登入Esok harinya, Lusty dan Raman berkebun di halaman rumah baru mereka. “Mas, pegangkan gunting rantingnya sebentar ya, aku mau merapikan tanaman bunga mawar ini yang sudah mulai terlalu rimbun.” Suara Lusty terdengar begitu ceria dan renyah memecah keheningan pagi yang indah.Matahari baru saja naik perlahan, menyebarkan cahaya hangat yang menyentuh dedaunan yang masih membasahi embun segar. Selama satu minggu ke depan, seluruh kantor serta cabang Mona Beauty Group diliburkan sepenuhnya sebagai bentuk perayaan sekaligus waktu istirahat bagi seluruh karyawan setelah seluruh rangkaian acara pernikahan Lula berjalan lancar dan sukses besar. Momen berharga ini pun dimanfaatkan sepenuhnya oleh Raman dan Lusty untuk mempererat kebersamaan sekaligus merawat dan menyempurnakan rumah baru mereka yang kini menjadi tempat tinggal resmi yang mereka impikan bersama.“Baiklah, Sayang. Ini pegangannya. Hati-hati sekali ya, jangan sampai tergores duri mawarnya yang tajam itu,” ujar Raman lembut sambil
“Mas Raman ayo jawab… kenapa cairanmu kembali jadi sedikit begini?” tanya Lusty pelan, nada suaranya lembut namun menyiratkan sedikit kebingungan saat merasakan momen itu berakhir lebih cepat dari biasanya. “Rasanya… cairanmu tak sebanyak waktu pertama kali kita berhubungan badan.”Raman seketika menegang, rasa cemas menyergap hatinya seketika. Ia segera menarik napas panjang, berusaha menyusun kata-kata yang terdengar masuk akal sekaligus menutupi rasa bersalah yang membakar dadanya. Tangannya bergetar pelan saat membelai rambut istrinya dengan lembut, mencoba menenangkan keraguan yang baru saja muncul.“Maafkan aku, Sayang… mungkin ini karena aku terlalu lelah dan banyak pikiran belakangan ini,” ucapnya dengan nada tulus yang dipaksakan sebaik mungkin. “Bayangkan saja, beberapa hari ini kita sibuk membereskan segala sesuatu untuk pindah dari apartemen ke rumah baru yang jauh lebih besar ini. Belum lagi mengurus perlengkapan dan tata letak yang harus diperhatikan satu per satu. Belum
“Mas Raman… mari kita berbulan madu lagi di rumah baru kita ini…” bisik Lusty lembut, suaranya bergetar pelan saat ia menutup pintu kamar utama rumah baru mereka rapat-rapat. Udara di dalam ruangan masih terasa hangat, seolah masih membawa sisa-sisa sukacita dari pesta pernikahan Lula yang baru saja usai meriah. Adiknya kini sudah berangkat menempuh perjalanan bulan madu ke luar negeri bersama suaminya, dan kini waktu sepenuhnya menjadi milik mereka berdua kembali. Cahaya lampu tidur yang temaram menyinari wajah mereka yang masih tampak berseri namun juga lelah menyaksikan kebahagiaan kerabat terdekat itu.Raman segera merangkul pinggang ramping istrinya dengan erat, menariknya masuk ke dalam dekapan hangat yang tak pernah ia rasakan cukup lama. Ia mencium kening Lusty perlahan, penuh kasih sayang yang mendalam dan rasa syukur yang meluap. “Aku juga rindu sekali, Sayang… sungguh rindu sekali rasanya bisa memelukmu seperti ini lagi. Melihat Lula berbahagia hari ini… membuatku semakin s
“Mas, lihatlah… Lula tampak bak putri kerajaan yang baru saja bersanding dengan pangeran hatinya!” seru Lusty dengan mata berkaca-kaca penuh haru, tak berkedip sedikit pun menatap adiknya yang melangkah anggun menuju pelaminan dengan gaun putih berhias ribuan manik yang berkilau diterpa cahaya lampu gantung.Raman berdiri tegak di sampingnya, tersenyum tipis meski di balik senyum itu ada beban yang tak kunjung hilang. “Benar sekali, Sayang. Ia terlihat begitu cantik dan bahagia. Semoga kebahagiaan ini menyertai mereka berdua selamanya.”Pernikahan Lula sungguh meriah dan mewah tanpa cela. Gedung pertemuan yang luas dihiasi lautan bunga segar berwarna-warni, hiasan sutra yang menjuntai indah, serta alunan musik orkestra yang mengalun lembut menyambut ratusan tamu undangan yang hadir. Raman dan Lusty duduk di barisan paling depan keluarga inti, menyaksikan setiap detik sakral—mulai dari prosesi pengantin berjanji setia sehidup semati, hingga sesi ucapan selamat yang tak putus-putus berd
“Bu Ratna… maaf saya terlambat sedikit.” Fenina melangkah masuk ke ruang tamu rumah besar milik ibu Lusty yang kini tengah riuh rendah dengan tumpukan kain hiasan, daftar tamu, dan kerabat yang sibuk berdatangan untuk membantu persiapan pernikahan Lula. Ratna tampak duduk di sudut meja panjang, sibuk memeriksa daftar katering dan susunan tempat duduk dengan wajah yang terlihat lelah namun tetap tegas dan berwibawa. Ia segera menoleh saat mendengar suara Fenina, lalu memberi isyarat tangan agar gadis itu duduk di kursi yang agak tersudut—menjauh dari keramaian agar percakapan mereka tak terdengar oleh siapa pun.“Duduklah, Fenina. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu datang di tengah kesibukan yang tak bertepi begini,” ujar Ratna singkat namun sopan, lalu meletakkan pena yang dipegangnya di atas tumpukan kertas. “Saya dengar kabar kalian baru saja pindah ke rumah baru kemarin. Bagaimana keadaan di sana? Apakah semuanya berjalan lancar, atau ada kendala yang menghambat?”“Sangat lanc
“Mas, kau sudah selesai menyusun lemari pakaian kita?” Suara Lusty terdengar lembut membelah riuh rendah suara orang yang mengangkut kotak-kotak besar ke dalam rumah baru mereka. Ia baru saja tiba dari acara pertemuan keluarga dan pengecekan terakhir persiapan pernikahan adiknya, Lula. Matanya berbinar cerah menatap sekeliling ruangan yang perlahan mulai terisi oleh barang-barang milik mereka sendiri. Meski belum seratus persen tertata sempurna, suasana di dalamnya sudah terasa begitu hangat, penuh harapan, dan seolah menyambut masa depan yang indah yang telah lama mereka impikan bersama.Raman menoleh perlahan sambil tersenyum tipis, meski di balik senyum itu raut wajahnya tampak lelah luar biasa—bukan hanya karena pekerjaan memindahkan dan menyusun barang, melainkan juga karena beban batin yang selama ini ia pikul sendirian. “Sebentar lagi selesai, Sayang. Aku ingin memastikan semuanya tersusun rapi dan mudah dicari nanti. Jangan sampai ada barang penting yang tertinggal atau tercam







