Share

Bab 2 Ingin Melupakan

Author: Maria Bonifacia
Mencium pengantin wanita?

Amanda hampir pingsan. Setiap malam, dia sering mencium bosnya yang CEO itu dalam mimpinya, tetapi dia tidak pernah membayangkan hal itu akan menjadi nyata. Jantung Amanda pun berdebar kencang.

Andre perlahan mendekat. Dia memegang tangan Amanda dan menatapnya, sebelum mengangkat kerudung pengantin Amanda.

Andre tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak terlihat menolak. Andre pun dengan cepat menempelkan bibirnya ke pipi Amanda. Ciuman itu berlangsung singkat, tetapi Amanda merasa begitu bergairah hingga hampir saja mengompol karena saking tegangnya.

Para tamu mulai bertepuk tangan. Beberapa tersenyum, sementara yang lain tampak bingung, terutama keluarga Lena, yang satu per satu pergi karena malu.

Amanda makin terkejut ketika Andre menariknya menuju mobilnya. Dia ingin menghentikan bosnya itu karena mereka masih harus tinggal untuk resepsi.

“Setir secepat dan sejauh mungkin,” kata Andre dengan ekspresi yang sulit dibaca.

…

Setelah berkendara selama satu jam, Amanda akhirnya mengumpulkan keberanian untuk bertanya.

“Pak Andre, kita mau ke mana?” Amanda melirik kaca spion dan melihat ekspresi garang Andre.

“Ayo kita pergi ke neraka,” kata Andre dengan tenang. Amanda rela mengikuti Andre, bahkan ke tempat itu sekalipun.

Andre memutuskan untuk membawa Amanda ke sebuah hotel yang sudah dipesan untuk bulan madunya.

Perjalanan mereka ke Pulau Natusa berlangsung hening. Pulau Natusa adalah resor pulau pribadi yang terkenal. Andre tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menatap ke kejauhan dengan tatapan kosong.

Sementara itu, Amanda diam-diam mengamati Andre, dengan masih mengenakan gaun pengantinnya.

Ketika mereka tiba di vila, Andre langsung masuk ke suite yang menghadap pantai. Dia melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya. Andre lalu membuka meja bar dan menuangkan segelas minuman beralkohol.

Satu tegukan, dua, tiga, empat, hingga akhirnya Andre menghabiskan seluruh botol tersebut.

Amanda sudah menyaksikan betapa besar cinta bosnya pada kekasihnya, meski Lena sering berada di luar negeri, karena menjadi model untuk merek mewah yang ternama.

Amanda tahu bahwa bosnya sedang patah hati. Lena adalah kekasih masa kecil Andre. Amanda merasa ragu, haruskah dia mendekat atau membiarkan Andre sendiri?

Namun, sebagai asisten Andre dan lebih dari itu, sebagai orang yang peduli, Amanda tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati Andre.

“Pak Andre ….” ucap Amanda pelan saat duduk di sofa. “Pak Andre butuh orang untuk diajak bicara?”

Andre tidak menatap Amanda. Dia hanya terus meminum alkoholnya.

“Lena ninggalin aku. Dia pilih kariernya. Dia tahu, semua udah diatur. Dia permalukan aku di depan semua orang.” Kata-kata Andre terdengar dingin dan penuh amarah.

Amanda tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya berjalan mendekat dan menepuk bahu bosnya.

Jantung Amanda berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa gugup yang sulit dijelaskan. Amanda merasakan beban kesedihan Andre, tetapi dia juga merasakan jarak di antara mereka perlahan mulai mencair.

Andre kembali terdiam sebelum perlahan meletakkan gelasnya dan kembali menuangkan minuman.

Amanda duduk lebih dekat. “Kalau Pak Andre butuh saya, saya ada di sini. Saya nggak akan ninggalin Pak Andre.”

“Temani aku,” kata Andre.

Amanda menelan ludah dan cepat-cepat menganggukkan kepala. Dia akan tetap tinggal selama bosnya membutuhkan dirinya.

Amanda perlahan merasa takut di dalam hati. Bagaimana pernikahan itu akan mengubah masa depan dan perjalanan hidup mereka? Perubahan apa yang akan terjadi?

…

Di luar vila tepi pantai, ombak-ombak kecil menghantam pantai. Bulan purnama bersinar terang, seakan penasaran dengan pasangan pengantin baru itu.

Di dalam suite, Andre duduk di balkon sambil memegang segelas anggur. Beberapa botol kosong tampak berserakan di lantai.

Amanda sudah berganti pakaian. Untungnya, ada toko yang menjual pakaian di resor itu. Amanda mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat banyak pesan, serta panggilan tidak terjawab. Amanda pun menghela napas dalam-dalam.

Amanda menatap Andre yang masih terus menatap ke kejauhan sambil memegang gelasnya dan meminumnya. Amanda tidak bisa lagi menahan diri.

Dia berjalan ke balkon dengan hati-hati. “Pak Andre, baiknya Pak Andre berhenti minum. Pak Andre harus istirahat,” kata Amanda dengan hati-hati.

