say them again. Quiet. Just to myself. Just to hear what they sound like out loud."Thank you for choosing me."She doesn't stir. Her breathing is slow. Even. Peaceful. Her hand is curled against my chest, right over my heart. Like she's holding it while she sleeps.I don't move. Don't want to wake her. Don't want to break this moment.The city glows through the windows. The stars have shifted. The night is half gone. And I'm lying here with Paige Chen in my arms, wondering how I got so lucky.My phone buzzes on the nightstand.I reach for it carefully. One-handed. Trying not to disturb her.Haruto: She's with you tonight.Not a question. A statement.Me: Yes.Haruto: Is she okay?I look down at her. Her lips are slightly parted. Her dark hair is spread across my arm. She looks younger when she sleeps. Softer. Like the weight of everything disappears.Me: She's sle
PAIGEI type the message. Delete it. Type it again. Delete it again.My thumb hovers over the keyboard. Three names. Three men. Three futures hanging on a few words.Sadie watches me from across the booth at Mrs. Chen's. She doesn't say anything. Just waits.I take a breath. Type one more time.Me:
MARCUSMonday morning starts like any other.I'm in my office at Aethelred Tower, staring at spreadsheets I don't care about, thinking about her. Always her. Paige in my arms. Paige on my rooftop. Paige whispering my name in the dark.My phone shows a photo from yesterday. Sent by someone on my sec
PAIGEHaruto points a gun at Marcus.Marcus points a gun at Julian.Julian points a gun at Haruto.Three men. Three weapons. Three faces twisted with hate.I stand in the middle, frozen. Can't move. Can't speak. Can't breathe."She's mine." Haruto's voice is cold. Hard. Nothing like the man who kis
PAIGESaturday morning sunlight cuts through my curtains like a blade.I squeeze my eyes shut. Pull the pillow over my head. Breathe.Three more hours of sleep. That's all I need. Just three more—The pillow disappears."Rise and shine, sleeping beauty."Sadie. Of course.I crack one eye open. She'






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.