LOGINDua jiwa yang sama-sama percaya pada keadilan, namun mendefinisikannya secara berbeda, dipaksa jatuh cinta saat berdiri di sisi kekuasaan yang berlawanan. Tak satu pun dari mereka sepenuhnya suci. Tak satu pun dari mereka jahat. Tak satu pun dari mereka sepenuhnya benar.
View MoreBab 1
Sena membenci laporan yang datang di pagi hari. Bukan karena isinya.Dia sudah lama berhenti terkejut oleh pengkhianatan Laporan pagi selalu berarti seseorang, di suatu tempat, sedang berpikir mereka bisa lolos. Mobil berhenti tepat di depan lobi. Ia tidak menunggu sopir membukakan pintu. Kepala-kepala menunduk begitu ia melewati mereka, sebuah refleks yang sudah lama berhenti terasa seperti penghormatan, dan lebih terasa seperti rasa takut yang dipoles menjadi sopan santun. Di kantornya yang terletak di lantai tertinggi gedung perkantoran itu, Sena langsung bertanya, "Siapa pengirim laporan dugaan penyelewengan dana perusahaan kita?" "Anonim, tetapi tim IT kita masih berusaha melacak jejaknya lewat log akses internal," ucap asistennya, Reno. "Satu jam. Periksa apakah data yang dikirimkan benar, dan siapa pengirimnya harus bisa terdeteksi," ucap Sena. "Bila dugaan ini benar, reputasi perusahaan kita taruhannya." Reno langsung beranjak keluar dan memerintahkan bawahannya untuk menyelidiki dugaan penyelewengan dana perusahaan yang dilakukan oleh salah satu manajer keuangan di perusahaan multifinance di bawah korporasi mereka. Begitu Reno keluar, Sena menatap Aji, asistennya yang lain. "Lahan di timur, apakah sudah kamu bersihkan?" tanya Sena. "Hanya tinggal satu rumah. Pemiliknya keras kepala." Aji berhenti sebentar, seperti menimbang kalimat berikutnya. "Mau saya pakai cara biasa?" Sena tidak menoleh dari layar di depannya. "Selesaikan sebelum akhir minggu. Caranya terserah kamu, asal tidak ada yang bisa dilacak ke kita." "Baik, Bos." Aji keluar ruangan tanpa ekspresi, seolah baru saja diberi instruksi seremeh memesan kopi. Empat puluh menit kemudian, Reno masuk sembari membawa berkas laporan hasil pengecekan. "Pengirim laporan sudah kami identifikasi. Isi laporan juga menguatkan adanya indikasi penyelewengan dana," jelas Reno. "Lalu?" tanya Sena sambil membaca hasil laporan awal audit. Seakan tahu apa yang dimaksud oleh Sena, Reno melanjutkan, "Pengirimnya adalah staf keuangan di cabang tempat manajer itu bekerja. Padma Wicaksono." Jari Sena berhenti membalik hasil analisis audit. "Ulangi." "Namanya Padma Wicaksono. Ini datanya," ucap Reno sembari menyerahkan sebuah map berisi data pribadi dan riwayat kerja whistleblower yang melaporkan dugaan penyelewengan itu. Ruangan mendadak sunyi hanya terdengar suara ac yang berhembus. Begitu melihat foto, nama, dan data pribadi gadis yang melaporkan penyelewengan dana perusahaan tersebut, raut wajah Sena berubah. Gadis dengan rambut hitam sebahu dan poni itu tampak profesional dalam balutan blazer hitam. Ada yang terasa familiar dengan nama dan wajah gadis dalam laporan itu. "Periksa latar belakang gadis ini sedetail mungkin. Pastikan dalam satu jam kamu sudah punya datanya." Ia tidak yakin apa yang sebenarnya ia cari lewat detail itu, apakah ia hanya perlu yakin tentangnya atau dia tak ingin kehilangan jejaknya lagi. "Apakah ada yang mencurigakan, Pak?" "Tidak, lakukan saja," ucap Sena singkat. "Audit cabang tempat dugaan itu berasal. Bawa gadis itu untuk penyelidikan lebih lanjut." "Baik," Reno langsung menjawab dan berbalik. "Satu lagi. Aku akan ikut mengawasi saat proses penyelidikan terhadap gadis itu berlangsung," ucap Sena. Walau terdengar janggal seorang CEO korporasi turun tangan langsung, Reno tetap mengiyakan perintah atasannya. Sena menatap foto gadis itu cukup lama. Bila dugaanku benar, kasus ini tidak akan sederhana. Instingnya mengatakan hal itu. *** Di cabang kota S wilayah timur, seorang gadis berambut hitam sebahu sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Matanya menyusuri deretan angka, tangannya terampil memilah satu per satu nota dan faktur. Suasana kantor tampak tenang seperti hari-hari biasa. Walau tampak tenang, sesekali mata gadis itu mengawasi keadaan sekelilingnya, seakan sedang menunggu sesuatu. Tiba-tiba, dua orang berjas masuk ke ruang kerjanya. "Saudari Padma Wicaksono?" tanya salah satu dari mereka. Gadis berambut sebahu itu menjawab, "Ya, itu saya. Ada yang bisa saya bantu?" "Silakan ikut kami untuk penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan penyelewengan dana perusahaan," ucap yang satunya. "Baik, beri saya waktu lima menit," ucap Padma. "Bisa dilakukan nanti dalam perjalanan. Ini mendesak, silakan ikut kami." Padma menyambar tas kerja dan ponselnya, lalu bergegas berjalan mengikuti mereka dari belakang. Suasana kantor yang tadinya tenang langsung gaduh oleh