LOGINI woke up in his bed after one confusing night, and suddenly I was married to Dylan Carter, the man I'd loved in silence for twelve years. The man who was supposed to marry my sister. Everyone thinks I'm a scheming gold-digger who trapped Riverside's most eligible bachelor. Even Dylan believes I drugged him and orchestrated everything. He looks at me with pure hatred, spending every night with my sister while I wait alone in our empty house. Then I discovered I'm pregnant. But before I could tell him, I overheard the truth: my "perfect" sister Sophie was the one who planned that night. She drugged Dylan, called the reporters, set the whole trap, she just walked into the wrong room. And my adoptive family? They only took me in because Sophie needed my bone marrow. Everything I believed was a lie. Now Sophie's faking suicide attempts to manipulate Dylan into divorcing me, and my so-called family has disowned me in front of everyone. I'm alone, pregnant, and everyone in Riverside thinks I'm the villain in this story. But I've decided something: I'm not giving up. Not my husband, not my baby, and definitely not my future. Sophie wants the life she thinks I stole? She'll have to go through me first.
View MoreLoviana, wanita cantik nan anggun bermata almon, yang memiliki gelar sebagai gadis terpopuler di kampusnya telah lama menjalin cinta dengan seorang lelaki tampan dan kaya raya bernama Jerry Nikcolas. Mereka dinobatkan sebagai pasangan paling serasi dan romantis di universitas tersebut. Sebab perlakuan Jerry yang selalu meratukan Loviana, dari hal-hal kecil hingga besar membuat banyak wanita ikut terpesona.
Apa pun yang diminta Loviana pasti dikabulkan oleh Jerry. Seperti saat ada jadwal pemotretan. Loviana yang merupakan seorang model, selalu meminta Jerry menemaninya hingga selesai. Tentu tak sulit bagi Jerry untuk mengabulkan permintaan itu. Sore ini, sebelum matahari terbenam, Loviana harus sudah berada di lokasi pemotretan. Tepatnya di bibir pantai Mutiara, yang lokasinya cukup jauh dari kota. Namun, sampai pukul 17.00 Jerry tak juga menjemputnya. Padahal perjalanan harus ditempuh sekitar satu jam lebih. Sudah belasan kali Loviana menekan tombol panggilan ke nomor kekasihnya itu. Akan tetapi tak ada satu kali pun panggilannya diterima. Mata almon yang indah itu telah berubah seram, merah dan berair. Alis tebalnya bertautan, keningnya bergulung. Mulut kecilnya tak henti mengomel, sesekali mengumpat. “Jerry! Ya Tuhan! Kamu di mana sih, Je? Baru kali ini aku melewatkan pemotretan.” Loviana tampak panik. Mondar-mandir di depan gerbang rumahnya Selain sibuk menghubungi Jerry, jari Loviana juga sibuk membalas chat dari kliennya yang hampir memutuskan kontrak dengannya. Untung saja Loviana mendapatkan kesempatan kedua, meski dengan kesepakatan pemotongan royalti. Drrrttt drtttt Ponsel Loviana bergetar di genggaman tangannya. Tanpa melihat layar, Loviana langsung saja mengangkat. “Jerry! Apa maksudmu! Aku sudah terlambat pemotretan! Cepat temui aku di rumah sekarang juga!” “Tunggu ....” “Ini aku Resa, Loviana.” Suara di seberang telepon ternyata suara seorang wanita. Loviana menjauhkan ponsel dari telinganya. Barulah ia baca nama yang tertera di layar. Rupanya benar, bukan Jerry, melainkan teman kampusnya. “Sorry Resa, ada perlu apa? Aku sedang sibuk,” tegasnya. “Tunggu jangan tutup dulu, Lovi! Ada suatu hal yang penting,” lanjut Resa terdengar ragu. “Sepenting apa?” Loviana mulai penasaran. Alisnya kembali naik. “Ini soal Jerry.” “Kamu tahu di mana dia sekarang? Bagus. Ayo katakan!” “Bukan. Aku tidak tahu dia ada di mana, tapi aku tahu sesuatu.” “Jangan bilang kamu juga melihat Jerry dengan wanita lain, seperti berita gosip murahan di luar sana!” “T-tapi ini benar, Lovi. Aku melihatnya sendiri di depan mataku, aku berani bersumpah. Dan aku mengatakan ini demi kebaikan kamu,” kata Resa meyakinkan. “Hahaha. Resa, sudahi halusinasimu. Aku tekankan sekali lagi. Aku tahu, banyak wanita yang tergila-gila dengan Jerry. Banyak yang mengincar harta Jerry. Jadi, banyak juga berita gosip murahan begini yang aku dengar. Tetapi nyatanya itu tidak terbukti. Jerry tetap setia padaku, dan tetap mencintai aku secara ugal-ugalan. Jadi tolong stop gosip murahan itu! Karena Jerry tidak bisa hidup tanpa aku. Dia sangat takut kehilangan aku. Hanya aku wanita yang dicintainya, mengerti?” “Serius, Lovi. Kamu dibohongi olehnya!” “Kalau sudah tidak ada lagi obrolan yang lebih penting, aku tutup teleponnya,” tegas Loviana geram. “Kali ini kamu harus percaya, aku—“ Loviana memutus panggilan tanpa mendengar penjelasan selanjutnya. Namun, Loviana tak bisa diam di