LOGINRaya menarik napas dalam-dalam, menyadari kelegaannya barusan cuma bertahan dalam sekejap. Acara malam ini ternyata belum berakhir. Beberapa mata para kerabat masih mengawasi mereka penuh curiga, disusul dengusan tatapan sinis Sonia yang segera berbalik badan.
Selepas ketegangan maut di sudut dermaga tadi, para kerabat mulai terpecah ke dalam lingkaran-l
"Dua kardus minyak gorengnya mau ditaruh di mana, Bang?!" Teriakan melengking dari seorang kuli angkut berbadan tegap memecah keheningan lantai bawah ruko pagi itu, disusul suara benturan tumpukan karton mi instan yang diturunkan dari troli besi. Dua truk engkel pemasok barang parkir bersamaan di depan ruko, mengepung lantai bawah dengan atmosfer kerja yang riuh, bising, dan penuh debu tipis. Di tengah kekacauan itu, Adam berdiri tenang. Tangannya memegang clipboard kayu tebal dan pulpen, sementara tangan kirinya membenarkan posisi gendongan Cia yang sibuk mengucek mata ngantuknya. Raya yang baru turun dari lantai dua dengan sisa-sisa kekesalan karena insiden sereal tadi pagi, mematung di anak tangga terakhir. Matanya membelalak. Namun, melihat Adam yang mulai kerepotan mengecek nota sambil menenangkan Cia yang merengek, senyum jahil mendadak terbit di bibir Raya. Gadis itu melangkah maju dengan gaya anggun yang dibuat-buat, memutari eta
Pagi pertama kembali ke realita setelah acara menginap berkedok honeymoon di resort mewah keluarga Prasetya sama sekali tidak terasa romantis bagi Raya dan Adam. Lantai dua ruko tempat tinggal mereka masih diliputi keheningan total. Di lantai bawah, Adam baru saja menyelesaikan rutinitas lari paginya. Pria itu bergegas mandi untuk menyegarkan diri, menyeduh secangkir kopi hitam pekat tanpa gula, lalu meletakkannya di atas meja kasir.Sepuluh menit berlalu, tetapi tanda-tanda kehidupan dari lantai dua sana belum juga terdengar. Keheningan itu baru pecah saat suara cempreng Cia merengek membangunkan Raya. Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki yang diseret malas-malasan menyusuri tangga. Raya muncul dengan rambut sedikit berantakan, muka bantal yang kusut, d
Napas Raya tertahan di tenggorokan. Tubuhnya yang tadinya menegang kaku karena amarah kini membeku sempurna dalam pelukan Adam. Jarak yang terlampau dekat membuat aroma sabun mandi beraroma mint dan maskulin dari tubuh pria itu menguar tajam, bercampur dengan debar jantung yang bergemuruh di balik kaos hitam tipis yang dikenakannya. Belum sempat Raya mengangkat tangan untuk mendorong dada bidang itu, sebuah suara bariton yang rendah dan dingin berbisik tepat di dekat telinganya, mengirimkan sengatan asing yang menggelitik kulit lehernya."Diamlah sebentar. Mereka sedang memperhatikan kita," bisik Adam. Bersamaan dengan kalimat itu, tangan kanan Adam yang tadinya melingkar kencang di pinggang Raya perlahan naik, mulai mengusap punggung gadis itu dengan gera
Langkah kaki Raya tergesa menyusuri koridor pualam, mengabaikan tatapan beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya. Jantungnya masih berdegup liar akibat sisa ketegangan di ruang kerja Kakek Prasetya. Suara bantingan pintu Adam tadi masih bergeming di kepalanya, menuntut penjelasan atas sandiwara yang baru saja terkuak mentah-mentah tanpa sisa. Hingga akhirnya Raya menemukan pria itu berdiri di ujung koridor semi-terbuka yang menghadap langsung ke arah taman belakang resort. Adam tidak lagi mengenakan jas formalnya. Pria itu hanya memakai kaos oblong hitam berlengan pendek yang melekat pas di tubuh atletisnya, dipadukan dengan celana bahan santai. Lengan kaosnya yang sedikit tergulung memperlihatkan otot lengannya yang tegang, menunjukkan sisa-sisa amarah yang belum sepenuhnya reda dari kepalanya."Adam!" panggil Raya tajam, su
"Menurutmu kenapa Kakek manggil kita?" tanya Raya dengan suara setengah berbisik. Langkah kakinya berusaha sejajar dengan ritme tegap pria di sampingnya di sepanjang koridor privat vila utama. Adam melirik Raya sekilas. Rahangnya terkatup rapat, menciptakan garis tegas yang kaku di wajahnya. "Saya tidak punya kemampuan membaca pikiran orang lain," jawabnya datar. Pernyataan barusan membuat Raya bergidik. Nada bicara Adam memang terdengar lempeng seperti biasa, tetapi tatapan matanya menyiratkan ketegangan pekat yang belum pernah Raya lihat sebelumnya. Ada kewaspadaan defensif di balik pembawaannya yang dingin. Pria itu menekan gagang pintu kayu mahoni di hadapan mereka, lalu mendorongnya tanpa repot-repot mengetuk lebih dulu. Ruang kerja Kakek Prasetya terasa jauh
Udara pagi yang segar tidak mampu mencairkan suasana di meja panjang berkanopi putih itu. Beberapa keluarga besar Prasetya masih duduk di meja terpisah, berbincang dengan nada rendah yang sesekali mencuri pandang ke arah meja sudut tempat Raya duduk bersama Naira dan Jimmy. Raya mengenakan dress rajut putih gading untuk menutupi sisa pucat di wajahnya, mencoba mempertahankan postur anggun meski kepalanya masih agak berdenyut sisa masuk angin semalam."Duh, ponselku ketinggalan di kamar kayaknya," ucap Naira tiba-tiba, meraba tas kecilnya dengan gestur panik yang menggemaskan. Ia lalu berdiri sambil nyengir. "Kak Raya, Jimmy, sebentar ya! Aku mau cek ke atas dulu.” Tanpa menunggu jawaban, Naira sudah bergegas pergi meninggalkan area restoran, menyusur







