แชร์

Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin
Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin
ผู้แต่ง: Maria Bonifacia

Bab 1 Hari Pernikahan

ผู้เขียน: Maria Bonifacia
Amanda tiba di ruang acara Hotel Indira dengan mengenakan gaun kerja dan rambut yang disanggul rapi. Seperti biasa, dia tetap tenang dan terorganisir. Sudah lima tahun Amanda menjadi asisten yang selalu dapat diandalkan oleh Andre Abisatya, CEO Grup Persada. Bahkan, Amanda yang menangani persiapan pernikahan Andre, karena kesibukan Andre yang luar biasa.

“Oke, bunga sudah tertata, katering sudah diperiksa dan musik sudah siap,” bisik Amada pada dirinya sendiri sambil memeriksa daftar periksa.

Para tamu, yang semuanya merupakan tokoh terkenal, investor dan mitra bisnis, tiba satu per satu. Bunga-bunga putih, dekorasi emas dan meja-meja yang elegan tertata dengan sempurna. Semua orang merasa antusias menyaksikan pernikahan Andre dan Lena Wiratama, yang merupakan seorang model.

Namun, ada satu masalah. Lena tidak terlihat di mana pun.

“Di mana pengantin wanitanya?” tanya koordinator pernikahan kepada Amanda. Kepanikan mulai terdengar dalam suaranya.

“Di mana dia? Bukankah harusnya dia udah sampai di sini sekarang?” tanya penata rias.

Amanda buru-buru mengeluarkan ponselnya dan menelepon Lena. Dia menelepon berkali-kali, tapi tidak ada jawaban.

Andre pun mendekat sambil mengerutkan kening. Dia mengenakan tuksedo hitam klasik, terlihat tampan dan memesona, seperti para pangeran yang baru keluar dari buku. Amanda menggelengkan kepala. Seharusnya dia tidak menatap diam-diam bosnya itu saat ini.

“Amanda,” kata Andre dengan dingin. “Ada masalah apa?”

“Pak Andre, Bu Lena belum datang. Saya udah coba telepon dia beberapa kali, tapi dia nggak jawab.”

Andre mencibir. Dia berbalik, menatap altar, lalu kembali memandang Amanda.

“Lena akan datang. Mungkin dia cuma terjebak macet.”

Amanda mengangguk. Andre sangat disiplin soal waktu. Tidak ada satu pun karyawan di Grup Persada yang pernah terlambat. Namun, ketika menyangkut Lena, CEO yang dingin itu langsung menjadi lembut.

Satu jam berlalu. Pendeta masih berdiri di altar. Semuanya sudah siap. Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik. Wanita terhormat mana yang tidak akan hadir di pernikahannya sendiri jika Andre adalah mempelai prianya? Andre adalah taipan bisnis terkaya di negara itu. Selain itu, Andre juga tampan dan elegan.

Ponsel di tangan Amanda berbunyi. Amanda melihat notifikasi, ada pesan dari Lena. Napas Amanda seakan terhenti saat membacanya.

[Maafin aku, Andre. Aku nggak bisa korbankan karierku. Tolong, maafin aku.] Tangan Amanda gemetar saat membaca pesan itu.

Amanda lalu melihat Andre berjalan menghampirinya.

“Pak Andre, ada pesan dari Bu Lena. Pak Andre, jangan ….”

Andre tidak membiarkan Amanda menyelesaikan kalimatnya. Dia merebut ponsel itu dan membaca pesannya. Amanda langsung melihat Andre tampak menahan marah.

Andre lalu mendekati Amanda dan mencengkeram pergelangan tangan Amanda. Amanda hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut.

“Pak Andre?” teriak Amanda, saat dia ditarik menyusuri karpet merah.

“Sekarang, aku butuh pengantin wanita. Aku perintahkan kamu untuk menikah denganku.” Suara Andre terdengar dingin dan penuh nada perintah.

“Apa? Pak Andre bilang apa?”

“Kamu akan menikah denganku.”

Amanda ingin mencubit dirinya sendiri, karena semua ini mungkin hanya mimpi. Semalam, Amanda masih bermimpi, membayangkan dirinya jadi pengantin Andre. Sepertinya, Tuhan sudah mendengarkan keinginannya.

“Apa? Pak Andre, kita nggak bisa nikah,” kata Amanda yang hampir pingsan.

“Aku nggak punya pengantin wanita. Aku butuh orang,” kata Andre dengan tegas, seakan kesabarannya sudah mulai habis. Dia tidak suka dibantah.

“Tapi Pak Andre, saya cuma asisten,” kata Amanda sambil menundukkan kepala. Jantungnya berdebar begitu kencang.

“Tepat sekali. Ini cuma pernikahan di atas kertas. Aku akan bayar kamu dalam jumlah yang sangat besar. Lena akan kembali, begitu dia tahu aku nikah sama wanita lain.”

Amanda tidak mampu berkata-kata dan hanya mengangguk. Dia menerima tawaran itu, meski itu hanyalah pernikahan palsu. Amanda bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah tiba di ruang ganti untuk pakai gaun pengantin.