Andre tidak menjawab. Dia kembali minum, seakan tidak mendengarnya.

Amanda lalu duduk di samping Andre dan perlahan mengambil botol itu dari tangan Andre. “Sudah cukup. Nanti Pak Andre sakit.”

Andre mengambil kembali botol itu.

“Pak Andre, ponsel saya terus-terusan bunyi, karena orang-orang bertanya tentang Pak Andre, terutama ibu dan ayah Pak Andre. Apa saya harus menjawab telepon mereka?”

“Nggak, jangan.”

Amanda mengangguk. Mata mereka bertatapan. Emosi yang terpancar di mata Andre tampak campur aduk, antara amarah, rasa sakit dan kesedihan.

“Amanda ….” bisik Andre, pandangannya tertunduk. “Bikin aku lupa.”

“Pak Andre? Apa maksud Anda?”

Andre tiba-tiba memegang bagian belakang kepala Amanda dan menariknya lebih dekat. Amanda tidak bisa menghindar. Dia menghirup aroma wangi dari tubuh bosnya.

‘Sial! Ini dia! Hati-hati dengan yang kamu inginkan!’ pikir Amanda. Jujur saja, rasanya seakan-akan Amanda mau jatuh pingsan.

Ciuman Andre terasa panas dan penuh gairah. Mata Amanda membelalak, tetapi dia tidak sempat bergerak. Tubuhnya menjadi tegang, seakan tersengat listrik.

“Bikin aku lupa, Amanda ….” bisik Andre dengan mata terpejam dan dahinya menempel pada dahi Amanda. “Paling nggak, untuk malam ini aja. Aku nggak mau mengingat dia. Aku nggak mau merasakan sakit ini.”

Amanda menelan ludah, merasakan kepedihan yang begitu mendalam dari nada suara pria itu.

“Tolong, bantu aku lupain dia.”

Amanda mundur sedikit. Andre masih memegang wajahnya. Amanda ingin membantu bosnya. Jika dia bisa mengambil semua rasa sakit yang ditanggung pria itu, Amanda akan melakukannya.

Bibir mereka bersentuhan. Amanda tidak tahu bagaimana cara berciuman, dia belum pernah memiliki kekasih sebelumnya. Namun, Amanda cepat belajar. Dia bisa mempelajari apa saja, asalkan itu untuk bosnya.

Amanda meniru gerakan bibir Andre. Dia pun mengecap perpaduan antara alkohol dan air liur Andre. Jika ini mimpi, Amanda tidak ingin terbangun lagi.

Rasa waspada mulai muncul dalam benak Amanda, ketika tangan Andre mulai meraba-raba di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Andre terasa seperti membakar kulit Amanda dan Amanda pun sepenuhnya terperangkap oleh api hasrat itu ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 50 Kegiatan Amal

    "Aku sudah setuju," jawab Amanda sambil menatap Andre lekat-lekat."Bukan cuma karena aku berterima kasih karena dia membantumu … tapi juga karena aku tahu, ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah. Aku nggak rasa ada yang salah dengan keputusanku pergi bersamanya."Andre cemberut, dia jelas tidak yakin, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Andre hanya menarik Amanda ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.Amanda melepaskan pelukan itu dengan lembut dan meraih tabletnya. Dia membuka jadwal Andre untuk minggu depan."Amanda," panggil Andre dengan suara rendah. "Aku rasa, sebaiknya kamu nggak pergi ke ulang tahun Edwin."Amanda menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa nggak?"Andre menggeleng, rasa kesal mulai menyusup ke dalam suaranya. "Aku cuma nggak mau kamu pergi. Aku nggak suka cara dia menatapmu.""Edwin orang baik. Aku cuma mau bantu sekolah. Jadi tolong … biarkan aku pergi."Andre memutar tubuh Amanda agar menghadapnya dan matanya menatap mata Amanda. "Jangan pergi.""Nggak aka

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 49 Skandal

    Saat televisi menyala, suara penyiar tiba-tiba menggema di seluruh ruangan."Berita terkini! Kami siarkan langsung dari hotel tempat Bu Karina Hermawan, wanita yang ada di foto bersama Andre Abisatya tadi malam, yang sedang mengadakan konferensi pers. Reporter kami sudah berada di lokasi."Siaran langsung muncul di layar, lobi hotel yang tampak kacau balau dipenuhi media. Karina duduk di depan mikrofon, mencengkeram sapu tangan dan jelas terlihat gemetar. Di belakangnya, spanduk konferensi pers yang dibuat terburu-buru tergantung miring."Bu Karina," panggil seorang reporter. "Apa Anda korban pelecehan Pak Andre, CEO Grup Persada? Benarkah dia memaksa Anda?"Wanita itu menghindari tatapan mereka dan terlihat begitu tertekan. Dia mulai menangis dan kamera terus berkedip tanpa henti."Itu aku …." Wanita itu berhenti, mengambil napas dengan gemetar, lalu kembali menangis."Bu Karina, bisakah Anda memberi kami detail lebih lanjut mengenai bagaimana CEO Grup Persada memanfaatkan Anda?""Bu

