MasukPagi itu, atmosfer di lantai teratas gedung Mona Beauty Group terasa begitu menekan. Lusty Mona duduk di balik meja kerjanya dengan pandangan yang tidak fokus, mengabaikan tumpukan laporan riset produk terbaru yang biasanya menjadi prioritas utamanya. Ucapan sang ibu di telepon semalam masih terngiang-ngiang bagai kaset rusak yang berputar tanpa henti di kepalanya: “Umur kamu itu sudah tiga puluh tahun! ... Pokoknya minggu ini kamu harus luangkan waktu untuk bertemu dengannya. Jangan membantah lagi, Lusty!”
Lusty memijat pelipisnya yang berdenyut kaku. Tertekan oleh ucapan ibunya, ia merasa ruang kerjanya yang luas justru terasa makin menyempit dan menyesakkan. Di tengah kepenatan mental tersebut, pintu ruangannya diketuk perlahan. Ketukan yang ritmis dan sopan—sangat berbeda dengan ketukan terburu-buru para stafnya yang selalu membawa tumpukan masalah.
"Permisi, Nona Lusty," suara yang lembut itu menginterupsi lamunan Lusty. Raman Syah melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk penuh hormat, membawa nampan berisi secangkir kopi susu kesukaan Lusty. Penampilannya seperti biasa; seragam cleaning service-nya sangat bersih, rambutnya disisir rapi, dan senyum tulusnya tidak pernah absen dari wajahnya.
"Saya perhatikan dari tadi pagi Nona belum menyentuh sarapan. Ini saya buatkan kopi hitam dengan sedikit gula, seperti biasa," ujar Raman sembari meletakkan cangkir keramik itu dengan sangat hati-hati di sisi meja yang kosong.
Lusty menatap cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis itu, lalu beralih menatap Raman. Sebersit kehangatan perlahan mengikis rasa dingin di hatinya. Sejak semalam, setelah ia secara impulsif melontarkan pertanyaan tentang berpura-pura menjadi calon suami di area parkir, Lusty mulai menyadari sesuatu. Kehadiran Raman yang sederhana dan rajin ternyata telah menjadi bagian dari rutinitas kenyamanannya tanpa ia sadari.
Lusty mulai mengingat-ingat kembali momen-momen kecil yang lewat begitu saja selama ini. Raman adalah orang yang selalu ada saat ia membutuhkan bantuan kecil yang krusial. Ketika Lusty panik karena kunci mobilnya terselip di antara tumpukan dokumen, Raman yang dengan sabar mencarikannya sampai ketemu. Ketika kacamatanya terjatuh dan terselip di bawah sofa berat ruang tamu, Raman pula yang berlutut mencarinya tanpa mengeluh sedikit pun. Bahkan saat Lusty melewatkan jam makan siang karena rapat direksi yang alot, Raman sering kali berinisiatif mengambilkan makanan kotak dari kafetaria dan meletakkannya di meja dengan catatan kecil agar sang CEO tidak lupa menjaga kesehatan.
"Raman," panggil Lusty saat Raman hendak berbalik untuk melanjutkan pekerjaannya. “Gimana sudah siap menjawab pertanyaanku kemarin malam?”
"Ya, eh, tidak… bukan, maksud saya… saya belum tahu, Non." Raman menghentikan langkah, menatap Lusty dengan pandangan bertanya-tanya. “Saya perlu minta izin ke orang tua di kampung.”
Lusty menyandarkan punggungnya, menatap Raman dengan saksama. Muncul sebuah ide di kepalanya untuk mengenal pria itu lebih jauh, bukan hanya sebagai staf kebersihan, melainkan sebagai sosok yang mungkin bisa membantunya mendapat jawaban.
"Malam ini, kamu ada acara?" tanya Lusty mengalihkan topik.
Raman tampak terkejut, namun dengan cepat menggeleng. "Tidak ada, Nona. Setelah sif malam selesai, saya biasanya langsung pulang ke kosan."