Amanda merasa begitu khawatir, takut dan gembira di dalam hati. Dalam keadaan linglung, Amanda mengikuti tim penata rias.

Upacara pernikahan dimulai atas perintah Andre. Lagu pernikahan instrumental klasik mengalun saat pintu besar yang menuju aula pesta yang megah terbuka perlahan. Semua tamu langsung menoleh ke ujung lorong. Hampir semuanya terlihat bingung dan secara serempak langsung berbisik-bisik.

Di hadapan ratusan tamu, Amanda tiba-tiba menjadi pengantin wanita. Semua doanya terkabul. Harapan memang bisa menjadi kenyataan.

Amanda perlahan menyusuri lorong dengan mengenakan gaun pengantin yang semula diperuntukkan bagi Lena. Gaun itu tanpa diduga, terlihat begitu cantik saat dikenakan Amanda. Gaun itu tampak elegan dan sempurna di tubuh Amanda. Ada pesona unik yang tidak disangka Amanda akan memancar dari gaun semahal itu. Tangan Amanda gemetar saat memegang buket bunga dan hampir sesak napas. Orang tua Amanda bahkan tidak tahu bahwa dirinya akan menikah.

Seharusnya hal ini tidak terjadi. Namun, Amanda tentu berbohong jika mengatakan bahwa dirinya tidak ingin menikahi CEO yang sudah lama dicintainya itu. Andre berdiri di ujung altar. Dia terlihat tampan mengenakan tuksedonya. Mata Andre tertuju pada Amanda dan itu memberi Amanda kekuatan untuk terus berjalan. Bosnya membutuhkan dirinya.

Ketika Amanda sampai di altar, Andre mengulurkan tangannya. Kehangatan telapak tangan Andre menghapus rasa dingin dan gemetar di tubuh Amanda.

Seluruh aula menjadi hening. Bahkan, pendeta juga tertegun untuk sesaat sebelum memulai upacara. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Lena. Tidak ada penjelasan, tetapi tidak ada yang keberatan.

Semua orang menatap pengantin wanita baru itu. Pendeta pun mulai angkat bicara.

“Dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan sakit maupun sehat, sampai maut memisahkan kita ….”

Andre mengucapkan tiap kata tanpa ragu.

Namun, ketika giliran Amanda berbicara, wajah Amanda menjadi pucat untuk sesaat. Suara Amanda bergetar saat dia mengulangi kata-kata pendeta itu.

“Dalam keadaan suka maupun duka ….”

Amanda menatap Andre. Dia seakan terbuai dalam mata bosnya yang berwarna cokelat itu.

“Aku akan mencintaimu dan menghormatimu sepanjang hidupku.”

“Dengan kuasa yang diberikan kepadaku,” lanjut sang pendeta. “Dengan ini aku nyatakan kalian sebagai suami istri.”

Jantung Amanda berdebar kencang. Sekarang, dia resmi menjadi istri sah CEO Grup Persada. Semuanya terasa seperti mimpi, seperti adegan dalam sebuah film atau novel.

“Sekarang, Anda boleh mencium pengantin wanitanya,” kata pendeta.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 50 Kegiatan Amal

    "Aku sudah setuju," jawab Amanda sambil menatap Andre lekat-lekat."Bukan cuma karena aku berterima kasih karena dia membantumu … tapi juga karena aku tahu, ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah. Aku nggak rasa ada yang salah dengan keputusanku pergi bersamanya."Andre cemberut, dia jelas tidak yakin, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Andre hanya menarik Amanda ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.Amanda melepaskan pelukan itu dengan lembut dan meraih tabletnya. Dia membuka jadwal Andre untuk minggu depan."Amanda," panggil Andre dengan suara rendah. "Aku rasa, sebaiknya kamu nggak pergi ke ulang tahun Edwin."Amanda menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa nggak?"Andre menggeleng, rasa kesal mulai menyusup ke dalam suaranya. "Aku cuma nggak mau kamu pergi. Aku nggak suka cara dia menatapmu.""Edwin orang baik. Aku cuma mau bantu sekolah. Jadi tolong … biarkan aku pergi."Andre memutar tubuh Amanda agar menghadapnya dan matanya menatap mata Amanda. "Jangan pergi.""Nggak aka

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 49 Skandal

    Saat televisi menyala, suara penyiar tiba-tiba menggema di seluruh ruangan."Berita terkini! Kami siarkan langsung dari hotel tempat Bu Karina Hermawan, wanita yang ada di foto bersama Andre Abisatya tadi malam, yang sedang mengadakan konferensi pers. Reporter kami sudah berada di lokasi."Siaran langsung muncul di layar, lobi hotel yang tampak kacau balau dipenuhi media. Karina duduk di depan mikrofon, mencengkeram sapu tangan dan jelas terlihat gemetar. Di belakangnya, spanduk konferensi pers yang dibuat terburu-buru tergantung miring."Bu Karina," panggil seorang reporter. "Apa Anda korban pelecehan Pak Andre, CEO Grup Persada? Benarkah dia memaksa Anda?"Wanita itu menghindari tatapan mereka dan terlihat begitu tertekan. Dia mulai menangis dan kamera terus berkedip tanpa henti."Itu aku …." Wanita itu berhenti, mengambil napas dengan gemetar, lalu kembali menangis."Bu Karina, bisakah Anda memberi kami detail lebih lanjut mengenai bagaimana CEO Grup Persada memanfaatkan Anda?""Bu

