INICIAR SESIÓN“Hate me all you want, little doll. It makes your pu**y taste sweeter.” He pulled me tighter against him. I could feel him pressing hard against me through his pants. My breath came faster. “Dante… this is wrong,” I whispered. “Wrong feels good, doesn’t it?” He turned my face to his and kissed me roughly. His tongue pushed into my mouth, claiming, demanding. I tried to pull back but he held my jaw and deepened the kiss until I was moaning into his mouth. When he broke the kiss, I was panting. He stood up, lifting me easily, and carried me to the wide leather couch. He laid me down and knelt between my legs, pushing the red dress up to my waist. “Look at these pretty p**nties,” he growled. “Already ruined.” He hooked his fingers in the lace and tore them off in one move. I yelped. “Dante!” He spread my thi**ghs wide, staring at me. “So pink. So innocent. And all mine.” He leaned down and licked a long, slow stripe up my p***sy. Naked Secrets is a provocative and addictive er**tic short story series made up of bite-sized, standalone tales featuring high-heat passion, forbidden desires, and magnetic chemistry. Each story explores a unique encounter between two compelling characters, blending lust, emotional tension, and unexpected connections that linger beyond the final page. The tone ranges from playful and flirty to dark and intense, delivering something for every mood—whether it’s a fantasy of office seduction, a gym hookup, or a once-in-a-lifetime vacation fling.
Ver másSiang itu, suasana kantor terasa lebih menyengat dari biasanya. AC gedung perkantoran bertingkat dua puluh itu seakan tak mampu menghalau gerah Jakarta di penghujung Oktober.
Namaku Aryo. Saat ini aku tengah berkutat dengan tumpukan laporan triwulan yang harus selesai sebelum deadline besok pagi. Angka-angka penjualan, grafik performa tim, dan proyeksi kuartal depan berhamburan di meja kerjaku yang sempit. Sebagai assistant manager di divisi marketing, tugas seperti ini sudah menjadi rutinitas yang tak bisa kutolak.
Di bilik sebelah, Andri, rekan kerjaku yang sudah empat tahun berbagi keluh kesah soal target penjualan, tiba-tiba berdiri dari kursinya. Wajahnya tampak gelisah, matanya melirik ke arah ruang manajer kami, Pak Hartono, yang sedang khusyuk dengan laptop dan secangkir kopi dingin di mejanya.
"Bro, lihat ini deh," bisik Andri sambil menyenggol lenganku pelan. Ponsel terbarunya ia sodorkan dengan jari yang sedikit bergetar. "Kiriman dari Wulan yang sedang belanja di mall... itu bini lo bukan?"
Wulan adalah rekan kerja kami yang saat ini sedang tugas lapangan. Mungkin tadi dia mampir ke mall untuk makan siang atau entahlah. Wanita itu cukup thengil menurutku. Sikapnya itu ambigu. Entah kenapa, selama ini, aku merasa dia cukup sering menggodaku. Maka dari itulah, aku menjaga jarak darinya.
Aku mengernyit, merasakan firasat aneh yang mulai menggelayut di dadaku. Tanganku meraih ponsel Andri dengan gerakan hati-hati, seolah benda itu adalah granat yang siap meledak kapan saja. Seketika, pandanganku terpaku pada sehelai foto yang terpampang jelas di layar W******p. Jantungku berdesir aneh, detakannya mendadak tak beraturan.
Di sana, di tengah keramaian mall yang sangat kukenal, tampaklah Dinda; istriku yang cantik dengan senyum merekah yang biasa ia simpan hanya untukku. Rambutnya yang panjang bergelombang tertata rapi dalam gaya half-up bun yang elegan. Ia mengenakan blazer cream yang kuberikan untuknya bulan lalu, dipadukan dengan celana panjang hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Tas kulit cokelat muda, hadiah anniversary kami yang kedua, tergantung manis di bahunya.
Tapi yang membuatku tercekat hingga napas terasa sesak, Dinda tidak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang lelaki paruh baya dengan tinggi sekitar 175 cm, berpostur tegap dan berisi. Rambutnya yang hitam legam sudah dihiasi uban perak di area pelipis, memberikan kesan matang dan berwibawa. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan potongan yang sangat rapi; jelas bukan sembarang jas yang bisa dibeli di mall biasa. Kemeja putih di baliknya tampak premium, begitu pula dengan dasi mengkilap bermotif garis tipis yang melingkari lehernya.
