Beranda / Romansa / Nikahi Aku Mas Cleaning Service! / Bab 109 : Rahasia yang Tertinggal

Share

Bab 109 : Rahasia yang Tertinggal

Penulis: Minerva
last update Tanggal publikasi: 2026-07-29 10:08:08

“Mas, kau sudah selesai menyusun lemari pakaian kita?” Suara Lusty terdengar lembut membelah riuh rendah suara orang yang mengangkut kotak-kotak besar ke dalam rumah baru mereka. Ia baru saja tiba dari acara pertemuan keluarga dan pengecekan terakhir persiapan pernikahan adiknya, Lula. Matanya berbinar cerah menatap sekeliling ruangan yang perlahan mulai terisi oleh barang-barang milik mereka sendiri. Meski belum seratus persen tertata sempurna, suasana di dalamnya sudah terasa begitu hangat, p
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 161 : Cahaya yang Menjadi Penolong

    Hari-hari berlalu makin cerah seiring pulihnya kekuatan Cahaya sepenuhnya. Wajahnya yang dulu pucat kini kembali bersinar segar, langkahnya ringan dan mantap, dan matanya yang jernih memancarkan kehangatan yang seakan tak pernah pudar. Namun ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—bukan cahayanya, melainkan caranya memandang dunia. Ia tidak lagi sekadar menerima kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya; ia mulai menyadari bahwa ia pun mampu memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan atau kesusahan. Lusty dan Raman memandang perubahan itu dengan hati yang penuh syukur sekaligus bangga; putri mereka tidak hanya tumbuh sehat kembali, melainkan mulai tumbuh menjadi penolong, persis seperti mereka yang dulu pernah menolong banyak orang.Suatu pagi yang cerah, Cahaya sedang menyiram bunga di halaman ketika ia melihat seorang anak laki-laki berjalan sendirian di tepi jalan, wajahnya murung dan matanya tampak berkaca-kaca. Anak itu bernama Bayu, pindahan baru

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 160 : Cahaya yang Pulih

    Pagi pertama di rumah setelah masa perawatan terasa begitu lembut dan berharga, bagai embun pagi yang menyejukkan dedaunan yang sempat layu. Cahaya terbangun perlahan, menyadari tempat tidurnya yang empuk dan wangi yang dikenalnya, mendengar suara burung berkicau di luar jendela yang terbuka sedikit. Ia bergerak sedikit, menyadari tubuhnya masih terasa ringkih, namun ada kekuatan baru yang perlahan mengalir kembali—bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan ketenangan hati yang mendalam, seakan jiwanya telah disegarkan kembali oleh doa-doa yang tulus dari sekian banyak orang. Lusty yang duduk di tepi tempat tidur sejak fajar menyingsing segera mengusap rambut putrinya dengan senyum yang lembut namun tak bisa menyembunyikan rasa syukur yang meluap-luap.“Sudah bangun, sayang?” bisiknya pelan, mencium kening Cahaya. “Bagaimana perasaannya pagi ini?”Cahaya tersenyum, menarik napas dalam-dalam dan mengangguk perlahan. “Lebih baik, Ibu. Tubuhku masih terasa lelah, tapi hatiku terasa ringan s

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 159 : Cahaya di Balik Jendela

    Angin sore yang biasanya lembut menyapa halaman rumah itu kini terasa dingin dan menyentuh tulang. Cahaya pulang dengan wajah pucat, kakinya yang biasanya melangkah lincah kini tampak berat dan goyah. Tanpa banyak bicara, ia merangkul perutnya yang terasa nyeri tajam, lalu perlahan duduk di ambang pintu, napasnya terdengar pendek dan terengah. Lusty yang sedang menyiram bunga langsung berhenti, hatinya berdebar kencang melihat perubahan wajah putrinya yang begitu mendadak. Ia segera mendekat, memeluk tubuh kecil itu yang terasa panas dan lemas di pelukannya.“Cahaya… Nak, ada apa? Katakan pada Ibu, bagian mana yang terasa sakit?” tanyanya dengan suara bergetar namun berusaha tetap tenang.Cahaya mengangkat wajahnya yang berkeringat dingin, matanya yang biasanya berbinar kini tampak sayu dan berkaca-kaca. “Perutku, Ibu… sakit sekali. Badanku terasa panas, dan aku tidak kuat berdiri.”Raman yang baru pulang segera melangkah cepat mendekat. Melihat keadaan putrinya, wajahnya yang biasany

