Home / Romansa / My Sweet Husband / Bab 3 Mendadak Menikah

Share

Bab 3 Mendadak Menikah

Author: Clavita SA
last update Last Updated: 2023-02-03 00:32:24

"Apa-apaan anak itu, kenapa tidak izin pada kita," umpat Dania kesal.

Namun, Dania -- Ibu kandung Amilie pun tak bisa berbuat apapun lagi selain hanya diam sembari menyaksikan Amilie menikah dengan Theo.

Ini sungguh diluar dugaan mereka.

Akad nikah pun berlangsung sekitar sepuluh menit. Lalu, keduanya pun saling bertukar cincin dan setelah itu Amilie mencium punggung tangan Theo.

"Apa aku sungguh menikah dengannya? Kenapa aku malah menerima ajakan menikah itu. Tapi, aku harap dia tidak seperti lelaki brengsek lainnya," batin Amilie.

Pilihannya hari ini membuat hatinya ragu tentang apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Tetapi, Amilie berharap bahwa kebahagiaan datang kepadanya setelah pernikahan.

Walaupun, trauma cinta itu masih membekas dengan luka yang begitu parah. Namun, karena dirinya telah menerima Theo menjadi bagian dari hidupnya. Ia pun berusaha untuk memulai awal yang baru, agar bisa melanjutkan hidupnya dengan nyaman.

Setelah akad nikah itu sudah terlaksana, Stephen menghampiri Theo dengan wajah dingin.

"Kak Theo, kita perlu bicara!"

Theo menoleh ke arah Stephen dan bertanya. "Ada apa lagi?"

"Ikut denganku!" ajak Stephen, membalikkan badannya dan pergi. Theo mengikuti langkah kaki Stephen dan meninggalkan Amilie di sana.

Mereka berjalan keluar dari ballroom tersebut dan memilih tempat yang sepi untuk berbicara empat mata.

Saat itu, Amilie panik. Ia takut keduanya bertengkar, tetapi ia juga tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka.

Theo terus berjalan mengikuti Stephen. Hingga, Stephen pun menghentikan langkah kakinya diluar ballroom.

"Apa yang mau kamu bicarakan? Katakanlah. Aku tidak punya banyak waktu!"

Stephen memegang kerah baju Theo dan mengancamnya. "Kenapa Kakak menikahi Amilie? Lepaskan dia, kalian tidak cocok!"

Theo melihat ke kerah bajunya dan melepaskan tangan Stephen dari kerahnya dengan kuat.

"Ternyata kau tidak pernah mau berubah. Tetap egois dan berbuat sesukamu."

"Apa maksud Kakak mengatakan hal itu?!"

Theo menyunggingkan bibir kesal. "Kalau kamu tidak mau Amilie aku nikahi, seharusnya kamu tidak membuatnya sakit hati dengan menikahi Amanda. Apa kamu tidak sadar bahwa sikap dan keputusanmu ini telah menyakiti hatinya?"

"Bukankah Kakak sendiri tahu bahwa aku dan Amanda dijodohkan. Ini keinginan orang tua kita bukan keinginan aku. Kenapa Kakak sama sekali tidak mengerti?" bantah Stephen.

"Kalau kamu bersungguh-sungguh dengan Amilie, seharusnya kamu menolak perjodohan itu!"

Stephen terdiam, ia tak bisa membalas perkataan Theo lagi. Sampai pada akhirnya Theo memutar badannya dan pergi begitu saja dari hadapan Stephen.

"Kak Theo, jangan menghindar! Kamu tidak bisa menikahinya tanpa ada izin dariku!" teriak Stephen.

Theo menghentikan langkah kakinya sejenak dengan kedua tangan mengepal, tetapi kemudian Theo memilih pergi dan mengabaikan adiknya.

"Sudah terlambat, kini dia istriku!"

Keegoisan Stephen ini membuat Theo muak dan seakan ingin membalas perlakuan Stephen terhadap Amilie. Tetapi, Theo berpikir ulang dan memilih untuk menghindari Stephen saja selama lelaki itu tidak mencelakai Amilie.