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 48 Menghancurkan Reputasinya

    Amanda mengangguk dan menyerahkan map tersebut. Di bawah meja, Amanda diam-diam menyalakan perekam suara di ponselnya."Ini akan jadi skandal besar saat tersebar nanti," kata Evan sambil menyeringai saat memperhatikan tanda tangan tersebut.Evan mengambil kontrak itu dan membacanya dengan cepat. "Inilah dia, salah satu bukti rekayasa yang membuktikan kecurangan yang dilakukan Andre."Saat mereka berbicara, jantung Amanda berdegap lebih kencang. Tiap kata yang terekam oleh kamera dan perekam itu bisa menyelamatkan Andre.Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menjadi tajam saat dia memegang ponselnya dan tampak tenggelam dalam pikirannya."Aku nggak akan biarkan nama Andre menjadi makin terkenal. Kalau aku harus menghancurkannya melalui media, akan kulakukan. Aku punya rencana baru," ujar Evan.Evan lalu membuka folder di ponselnya dan menunjukkannya kepada Amanda.Napas Amanda nyaris terhenti melihat gambar di layar. Itu adalah Andre. Andre sedang berbaring di tempat tidur dan

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 47 CEO yang Bangga

    Saat mereka keluar dari kendaraan, Mirna, Farid dan Mitha langsung ternganga melihat rumah baru mereka."Amanda, rumahnya gede banget!" seru Mirna, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Halamannya luas, baru dicat dan ada pagar putih yang mengelilingi rumah dua lantai yang indah itu.Mitha langsung berlari ke arah halaman dan melompat-lompat kegirangan. "Kak! Ada taman! Dan ayunan!""Sayang, semuanya ada di sini!" kata Mirna saat melangkah masuk.Amanda tetap diam. Dia memperhatikan kebahagiaan keluarganya, sementara dadanya terasa begitu berat.Mereka masuk dan kekaguman mereka makin bertambah, karena ruang tamunya luas, lantainya berkilau dan peralatan rumah tangga yang serba baru mengisi setiap sudutnya."Kalau ada sesuatu yang nggak kalian suka, katakan saja padaku, akan kami ganti. Anggap aja rumah sendiri, ini milik kalian sekarang," ujar Andre dengan hangat."Amanda, Andre … aku nggak tahu gimana cara membalas kebaikan kalian," kata Farid pelan, ada nada canggung dalam suara

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 46 Aksi Heroik

    Saat mereka sampai di tempat evakuasi, para sukarelawan bergegas membantu keluarga Amanda. Syukurlah mereka semua selamat, meski mereka sangat kelelahan dan basah kuyup.Andre mengambil alih. Dia membantu seluruh keluarga Amanda saat mereka masuk. Andre memayungi Mirna dan Farid, menuntun mereka dengan hati-hati melewati kekacauan di sana.Alih-alih beristirahat, Andre segera mencari cara untuk membantu. Dia berbicara dengan pejabat kota dan mengatur agar Grup Persada mengirimkan bantuan, berupa kotak-kotak air minum kemasan, makanan instan, selimut dan perlengkapan kebersihan. Bantuan dari perusahaan tiba dengan cepat, bahkan mendahului respons pemerintah setempat.Namun, bukan itu saja. Orang-orang menyaksikan saat Andre sendiri mengangkat karung beras, membagikan makanan kepada anak-anak dan membantu menyiapkan tikar tidur untuk para lansia. Andre tidak bersikap layaknya bos atau CEO, dia bertindak layaknya orang biasa yang benar-benar peduli. Amanda tidak tahu mengapa, tetapi dia m

  • Nikah Kontrak Dengan CEO yang Dingin   Bab 45 Pengalaman yang Menyadarkan

    Saat hujan terus mengguyur dan air makin naik di lantai ruang tamu, Mirna memastikan untuk memindahkan semua barang penting ke kamar Amanda dan Mitha. Mereka memiliki tempat tidur tingkat yang bisa menampung empat orang jika mereka tidak keberatan berdesakan.Saat mereka masuk, Andre dengan cepat membawa bantal dan selimut ke atas, bersama dengan dokumen-dokumen penting."Kami sangat berterima kasih kamu ada di sini, Andre. Kamu sangat membantu mengangkut semuanya," kata Mirna."Dengan senang hati."Amanda memperhatikan pria itu membawa barang-barang mereka yang sudah tua dan usang tanpa mengeluh sedikit pun."Ini nggak aman, Amanda. Kita harus mengungsi. Kalian semua sebaiknya tinggal di rumah besar bersamaku," ujar Andre sambil menatap mereka.Amanda menggeleng tegas sambil membentangkan selimut di ranjang atas."Nggak perlu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Besok air akan surut. Nggak sepadan untuk pergi. Lagian, nggak ada orang di sini yang jagain rumah. Kami bisa kehilangan barang-

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status