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 48 Menghancurkan Reputasinya

    Amanda mengangguk dan menyerahkan map tersebut. Di bawah meja, Amanda diam-diam menyalakan perekam suara di ponselnya."Ini akan jadi skandal besar saat tersebar nanti," kata Evan sambil menyeringai saat memperhatikan tanda tangan tersebut.Evan mengambil kontrak itu dan membacanya dengan cepat. "Inilah dia, salah satu bukti rekayasa yang membuktikan kecurangan yang dilakukan Andre."Saat mereka berbicara, jantung Amanda berdegap lebih kencang. Tiap kata yang terekam oleh kamera dan perekam itu bisa menyelamatkan Andre.Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menjadi tajam saat dia memegang ponselnya dan tampak tenggelam dalam pikirannya."Aku nggak akan biarkan nama Andre menjadi makin terkenal. Kalau aku harus menghancurkannya melalui media, akan kulakukan. Aku punya rencana baru," ujar Evan.Evan lalu membuka folder di ponselnya dan menunjukkannya kepada Amanda.Napas Amanda nyaris terhenti melihat gambar di layar. Itu adalah Andre. Andre sedang berbaring di tempat tidur dan

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 47 CEO yang Bangga

    Saat mereka keluar dari kendaraan, Mirna, Farid dan Mitha langsung ternganga melihat rumah baru mereka."Amanda, rumahnya gede banget!" seru Mirna, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Halamannya luas, baru dicat dan ada pagar putih yang mengelilingi rumah dua lantai yang indah itu.Mitha langsung berlari ke arah halaman dan melompat-lompat kegirangan. "Kak! Ada taman! Dan ayunan!""Sayang, semuanya ada di sini!" kata Mirna saat melangkah masuk.Amanda tetap diam. Dia memperhatikan kebahagiaan keluarganya, sementara dadanya terasa begitu berat.Mereka masuk dan kekaguman mereka makin bertambah, karena ruang tamunya luas, lantainya berkilau dan peralatan rumah tangga yang serba baru mengisi setiap sudutnya."Kalau ada sesuatu yang nggak kalian suka, katakan saja padaku, akan kami ganti. Anggap aja rumah sendiri, ini milik kalian sekarang," ujar Andre dengan hangat."Amanda, Andre … aku nggak tahu gimana cara membalas kebaikan kalian," kata Farid pelan, ada nada canggung dalam suara

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 46 Aksi Heroik

    Saat mereka sampai di tempat evakuasi, para sukarelawan bergegas membantu keluarga Amanda. Syukurlah mereka semua selamat, meski mereka sangat kelelahan dan basah kuyup.Andre mengambil alih. Dia membantu seluruh keluarga Amanda saat mereka masuk. Andre memayungi Mirna dan Farid, menuntun mereka dengan hati-hati melewati kekacauan di sana.Alih-alih beristirahat, Andre segera mencari cara untuk membantu. Dia berbicara dengan pejabat kota dan mengatur agar Grup Persada mengirimkan bantuan, berupa kotak-kotak air minum kemasan, makanan instan, selimut dan perlengkapan kebersihan. Bantuan dari perusahaan tiba dengan cepat, bahkan mendahului respons pemerintah setempat.Namun, bukan itu saja. Orang-orang menyaksikan saat Andre sendiri mengangkat karung beras, membagikan makanan kepada anak-anak dan membantu menyiapkan tikar tidur untuk para lansia. Andre tidak bersikap layaknya bos atau CEO, dia bertindak layaknya orang biasa yang benar-benar peduli. Amanda tidak tahu mengapa, tetapi dia m

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 45 Pengalaman yang Menyadarkan

    Saat hujan terus mengguyur dan air makin naik di lantai ruang tamu, Mirna memastikan untuk memindahkan semua barang penting ke kamar Amanda dan Mitha. Mereka memiliki tempat tidur tingkat yang bisa menampung empat orang jika mereka tidak keberatan berdesakan.Saat mereka masuk, Andre dengan cepat membawa bantal dan selimut ke atas, bersama dengan dokumen-dokumen penting."Kami sangat berterima kasih kamu ada di sini, Andre. Kamu sangat membantu mengangkut semuanya," kata Mirna."Dengan senang hati."Amanda memperhatikan pria itu membawa barang-barang mereka yang sudah tua dan usang tanpa mengeluh sedikit pun."Ini nggak aman, Amanda. Kita harus mengungsi. Kalian semua sebaiknya tinggal di rumah besar bersamaku," ujar Andre sambil menatap mereka.Amanda menggeleng tegas sambil membentangkan selimut di ranjang atas."Nggak perlu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Besok air akan surut. Nggak sepadan untuk pergi. Lagian, nggak ada orang di sini yang jagain rumah. Kami bisa kehilangan barang-

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status