LOGIN“Ah… Ohhh… ya begitu, Mas… rasanya begitu dalam…” Suara erangan Lusty terdengar dari alat rekaman penyadap. “Lakukanlah… isilah aku sepenuhnya… aku ingin segera cepat hamil, mengandung anakmu Raman…”“Ini salinan rekaman terbaru, Bu.” Fenina meletakkan perangkat perekam di atas meja kerja Ratna dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Wajahnya memerah padam hingga ke telinga, matanya menunduk tak berani menatap wajah ibu Ratna—ingatan akan suara-suara yang ia dengar semalam masih terasa jelas di telinganya, membuatnya merasa malu sekaligus canggung.Ratna tampak tenang mendengarkan rekaman penyadapan itu. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun rasa malu atau terkejut. Ia terus menekan tombol putar, mengulangi suara, dan seketika suara desahan, erangan, serta percakapan intim Lusty dan Raman kembali bergema di ruangan yang sunyi. Fenina menegang kaku di tempatnya, menahan napas seolah takut ikut terseret ke dalam suasana rekaman itu. Sementara Ratna hanya menyimak dengan tatapan tajam
“Mas… kamu sudah pulang juga?” Lusty menyambut Raman tepat di ambang pintu kamar tidur. Rambutnya masih basah meneteskan sisa air mandi, tubuhnya berdiri tanpa sehelai kain pun, menampakkan lekuk tubuh yang halus dan kulit yang memerah karena air hangat. Matanya menatap suaminya dengan kilat penuh kerinduan dan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.Raman tertegun sejenak, napasnya tertahan melihat keindahan istrinya yang terbuka lebar di hadapannya. Ia segera menutup pintu rapat, lalu melangkah mendekat sambil meletakkan tas kerjanya di lantai. “Sayang… kamu cantik sekali. Tapi kenapa tidak pakai handuk dulu? Nanti kamu kedinginan.”“Aku tidak butuh kain penutup di depanmu,” bisik Lusty lembut sambil melingkarkan lengannya di leher Raman, menariknya perlahan mendekat ke tepi kasur. “Aku ingin menjadi milikmu seutuhnya, tanpa ada yang menghalangi sedikit pun.”Ia mendorong pelan bahu Raman hingga pria itu berbaring di atas kasur empuk. Tanpa ragu lagi, Lusty mengangkat
“Kak… Apa yang akan aku katakan mungkin mengejutkanmu.” Lula duduk di hadapan Lusty di ruang kerja yang sunyi, tangannya saling meremas di atas paha. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.“Ibu ternyata menyewa unit apartemen tepat di sebelah apartemenmu dan Mas Raman. Bukan untuk pos keamanan seperti yang dikatakan pada Papa. Tujuannya sebenarnya adalah untuk memata-matai kalian berdua. Di sana sudah dipasang alat penyadap suara yang merekam setiap percakapan, suara, hingga desahan yang terdengar dari kamarmu.”Lula berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu meresap. “Alasannya, Ibu takut jika ada teror kembali, atau jika Mas Raman berubah sikap, berbicara kasar, bahkan berbuat kasar padamu. Beliau ingin tahu segalanya secara langsung tanpa perlu bertanya atau menunggu kalian bercerita.”Saat Lusty mendengar penjelasan itu, bukannya marah atau menangis, ia justru menutup mulutnya dengan tangan, lalu perlahan tawa kecil meledak dari bibirnya—tawa yang
“Maaf mengganggu, Bu. Saya ingin bertanya seputar data penyewa unit apartemen di lantai yang sama dengan kediaman Kakak saya.” Lula berdiri di meja resepsionis gedung apartemen, menyerahkan kartu identitas sekaligus surat keterangan keluarga yang sudah disiapkan. Petugas di balik meja mengetik beberapa saat di layar komputernya, lalu menatap Lula kembali.“Baik, Nona. Unit sebelah Nona Lusty baru saja disewa tiga hari lalu atas nama Fenina. Terdaftar sebagai staf pemasaran di Mona Beauty Group.”Lula mengangguk pelan, mencatat nama itu di dalam ingatannya. Terima kasih atas informasinya.Siang itu juga, Lula langsung menuju kantor pusat Mona Beauty Group. Ia berjalan lurus menuju lantai divisi pemasaran, bertanya kepada resepsionis di mana ruang kerja Fenina. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia sekitar dua puluh delapan tahun berjalan mendekat dengan wajah sedikit bingung. Ia mengenakan seragam kantor rapi, namun matanya tampak gelisah saat melihat Lula yang berdiri menunggunya.
“Ratna, coba lihat rincian pengeluaran bulan ini.” Mahendra meletakkan berkas laporan keuangan keluarga di atas meja ruang kerja, jarinya menunjuk satu baris angka yang mencolok. Wajahnya tenang namun matanya menatap tajam ke arah istrinya yang baru saja masuk membawa secangkir teh.“Ada biaya sewa apartemen di lantai yang sama dengan kediaman baru Lusty. Jauh lebih besar dari tarif biasa, dan tidak tercatat dalam laporan pengamanan resmi dari kepolisian. Untuk apa sewa ruangan itu?” tanyanya pelan namun tegas.Ratna sempat tertegun sejenak, tangannya yang meletakkan cangkir sedikit gemetar. Ia segera menyusun kata-kata dengan senyum yang dibuat-buat. “Oh, itu urusan keamanan, Mahendra. Aku sengaja menyewa tempat itu untuk menempatkan orang kepercayaan kita—petugas keamanan pribadi yang sudah terlatih. Siapa tahu teror dari Arga muncul lagi. Lebih baik kita berjaga lebih dekat, kan? Agar kalau ada apa-apa, mereka bisa langsung bertindak tanpa menunggu bantuan dari luar.”Mahendra meng
“Dari sepanjang rekaman penyadapan itu, ternyata Nona Lusty dan Raman baru pertama kali itu berhubungan badan.” Wanita dari perusahaan Mona Beauty Group itu memutar rekaman penyadapan.“Putar lagi rekaman itu. Dari awal, pelan-pelan.” Ratna duduk tegak di kursi kerja ruang tamu rumahnya, wajahnya tertutup bayangan lampu meja yang remang. Di hadapannya duduk seorang wanita berpenampilan sederhana namun mata tajam—mata-mata yang ia kirim diam-diam untuk menyewa apartemen tepat di sebelah kediaman baru Lusty. Wanita itu meletakkan perekam suara di atas meja, lalu menekan tombol putar kembali.Suara samar namun jelas terdengar dari alat itu: deru napas yang memburu, desahan halus, lalu suara laki-laki yang berbisik lembut namun terdengar tegas: “Ahhh Lusty sayang… ahhh Mas mau keluar juga nih…” Tak lama kemudian menyusul suara Lusty yang menjawab dengan nada penuh harap: “Mas… keluarkanlah di dalam… aku ingin…”Rekaman itu berhenti di situ. Ratna menatap layar perekam yang gelap, tanganny







