Share

Bab 8

Author: Luinna Hart
last update publish date: 2026-08-06 14:00:29

Musik jazz mengalun pelan di area rooftop lantai tiga puluh malam ini. Dari atas ketinggian, hamparan pendar cahaya kota membentang luas di bawah langit malam. Harry duduk berhadapan dengan Mischa, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu tenang, seolah ia tidak sedang memikul beban atau menyimpan rahasia besar apa pun.

​"Aku senang kamu mengajakku ke sini," kata Mischa sambil memperbaiki posisi duduknya. "Namun, sepertinya kamu membawaku ke mari bukan karena rindu padaku, kan?"

​Harry meletakkan gelas anggurnya kembali ke atas meja tanpa buru-buru menjawab. Ia menatap lekat wanita di hadapannya sebelum bersuara.

​"Sungguh kamu berpikir begitu?" tanya Harry pelan.

​Mischa menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Harry dengan binar mata yang penuh rasa penasaran. "Lantas apa yang ingin kamu ketahui? Tentang pamanku, hasil laporan audit terbaru, atau yang lainnya?"

​Harry tidak langsung menanggapi pertanyaan itu sekalipun informasi itulah yang sebenarnya sangat ia butuhkan saat ini. Ia paham betul karakter Mischa. Mengorek data dari wanita seperti ini tidak bisa dilakukan dengan cara yang terlalu terang-terangan.

​"Aku cuma ingin menikmati makan malam denganmu, ngobrol dan bersantai," kata Harry dengan intonasi yang begitu lembut. "Seharian mengurus ini dan itu di kantor sangat menyita pikiran. I miss you, dear," tambahnya sambil mengulurkan tangan, meremas jemari Mischa penuh kehangatan.

​Mischa memperhatikan raut wajah serta ekspresi tunangannya. Pria di hadapannya tampak sangat tulus dan tidak memedulikan hal lain saat sedang bersamanya. Alasan itulah yang membuat seorang Mischa Reynaldo jatuh cinta setengah mati, hingga dalam hitungan satu bulan ke depan ia mantap akan resmi menjadi Nyonya Harry Handoyo.

​"Kurasa, sebaiknya kamu keluar dari Synergic dan bekerja di perusahaan ayahku saja," saran Mischa penuh perhatian. "Memang tidak sebesar Synergic, tapi perusahaan ayah akan memberimu lebih banyak keleluasaan dan kuasa."

​"Dear, aku ingin membangun bisnis sendiri dari nol. Kamu tahu betul soal itu, kan?" jawab Harry tenang. "Alasanku tetap bertahan di Synergic adalah untuk membangun modal, mencari koneksi, dan mempelajari sistemnya."

​Kalimat itu tidak sepenuhnya dusta. Synergic memang memberinya sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang tunai, yaitu akses dan jaringan orang-orang berkuasa.

​Mischa tersenyum mendengar jawaban itu. Ia sangat menyukai laki-laki yang tidak mudah silau dengan uang atau pengaruh besar keluarganya. Selama ini Harry terlihat sangat bekerja keras di mata pamannya yang menjabat sebagai Direktur Keuangan Synergic. Harry berbeda dari laki-laki lain. Saat sedang berdua, Mischa selalu merasa menjadi fokus utama di hidup Harry.

​"Apakah proses investigasi di salah satu cabang itu yang membuatmu capek?" tanya Mischa lagi dengan nada khawatir.

​Harry terdiam sejenak, hanya menyunggingkan senyum tipis. Mischa menangkap keheningan itu sebagai pembenaran atas tebakannya.

​"Aku dengar dari paman, pelakunya cuma seorang staf keuangan biasa," kata Mischa dengan raut gusar. "Berani-beraninya orang itu berbuat curang di perusahaan yang terafiliasi dengan Elang Hitam. Kamu tahu soal organisasi itu, kan?"

​Mendengar nama Elang Hitam terucap dari bibir Mischa, tanpa sadar genggaman tangan Harry pada gelas anggurnya mengencang seketika.

​"Elang Hitam? Synergic? Aku tidak tahu kalau mereka berhubungan," kata Harry dengan mimik terkejut yang dibuat sangat pas.

​"Kupikir kamu sudah tahu. Orang masuk ke Synergic bukan cuma mengejar gaji," balas Mischa.

