LOGIN"You can’t deny it. You feel the bond, don’t you? Every time I touch you, I see it in your eyes, the shiver that runs through you. He stole you from me, and I’m taking you back.” Alex’s voice rumbled low, fingers grazing my skin like he owned every inch of me. Caught between the man she vowed to stay loyal to and the one fate cruelly tied her to, Alexis’s life spirals into a dangerous game of love, power, and betrayal. When she uncovers that her husband's estranged twin brother is not only her mate but holds even deeper secrets, everything she thought she knew crumbles. With this forbidden affair threatening to rip apart the Campbell legacy and the son she fought to protect, Alexis must navigate forbidden passion, fractured loyalties, and a deadly sibling rivalry. Can she truly resist the magnetic pull of Alex, or will she risk everything—including her son—to embrace the love that was always meant to be hers?
View MoreCeysa berjalan menelusuri lorong hotel dengan senyum terkembang lebar. Bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang lorong yang dilewati, seakan menggambarkan hatinya yang sedang bahagia. Hari ini dia telah menjadi istri seorang Olsen Miller, pria yang akan membawanya keluar dari rumah yang sudah seperti neraka.
“Sekarang aku sudah bebas, hatiku seperti memiliki bersayap dan sayap itu sedang mengepak membawaku terbang meninggalkan kemalanganku,” gumamnya sambil terus berjalan dengan gaun pengantin elegan berwarna putih yang menyapu lantai marmer yang dilalui.
Olsen memang bukan pria yang dia cintai, mereka juga tidak melalui proses pacaran seperti pasangan kekasih pada umumnya yang kemudian memutuskan untuk menikah karena saling mencintai. Pria itu adalah tiket baginya agar dia bisa keluar dari rumah papanya.
Saat papanya mengenalkannya pada Olsen dan menjodohkannya karena kepentingan bisnis, Ceysa dengan senang hati setuju. Apa pun akan dia lakukan agar bisa menjauh dari papa yang dibenci selama ini, termasuk dengan menikahi pria asing yang sama sekali tidak dia kenal.
Setelah upacara pernikahan selesai, dia harus berganti baju untuk merayakan pesta di sebuah ballroom di hotel bintang lima, dengan pesta mewah yang menghabiskan banyak biaya. Pesta itu dihadiri para pebisnis penting di negaranya, tidak heran jika Olsen dan papanya mempersiapkan matang-matang acara tersebut.
Dia tahu jika pesta itu bukanlah pesta pernikahan yang bertujuan untuk menyenangkan hatinya. Pesta itu hanya sebagai kedok agar Olsen dan papanya bisa menjaring lebih banyak relasi bisnis, namun dia tidak peduli apa pun alasan pesta tersebut, yang terpenting malam ini dia bisa segera angkat kaki dari rumah yang puluhan tahun sudah ditinggali.
Dia membuka pintu kamar pengantin yang dipersiapkan untuk malam pertama dan segera mengganti gaun pengantin yang dipakai dengan gaun pesta yang lebih simple untuk mempermudah pergerakan saat menerima tamu dan berdansa dengan suaminya.
Saat ingin mengambil kalung yang akan dipadukan dengan gaun yang dia kenakan, matanya melihat sebuah surat dalam amplop putih yang tertuju untuknya. Ceysa mengambil amplop tersebut dan membalikkannya, mencari siapa pengirim dari amplop tersebut.
Keningnya berkerut heran ketika tidak menemukan siapa pengirimnya. Rasa penasaran membuatnya membuka amplop itu. Jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya mengetahui isi di dalam amplop yang terdapat banyak foto yang tak mampu dia lihat.
Foto itu adalah foto kemesraan Olsen dengan Fania, seorang artis papan atas yang dianugerahi paras cantik dan tubuh indah. Bahkan ada beberapa foto dimana keduanya berada di atas ranjang. Senyum Fania yang tertangkap kamera tampak begitu memuakkan bagi Ceysa.
Tangannya gemetar ketika melihat satu foto yang menusuk hatinya, foto itu adalah foto hasil USG atas nama Fania dengan tulisan di bagian belakang. “Saat ini aku sedang mengandung anak Olsen. Jika kamu tahu diri, lebih baik tinggalkan Olsen sekarang juga sebelum aku merebutnya darimu!”
Seketika Ceysa mengalami dejavu, dia kembali ke masa di mana mamanya meninggal di pangkuannya ketika mendengar papanya berselingkuh dan memiliki anak dari selingkuhan tersebut. Tubuhnya seketika menggigil seperti orang kedinginan, trauma yang selama ini berusaha dipendam, muncul kembali dan mencengkeram.
Tujuan menikah dengan Olsen agar dirinya bisa menjauh dari papanya yang telah berkhianat pada keluarga. Namun sekarang, mana mungkin dia bisa hidup dengan pria yang memiliki karakter sama dengan papanya. Sama saja dia sedang bunuh diri, keluar dari mulut harimau tetapi masuk kembali ke mulut buaya.