"Kak Theo, kamu pasti akan menyesal karena telah menikahinya!"

Theo terus berjalan tanpa mendengarkan apa yang Stephen katakan kepadanya. Sedangkan Stephen, ia terus mengikuti Theo berjalan ke ballroom tersebut.

Dari jauh, Amilie melihat Stephen dan Theo telah kembali ke ballroom dalam keadaan baik-baik saja tanpa melihat luka lebam pada tubuh mereka.

"Sepertinya bukan masalah serius, syukurlah," gumam Amilie.

Theo menarik tangan Amilie tiba-tiba dan membawanya pergi. "Ayo kita pergi sekarang, jangan berada di sini!" ajaknya tanpa mempedulikan yang lainnya lagi.

"Tunggu dulu, aku tidak bisa pergi begitu saja!" sergah Amilie sembari melihat kedua orang tuanya yang memalingkan wajah ke arah lain karena kecewa dengan anaknya yang telah membuat mereka malu.

"Jangan sekarang, besok saja." Theo hanya tidak mau kalau Amilie ikut terjebak dengan masalah yang baru.

"Kamu tidak bisa membawanya pergi, Kak! Dia tidak mau pergi bersamamu!"

Dari sisi kanan, Stephen datang kepada mereka dan berusaha menghentikan Theo yang hendak membawa Amilie pergi.

Theo yang melihat Amilie yang tampaknya masih mengharapkan Stephen, itu membuat dirinya melepaskan pergelangan tangan Amilie dan meninggalkannya di sana.

Amilie merasa bahwa tidak memiliki siapapun yang bisa ia jadikan tempat bersandar. Lalu, Amilie pun kemudian berlari mengejar Theo.

"Tunggu aku! Aku mau ikut denganmu!" seru Amilie, yang kemudian meraih tangan Theo dan berjalan pergi keluar dari ballroom tersebut.

Theo melirik ke arah Amilie sembari tersenyum tipis karena ternyata Amilie lebih memilih dirinya daripada Stephen.

"Kenapa tidak memilihnya?" tanya Theo iseng.

"Sekarang kamu sudah menjadi suamiku, kenapa aku harus bersama dengannya?"

Perbincangan mereka terus berlanjut, hingga Amilie pun menanyakan sesuatu hal yang membuatnya bertanya-tanya.

"Kak Theo, omong-omong ... Cincin itu siapa yang menyiapkannya? Bukankah pernikahan kita tadi sangat mendadak? Dan kapan kamu menghubungi penghulu itu?"

Sontak, Theo pun menghentikan langkah kakinya. Pandangannya mengarah pada Amilie -- siap menjelaskan.

Theo memalingkan wajahnya ke arah lain dan kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju mobil yang terparkir di parkiran hotel itu.

"Tolong jawab pertanyaanku, jangan membuat aku bertanya-tanya begini," cecar Amilie.

"Ini cincin temanku. Aku hanya meminjamnya untuk sementara waktu," jawabnya dengan singkat.

"Kenapa sepasang?"

Selama belum puas dengan jawaban tersebut, Amilie tetap mempertanyakan apa yang membuatnya penasaran.

"Kebetulan temanku akan menikah juga. Em, itu hanya cincin titipkan saja."

Tak ada yang menduga bahwa pernikahan ini terjadi, tetapi Theo yang sudah mendengar desas-desus kabar pertunangan adiknya itu. Membuatnya tidak bisa membiarkan rasa malu dan kecewa menyelimuti hati Amilie. Ia membeli cincin dan mencoba menggantikan posisi Stephen untuk menikahi Amilie.

"Kenapa kamu membuat keadaan semakin rumit!" ujar Amilie kesal.

"Aku tidak mau melihat dirimu berputus asa sampai bunuh diri seperti tadi. Sekarang kamu sudah menjadi istriku, bertahanlah untuk beberapa bulan saja."

"Lalu, maksudmu setelah itu aku akan menjanda?"

