分享

Bab 3 : Kencan Pertama

作者: Minerva
last update publish date: 2026-06-29 09:40:06

“Kamu udah pernah cium cewek atau belum sih?” Lusty menatap Raman dengan sedikit gemas. Ia sudah menyodorkan bibirnya sedari tadi di dalam keheningan bilik yang sempit itu, namun Raman malah mematung bagai kehilangan seluruh sendi di tubuhnya.

“Saya belum pernah….” Perkataan Raman terpotong ketika Lusty dengan agresif menarik kerah kemeja baru pria itu, memaksa jarak di antara mereka terkikis habis hingga bibir mereka menempel. Kulit Raman terasa hangat oleh keringat dingin yang mendadak bercucuran, namun bibir pria itu malah gemetaran karena saking gugupnya menghadapi pesona sang atasan.

Lusty melepaskan tautan mereka sejenak, memberikan jeda agar pasokan oksigen kembali memenuhi rongga dada mereka yang berhimpitan. Napasnya sendiri sudah sedikit memburu, ada letup adrenalin yang tak biasa ia rasakan selama ini. “Aku juga belum pernah mencium cowok, karena itu ayo kita coba kayak di film romantis itu….”

Lusty meraih kedua tangan kekar Raman yang kasar akibat kerja keras sehari-hari, lalu mengarahkannya ke pinggangnya agar memeluknya erat. Namun, tepat ketika jemari Raman mulai merasakan kelembutan pinggang Lusty, suara langkah kaki terdengar mendekat dari area luar. Seseorang melangkah masuk ke bilik lain tepat di sebelah bilik mereka, diikuti suara gantungan baju besi yang digeser kasar pada tiangnya.

“Shhh… kita lanjut tanpa suara ya?” bisik Lusty dengan tatapan mata yang tampak penuh gairah di balik kacamatanya. “Aku pengen disentuh kamu.”

“Non… jangan nanti ketahuan,” potong Raman panik, suaranya nyaris berupa hembusan angin. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup keluarganya, serta taruhan harga dirinya, seketika membuat akal sehat Raman kembali tegak. Raman dengan lembut namun tegas melepaskan tangan Lusty dari tubuhnya, lalu melangkah mundur setengah jengkal sembari berusaha merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

Lusty menghela napas panjang, mencoba meredakan debaran gila di dadanya yang berkejaran, lalu menuruti kata-kata Raman. Ia kembali memakai kacamatanya yang sempat agak turun dan merapikan blus kerjanya yang sempat sedikit bergeser akibat rengkuhan singkat tadi. Namun, saat ia berbalik dalam ruang yang begitu sempit untuk mengambil tasnya, tanpa sengaja punggung tangan Lusty menyentuh gundukan kejantanan Raman di celana pria itu.

Lusty menambahkan senyuman menggoda yang sangat menawan, menatap Raman dari balik bingkai kacamatanya. “Hayo, kamu sebenarnya pengen kan? Tuh celanamu tegang.”

Wajah Raman seketika memerah padam hingga ke ceruk lehernya. Jantungnya seolah mau melompat keluar karena tertangkap basah. “Ya, saya kan laki-laki normal, Non,” Raman berbisik, berusaha merendahkan suaranya seminimal mungkin agar tidak memicu kecurigaan orang di bilik sebelah.

Lusty tidak berkata apa-apa lagi. Dengan gerakan anggun yang kembali tenang, ia memutar selot kunci dan membuka pintu bilik. Begitu melangkah keluar ke area toko yang terang benderang, ia seketika kembali ke tampilan formalnya yang dingin, kaku, dan berwibawa. Ia berjalan tegak, berpura-pura seolah tidak terjadi apa pun di dalam bilik itu.

Setelah membayar baju dan celana baru tersebut di kasir menggunakan kartu kredit miliknya, Lusty membawa Raman pergi menuju sebuah restoran mewah bergaya fine dining di lantai teratas mall tersebut. Malam itu, Lusty benar-benar menepis jauh-jauh status sosial yang membentang lebar di antara mereka. Ia mengajak Raman makan malam ke restoran mewah tanpa khawatir ada orang kantor, relasi bisnis, ataupun kolega kelas atasnya yang melihatnya. Bagi Lusty, ketulusan dan perhatian tulus yang terpancar dari mata Raman jauh lebih menenangkan jiwanya yang kesepian daripada menghadiri ratusan penandatanganan kontrak bisnis yang penuh kepalsuan.

Di atas meja bertaplak putih bersih itu, Raman tampak kikuk memegang garpu dan pisau perak, sementara Lusty dengan sabar mengajarinya tanpa sedikit pun nada mengejek. Raman merasa dihargai sebagai seorang manusia, bukan sekadar buruh pembersih lantai yang kehadirannya sering kali dianggap tidak terlihat oleh orang lain.

Namun, kebahagiaan malam itu ternyata diawasi oleh sepasang mata yang penuh intrik. Tanpa mereka sadari, seorang manajer restoran yang mengenali Lusty sebagai CEO Mona Beauty Group diam-diam mengambil ponselnya, lalu mengabarkan kencan mereka ke keluarga besar Lusty lengkap dengan beberapa lampiran foto.