"Bagus. Temani aku makan malam nanti," ucap Lusty dengan nada final khas seorang pemimpin.
Mata Raman membelalak. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan ragu. "M-makan malam? Bersama Nona Lusty? Tapi... Non, saya rasa tidak pantas. Status saya kan hanya..."
"Aku tidak menerima penolakan, Raman," potong Lusty sambil menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata. "Anggap saja ini perintah atasan. Kita makan di luar jam kantor."
Raman meremas kedua tangannya yang mendadak dingin. Rasa gugup menjalar di sekujur tubuhnya. "Bukan maksud saya menolak, Nona. Tapi... saya merasa tidak punya baju yang layak untuk pergi makan malam…." Akunya jujur dengan suara lirih, menatap seragam kerjanya dan membayangkan pakaian sehari-harinya yang sudah pudar.
Lusty tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang jarang diperlihatkannya pada orang lain. "Kalau itu masalahnya, kita selesaikan sekarang juga. Ikut aku."
Satu jam kemudian, Lusty sudah memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah mall di dekat kantornya. Raman berjalan di belakang Lusty dengan langkah canggung, merasa semua mata pengunjung mall mewah itu sedang tertuju pada penampilannya yang terlalu kontras berdampingan dengan sang CEO yang anggun.
Lusty membawa Raman langsung menuju sebuah boutique pakaian pria ternama. Deretan setelan jas, kemeja premium, dan celana kain berpotongan modern terpajang rapi di sana.
"Nona, tempat ini... sepertinya terlalu mahal untuk saya," bisik Raman cemas saat melihat label harga yang tertera di salah satu manekin.
"Tenang saja, ini gunakan kartu kreditku," sahut Lusty santai. Ia kemudian memanggil salah seorang pelayan toko dan mulai memilihkan beberapa pasang kemeja linen berkualitas tinggi dan celana chino yang kasual namun tetap memberikan kesan elegan. "Coba yang ini, ini, dan yang hitam ini."
Lusty menyerahkan tumpukan pakaian itu ke dada Raman, lalu menunjuk ke arah bilik pas di sudut toko. "Ayo masuk ke dalam fitting room. Aku ingin melihat bagaimana pakaian itu melekat di tubuhmu."
Raman hanya bisa mengangguk pasrah dan melangkah masuk ke dalam bilik yang dilapisi cermin besar di ketiga sisinya. Ia kaget ketika Lusty juga ikut masuk ke dalam bilik.
"Raman? Ada masalah? Kenapa seperti melihat hantu?" tanya Lusty dari belakang Raman.
Wajah Raman tampak memerah. "Maaf, Nona Lusty... apa tidak apa-apa kita berduaan di dalam bilik?"
“Ah, kau ini pemalu banget sih.” Lusty tersenyum kecil. Tanpa ragu, ia menutup pintunya dan mengunci dari dalam.
Raman tersentak, memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur dinding cermin yang dingin. Ruangan fitting room itu mendadak terasa begitu sempit dan sesak. Aroma parfum lavender yang elegan milik Lusty langsung menguasai indra penciuman Raman.
"Diamlah, biar aku bantu," ucap Lusty dengan suara rendah.
Lusty melangkah mendekat. Jantung Raman berdegup sangat kencang, bagai genderang yang bertalu-talu di dadanya. Ia benar-benar grogi ketika Lusty mulai memasang bajunya, jemari lentik sang CEO yang bersih meraba kerah kemejanya dan dengan telaten membetulkan kancing-kancing yang salah masuk lubang.
Napas Lusty yang hangat menerpa permukaan kulit leher Raman, membuat bulu kuduk pemuda dua puluh lima tahun itu meremang. Posisi mereka berada sedekat itu; Raman bisa melihat dengan jelas bulu mata Lusty di balik kacamatanya, serta bibir ranum sang atasan ketika Lusty bergerak perlahan membetulkan lipatan kain di dadanya.