​Harry tetap bergeming, membiarkan wanita itu melanjutkan bicaranya.

​"Mereka mengejar akses," lanjut Mischa.

​"Akses?" tanya Harry singkat.

​"Ke Elang Hitam."

​"Jadi keluargamu juga terhubung dengan mereka?" tanya Harry dengan raut wajah polos.

​"Bukan secara langsung. Kami cuma meminjam nama mereka untuk memastikan setiap bisnis berjalan lancar dan tidak ada yang berani curang. Paman punya posisi penting di perusahaan milik Elang Hitam," jelas Mischa panjang lebar.

​"Aku baru tahu soal itu," kata Harry manggut-manggut. "Ternyata posisi pamanmu punya fungsi yang sangat strategis."

​"Tentu saja," jawab Mischa bangga. Lalu raut wajahnya mendadak berubah manja. "Oh ya sayang, dua hari lagi kita fitting baju pengantin untuk memastikan pesanan kita sudah pas."

​Harry menatap gadis di depannya dengan senyuman tipis yang terjaga rapi. Mischa sangat mudah dimanja. Wanita ini sangat menikmati perhatian-perhatian kecil yang bagi wanita lain mungkin terasa sepele.

​Karakter Mischa sangat berbeda dengan seseorang yang pernah Harry kenal di masa lalu, seorang wanita yang selalu menolak bergantung pada siapa pun.

Awalnya Harry sangat mengagumi sikap wanita itu. Namun begitu mengetahui rahasia kelam di balik kisahnya, rasa kagum itu berubah menjadi rasa jijik yang luar biasa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Saint Left   Tersangka

    Mikhael berdiri di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop.Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mengepal ketika suara di ujung telepon memberitahukan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.“Berapa?”“Semua rekening yang terhubung sudah diperiksa. Dana hilang.”“Tidak mungkin.”“Kami sudah memeriksa ulang.”Mikhael berjalan menuju jendela.“Berapa banyak?”“Jumlahnya sangat besar. Bukan hanya rekening Harry. Beberapa rekening yang terhubung dengan jaringan kita juga kosong.”Mikhael terdiam. Harry tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan sudah berada di penjara dan tidak memiliki akses untuk memindahkan dana sebanyak itu.“Cari tahu siapa yang melakukannya.”“Kami sedang mencoba.”“Jangan mencoba. Temukan.”Mikhael memutus sambungan, sesaat kemudian teleponnya kembali berdering.“Bagaimana?”Suara di seberang terdengar lebih rendah.“Ada satu nama.”Mikhael mengerutkan kening, “Siapa?”“Ghost.”Mikhael terdiam, Nama itu pernah ia dengar.Seorang hacker yang reputas

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (2)

    Padma berusia empat belas tahun ketika semuanya berubah.Hari itu rumah dalam keadaan sepi. Retno dan anak-anaknya pergi mengikuti kegiatan wisata sekolah. Padma seharusnya ikut, tetapi uang bulanan yang biasanya diterima selama tiga bulan terakhir tidak kunjung masuk.Dia memilih tinggal di rumah bersama Bima. Suryo tidak pernah ada di rumah. Sepulang sekolah, Padma mandi dan berganti pakaian. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengandater dan handuk di kepalanya ketika mendengar suara pintu.Dia mengira Bima baru pulang dari bermain. Namun ketika keluar dari kamar, ia melihat Suryo. Pamannya berdiri di sana.Tatapan pria itu membuat Padma merasa tidak nyaman.“Om?”Suryo tidak menjawab, dan justru bergerak mendekat. Padma yang baru saja mandi memancarkan bau harum yang segar. Tubuh remajanya mulai berbentuk, apalagi wajah Padma yang cantik dan kulit yang mulus bak pualam membuat mata Suryo menggelap. Padma mundur. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat seluruh tubuh

  • No Saint Left   Masa Lalu Padma (1)