"Niatku hanya menyelamatkanmu. Lagi pula, untuk apa menjalani pernikahan begitu lama kalau kamu tidak mencintaiku sama sekali."

"Kalau rencanamu begitu, lebih baik tidak usah menikahiku dan membiarkanku mati saja." Amilie memegang jari manisnya dan mencoba melepaskan cincin yang melingkar di jarinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Sweet Husband   Bab 173 Tamat

    Drap Drap Drap!Theo berjalan menuju mobil itu dengan Santoso. Santoso mendekat dan tampaknya ia ingin menanyakan sesuatu. Tetapi, entah angin apa yang membuatnya mengurungkan niat tersebut.Pada akhirnya, ia hanya bicara mengenai sesuatu yang mendasar saja."Nak, biar Papa saja yang mengemudi! Papa lihat, kondisi kamu sedang kurang baik!" ujar Santoso meminta kunci mobil yang ada di tangan menantunya tersebut.Dengan wajah tampak kusut, Theo menoleh lalu memberikan kunci mobil. "Terima kasih, Pa," ucapnya dengan singkat. "Apa yang terjadi? Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu dengan serius? Apa ada masalah yang begitu memberatkan pikirannya?" batin Santoso sembari menatap wajah Theo."Terima kasih buat apa?" tanya Santoso sembari memasuki mobil. Begitu juga dengan Theo yang masuk ke dalam mobil tersebut. Tetapi, kali ini mereka pindah posisi, karena yang mengemudikan mobil itu saat ini adalah Santoso."Terima kasih karena Papa sudah mengerti keadaan saya," sahutnya, singkat.San

  • My Sweet Husband   Bab 172 Membenarkan Pernyataan!

    "Papa habiskan dulu sarapannya!" ujar Dania kepada Santoso yang langsung bangkit. Padahal, saat itu ia hanya baru makan dua sendok saja.Santoso pun menoleh ke arah Dania. "Papa harus pergi ke suatu tempat dulu!" Ia pun kemudian berjalan keluar dari sana. "Ayo, Nak! Kita harus pergi sekarang!"Awalnya, Theo terdiam. Ia bingung dengan maksud Santoso. Sebelumnya ia bahkan tidak diberitahu kemana dirinya akan diajak pergi. Tetapi, kemudian ia ikut dengan ajakan tersebut."Mas, kamu mau pergi ke mana?" tanya Amilie yang juga penasaran dengan itu. Sedangkan Amanda, ia hanya terdiam.Setelah sekian lama dirinya sendiri, ia pun akhirnya sadar dan tak lagi mengganggu rumah tangga adiknya. Dirinya tidak mau jika di masa depan, ada seorang pengganggu dalam rumah tangga yang nanti akan dibangunnya tersebut."Aku harus pergi dulu. Kamu jaga diri baik-baik ya, sayang~"Theo mengecup dahi Amilie, lalu melangkah pergi dari ruangan itu.Tanpa tahu menahu apa yang akan dilakukan oleh Santoso dengan

  • My Sweet Husband   Bab 171 Tertangkapnya Pelaku Kejahatan

    "AWAAAASS!!!" Teriak Rosalina kepada sopir yang terlihat tidak berkendara dengan baik.Namun, Rosalina tidak tahu jika sopir itu ternyata mengantuk hingga kehilangan fokus saat mengemudikan mobil.BRAAKK! DUAAAARRR!Mobil taksi menghantam keras mobil lainnya yang sedang berkendara dengan kecepatan yang tinggi. Hingga membuat kedua mobil tersebut penyok dan parahnya. Para pengendara termasuk penumpang di sana mobil itu harus mengalami luka yang begitu hebat."Aaarghhh!" Rosalina meringis kesakitan. Ia memegang kepalanya dan dirinya langsung syok begitu melihat banyaknya darah dalam kepalanya tersebut.Rosalina melihat ke sana kemari sembari memegang sebuah tas yang berisi uang.Orang-orang, termasuk para polisi yang ada di sana pun langsung menghampiri ke arah mobil yang mengalami tabrakan hebat tersebut.Tidak mau keberadaannya diketahui oleh para polisi, ia pun bermaksud kabur sebelum para polisi itu sampai pada mobil tersebut."Aku harus melarikan diri dari sini!" gumamnya sembari

