MasukAlika terpaksa bersanding dengan pewaris konglomerat yang bernama, Arkana lewat pernikahan kontrak satu tahun demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, padahal hati pria itu utuh milik cinta pertamanya, Nadia dan tak pernah memandang Alika sebagai istri sungguhan. Di penghujung perjanjian, Alika memberanikan diri meminta satu malam kebersamaan sebagai hak terakhirnya, lalu pergi tanpa menoleh saat status mereka resmi berakhir. Belum jauh melangkah, Alika menyadari dirinya mengandung darah daging Arkana dan memilih menyembunyikan rahasia itu demi melindungi anaknya, didukung penuh oleh sahabat setianya, Satria. Tiga tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali saat Alika bekerja sebagai sekretaris pribadi di bawah pimpinan Arkana, hingga benih cinta yang sempat disembunyikan perlahan mengungkap kebenaran yang mengguncang segalanya.
Lihat lebih banyakLampu utama kamar itu dimatikan, menyisakan cahaya lembut dari lampu tidur berwarna keemasan yang menciptakan bayang-bayang lunak di setiap sudut ruangan. Suasana yang biasanya terasa dingin dan kaku, malam ini berubah menjadi hangat dengan keheningan yang menyimpan ribuan perasaan yang tak terucapkan. Arkana berdiri diam beberapa langkah di hadapan Alika, napasnya terlihat tak beraturan—sesuatu yang jarang sekali terjadi pada pria yang selalu tenang dan terkendali itu. Matanya menatap wanita di depannya lekat-lekat, ada sorot keraguan, ketakutan, namun juga keinginan mendalam yang tak bisa lagi ia sembunyikan di balik topeng ketidakpeduliannya. "Kamu yakin benar-benar mau melangkah sejauh ini?" tanyanya sekali lagi, suaranya terdengar parau dan berat, pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Alika. "Sekali kita melangkah ke depan, tak ada jalan kembali. Besok pagi kita tetap akan berangkat ke kantor catatan sipil. Kamu paham kan konsekuensinya? Jangan samp
Malam itu hening mencekam, sunyi sepi menyelimuti setiap sudut rumah mewah yang selama satu tahun ini menjadi tempat tinggal mereka. Angin malam berhembus pelan menerpa jendela kaca, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Suara detak jarum jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring, seolah berirama mengikuti detak jantung Alika yang berpacu tak karuan. Besok pagi, tepat setelah matahari terbit, mereka akan berangkat ke kantor catatan sipil untuk meresmikan perpisahan. Satu tahun pernikahan kontrak itu akan berakhir, dan tak ada lagi ikatan yang menyatukan mereka. Alika berdiri terpaku di ambang pintu kaca menuju teras belakang. Matanya menatap punggung tegap pria yang berdiri membelakanginya di sana. Arkana berdiri diam menatap langit malam yang gelap tanpa bintang, bahunya yang biasanya tegap kini tampak kaku dan tegang seolah memikul beban berat yang tak terucapkan. Alika menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa keberan
Alika melipat baju terakhirnya dan menyusunnya rapi di dalam koper besar itu. Jari-jarinya bergerak perlahan, seolah setiap helai kain yang ia pegang menyimpan ribuan kenangan yang tak siap ia tinggalkan. Di atas meja rias, kalender dinding menatapnya polos—lingkaran merah yang ia buat tepat di tanggal jatuh tempo perjanjian mereka tinggal tiga hari lagi. Tepat satu tahun sejak hari ia melangkah masuk ke rumah ini dengan perasaan gugup dan takut. Satu tahun. Rasanya baru kemarin ia menandatangani perjanjian itu, dan sekarang... saatnya benar-benar berakhir. Hatinya terasa campur aduk. Ada rasa lega yang perlahan menyelinap, akhirnya ia bebas dari sandera janji dan tanggung jawab yang membebani. Namun di sela kelegaan itu, ada perih tajam yang menyusup ke dada, sesak yang tak bisa ia usir atau abaikan begitu saja. Terdengar suara langkah kaki berat mendekat dari lorong, berhenti tepat di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Alika me
Jam di dinding baru saja menunjukkan pukul sebelas malam. saat suara pintu depan terbuka terdengar memecah keheningan rumah besar itu. Arkana melangkah masuk dengan langkah berat, dasi sudah longgar tergantung di leher, kemejanya sedikit kusut, dan kantung matanya terlihat jelas menandakan kelelahan yang menumpuk seharian. Namun langkahnya seketika kaku saat melihat sosok yang sudah menunggunya di ruang tengah. Nadia duduk tegak di sofa utama, punggungnya lurus sempurna, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran sofa dengan ritme yang menunjukkan ketidaksabaran. Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya yang menatap ke arah Arkana memancarkan keinginan yang tak bisa dibendung. Seolah-olah rumah ini memang miliknya, dan wanita yang statusnya sah berdiri di samping Arkana hanyalah tamu tak diundang yang tinggal menunggu waktu kapan saja untuk pergi. "Kamu pulangnya lama banget sih?," tegur Nadia pelan namun tajam, lalu ia berdiri dan melangkah cepat menghampiri Arkana.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.