    Bab 42 — Masa Lalu PadmaPadma berusia sebelas tahun ketika untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kematian bisa membuat sebuah keluarga berubah menjadi sekumpulan orang asing.Dia berdiri di samping Bima di pemakaman ayah mereka.Seragam hitam yang dikenakannya terasa terlalu besar. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat-erat, sementara Bima yang masih kecil tidak berhenti menangis sejak peti jenazah diturunkan ke liang lahat.Padma sendiri tidak menangis.Bukan karena ia tidak sedih.Dia hanya belum mengerti bagaimana caranya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu pulang kepadanya kini tidak akan pernah pulang lagi. Sepanjang perjalanan kembali dari pemakaman, suasana di dalam rumah justru semakin buruk. Suara orang dewasa terdengar dari ruang tengah.“Anak-anak itu harus tinggal dengan keluarga yang bisa mengurus mereka.”“Rumah ini terlalu jauh dari sekolah.”“Siapa yang akan membayar kebutuhan mereka?”“Jangan lupa, masih ada nenek mereka.”Padma berdiri di bal

  • No Saint Left   Tamu Tak Diundang

    Padma baru saja mematikan mesin mobil ketika sesuatu di teras rumahnya menarik perhatian.Sebuah pot bunga.Pot itu diletakkan tepat di samping pintu masuk, berisi tanaman kecil dengan bunga putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Padma mengernyit. Ia yakin pot itu tidak ada ketika dirinya pergi pagi tadi.Pandangan Padma kemudian beralih ke halaman. Sebuah sepeda motor terparkir di sana. Bukan miliknya. Bukan milik Bima. Dia juga tidak mengenali kendaraan tersebut.Padma berdiri beberapa detik, mengamati rumahnya.Sepertinya aku benar-benar harus memasang CCTV.Beberapa kejadian terakhir membuatnya mulai menyadari bahwa rumah yang selama ini dianggap aman justru terlalu mudah dimasuki orang lain.Dia mengambil tas dan masuk, “Bima?”Tidak ada jawaban.Padma melangkah menuju ruang tengah, lalu berhenti. Seorang wanita paruh baya duduk di sofa. Di hadapannya ada Bima dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan.Padma langsung mengenalinya.“Tante Retno?”Retno Wicak

  • No Saint Left   Sup Ayam

    Suara tembakan menggema di basement rumah Sena.Dor!Peluru menembus tepat di tengah lingkaran target.Padma menurunkan pistol perlahan, mengatur napas, lalu kembali mengangkat senjata.Dor!Kali ini sedikit bergeser ke kanan.Joni yang berdiri beberapa meter di belakangnya memperhatikan tanpa banyak bicara. Selama beberapa minggu terakhir, kemampuan menembak Padma berkembang cukup pesat. Ia sudah jauh lebih tenang, mampu mengendalikan napas, dan tidak lagi ragu ketika harus menarik pelatuk.Namun ada satu hal yang tidak banyak berubah.Kemampuan bela dirinya.Sebelum latihan menembk, tadi dia berlatih bela diri dengan Joni, dan mereka berlatih memasuki tahap yang mengharuskan tubuh Padma bersentuhan langsung dengan lawan. Saat itulah gerakannya berubah. Bahunya menegang, napasnya menjadi pendek, dan sesekali ia bahkan kehilangan fokus ketika tangan Joni harus menangkap pergelangan tangannya untuk memperbaiki posisi.Joni akhirnya menghentikan latihan.“Padma.”Padma menoleh.“Ya?”“A

  • No Saint Left   Lancang

    Selama seminggu terakhir, Harry Handoyo hidup dalam ketakutan yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas lega.Setiap kali lampu sel padam, ia tidak pernah benar-benar tidur. Suara langkah kaki di lorong membuat tubuhnya menegang. Bunyi pintu besi yang dibuka di sel lain selalu membuat pikirannya dipenuhi kemungkinan paling buruk.Serigala Merah sudah meninggalkannya.Harry tahu itu.Dan sejak kejadian di ruang makan, ia tidak lagi yakin akan melihat matahari keesokan harinya. Malam itu, suara kunci kembali terdengar. Harry langsung terbangun. Dua orang sipir berdiri di depan selnya.“Berdiri.”Harry menatap mereka dengan curiga, “Untuk apa?”“Jangan banyak bertanya.”Jantungnya berdegup semakin cepat ketika kedua tangannya diborgol dan sebuah kain hitam menutupi kepalanya.Tidak ada penjelasan.Tidak ada surat.Tidak ada kesempatan untuk bertanya kepada siapa pun.Harry berjalan di antara dua orang tersebut dengan langkah gemetar. Ia dibawa melewati lorong yang tidak dike

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status