Setelah kancing terakhir selesai, Lusty tidak langsung mundur. Ia justru mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Raman yang bergetar hebat penuh ketakutan sekaligus kekaguman. Keheningan yang intens mendadak mengunci mereka berdua di dalam bilik pas yang sunyi itu.
Lusty perlahan melepaskan kacamatanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bertumpu di dada bidang Raman, merasakan detak jantung pria itu yang berdebar. Lusty sedikit berjinjit, memiringkan kepalanya perlahan, mengundang sebuah gestur yang sangat jelas untuk menciumnya di tengah keintiman itu.
Raman hanya membeku di tempatnya, matanya membelalak kecil dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Kelaki-lakiannya menegang. Ia sama sekali tak tahu apa yang harus dilakukan—apakah harus menyambut bibir merah sang CEO yang kian mendekat? Atau justru mendorongnya dengan sopan demi menjaga batasan status mereka?
Potongan kawat tembaga kecil tersimpan rapi di dalam kotak kaca kecil, diletakkan di lemari tertutup ruang kerja Lusty—bukan sebagai bukti yang bisa langsung dipamerkan dan memenangkan pertikaian, melainkan sebagai penanda diam yang tak bisa dibantah, pengingat bahwa ada kejahatan yang berusaha dikubur paksa namun belum bisa musnah sepenuhnya. Rumah kembali tenang secara lahiriah, namun setiap orang yang tinggal di dalamnya kini melangkah dengan kewaspadaan yang lebih tajam, hati yang lebih bersatu, dan tekad yang terjalin erat tanpa perlu banyak bicara.***Pagi itu udara terasa segar, namun ada ketegangan samar yang menyelimuti. Lusty mengumpulkan Raman, Dedi, dan Sari di meja makan, tempat yang dulu menjadi pusat kehangatan yang kini teruji oleh pengkhianatan dan ancaman. Cangkir teh hangat tersaji di hadapan mereka, namun tak ada yang segera menyentuhnya. Dedi menundukkan pandangan, tangan saling menggenggam erat di pangkuan, sementara Sari sesekali mengusap sudut mata yang basah—
Mobil petugas PLN yang membawa serta segala alat bukti itu baru saja menghilang di tikungan jalan, namun pandangan Lusty masih terpaku lama pada gerbang yang kini tertutup kembali seolah tak ada apa-apa yang baru saja terjadi. Angin sore yang berhembus pelan tak mampu meredakan rasa sesak yang menyelinap di dadanya. Di sampingnya, Raman berdiri diam memegang selembar surat pemeriksaan resmi yang terasa begitu ringan di jari-jarinya, namun menyimpan beban makna yang jauh lebih berat daripada sekadar lembaran kertas bertanda tangan dan cap basah itu.“Mereka datang terlalu cepat, Mas,” ujar Lusty pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara desiran angin, memecah keheningan yang mencekam. “Seolah-olah mereka sudah tahu persis apa yang harus dicari, di mana letaknya, dan bahkan tahu kapan waktu yang paling tepat untuk datang—tepat setelah Dedi dan Sari mengaku jujur pada kita.”Raman mengangguk perlahan, tangannya meremas kertas itu erat hingga pinggirannya sedikit berkerut. “Bukan han
Tak sampai satu jam berlalu setelah percakapan itu berakhir, sebuah mobil dinas resmi yang bertuliskan logo besar Perusahaan Listrik Negara berhenti tepat di depan gerbang rumah baru Lusty dan Raman. Dua orang pria berpakaian seragam lengkap dengan perlengkapan kerja turun dengan wajah serius dan terlatih. Raman yang kebetulan sedang merapikan tanaman di halaman depan segera menyambut mereka dengan sopan.“Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu aktivitas Bapak sekeluarga,” ucap salah satu petugas yang tampak lebih senior dengan nada bicara yang resmi dan terukur. “Kami dari kantor pelayanan PLN wilayah setempat. Tadi pagi sistem pemantauan jaringan kami mendeteksi adanya gangguan arus listrik yang tidak wajar dan mencurigakan yang berasal dari alamat rumah ini. Kami diperintahkan untuk datang memeriksa instalasi kabel serta membersihkan perangkat apa pun yang mungkin terpasang secara tidak sah dan mengganggu jalannya aliran listrik utama.”Lusty yang mendengar percakapan itu dari dalam r