Yang paling mengganggu adalah tangan pria itu yang terlihat merangkul lembut punggung Dinda, dengan gestur yang terlampau akrab untuk sekadar hubungan profesional. Jari-jarinya yang panjang dan terawat tampak menyentuh pinggang Dinda dengan cara yang... terlalu familiar. Sementara Dinda, dengan senyum yang kurnal begitu manis dan hangat, tampak sangat nyaman dengan kedekatan itu.
Pikiranku langsung kalut bagai badai. Aku mengenal betul setiap lekuk senyum Dinda, cara ia menaikkan sudut bibirnya saat sedang benar-benar bahagia, tatapan matanya yang selalu memancarkan kehangatan seperti sinar matahari pagi, dan bagaimana ia selalu berpenampilan rapi bahkan hanya untuk sekadar ke pasar tradisional dekat rumah kami.
Dinda Maharani, istriku yang berusia tiga puluh tahun itu memang sosok wanita yang luar biasa. Tubuhnya yang tinggi semampai, sekitar 165 cm, dengan lekuk yang proporsional selalu membuatnya terlihat menawan dalam balutan apapun.
Kulitnya yang putih bersih dengan semburat merona alami di kedua pipi membuatnya tampak awet muda. Mata besarnya yang berwarna cokelat madu selalu berkilau ceria, dihiasi bulu mata lentik yang alami. Hidungnya mancung dengan ujung yang sedikit pesek, memberikan kesan manis dan tidak angkuh. Bibirnya yang penuh berwarna merah alami selalu tertata rapi dengan lipstik tipis yang ia aplikasikan setiap pagi.
Profesi kami memang sama, pegawai kantoran. Namun ia bekerja di PT Sentosa Makmur, sebuah perusahaan konsultan manajemen yang cukup bergengsi di kawasan Sudirman. Sementara aku di PT Mitra Sejahtera, perusahaan distributor alat elektronik di daerah Kemayoran. Jarak kantor kami memang lumayan jauh, sekitar 45 menit perjalanan dengan kendaraan pribadi.
Kami telah menikah selama tiga tahun, terhitung sejak tanggal 15 Mei 2022. Pernikahan kami digelar sederhana namun meriah di gedung serbaguna kompleks perumahan orangtuaku di Bekasi. Dinda tampak cantik luar biasa dalam gaun pengantin berwarna putih gading dengan detail bordir mutiara di bagian dada dan lengan. Aku masih ingat betapa beruntungnya aku merasa saat itu, mendapatkan wanita secantik dan sebaik Dinda untuk menjadi pendamping hidup.
Namun ada satu hal yang kadang membuat kami berdua terlihat murung: kami belum juga dikaruniai seorang anak.
Kami sudah melakukan berbagai upaya. Dari konsultasi ke dokter kandungan, terapi kesuburan, hingga mengonsumsi berbagai suplemen yang direkomendasikan teman-teman. Hasil pemeriksaan menunjukkan kami berdua sehat dan tidak ada masalah medis yang serius.
"Itu Dinda, kan?" tanya Andri pelan, suaranya nyaris berbisik. Matanya menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca; campuran antara iba dan tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungku yang semakin tak keruan. Udara di ruangan terasa semakin pengap, seolah oksigen tiba-tiba berkurang drastis. "Mungkin... mungkin dia lagi ada tugas kantor, terus sekalian mampir ke mall sama atasannya," jawabku dengan suara yang berusaha kudengarkan mantap, meski sebenarnya ada getaran yang tidak bisa kusembunyikan.
Aku mencoba meyakinkan Andri, dan yang lebih penting, berusaha meyakinkan diriku sendiri. Pikiran logisku yang biasa tajam dalam menganalisis data penjualan mengatakan bahwa ini adalah hal yang wajar. Dinda memang sering menceritakan pertemuannya dengan klien atau atasan di luar kantor. Sebagai account executive, ia memang harus fleksibel dengan jadwal dan lokasi meeting.