rumah. Ia harus segera menemui Jerry. Sasaran pertama Loviana adalah rumah Jerry, karena teman-teman tongkrongannya mengatakan lelaki itu tak bersama mereka. Segera ia memesan taksi online. Tak lama kemudian mobil pesanannya datang. “Kompleks Diamond, rumah nomor seratus dua belas, Pak.” “Baik, Neng.” “Cepat ya, Pak!” ucap Loviana, jarinya masih sibuk menghubungi sang kekasih. “Aku yakin Jerry tertidur di rumah. Akan aku buktikan gosip murahan itu tidak benar. Jerry tidak mungkin mengkhianati aku. Dia saja tidak berani membuatku marah, kecuali hari ini. Hari ini aku benar-benar marah karena aku hampir kehilangan job besar,” gerutunya dalam hati. Meski begitu Loviana masih berpikir positif tentang Jerry. Mobil yang ia tumpangi sudah memasuki kompleks elit perumahan sang kekasih, tetapi mendadak Loviana menghentikannya. “Stop di depan, Pak!” “Loh, tidak jadi berhenti di rumah nomor seratus dua belas, Neng?” “Sampai sini saja. Terima kasih.” Loviana segera masuk ke dalam rumah Jerry yang dijaga ketat oleh body guard. Namun, mereka sudah mengenali Loviana yang merupakan pacar tuan mudanya. Mobil mewah berwarna merah elegan milik Jerry benar ada di rumah. Loviana sedikit lega. “Benar kan dugaanku. Dia pasti ketiduran. Huuh. Awas saja setelah ini akan aku beri hukuman untuk anak manja itu!” Sialnya, ada hal tak terduga yang mengejutkan Loviana, saat dirinya berada di ambang pintu kamar Jerry yang tidak terkunci. Ia melihat kekasihnya sedang bercumbu brutal di atas ranjang kamar Jerry dengan perempuan lain tanpa sehelai benang pun. Loviana menutup mulutnya yang hampir berteriak. Jantungnya berdegup sangat kencang. Kakinya perlahan mundur dari kehadiran yang tidak diketahui oleh Jerry. Loviana menutup kembali pintu kamar Jerry sembari memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Sebagai wanita terhormat, Loviana tak mau melabrak dengan cara murahan. Meski air matanya sudah menggunduk memenuhi kelopak mata, serta tenggorokannya tercekat begitu sakit, ia mencoba tetap tenang dan mengatur emosinya agar tak meledak. Namun, saat hendak berbalik, tanpa sengaja Loviana menabrak seseorang bertubuh besar, kekar, dan wajahnya tak kalah tampan dari Jerry. Pria matang dengan mata merah akibat pengaruh alkohol itu menatapnya penuh goda. Aroma maskulin yang menguar dari pria berkulit agak cokelat dan berkumis tipis itu perlahan melemahkan jantung Loviana, yang semula berapi-api karena sakit hati. Tatapan pria yang merupakan ayah dari Jerry itu cukup lama dan dalam. Bibirnya yang sedikit gelap mendekat ke telinga Loviana. Sebuah bisikkan manis menghentikan air matanya. “Lupakan apa yang baru saja kamu lihat. Ikutlah denganku, aku akan membuatmu lebih bahagia,” ucap Nicko bersamaan dengan sentuhan tangan kekarnya yang merambah ke pinggang Loviana, lalu semakin turun dan berhenti di atas gundukan empuk itu. “Kamu sangat cantik. Aku akan mengajakmu bersenang-senang. Kamu mau?” Loviana mengangguk pelan. Bak terhipnotis oleh kalimat Nicko. Nicko mengangkat tubuh Loviana dengan sangat enteng, kemudian menjatuhkannya di ranjang kamarnya. Setelah memastikan pintu terkunci. Nicko segera melucuti pakaian gadis kecil di hadapannya. Kulit mulus Loviana terpancar cerah. Membuat hasrat Nicko semakin memuncak tak tertahankan. Tubuh Loviana benar-benar polos sekarang. Namun, ia tak memberontak apa pun. Ia pasrah dengan sentuhan-sentuhan lembut bibir Nicko yang terus menjelajahi tubuhnya. “Apakah ini baru pertama kali?” Nicko berbisik lagi sembari bermain nakal dengan tongkatnya di bawah sana. Loviana hanya mengangguk. “Tenang saja, aku tak akan membuatmu sakit. Kamu akan merasa ketagihan.” Loviana mengangguk lagi sambil menatap wajah pria matang yang berada di atasnya. “Pelan-pelan saja, Tuan. Aku tak sanggup," desahnya. Nicko terkekeh. Ia tetap melanjutkan aksinya lebih dalam. Sementara itu Loviana terus bergelinjang hebat. Sesekali ia berteriak dan menarik rambut Nicko. “Apa kau siap aku tusuk, Gadis Cantik?” “Silakan, Tuan. Aku sudah terlanjur basah.” Ia setuju. Nicko tersenyum nakal. Ia pun segera melakukannya. “Aaa. Emmh. Tuan ....” Loviana mencengkeram lengan keras Nicko yang tampak berotot. “Sakit, Cantik?”The Ones Above the GameDylan POVThe doors opened slowly.Too slowly.Like whoever was behind them wanted us to feel the anticipation.Nobody moved.Nobody spoke.The facility that had held decades of secrets was suddenly silent.Then footsteps echoed.One person.Not a group.Not an army.Just one person walking toward us.That was somehow worse.Because people with real power never needed to arrive loudly.They expected the world to make space for them.My mother stood frozen.I had never seen her look afraid like that.Not when Victor threatened her.Not when her secrets were exposed.Not even when everything collapsed.But now?She looked like she was facing a ghost.“Who is it?”Emma asked.My mother didn’t answer.“Evelyn.”Her lips moved.But no words came out.Then the person appeared.An older man.Perfectly dressed.Calm.Almost ordinary.That was the terrifying part.He did not look like someone who controlled lives.He looked like someone who attended charity events.Some