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup rapat dan terkunci, senyum kepura-puraan Fenina yang tadi ia pertahankan sekuat tenaga seketika luruh berganti kekhawatiran yang nyata dan mencekam. Kakinya terasa lemas seketika, membuatnya terpaksa duduk di tepi meja kerja sambil meremas kedua tangannya yang dingin dan berkeringat dingin. Ia tahu betul bahwa meski tadi ia berhasil membela diri dengan lihai di hadapan Lusty, namun ancaman sebenarnya belum hilang—bahkan justru semakin mendekat. Jika Lusty atau Raman memeriksa setiap sudut rumah itu dan menemukan alat penyadap yang terpasang, tak ada lagi alasan yang bisa ia gunakan untuk menutupi segalanya. Jejak itu akan langsung menunjuk padanya, dan yang lebih mengerikan, akan menyeret nama Ibu Ratna yang merupakan dalang sesungguhnya di balik semua rencana ini.Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor yang selama ini ia hubungi dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan yang mendalam. Hening sejenak te
Langkah kaki Lusty terdengar tenang namun mantap menyusuri lorong kantor pemasaran Mona Beauty Group yang sibuk pagi itu. Di tangannya tak ada niat kasar, hanya keteguhan hati yang dibawa setelah mendengar seluruh pengakuan jujur dari Dedi dan Sari semalam. Ia tidak datang untuk memaki atau meledakkan amarah, melainkan untuk meluruskan segala hal yang selama ini tersembunyi di balik senyum manis Fenina.Saat pintu ruang kerja Fenina terbuka, wanita itu tampak terkejut sejenak namun segera mengubah raut wajahnya menjadi senyum ramah yang biasa ia perlihatkan. “Kak Lusty? Ada apa Kakak datang ke sini tanpa kabar dulu? Silakan duduk.”Lusty duduk dengan tenang, menatap lekat wajah gadis itu. “Aku ingin bicara secara pribadi dan serius, Fenina. Tentang Dedi dan Sari.”Senyum Fenina perlahan memudar, digantikan oleh raut bingung yang dibuat-buat. “Mereka? Ada apa dengan mereka? Apakah mereka berbuat kesalahan yang besar?”“Mereka baru saja menceritakan segalanya padaku,” ujar Lusty tegas n
“Dedi… aku khawatir.” Sari duduk di tepi tempat tidur kamar kecil mereka, tangannya meremas ujung kain sarung dengan gelisah yang tak kunjung mereda. Malam itu suasana di dalam rumah begitu sunyi senyap, hanya terdengar suara jangkrik dari pekarangan luar dan napas teratur Dedi yang tampak sedang bergumul hebat dengan pikirannya sendiri. Beberapa hari terakhir, perasaan tidak tenang itu semakin menjadi-jadi, seolah ada batu besar yang terus menekan ulu hati. Setiap kali Lusty atau Raman memuji pekerjaan yang mereka kerjakan dengan rapi, setiap kali mereka berbagi makanan atau sekadar bertanya kabar orang tua dan adik-adik di kampung, rasa bersalah itu semakin berat menghimpit dada.“Aku juga merasakannya, Sar. Bukan takut pada Kak Lusty atau Mas Raman… tapi takut pada kebohongan yang terus kita sembunyikan di antara kita,” jawab Dedi pelan, matanya menatap lurus ke arah dinding kamar yang temaram. “Mereka begitu tulus dan terbuka menerima kita apa adanya. Mereka memberi kita tempat ti