  • My Sweet Husband   Bab 170 Menentukan Pilihan

    Pagi ini, cuaca tampak cerah dengan kicauan burung yang semakin melengkapi pagi mereka. Dengan senyum bahagia, mereka mempersiapkan segalanya untuk kepulangan mereka hari ini. Namun ...Tok Tok Tok!Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke arah suara itu berasal. Ada rasa penasaran dalam benaknya."Siapa, Mas?" tanya Amilie ke arah Theo.Theo mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu, sayang. Mungkin itu Papa," jawab Theo, ngasal. Karena yang ada di pikiran Theo saat itu hanya Ayah mertuanya yang kemarin banyak bertanya kepada dirinya."Masuk saja!" sahut Theo sembari menoleh ke arah pintu. Klek! Pintu terbuka.Seorang pria datang ke ruangan itu dengan sopan. Lalu, ia berdiri di hadapan Amilie dan Theo. Theo yang melihat pria yang ia pikir membeli restoran itu ada di hadapannya membuat dirinya langsung tercengang kaget "Bukannya kamu yang waktu itu ...!" Theo mengingatnya, bahwa orang itu merupakan orang yang membeli restorannya kala itu."Benar. Kita pernah ber

  • My Sweet Husband   Bab 169 Antara Tenang dan Bimbang

    Di dalam sebuah ruangan rumah sakit tersebut, Amilie duduk sembari melihat ke arah jendela. Ia menunggu kedatangan suaminya yang sampai kini pun belum kembali."Mas, kamu dimana? Kamu baik-baik saja, 'kan?" ucap Amilie. Ia terus berbicara sendiri.Klek! Pintu pun terbuka.Theo datang ke rumah sakit itu dengan bayi yang ada di dalam pelukannya. Suara tangisan bayi itu semakin terdengar nyaring. Hal ini membuat Amilie langsung berlari menuju Theo. "Mas, berikan dia padaku, aku yakin dia merasa lapar ...!" pinta Amilie kepada suaminya yang masih memeluk erat bayi itu.Perlahan, Theo pun memberikan bayi itu kepada Amilie. Ia memeluknya dengan penuh cinta, lalu berjalan menuju ranjang sana. Dirinya duduk, lalu memberikan asi kepada bayinya."Mas, tidak terjadi sesuatu sama kamu, 'kan?" tanya Amilie sembari menyusui."Tidak ada, sayang. Aku baik-baik saja," jawabnya.Tetapi, wajahnya seolah menahan rasa sakit. Sayangnya, saat itu Amilie tidak menyadari keadaan suaminya. Yang ia paling ped

  • My Sweet Husband   Bab 168 Menjadi Buronan

    "Cepat lemparkan tas itu sekarang!" teriak seseorang yang datang terakhir itu. Lantas, Theo pun kemudian melemparkan tas itu ke wajahnya. Pada saat yang bersamaan, seorang pria datang ke tempat itu dan mendahului mengambil has tersebut.Theo pun dibuat heran dengan sosok tak dikenalnya itu. Lalu, secara beruntun yang lainnya datang ke tempat itu dan melawan ketiga penjahat tersebut.Rosalina dalam balutan topeng di wajahnya itu dibuat syok. "Hah! Siapa mereka?" gumamnya dengan melirik ke setiap orang yang datang dan seolah hendak membantu Theo.Tetapi, di sisi lain Theo merasa senang karena sepertinya mereka akan membantunya dari orang-orang jahat tersebut.Di sana mereka bersiap melawan para penjahat. Begitu pun, para penjahat yang seolah tidak takut dengan mereka.Namun, tak berselang lama setelah itu, kini para polisi datang ke tempat itu bersama para bodyguard Santoso. Hingga, tempat itu terkepung. "Serahkan bayi itu sekarang!"Alih-alih menyerah, Rosalina malah menggunakan bay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status