Share

Bab 9

Author: Luinna Hart
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-06 14:09:30

​Di tempat lain, suasana di dalam ruangan investigasi tampak sangat tegang. Padma bersama tim IT sedang bekerja keras melakukan digital forensik pada berkas-berkas data yang sempat dihapus oleh kantor cabang di berbagai kota. Pola kejahatan yang sama terlihat sangat jelas dari barisan dokumen digital yang berhasil dipulihkan.

​"Bu Padma, bila program monitoring yang kita sisipkan sebelumnya dihapus oleh pihak cabang, kita perlu cara lain untuk memantau pergerakan mereka," kata salah seorang anggota tim IT sambil membetulkan letak kacamatanya.

​"Apakah kamu sudah menyiapkan rencana cadangan yang saya minta?" tanya Padma tegas.

​Staf IT itu mengangguk cepat lalu mengarahkan layar laptopnya ke hadapan Padma.

​"Ini Bu, kita bisa merilis pembaruan versi terbaru dari sistem manajemen di seluruh cabang Multifinance. Tapi..." Staf itu mendadak ragu-ragu untuk meneruskan kalimatnya.

​"Tapi kita butuh persetujuan dari atasan?" tebak Padma cepat.

​"Iya Bu, benar. Karena tindakan ini akan berdampak langsung pada seluruh sistem jaringan perusahaan," jawab staf itu.

​"Tunggu sebentar, akan kutanyakan dulu," kata Padma.

​Padma segera mengambil ponselnya dan memencet sebuah nomor panggilan.

​"Halo, Pak Reno? Apakah Pak Sena sedang sibuk? Saya ingin menanyakan persetujuan untuk merilis pembaruan versi terbaru dari sistem manajemen," tanya Padma begitu sambungan terhubung.

​Di ruang kerja utama, Reno bergegas melangkah masuk ke dalam ruangan Sena. Ia paham betul bahwa panggilan telepon dari gadis ini masuk dalam daftar hal yang sangat mendesak. Sena yang saat itu sedang berdiskusi serius dengan Direktur Keuangan tampak memancarkan mimik wajah yang sangat tegas. Tanpa banyak bicara, Reno menyodorkan ponselnya ke hadapan Sena.

​Begitu melihat nama dan nomor yang tertera di layar ponsel, Sena langsung memberikan isyarat tangan kepada Direktur Keuangan untuk keluar meninggalkan ruangan. Raut wajah Direktur Keuangan seketika berubah kaget. Siapa sosok yang begitu penting hingga seorang sekretaris berani memotong pembicaraan mereka? Saat melangkah keluar, sang direktur sempat melirik wajah Sena dan terkejut melihat ekspresi pimpinannya yang keras mendadak berubah sangat teduh.

​"Ya, Padma? Persetujuan pembaruan sistem versi terbaru? Lakukan apa yang kamu anggap perlu," kata Sena dengan suara rendah. "Tidak perlu lewat direksi, kamu bertanggung jawab langsung kepadaku."

​Sena menghela napas pelan sebelum melanjutkan pembicaraan. "Apakah malam ini kamu lembur lagi? Mau makan malam bersama? Oh, baiklah, lupakan saja," kata Sena menutup pembicaraan setelah mendengar jawaban dari ujung telepon.

​Reno yang berdiri di samping Sena segera menerima kembali ponselnya.

​"Berikan nomor pribadiku ke Padma," perintah Sena tegas. "Pesankan makan malam untuk seluruh tim yang lembur hari ini. Aku ikut makan bersama mereka."

​"Baik Pak, siap," jawab Reno sigap. "Bila boleh tahu, mau memesan makanan apa Pak?"

​"Tanya Padma," jawab Sena singkat.

​Reno mengerutkan keningnya. Selama bertahun-tahun menjadi sekretaris pribadi Sena, belum pernah ia melihat rapat penting bersama direktur diputus di tengah jalan hanya karena satu panggilan telepon. Reno segera mengetik pesan singkat kepada Padma.

​Di ruangan lain, Padma yang sedang sibuk berdiskusi melirik pesan yang masuk di layar ponselnya.

​Bu, malam ini mau makan apa?

​Melihat pesan dari nomor Reno, Padma merasa aneh. Tanpa berpikir panjang, ia membalas singkat.

