LOGINMusik jazz mengalun pelan di area rooftop lantai tiga puluh malam ini. Dari atas ketinggian, hamparan pendar cahaya kota membentang luas di bawah langit malam. Harry duduk berhadapan dengan Mischa, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu tenang, seolah ia tidak sedang memikul beban atau menyimpan rahasia besar apa pun.
"Aku senang kamu mengajakku ke sini," kata Mischa sambil memperbaiki posisi duduknya. "Namun, sepertinya kamu membawaku ke mari bukan karena rindu padaku, kan?" Harry meletakkan gelas anggurnya kembali ke atas meja tanpa buru-buru menjawab. Ia menatap lekat wanita di hadapannya sebelum bersuara. "Sungguh kamu berpikir begitu?" tanya Harry pelan. Mischa menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Harry dengan binar mata yang penuh rasa penasaran. "Lantas apa yang ingin kamu ketahui? Tentang pamanku, hasil laporan audit terbaru, atau yang lainnya?" Harry tidak langsung menanggapi pertanyaan itu sekalipun informasi itulah yang sebenarnya sangat ia butuhkan saat ini. Ia paham betul karakter Mischa. Mengorek data dari wanita seperti ini tidak bisa dilakukan dengan cara yang terlalu terang-terangan. "Aku cuma ingin menikmati makan malam denganmu, ngobrol dan bersantai," kata Harry dengan intonasi yang begitu lembut. "Seharian mengurus ini dan itu di kantor sangat menyita pikiran. I miss you, dear," tambahnya sambil mengulurkan tangan, meremas jemari Mischa penuh kehangatan. Mischa memperhatikan raut wajah serta ekspresi tunangannya. Pria di hadapannya tampak sangat tulus dan tidak memedulikan hal lain saat sedang bersamanya. Alasan itulah yang membuat seorang Mischa Reynaldo jatuh cinta setengah mati, hingga dalam hitungan satu bulan ke depan ia mantap akan resmi menjadi Nyonya Harry Handoyo. "Kurasa, sebaiknya kamu keluar dari Synergic dan bekerja di perusahaan ayahku saja," saran Mischa penuh perhatian. "Memang tidak sebesar Synergic, tapi perusahaan ayah akan memberimu lebih banyak keleluasaan dan kuasa." "Dear, aku ingin membangun bisnis sendiri dari nol. Kamu tahu betul soal itu, kan?" jawab Harry tenang. "Alasanku tetap bertahan di Synergic adalah untuk membangun modal, mencari koneksi, dan mempelajari sistemnya." Kalimat itu tidak sepenuhnya dusta. Synergic memang memberinya sesuatu yang sangat berharga dan tidak bisa dibeli dengan uang tunai, yaitu akses dan jaringan orang-orang berkuasa. Mischa tersenyum mendengar jawaban itu. Ia sangat menyukai laki-laki yang tidak mudah silau dengan uang atau pengaruh besar keluarganya. Selama ini Harry terlihat sangat bekerja keras di mata pamannya yang menjabat sebagai Direktur Keuangan Synergic. Harry berbeda dari laki-laki lain. Saat sedang berdua, Mischa selalu merasa menjadi fokus utama di hidup Harry. "Apakah proses investigasi di salah satu cabang itu yang membuatmu capek?" tanya Mischa lagi dengan nada khawatir. Harry terdiam sejenak, hanya menyunggingkan senyum tipis. Mischa menangkap keheningan itu sebagai pembenaran atas tebakannya. "Aku dengar dari paman, pelakunya cuma seorang staf keuangan biasa," kata Mischa dengan raut gusar. "Berani-beraninya orang itu berbuat curang di perusahaan yang terafiliasi dengan Elang Hitam. Kamu tahu soal organisasi itu, kan?" Mendengar nama Elang Hitam terucap dari bibir Mischa, tanpa sadar genggaman tangan Harry pada gelas anggurnya mengencang seketika. "Elang Hitam? Synergic? Aku tidak tahu kalau mereka berhubungan," kata Harry dengan mimik terkejut yang dibuat sangat pas. "Kupikir kamu sudah tahu. Orang masuk ke Synergic bukan cuma mengejar gaji," balas Mischa. Harry tetap bergeming, membiarkan wanita