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 158 : Ujian yang Menguatkan Akar

    Kedamaian yang telah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun memang sungguh nyata, namun Lusty dan Raman tahu betul: tidak ada kedamaian yang tidak pernah diuji. Mereka tidak mengajarkan kepada Cahaya bahwa hidup ini selalu mudah atau bahwa setiap orang akan selalu menyambutnya dengan senyum—sebaliknya, mereka mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak terlihat saat segala sesuatu berjalan lancar, melainkan saat badai datang menerpa dan hati tetap teguh memilih jalan yang benar. Cahaya kini telah tumbuh menjadi anak yang berusia tujuh tahun, cerdas, lembut, dan pemberani, namun ia belum pernah menghadapi cobaan yang benar-benar berat. Itulah sebabnya ketika ujian itu akhirnya tiba, ia menyapa dengan perasaan bercampur antara kecewa, bingung, dan sedih—sebuah perasaan yang sama persis dengan yang pernah dirasakan ibunya bertahun-tahun silam.Segalanya bermula dari hal yang tampak sederhana. Di lingkungan yang kini hidup damai, tiba-tiba muncul kesalahpahaman yang menyebar perlah

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 157 : Warisan yang Tak Terhapus Waktu

    Tahun berganti, dan jejak kebaikan yang ditanam dengan kesabaran kian terlihat mekar di mana-mana. Cahaya kini telah tumbuh menjadi anak yang cerdas, lembut hatinya, dan ramah kepada siapa saja tanpa membeda-bedakan. Ia tidak pernah memandang seseorang dari pakaian yang dikenakan atau kedudukan yang dimiliki; baginya, setiap orang layak disapa dengan tulus dan dihormati dengan sepenuh hati. Lusty dan Raman menyadari bahwa masa-masa pertumbuhan putri mereka ini bukan sekadar masa mengenal huruf dan angka—ini adalah masa di mana karakter dirangkai perlahan, dengan benang kasih sayang, keteladanan, dan kebijaksanaan yang tak lelah diwariskan dari para pendahulunya. Setiap sore, sebelum istirahat, mereka duduk bersama dan bercerita—bukan kisah yang penuh kemegahan atau kemenangan yang memukau, melainkan kisah tentang hati yang tetap teguh di tengah badai, tentang pengampunan yang menyejukkan, dan tentang kebaikan yang tumbuh walau di tempat yang tampaknya tak subur.Suatu sore yang cerah,

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 156 : Cahaya yang Tidak Pernah Padam

    Waktu terus mengalir lembut bagai sungai yang tenang, membawa serta perubahan yang perlahan namun pasti mengukir wajah kehidupan di sekeliling mereka. Cahaya kini telah tumbuh menjadi anak yang lincah dan cerdas, matanya yang jernih selalu memancarkan rasa ingin tahu yang tak habis-habisnya, dan senyumnya yang tulus mampu melunakkan hati siapa saja yang berpapasan dengannya. Ia tidak tumbuh dalam keterasingan atau ketakutan; sebaliknya, ia dikelilingi oleh kasih sayang yang begitu luas, hingga ia belajar mencintai dunia tanpa keraguan, mempercayai orang lain tanpa prasangka, dan berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan. Lusty dan Raman menyadari bahwa tugas mereka kini bukan sekadar merawat tubuh putri mereka agar sehat dan kuat—mereka harus menanamkan di dalam hatinya pemahaman yang mendalam: bahwa kedamaian yang ia nikmati setiap hari bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan buah dari perjuangan, kesabaran, dan ketulusan hati banyak orang yang mendahuluinya.Suatu pagi yan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status