Setelah rapat berakhir, mereka pergi ke ruang santai kantor, tempat di mana hidangan manis, aneka kue, kopi dan camilan impor disajikan. Ada juga sebuah keranjang berisi produk-produk impor untuk para tamu.Saat semua orang sibuk makan dan mengobrol, Andre berjalan menghampiri Amanda. Dia menundukkan kepala tanpa kentara dan berbisik di telinga Amanda, "Kamu berteman sama Edwin, ‘kan?"Amanda menatap bosnya. "Iya, tapi itu cuma waktu kami masih SD ….""Bertemanlah lagi dengannya. Gunakan koneksi itu. Bicaralah empat mata dengannya. Aku nggak mau dia ketemu perusahaan lain."Amanda mulai merasa gugup. "Pak, bukankah itu agak ….""Dengar, Amanda," bisik Andre dengan lembut. "Kamu bilang, kamu bakal bantu aku. Ini penting. Aku butuh kesepakatan ini. Lakukan aja. Pergilah makan malam bersamanya nanti."Amanda menjadi tegang. Mengapa dia merasa seolah-olah sedang "dijual" oleh Andre? Apakah dirinya sudah gila? Tentu saja, bosnya itu tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Akan tetapi, Aman
Baca selengkapnya