itu melanjutkan bicaranya. "Mereka mengejar akses," lanjut Mischa. "Akses?" tanya Harry singkat. "Ke Elang Hitam." "Jadi keluargamu juga terhubung dengan mereka?" tanya Harry dengan raut wajah polos. "Bukan secara langsung. Kami cuma meminjam nama mereka untuk memastikan setiap bisnis berjalan lancar dan tidak ada yang berani curang. Paman punya posisi penting di perusahaan milik Elang Hitam," jelas Mischa panjang lebar. "Aku baru tahu soal itu," kata Harry manggut-manggut. "Ternyata posisi pamanmu punya fungsi yang sangat strategis." "Tentu saja," jawab Mischa bangga. Lalu raut wajahnya mendadak berubah manja. "Oh ya sayang, dua hari lagi kita fitting baju pengantin untuk memastikan pesanan kita sudah pas." Harry menatap gadis di depannya dengan senyuman tipis yang terjaga rapi. Mischa sangat mudah dimanja. Wanita ini sangat menikmati perhatian-perhatian kecil yang bagi wanita lain mungkin terasa sepele. Karakter Mischa sangat berbeda dengan seseorang yang pernah Harry kenal di masa lalu, seorang wanita yang selalu menolak bergantung pada siapa pun. Awalnya Harry sangat mengagumi sikap wanita itu. Namun begitu mengetahui rahasia kelam di balik kisahnya, rasa kagum itu berubah menjadi rasa jijik yang luar biasa.Reno melihat ponselnya, sebuah notifikasi masuk. Dia memperlihatkannya pada Padma. Padma tersenyum simpul. “Jadi kamu mau yang mana yang biru atau yang hijau?” tanya Reno pada Padma. “Hijau lebih menarik,” kata Padma.“ Oke kita langsung beli sekarang, bagaimana?” Reno menawarkan. Mereka berdua segera beranjak menuju tempat ganti pakaian yang ada di lantai atas. Sementara itu bagian keamanan akhirnya menyadari kalau mereka kecolongan, loker yang sejatinya akan digunakan sebagai umpan untuk menangkap orang yang membebaskan Benny, sekarang kosong. Keamanan di klub itu diperketat. Mereka memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di dalam klub. Padma dan Reno yang sudah berganti pakaian menuju ke ruang lobby, menunggu mobil mereka siap. Saat Padma berdiri, seorang petugas keamanan mendekatinya. “Maaf, anda tidak bisa meninggalkan klub saat ini,” katanya. Padma tampak kebingungan. Reno mendekati petugas itu bersama Aji. “ Ini ada apa? Kenapa kami gak boleh meninggalkan klub?”P
Sebuah lamborghini kuning berhenti di sebuah pusat kebugaran. Di belakangnya sebuah mobil hitam juga berhenti. Seorang petugas layanan valet membukakan pintu. Seorang perempuan dengan rambut panjang keluar, dia mengenakan polo shirt dengan celana chino yang walaupun tak terlihat merknya namun terlihat mahal dan nyaman. Tampilannya tak mencolok, tampak sama dengan orang lain yang berseliweran di area pusat kebugaran. Di belakangnya seorang laki-laki dengan gaya pakaian yang sama tampak menyusul perempuan itu dan berjalan di sampingnya. Dua orang berpakaian hitam ada di belakang mereka menbawa duffel bag yang sekilas nampak biasa, namun bagi mata yang terlatih itu adalah tas seharga satu unit rumah kelas menengah. Laki-laki dan perempuan itu tampak akrab berbincang sambil memasuki area lobi, salah seorang pria berbaju hitam mendekati meja concierge dan memastikan identitas keduanya sebelum kemudian mengantar keduanya di ruang ganti pakaian yang privat di lantai atas. Sementara dua or