“Aku tidak sudi menjalani hidup bersama dengan pria sepertimu, Olsen.”
Tanpa pikir panjang, Ceysa segera berlari keluar hotel dengan masih mengenakan gaun pesta yang seharusnya dia kenakan untuk dansa pertama dengan suaminya. Dia berlari secepat mungkin agar tidak ada yang melihat, terutama suaminya. Sampai di jalan raya, dia segera menghentikan taksi dan pergi menjauh dari tempat pesta pernikahan berlangsung.
Di dalam taksi, tangis Ceysa pecah. Entah dia menangis untuk apa, apakah untuk impian yang hancur atau untuk nasib yang tetap berakhir menyedihkan?
Beberapa kali sopir yang mengendarai taksi itu melirik penasaran dan mencuri lihat dari kaca spion tanpa berkata apa pun. Sopir itu hanya sekali menanyakan alamat tujuan yang ingin dituju, lalu melakukan tugasnya tanpa banyak bicara.
“Anda sudah sampai tempat tujuan,” ucap supir itu yang menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang selama ini ditinggali Ceysa.
Menatap rumah itu, Ceysa langsung teringat jika suaminya tahu alamat rumah tersebut. Sadar jika sikap suaminya keras kepala dan arogan dan bisa menyeretnya keluar dari rumahnya sendiri, dia pun memutuskan untuk tidak kembali ke rumah tersebut.
“Bisakah tunggu sebentar? aku hanya akan mengambil beberapa barang dan pergi lagi.”
Sopir taksi itu mengangguk mengiyakan. Ceysa kemudian berlari masuk ke rumah dan membawa beberapa barang yang dianggap penting, memasukkan semua ke dalam tas lalu kembali keluar dan pergi menggunakan taksi yang sebelumnya dinaiki.
“Ke mana kita pergi sekarang?” sopir taksi itu bertanya.
“Jalan saja dulu, nanti aku akan memberikan petunjuk ke mana kita akan pergi,” balas Ceysa yang sebenarnya tidak tahu ke mana dia harus pergi.
Sudah dua kali taksi yang Ceysa tumpangi keliling kota tanpa tujuan. Setiap kali supir taksi itu bertanya, Ceysa hanya bilang, “jalan saja dulu.”
Sadar jika penumpangnya tidak memiliki tujuan dan jelas, dia kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. “Nona, jika Anda tidak memiliki tujuan pasti, sebaiknya Anda turun di sini saja.”
Ceysa terkejut, lamunannya buyar ketika mendapat peringatan dari supir taksi tersebut. “Aku hanya lupa alamat temanku, sekarang sepertinya aku sudah ingat. Bisakah kita lurus saja? tujuan kita sudah hampir sampai,” Ceysa memberi alasan dengan menunjukkan alamat sahabatnya karena tidak tahu harus pergi ke mana lagi.
Saat sampai di alamat tersebut, Ceysa tidak punya alasan lagi untuk tetap berada di dalam taksi, dia terpaksa turun dan mendatangi apartemen sahabatnya. Rasa ragu mengusik hati ketika dia sudah sampai di depan apartemen yang dia tuju. Tidak langsung mengetuk pintu, dia malah berdiri cukup lama di sana.
Hatinya bimbang apakah dia harus meminta bantuan Calvin, sahabat yang selama ini paling mengerti diriny. Semenjak kuliah mereka berteman dan hanya Calvin tempat bercerita. Sikap Calvin berubah ketika mengetahui dirinya ingin menikah. Entah apa yang membuat pria itu tiba-tiba marah padanya.
“Seharusnya aku tidak datang ke sini,” gumam Ceysa pelan. Dia kemudian membalikkan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu, tetapi langkahnya terhenti ketika pintu apartemen terbuka dan suara bariton seorang pria menyapa.
“Ceysa, kenapa kamu ada di sini?”
Ceysa segera membalikkan tubuh dan mendapati sahabatnya sedang menatapnya heran. “Aku ...”
“Bukankah hari ini hari pernikahanmu? Kenapa kamu berada di sini?”
Tangan Ceysa saling terkait dan meremas gugup, matanya meredup dan bibirnya kelu tanpa tahu apa yang harus dia katakan. “Maaf jika aku tidak mengundangmu ke pernikahanku.”
Seringai kecewa terkembang di bibir Calvin. “Aku tahu kedudukanku, aku bukan dari kalangan pembisnis yang layak untuk diundang di pestamu. Apakah untuk ini kamu datang ke sini?”
Ceysa menggeleng lemah menjawab pertanyaan sahabatnya. “Aku ke sini karena tidak tahu harus ke mana lagi, pernikahanku sudah hancur.”