​Terserah.

​Membaca balasan itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Reno mengalami dilema besar dalam menerjemahkan kata 'terserah' dari seorang wanita. Aji yang memperhatikan wajah kebingungan Reno langsung mengintip isi pesan tersebut.

​"Pesankan saja nasi capjay dengan ayam lada hitam dari Depot Jaya," saran Aji tenang.

​"Kamu yakin pilihan ini aman?" tanya Reno ragu.

​"Dulu mereka suka memesan makanan itu," jawab Aji penuh keyakinan.

​Reno bernapas lega dan segera menghubungi Depot Jaya untuk memesan makanan.

​Sementara itu, di lokasi terpisah, Kepala Cabang Timur sedang dilanda kebingungan dan ketakutan setengah mati. Ia baru saja mendapat kabar bahwa Benny mengalami pemukulan brutal dari orang tidak dikenal. Pikirannya diliputi ketakutan luar biasa, menduga apakah pihak Synergic pusat sudah mengetahui praktik penyelewengan dana di kantornya dan sengaja meminta bantuan Elang Hitam.

​Dalam kepanikan yang membakar dadanya, ia berulang kali menghubungi nomor ponsel Harry Handoyo. Namun hanya nada sibuk yang terus-menerus terdengar. Kepala Cabang merutuk keras dalam hati. Saat keadaan sangat genting seperti ini, Harry selaku manajer keuangan justru terkesan lepas tangan dan menghilang begitu saja.

Kepala cabang melihat berkas dokumen yang ada di depannya. Kebimbangan meliputi dirinya, haruskah dia menyerahkan diri atau bertahan?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • No Saint Left   Tersangka

    Mikhael berdiri di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop.Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mengepal ketika suara di ujung telepon memberitahukan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.“Berapa?”“Semua rekening yang terhubung sudah diperiksa. Dana hilang.”“Tidak mungkin.”“Kami sudah memeriksa ulang.”Mikhael berjalan menuju jendela.“Berapa banyak?”“Jumlahnya sangat besar. Bukan hanya rekening Harry. Beberapa rekening yang terhubung dengan jaringan kita juga kosong.”Mikhael terdiam. Harry tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan sudah berada di penjara dan tidak memiliki akses untuk memindahkan dana sebanyak itu.“Cari tahu siapa yang melakukannya.”“Kami sedang mencoba.”“Jangan mencoba. Temukan.”Mikhael memutus sambungan, sesaat kemudian teleponnya kembali berdering.“Bagaimana?”Suara di seberang terdengar lebih rendah.“Ada satu nama.”Mikhael mengerutkan kening, “Siapa?”“Ghost.”Mikhael terdiam, Nama itu pernah ia dengar.Seorang hacker yang reputas

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (2)

    Padma berusia empat belas tahun ketika semuanya berubah.Hari itu rumah dalam keadaan sepi. Retno dan anak-anaknya pergi mengikuti kegiatan wisata sekolah. Padma seharusnya ikut, tetapi uang bulanan yang biasanya diterima selama tiga bulan terakhir tidak kunjung masuk.Dia memilih tinggal di rumah bersama Bima. Suryo tidak pernah ada di rumah. Sepulang sekolah, Padma mandi dan berganti pakaian. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengandater dan handuk di kepalanya ketika mendengar suara pintu.Dia mengira Bima baru pulang dari bermain. Namun ketika keluar dari kamar, ia melihat Suryo. Pamannya berdiri di sana.Tatapan pria itu membuat Padma merasa tidak nyaman.“Om?”Suryo tidak menjawab, dan justru bergerak mendekat. Padma yang baru saja mandi memancarkan bau harum yang segar. Tubuh remajanya mulai berbentuk, apalagi wajah Padma yang cantik dan kulit yang mulus bak pualam membuat mata Suryo menggelap. Padma mundur. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat seluruh tubuh

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (1)