Kabar mengenai sang CEO wanita yang berjalan mesra dan makan malam bersama seorang cleaning service di mall mewah ternyata sempat difoto secara diam-diam oleh salah satu informan kantor juga, membuat desas-desus itu berlipat ganda dan beritanya langsung sampai ke telinga keluarga besar Lusty malam itu juga. Berita miring dan memalukan itu menyebar secepat kilat di kalangan petinggi perusahaan, memicu gunjingan masif yang merusak citra profesionalitas Lusty.

Selesai makan malam, Lusty mengantarkan Raman pulang ke indekosnya. Mobil mewah Lusty untuk pertama kalinya masuk ke gang sempit di perumahan kumuh di pinggir kota. Sontak perhatian penghuni indekos tersita ke arah mobil mewah itu.

“Terima kasih ya Non, menu makan malamnya lezat. Saya biasanya makan malam hanya nasi goreng atau mie goreng,” ujar Raman dengan wajah tersipu. “Terima kasih juga bajunya, entah bagaimana saya harus membalasnya….”

Lusty segera memotong. “Shhh, kamu itu sudah banyak membantu saya, jadi pemberian itu sudah layak kamu terima.”

“Terima kasih, Non. Hati-hati di jalan.” Raman masih mematung ketika Lusty melambaikan tangan dan menyetir mobilnya keluar dari gang indekos yang sempit itu.

Pertemuan mereka membuat buah bibir para penghuni indekos, ada yang bersiul-siul ketika melihat kecantikan Lusty, ada yang mengacungkan jempol ke arah Raman sebagai tanda selamat karena mendapatkan cewek secantik Lusty.

Namun, tanpa mereka sadari, sebuah sepeda motor membuntuti mereka sejak dari restoran. “Kurang ajar si Raman itu, berani-beraninya merayu Bos Lusty.” Suara jengkel terdengar dari dalam helm yang dipakai orang yang membuntuti itu. “Untung mereka gak ke hotel. Kalau sampai mereka cek in berdua di kamar hotel, maka habislah si Raman itu kita gerebek!”

“Kita hajar saja si Raman itu sekarang bagaimana?” ujar pengendara motor satunya.

“Kamu gak lihat penghuni indekos yang lain mendukung Raman? Kalau kita hajar sekarang si Raman itu, kamu mau dikeroyok warga sekitar?”

“Oh, kalau gitu, ya kita tunggu sampai si Raman itu sendirian ya?”

Suara menggerutu mereka terdengar bersama raungan sepeda motor ketika menggelinding pergi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Fadilah Rahman
sangat keren ceritanya
查看全部評論

最新章節

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 71 : Rekaman Suara Intim

    “Raman… tolong pegang aku erat.” Lusty berbisik pelan begitu pintu apartemen tertutup rapat. Sepulang dari kantor, tubuhnya terasa lelah bukan hanya karena tumpukan pekerjaan, melainkan karena beban ketegangan yang selama ini dipendam perlahan mencari jalan keluar. Ia menatap suaminya dengan mata yang berbinar penuh keinginan sekaligus kerinduan mendalam.Raman menutup pintu dan menguncinya, lalu berbalik menghadap istrinya dengan senyum lembut yang menenangkan. “Aku selalu di sini, Sayang. Apa pun yang kamu butuhkan, aku akan penuhi.”Tanpa banyak bicara lagi, Lusty menarik tangan Raman menuju kamar tidur yang luas dan tenang. Begitu masuk, ia berhenti sejenak di hadapan pria yang telah menjadi pelindungnya selama ini. Dengan napas yang sedikit memburu namun penuh keyakinan, ia perlahan membuka pakaiannya satu per satu hingga tubuhnya tampak utuh tanpa penutup di hadapan suaminya. Tidak ada rasa malu, hanya rasa percaya mutlak bahwa tubuh dan jiwanya kini milik orang yang tepat.Rama

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 70 : Masa Tenang

    “Lihatlah, Sayang. Tanah ini luas sekali, tanahnya subur, dan dikelilingi pepohonan rindang.” Lusty berjalan beriringan dengan Raman di atas hamparan tanah yang baru saja mereka beli. Rumput liar masih tumbuh tinggi di beberapa bagian, dan bangunan tua bekas kebun buah tampak terbengkalai di sudut timur. Namun bagi Lusty, tempat ini terasa seperti surga yang menunggu untuk dihuni.“Lokasinya juga sangat strategis,” tambah Lusty sambil menunjuk ke arah jalan utama. “Hanya sekitar sepuluh menit berkendara ke kantor pusat. Jadi nanti kita tidak perlu terjebak macet berjam-jam setiap hari.”Raman mengangguk setuju, matanya menatap sekeliling dengan penuh bayangan. “Saya bisa membangunkan kebun sayur di sana, dan kolam ikan di dekat sumber air itu. Nanti rumahnya kita bangun menghadap ke timur, supaya pagi hari kita disambut sinar matahari yang hangat.”“Tentu saja,” jawab Lusty tersenyum lebar. “Aku ingin rumah ini dibangun dengan keinginan kita berdua, bukan menurut selera orang lain. Ru