Tubuh Ceysa merosot dan terduduk di lantai, tangisnya seketika pecah dan dia pun menutup wajah dengan kedua tangan tanpa mampu menjelaskan lebih rinci lagi tentang apa yang dia alami.
Calvin membeku menatap Ceysa tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Ingin sekali dia memeluk wanita itu dan mengatakan jika selama ini dia menyukainya, namun dia sadar jika Ceysa kini sudah menjadi istri pria lain.
Gianna Peter and I sat across from each other in the quiet room. The only sound between us was the rustle of tissue in my hands. I sniffed, wiping my nose and feeling the remnants of my earlier breakdown.Peter crouched in front of me with a smirk creeping onto his face.“Look at you,” he said softly. “I never pictured you to be so emotional.”“Oh, shut up,” I muttered playfully, tossing the crumpled tissue into a nearby trash can.“Come on, big girl, hug it out,” Peter said, spreading his arms wide. Unable to resist, I chuckled and closed the gap between us. His arms wrapped around me, warm and secure, pulling me into a hug that felt like home.I let myself melt into him, breathing his scent and relishing the quiet strength of his embrace. His hands cradled my face, and his lips were on mine before I could say anything.The kiss was soft and unhurried, carrying a passion that made my knees weak. His eyes were filled with sincerity when he pulled back.“I’m falling in love with you,
GiannaMy chest caved, and I couldn't maintain eye contact with Alexis and Alex after Peter had dropped that bombshell about us being mates.The tent felt suffocating, and his words kept ringing in my ears: Gianna and I are fated mates.The silence in the room was so thick, like the awkward cousin at a family reunion—uncomfortable and making everyone wonder who would break the silence first.My eyes darted to everyone's reactions. Alexis stood still, her eyes dimmed with shock. Alex looked utterly perplexed, his gaze bouncing between Peter and me as if waiting for someone to yell, Gotcha!Lisa's shock was the loudest. Her face paled, and her lips parted as though she were going to scream, but instead, she let out a low gasp followed by a horrified look. Peter's mom stared at her son, her face slack with shock.And then there was Peter. His eyes burned with the fire of someone ready to fight for what he believed was his, and he held my hand, ready to shield me from whatever backlash mi
Peter My nostrils flared with anger, and my heartbeat pounded. Lisa screamed trouble ever since the moment she stormed toward us. It was one thing for her to feel the silent talk of abandonment ever since I met Gianna, but this was an explosion I hadn't seen coming.Her voice, like nails on a chalkboard, grated on my ears. I'd never seen her like this—loud, volatile, and uncouth. She was a far cry from the sweet girlfriend I knew her to be—or maybe I hadn't known her as well as I thought.My anger wasn't from the embarrassment, for I didn't give two flying fucks about these people here except for Alexis. My rage was because Lisa made Gianna appalled. She looked away and rubbed her hands against her clothing as if trying to rid them of something. She would have done that if she had the power to melt into the shadows and disappear. Anger bubbled under my skin at how mortified she looked."Why would a high-class lady like her want anything to do with you?" Lisa asked. "What could you po
Gianna The reception hall buzzed with life. Laughter, cheers, and the over-enthusiastic guests filled the space. The older ones munched on their food while the younger ones danced on the floor, gyrating to some recent hit from the live band.Leaning against one of the columns, I sipped on a glass of sparkling water. Alexis didn’t need me anymore, and my legs almost gave way from standing in my ridiculous heels for hours. I had since changed into flats and let my poor toes breathe.A smile crept onto my lips when my gaze landed on Alex and Valen dancing together. The sight of father and son tugged at my heart, and I was genuinely happy for Alex. The little one had been giving him such a hard time for months.Watching them now, with pure and cheerful laughter ringing out and the pride on his father’s face, made me smile. Alexis had found her happiness, and she so deserved this perfect moment.“What’s a beautiful woman like you doing standing by herself?”I turned my head to find Louis,
Lying in Peter's arms felt like I had just entered heaven. His heartbeat thumped steadily beneath my ear, and I rested my head on his chest. His fingers traced lazy circles on my back, lulling me into a sense of peace I hadn’t felt in years. For once, my worries seemed like distant shadows, tempora
Peter I felt a little guilty for not checking on Lisa or my mom. But I chose to be with Gianna, the woman who hadn’t even bothered to tell me where we were going or spare me a single glance to make sure I was following.The drive was drenched in silence, so thick it felt like an extra passenger. I sa
GiannaThe wildlife reserve stretched out in front of us. It was an endless expanse of greenery dotted with open fields and enclosures for animals. I loved the smell of fresh grass, but initially, when we got here, I was skeptical. Peter forced me to stay. I wasn’t much of a wildlife enthusiast, and
Peter I lay on my side, watching Gianna. The soft rise and fall of her breathing was the only sound that mattered. Her face was turned slightly toward me, and I couldn't tear my gaze away. A content smile tugged at my lips as I took in every detail of her face as if committing her to memory. After a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.