Andri mengangguk pelan, seolah memahami dilema batinku. "Oh iya... bisa jadi begitu," responnya sambil mengambil kembali ponselnya. Mungkin dia juga merasa tidak enak jika harus berdebat denganku tentang hal yang terlalu pribadi seperti ini. Lagipula, Andri adalah tipe orang yang bijak; ia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.
Namun, meski sudah kucoba merasionalisasi dengan berbagai kemungkinan logis, ada perasaan aneh yang tetap mengganjal di sudut hatiku. Sebuah firasat yang dingin dan tak menyenangkan, seperti kabut tipis yang perlahan menyelimuti kejernihan pikiranku. Aku mengembalikan ponsel Andri dengan gerakan yang kusadari sedikit kaku, berusaha bersikap normal meski aku tahu bahwa ketenangan di siang itu sudah direnggut paksa.
CHAPTER 7BELLAHe took me to bed after the last guest left and the penthouse went quiet again, and he didn’t give me the guest room or the rules or a speech. He sat back against the headboard bare and already hard and he pulled me into his lap and I straddled him because my body knew the shape of this now, and I kissed him before he could tell me to.The kiss was deep and messy and I made a sound into his mouth when his hands gripped my ass and dragged me along his cock. I reached between us and lined him up and sank down in one slow drop that made both of us break the kiss to breathe.“Fuck,” I whispered. “You’re so deep like this.”“Then move,” Dominic said. “Ride me. I want to watch you bounce.”I put my hands on his chest and lifted and dropped and the wet slide of it punched a moan out of me. I did it again, faster, and my ass slapped down on his thighs and he cursed and grabbed my hips.“Harder,” he said. “You can take it. You’ve been taking it all day. Show me.”I rode him har
CHAPTER 6BELLAThe penthouse filled with people after eleven even though his precious schedule said I should’ve been in bed, and he told me that as the host I’d stay on his arm until he decided otherwise. I was in another dress he’d chosen, black again, and his hand found the small of my back the way it always did, and I was still tender from the desk when the elevator opened and a voice I hadn’t heard in two years said my name.“Bella?”I turned and it was Marcus, older in the face, same easy smile, and my stomach dropped because the last time I saw him I still lived in a walk-up and thought love was something you could keep if you were careful. “Marcus,” I said. “What are you doing here?”“A colleague dragged me,” he said, and he looked at Dominic’s hand on me and then back at my face. “You look different. Good different. I’ve been trying to find you since your old number died.”Dominic’s fingers pressed once against my spine. I kept my voice light because the room was full. “I mov
CHAPTER 5BELLAHe told me the next morning while he poured coffee like the night before hadn’t left me walking sore and full of him. “From today you’re on a schedule,” Dominic said. “A soon-to-be-wife schedule.”Later, he dragged me down to the gym.The gym was a private floor in the building with glass and machines that looked like they’d never met sweat before me. He put me on a treadmill and stood where he could see my face and I said, “I don’t work out for men who keep me.”“You work out so you can keep up,” he said. “Forty minutes. Don’t drop the pace to spite me.”“What happens if I do?”“You find out at lunch.”I dropped the pace at minute twenty because I wanted to see if the threat held up. He didn’t raise his voice. He just reached over and stopped the machine and said, “Shoes off. Office. Now.”“It’s not one o’clock.”“It is now,” he said. “You broke the morning. We don’t wait for the calendar to catch up.”His office was high and quiet and the desk was a dark slab of wood
CHAPTER 4BELLAI stared at him. “Here?”“Here,” he said. “You can’t just—”“I can,” he said, quiet as ever. “You came on my tongue twenty minutes ago. Now you’re going to take me down your throat and you’re going to look at me while you do it. Knees, Bella.”I went down.“Open.”I opened my mouth and he unzipped. He was already hard and heavy and he rubbed the head over my lower lip.“Wrap your hand around the base. Good. Now take what you can.”I took him in and he was thick and hot. My jaw stretched. He exhaled like he’d been holding that breath since the gala. “That’s it,” he said. “Eyes up. Don’t hide in the work.”I looked up and he pushed deeper and I gagged and my eyes watered and he pulled back just enough for me to drag air in. “I can’t,” I said, voice wrecked already.“You can,” he said. “Again.”I took him again and he threaded his fingers into my hair, not yanking, just holding me where he wanted me, and he started to move in short strokes that hit the back of my throat.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.