    Bab 42 — Masa Lalu PadmaPadma berusia sebelas tahun ketika untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kematian bisa membuat sebuah keluarga berubah menjadi sekumpulan orang asing.Dia berdiri di samping Bima di pemakaman ayah mereka.Seragam hitam yang dikenakannya terasa terlalu besar. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat-erat, sementara Bima yang masih kecil tidak berhenti menangis sejak peti jenazah diturunkan ke liang lahat.Padma sendiri tidak menangis.Bukan karena ia tidak sedih.Dia hanya belum mengerti bagaimana caranya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu pulang kepadanya kini tidak akan pernah pulang lagi. Sepanjang perjalanan kembali dari pemakaman, suasana di dalam rumah justru semakin buruk. Suara orang dewasa terdengar dari ruang tengah.“Anak-anak itu harus tinggal dengan keluarga yang bisa mengurus mereka.”“Rumah ini terlalu jauh dari sekolah.”“Siapa yang akan membayar kebutuhan mereka?”“Jangan lupa, masih ada nenek mereka.”Padma berdiri di bal

  • No Saint Left   Tamu Tak Diundang

    Padma baru saja mematikan mesin mobil ketika sesuatu di teras rumahnya menarik perhatian.Sebuah pot bunga.Pot itu diletakkan tepat di samping pintu masuk, berisi tanaman kecil dengan bunga putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Padma mengernyit. Ia yakin pot itu tidak ada ketika dirinya pergi pagi tadi.Pandangan Padma kemudian beralih ke halaman. Sebuah sepeda motor terparkir di sana. Bukan miliknya. Bukan milik Bima. Dia juga tidak mengenali kendaraan tersebut.Padma berdiri beberapa detik, mengamati rumahnya.Sepertinya aku benar-benar harus memasang CCTV.Beberapa kejadian terakhir membuatnya mulai menyadari bahwa rumah yang selama ini dianggap aman justru terlalu mudah dimasuki orang lain.Dia mengambil tas dan masuk, “Bima?”Tidak ada jawaban.Padma melangkah menuju ruang tengah, lalu berhenti. Seorang wanita paruh baya duduk di sofa. Di hadapannya ada Bima dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan.Padma langsung mengenalinya.“Tante Retno?”Retno Wicak

  • No Saint Left   Sup Ayam

    Suara tembakan menggema di basement rumah Sena.Dor!Peluru menembus tepat di tengah lingkaran target.Padma menurunkan pistol perlahan, mengatur napas, lalu kembali mengangkat senjata.Dor!Kali ini sedikit bergeser ke kanan.Joni yang berdiri beberapa meter di belakangnya memperhatikan tanpa banyak bicara. Selama beberapa minggu terakhir, kemampuan menembak Padma berkembang cukup pesat. Ia sudah jauh lebih tenang, mampu mengendalikan napas, dan tidak lagi ragu ketika harus menarik pelatuk.Namun ada satu hal yang tidak banyak berubah.Kemampuan bela dirinya.Sebelum latihan menembk, tadi dia berlatih bela diri dengan Joni, dan mereka berlatih memasuki tahap yang mengharuskan tubuh Padma bersentuhan langsung dengan lawan. Saat itulah gerakannya berubah. Bahunya menegang, napasnya menjadi pendek, dan sesekali ia bahkan kehilangan fokus ketika tangan Joni harus menangkap pergelangan tangannya untuk memperbaiki posisi.Joni akhirnya menghentikan latihan.“Padma.”Padma menoleh.“Ya?”“A

  • No Saint Left   Lancang

    Selama seminggu terakhir, Harry Handoyo hidup dalam ketakutan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas lega.Setiap kali lampu sel padam, ia tidak pernah benar-benar tidur. Suara langkah kaki di lorong membuat tubuhnya menegang. Bunyi pintu besi yang dibuka di sel lain selalu membuat pikirannya dipenuhi kemungkinan paling buruk.Serigala Merah sudah meninggalkannya.Harry tahu itu.Dan sejak kejadian di ruang makan, ia tidak lagi yakin akan melihat matahari keesokan harinya. Malam itu, suara kunci kembali terdengar. Harry langsung terbangun. Dua orang sipir berdiri di depan selnya.“Berdiri.”Harry menatap mereka dengan curiga, “Untuk apa?”“Jangan banyak bertanya.”Jantungnya berdegup semakin cepat ketika kedua tangannya diborgol dan sebuah kain hitam menutupi kepalanya.Tidak ada penjelasan.Tidak ada surat.Tidak ada kesempatan untuk bertanya kepada siapa pun.Harry berjalan di antara dua orang tersebut dengan langkah gemetar. Ia dibawa melewati lorong yang tidak dike

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status