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 69 : Memutus Aliran Dana Arga

    “Pak Bram, tolong dengarkan saya. Teror ini tidak berhenti hanya karena Arga berada di balik jeruji. Dia masih punya cara untuk menggerakkan orang lain dari dalam sel.” Lula berdiri tegak di ruang kerja Iptu Bram, matanya menatap tajam namun penuh kesungguhan. Ia baru saja membaca pesan mendesak dari Raman, dan kini ia tidak bisa lagi hanya meminta pengamanan pasif—ia harus memutus akar kekuatan yang membiayai semua kejahatan itu.Iptu Bram meletakkan berkas di tangannya, mengangguk pelan menyadari kebenaran kata-kata itu. “Kamu benar, Lula. Seringkali teror berlanjut karena aliran dana tidak terputus. Kami akan segera memerintahkan tim kejahatan siber untuk melacak seluruh aset dan rekening atas nama Arga, termasuk yang disembunyikan atas nama orang lain.”Siang itu juga, tim Cyber Crime bekerja tanpa henti. Mereka menelusuri jejak keuangan selama beberapa tahun terakhir, menelusuri setiap aliran dana yang masuk dan keluar. Awalnya tampak seperti transaksi bisnis biasa, namun setelah

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 68 : Kebohongan Demi Keselamatan

    “Raman? Kamu sudah bangun sejak kapan?” Lusty membuka mata perlahan, melihat suaminya berdiri di tepi tempat tidur sambil menahan nampan berisi makanan. Udara kamar terasa harum aroma bawang dan telur yang baru matang.“Baru sebentar, Sayang. Aku sudah menyiapkan sarapan sederhana untuk kita,” jawab Raman lembut, menyembunyikan kegelisahan di matanya. Ia sengaja memposisikan tubuhnya menutupi pandangan Lusty ke arah ruang tamu, di mana kaca jendela retak dan gorden tertutup rapat menutupi lubang peluru.Ia meletakkan nampan di atas meja lipat di tengah kasur. Isinya nasi goreng hangat, dua butir telur mata sapi, irisan timun, dan dua cangkir teh manis hangat.“Wah, ini kesukaanku sekali,” puji Lusty sambil duduk bersandar di kepala tempat tidur. Matanya menyapu wajah suaminya sekilas, lalu dahinya sedikit berkerut. “Tapi kamu terlihat berbeda pagi ini. Biasanya kamu tersenyum lebih lebar. Ada apa yang mengganggu pikiranmu?”Raman menyendok nasi pelan, berusaha terlihat santai. “Tidak

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 67 : Ancaman Sniper

    “Kalian berdua pasti sudah sangat kelelahan. Pulanglah ke apartemenmu dan istirahatlah dengan tenang,” kata Lula sambil memapah bahu kakaknya menuju pintu depan rumah. “Di sini aku dan Papa yang akan menjaga Mama sepenuhnya.”Lusty menatap adiknya ragu sejenak, lalu menoleh ke arah ibunya yang tersenyum lemah dari kursi ruang tengah. “Kamu yakin bisa menjaga Mama sendirian? Aku lebih baik tidur di sini saja.”“Tenang saja, Kak. Aku sudah meminta Pak Bram untuk menempatkan pengamanan diam-diam di sekitar rumah ini, kantor, dan juga di apartemenmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Lula meyakinkan. “Kalian butuh waktu berdua, jauh dari kesibukan dan kekhawatiran sementara waktu.”Mendengar itu, Raman pun mengangguk pelan. “Lula benar, Sayang. Kita istirahat dulu sebentar, nanti sore kita kembali lagi ke sini.”Akhirnya Lusty menyetujui. Perjalanan menuju apartemen berlangsung hening, namun hatinya terasa ringan. Sesampainya di ruangan yang tenang itu, Lusty berdiri sejenak di t

  • Nikahi Aku Mas Cleaning Service!   Bab 66 : Menyimpan Rahasia

    “Ancaman dari Arga?” Mahendra mundur selangkah, matanya membelalak tak percaya. “Dia masih berani mengirim ancaman bahkan dari balik penjara?”Lula segera menggenggam lengan ayahnya, berusaha menenangkan dengan nada lembut namun tegas. “Tenang dulu, Pa. Hanya pesan ancaman biasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Aku meminta pengamanan tambahan hanya untuk berjaga-jaga, supaya kita semua bisa beraktivitas dengan tenang tanpa rasa cemas.”Ia sengaja menyembunyikan detail mengerikan soal penembakan, bom, dan pembunuh bayaran. Ia tahu kondisi kesehatan ayahnya yang kadang naik tensinya jika mendengar berita yang terlalu mengejutkan atau menakutkan. “Percayalah pada Lula. Polisi sudah tahu semuanya dan sedang menangani. Papa tidak perlu memikirkannya lebih jauh.”Mahendra menghela napas panjang, meski masih terlihat ragu, namun ia mengangguk perlahan. “Baiklah… asal semuanya aman. Tapi jangan pernah menyembunyikan hal penting lagi dari Papa, ya.”“Tentu saja, Pa,” jawab Lula

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status