INICIAR SESIÓN"Aku sudah setuju," jawab Amanda sambil menatap Andre lekat-lekat."Bukan cuma karena aku berterima kasih karena dia membantumu … tapi juga karena aku tahu, ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah. Aku nggak rasa ada yang salah dengan keputusanku pergi bersamanya."Andre cemberut, dia jelas tidak yakin, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Andre hanya menarik Amanda ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat.Amanda melepaskan pelukan itu dengan lembut dan meraih tabletnya. Dia membuka jadwal Andre untuk minggu depan."Amanda," panggil Andre dengan suara rendah. "Aku rasa, sebaiknya kamu nggak pergi ke ulang tahun Edwin."Amanda menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa nggak?"Andre menggeleng, rasa kesal mulai menyusup ke dalam suaranya. "Aku cuma nggak mau kamu pergi. Aku nggak suka cara dia menatapmu.""Edwin orang baik. Aku cuma mau bantu sekolah. Jadi tolong … biarkan aku pergi."Andre memutar tubuh Amanda agar menghadapnya dan matanya menatap mata Amanda. "Jangan pergi.""Nggak aka
Saat televisi menyala, suara penyiar tiba-tiba menggema di seluruh ruangan."Berita terkini! Kami siarkan langsung dari hotel tempat Bu Karina Hermawan, wanita yang ada di foto bersama Andre Abisatya tadi malam, yang sedang mengadakan konferensi pers. Reporter kami sudah berada di lokasi."Siaran langsung muncul di layar, lobi hotel yang tampak kacau balau dipenuhi media. Karina duduk di depan mikrofon, mencengkeram sapu tangan dan jelas terlihat gemetar. Di belakangnya, spanduk konferensi pers yang dibuat terburu-buru tergantung miring."Bu Karina," panggil seorang reporter. "Apa Anda korban pelecehan Pak Andre, CEO Grup Persada? Benarkah dia memaksa Anda?"Wanita itu menghindari tatapan mereka dan terlihat begitu tertekan. Dia mulai menangis dan kamera terus berkedip tanpa henti."Itu aku …." Wanita itu berhenti, mengambil napas dengan gemetar, lalu kembali menangis."Bu Karina, bisakah Anda memberi kami detail lebih lanjut mengenai bagaimana CEO Grup Persada memanfaatkan Anda?""Bu
Amanda mengangguk dan menyerahkan map tersebut. Di bawah meja, Amanda diam-diam menyalakan perekam suara di ponselnya."Ini akan jadi skandal besar saat tersebar nanti," kata Evan sambil menyeringai saat memperhatikan tanda tangan tersebut.Evan mengambil kontrak itu dan membacanya dengan cepat. "Inilah dia, salah satu bukti rekayasa yang membuktikan kecurangan yang dilakukan Andre."Saat mereka berbicara, jantung Amanda berdegap lebih kencang. Tiap kata yang terekam oleh kamera dan perekam itu bisa menyelamatkan Andre.Evan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya menjadi tajam saat dia memegang ponselnya dan tampak tenggelam dalam pikirannya."Aku nggak akan biarkan nama Andre menjadi makin terkenal. Kalau aku harus menghancurkannya melalui media, akan kulakukan. Aku punya rencana baru," ujar Evan.Evan lalu membuka folder di ponselnya dan menunjukkannya kepada Amanda.Napas Amanda nyaris terhenti melihat gambar di layar. Itu adalah Andre. Andre sedang berbaring di tempat tidur dan
Saat mereka keluar dari kendaraan, Mirna, Farid dan Mitha langsung ternganga melihat rumah baru mereka."Amanda, rumahnya gede banget!" seru Mirna, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Halamannya luas, baru dicat dan ada pagar putih yang mengelilingi rumah dua lantai yang indah itu.Mitha langsung berlari ke arah halaman dan melompat-lompat kegirangan. "Kak! Ada taman! Dan ayunan!""Sayang, semuanya ada di sini!" kata Mirna saat melangkah masuk.Amanda tetap diam. Dia memperhatikan kebahagiaan keluarganya, sementara dadanya terasa begitu berat.Mereka masuk dan kekaguman mereka makin bertambah, karena ruang tamunya luas, lantainya berkilau dan peralatan rumah tangga yang serba baru mengisi setiap sudutnya."Kalau ada sesuatu yang nggak kalian suka, katakan saja padaku, akan kami ganti. Anggap aja rumah sendiri, ini milik kalian sekarang," ujar Andre dengan hangat."Amanda, Andre … aku nggak tahu gimana cara membalas kebaikan kalian," kata Farid pelan, ada nada canggung dalam suara
Saat mereka sampai di tempat evakuasi, para sukarelawan bergegas membantu keluarga Amanda. Syukurlah mereka semua selamat, meski mereka sangat kelelahan dan basah kuyup.Andre mengambil alih. Dia membantu seluruh keluarga Amanda saat mereka masuk. Andre memayungi Mirna dan Farid, menuntun mereka dengan hati-hati melewati kekacauan di sana.Alih-alih beristirahat, Andre segera mencari cara untuk membantu. Dia berbicara dengan pejabat kota dan mengatur agar Grup Persada mengirimkan bantuan, berupa kotak-kotak air minum kemasan, makanan instan, selimut dan perlengkapan kebersihan. Bantuan dari perusahaan tiba dengan cepat, bahkan mendahului respons pemerintah setempat.Namun, bukan itu saja. Orang-orang menyaksikan saat Andre sendiri mengangkat karung beras, membagikan makanan kepada anak-anak dan membantu menyiapkan tikar tidur untuk para lansia. Andre tidak bersikap layaknya bos atau CEO, dia bertindak layaknya orang biasa yang benar-benar peduli. Amanda tidak tahu mengapa, tetapi dia m
Saat hujan terus mengguyur dan air makin naik di lantai ruang tamu, Mirna memastikan untuk memindahkan semua barang penting ke kamar Amanda dan Mitha. Mereka memiliki tempat tidur tingkat yang bisa menampung empat orang jika mereka tidak keberatan berdesakan.Saat mereka masuk, Andre dengan cepat membawa bantal dan selimut ke atas, bersama dengan dokumen-dokumen penting."Kami sangat berterima kasih kamu ada di sini, Andre. Kamu sangat membantu mengangkut semuanya," kata Mirna."Dengan senang hati."Amanda memperhatikan pria itu membawa barang-barang mereka yang sudah tua dan usang tanpa mengeluh sedikit pun."Ini nggak aman, Amanda. Kita harus mengungsi. Kalian semua sebaiknya tinggal di rumah besar bersamaku," ujar Andre sambil menatap mereka.Amanda menggeleng tegas sambil membentangkan selimut di ranjang atas."Nggak perlu. Kami sudah terbiasa dengan ini. Besok air akan surut. Nggak sepadan untuk pergi. Lagian, nggak ada orang di sini yang jagain rumah. Kami bisa kehilangan barang-