The Choice She MadeDylan POVThe voice came through the speakers.A voice I knew.A voice that had comforted me as a child.A voice that had lied to me for years.My mother.“By me.”Nobody moved.The silence was unbearable.Then Emma stepped toward the speaker.“Evelyn.”My mother’s voice shook.“Emma.”The pain in that single word was obvious.Not the voice of an enemy.The voice of someone who had carried a secret for too long.“Why?”Emma’s question was simple.But it carried years of pain.“Why would you lock us in here?”A pause.Then my mother answered.“Because if I didn’t, Victor would.”I looked at the security system.“You expect us to believe that?”My mother sighed.“No.”That surprised me.“No?”“No.”Her voice became softer.“Because I know what I have done.”The room went quiet.She continued.“I know I have taken choices away from people.”Emma looked away.“I know I became part of the same thing I hated.”Those words affected everyone.Especially Emma.Because my mo
The Legacy He Left BehindDylan POVI stared at the screen.My father’s name.The words beneath it.SUBJECT ZERO SUCCESSOR: EMMA LAURENTNothing made sense anymore.My father.The man I spent years believing was a victim.The man I thought was running from the truth.He had been building toward something.Something bigger than any of us understood.“Emma.”My voice sounded different.She looked at me.“What?”I looked back at the screen.“I think my father knew this day would come.”Her expression tightened.“You mean he planned all of this?”“I don’t know.”And that was the truth.For once, I didn’t want to pretend I had answers.Because every time I did, I was wrong.Nathan continued searching through the files.“There’s more.”Everyone looked at him.“What?”He opened another document.“This was created twenty-five years ago.”Sophie stepped closer.“Before Emma was born.”“Yes.”Alexander frowned.“Then how can it be about her?”Nathan looked at the document.“Because it was never
The Mother I Never KnewEmma POVThe name remained on the screen.Biological Mother: Evelyn Carter.I stared at it.Waiting for someone to tell me it was another mistake.Another manipulation.Another carefully designed lie.But nobody spoke.Because everyone knew.Everyone except me.Again.I looked at my mother.The woman who raised me.The woman who held my hand when I was sick.The woman who cried when I called her for the first time after leaving home.“Is it true?”My voice barely came out.Evelyn looked at me.Her eyes were already filled with tears.That was my answer.“You knew.”She closed her eyes.“Emma…”“No.”I stepped back.“Not another explanation.”My voice shook.“I don’t want another reason.”She swallowed.“I wanted to tell you.”“When?”She looked down.I laughed bitterly.“When I was ready?”Silence.“Everyone always says that.”I pointed around the room.“Everyone decides when I can handle the truth.”Dylan moved closer.“Emma.”I looked at him.“No.”I wasn’t a
Emma POVI'd never seen Dylan look at me like that before. Well, that wasn't exactly true. He'd looked at me with hatred plenty of times, with disgust and contempt and barely concealed loathing. But this was different. This was rage mixed with something else, something darker that made my blood run
Emma POVA strong hand caught my arms, steadying me before I could fall."Careful there."I looked up, and my heart stopped.It was Dylan's younger brother, Marcus Carter. I'd only met him once, briefly, at the wedding. He'd been away on business ever since, somewhere overseas. I didn't even know h
Emma POV"Nothing," I said quickly. Too quickly. "Nothing's wrong with me."Dylan's eyes narrowed. He was studying me now, really looking at me in a way he hadn't since that first morning we woke up together. I could see his mind working, putting pieces together."You've been doing that all day, ha
Emma POV I woke up several hours later to the sound of raised voices downstairs. Dylan's voice was angry and sharp. And another voice, male, equally angry.I got out of bed and crept to the top of the stairs, staying in the shadows where I couldn't be seen.Dylan was in the foyer, and standing wit






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.