Menjelang jam makan siang.Seorang perempuan muda dengan atasan off shoulder dan celana kulit warna hitam keluar dari mobil ferrari kuning, berjalan masuk ke lobi kantor Synergic, Rambut pendeknya yang disisir edgy dan dandanan gaya bold menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Gayanya begitu luwes dengan sebuah tas tangan kecil yang hanya dengan melihat logonya, orang sudah tahu harganya yang bisa mencapai milyaran rupiah. Begitu melihat sosoknya, resepsionis dan security kantor langsung membukakan pintu dan mengarahkan ke lift khusus ke lantai ruangan Sena. Bertepatan saat dia menunggu, pintu lift terbuka, tampak wajah Padma dengan baju casual smart officenya, dia membawa botol minum yang sama yang tadi diberikan Sena. Perempuan itu kaget melihat seorang perempuan keluar dari lift khusus untuk Sena. Sesaat dia menoleh ke arah Padma. Dia merasa pernah bertemu Padma, wajah Padma tak asing baginya. Namun karena tak ingin Sena menunggu dia segera masuk sambil terus memikirk
Sementara itu di ruangan kantornya yang ber ac, Harry menghapus peluh di berusaha setenang mungkin mengeksekusi perintah sosok misterius yang selama ini mendukungnya. Di depan komputer kerjanya, Harry memindahkan aliran dana dari rekening yang selama ini dipakai sebagai penyimpanan ke beberapa rekening lainnya di luar negeri dan atau perusahaan cangkang yang sudah dia bangun selama tiga tahun ini. Sebuah pesan masuk. ’Babe, aku positif’Harry melirik pesan itu dan tersenyum. ‘Bagus, tepat waktu,’ ujarnya dalam hati. Dia terus memindahkan dana dari satu rekening ke rekening lainnya, ini tugas terakhirnya, setelahnya dia tidak hanya akan mendapat reward dari orang misterius yang selama ini mendukung dan melindunginya, namun juga membalaskan dendam pada kelompok Elang Hitam yang sudah menghancurkan keluarganya. Di ruang pusat investigas, Jo bersama timnya memantau aliran data dan informasi yang masuk ke komputernya. “Pantau terus pergerakan dana yang ada, jangan sampai terlewatkan,
Di ruangan investigasi Padma dan Sena menatap papan tulis yang menampilkan jaringan cabang Synergic Multifinance yang tersebar hampir di seluruh kota di negara itu. Di belakang mereka Aji dan Reno siaga berjaga. Di setiap kota bendera merah terpasang pin merah, penanda cabang yang terindikasi melakukan penipuan dengan modus dan pola yang sama dengan cabang timur kota S. “Hasil pemindaian dari perangkat terbaru, jelas menunjukkan indikasi kuat ini sistemik bukan sekadar penipuan satu atau dua orang saja,”“Pusatnya?”“Harry Handoyo dan timnya,” “Kamu yakin?”“Kamu pikir aku emosional?”“Kamu mengikutinya ke butik pengantin,”“Itu pengintaian,”“Mengamit tangan stafmu?”“Kamu keberatan?”Sena terdiam. Dia tidak punya hak keberatan.Dia hanya tidak suka. Aji dan Reno saling berpandangan melihat dua orang itu beradu mulut. Hanya Padma dan Sara yang bisa beradu mulut dengan Sena, selebihnya pasti sudah mati. “Bisa kembali fokus?” tanya Padma.Sena tidak menjawab. Padma menganggapnya
Sena berdiri tegak di dalam ruang kerjanya, mendengarkan setiap detail laporan yang disampaikan oleh Aji dan Reno secara bergantian.Mulai dari insiden penculikan Benny, penggeledahan kantor cabang, hingga operasi penyelamatan di gudang pelabuhan, semuanya dijelaskan tanpa ada yang terlewat. Suasana di dalam ruangan terasa sangat hening dan penuh tekanan."Sudah kamu amankan dengan benar?" tanya Sena dengan suara dingin."Sudah, Pak. Dia sedang ditangani langsung oleh tim dokter di klinik base camp," jawab Aji cepat." Sara?" tanya Sena lagi.Aji dan Reno saling berpandangan sejenak sebelum Aji menjawab, "Dia ada di luar ruangan, Pak."" Tiga puluh putaran," perintah Sena. "Jangan biarkan dia masuk.” Aji dan Reno hanya bisa mengatupkan bibir mereka menahan senyum mendengar hukuman tersebut. Mereka sudah bisa membayangkan reaksi Sara saat tahu perintah Sena. Mereka segera berpamitan dan keluar dari ruangan. Di luar kantor utama, seperti yang nisa diduga Sara mengumpat begitu tahu a