kasak-kusuk rekan kerjanya. Dugaan penyelewengan dana perusahaan bukan perkara kecil. Tiba di area kantor pusat, Padma duduk di sebuah ruangan dengan kamera menghadap padanya. Beberapa orang yang ia kenali dari divisi audit internal perusahaan sudah menunggu di hadapannya. Bukannya takut, gadis itu tampak tenang, seakan sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi. "Saudari Padma, apakah Anda yang mengirimkan laporan anonim ini?" tanya seorang auditor. Alih-alih menyangkal, Padma langsung mengakui. "Betul. Apakah ada yang salah?" "Dari mana Anda mendapat data ini? Apakah ada orang lain di balik Anda? Apa motif Anda?" auditor itu mencecarnya dengan serentetan pertanyaan. "Apakah semua whistleblower harus punya motif?" Padma balik bertanya. "Bukankah yang seharusnya dipertanyakan adalah niat jahat di balik skandal yang saya ungkap, bukan niat saya mengungkapnya?" "No mens rea terhadap perusahaan," lanjutnya tenang. "Lalu datanya, dari mana Anda mendapatkannya?" auditor lain bertanya. "Investigasi personal. Saya sengaja mendekati orang-orang yang berkepentingan.Sedikit demi sedikit saya mengumpulkan data, mencocokkan setiap item, menganalisis, dan akhirnya menyimpulkan seperti yang ada dalam laporan yang kalian pegang." "Tanpa bantuan orang lain?" "Salah. Seperti yang saya katakan, saya mendekati orang-orang yang berkepentingan untuk mengumpulkan datanya. Jelas saya tidak mungkin melakukannya sendirian." "Anda 'mendekati' mereka. Maksudnya?" Padma diam sebentar. "Saya membiarkan mereka berpikir saya tertarik dengan hubungan personal untuk mendapat kepercayaan. Cukup lama, sampai mereka lengah." Seorang auditor mengetuk meja dan berkata,"Apa itu tidak mengganggu Anda? Menipu orang untuk mendapatkan kepercayaan mereka?" "Yang mengganggu saya," ucap Padma datar, "adalah orang yang menipu kepercayaan orang lain demi menutupi kejahatan. Saya cuma membalikkan triknya." "Jelaskan secara detail supaya kami tahu persis apa yang terjadi." Padma tersenyum tipis dan mulai menjelaskan setiap tahapan yang ia lakukan. Para auditor yang mendengarkan mencocokkan setiap kalimatnya dengan data yang mereka pegang, satu per satu. Di ruang kerjanya, Sena menonton rekaman investigasi itu sembari membaca laporan latar belakang Padma. Seulas senyum mengembang di bibirnya saat mendengar penjelasan gadis itu. Masih sama seperti belasan tahun lalu. Cerdas dan Lugas. Terlalu cerdas untuk anak seusianya. Sikap dan caranya berbicara masih sama—hanya lebih dewasa. Memori Sena tertarik ke sebuah kejadian hampir enam belas tahun silam. Di sebuah gang perkampungan, Sena menyeret kakinya menuju rumah berpagar hijau. Darah mengucur deras dari tubuhnya yang penuh luka. Di depan pintu rumah itu, ia hanya sempat mengetuk sekali sebelum ambruk. Seorang anak perempuan berusia sebelas tahun keluar dan mendapati tubuhnya tergeletak. Ia langsung menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang melihat, lalu menyeret tubuh Sena masuk ke dalam rumah dan berlari membangunkan ayahnya. Di sofa rumah mereka, gadis itu membantu ayahnya membersihkan dan menjahit luka Sena. Tak ada rasa takut sedikit pun melihat darah dan luka menganga di depan matanya. Dia bahkan sempat keluar membersihkan ceceran darah di sekitar rumah, memastikan tak ada jejak yang mengarah ke tempat tinggal mereka. Adik laki-lakinya yang berusia tujuh tahun membantu dengan setia, mengikuti ke mana pun kakaknya melangkah. Begitu matanya terbuka, Sena mendengar suara. "Kau sudah bangun? Baguslah, jangan mati di sini, menyusahkan ayahku," gadis itu berkata. "Hush, ngomong apa sih kamu, Padma. Bilang saja kamu bersyukur Kak Sena selamat," ayahnya menegur. "Maaf, Dok, saya merepotkan lagi," ucap Sena, meringis menahan sakit. "Makan dulu, itu Padma sudah buatkan bubur untukmu," ucap Dokter Wicaksono—yang akrab dipanggil Dokter Wicak—kepada Sena. "Setelah itu, minum semua obat sesuai dosis." "Ini, makan pelan-pelan, masih panas," ucap gadis itu ketus. Sena menerima semangkuk bubur hangat dan menghabiskannya perlahan sampai tandas. Gadis itu mengawasinya, memastikan ia meminum semua obat yang diresepkan ayahnya. Dua bulan lamanya Sena tinggal di rumah Dokter Wicak, sampai suatu malam ia tiba-tiba pergi menghilang. Yang tersisa hanya secarik memo—Aku akan membalas budi baikmu—dan sebuah pin Elang Hitam bergaris emas. Lamunan Sena terhenti ketika pintu kantornya diketuk. Tampak wajah Aji di depan pintu. "Bos," ucap Aji pelan. *** Anggota auditor saling berpandangan ketika satu per satu data yang dilaporkan oleh Padma terbukti valid. "Ini bukan hanya di cabang timur, kuat dugaan saya ada campur tangan orang pusat untuk memuluskan penipuan ini," ucap Padma tenang. Auditor dan investigator di ruangan itu tercekat. Bila dugaan gadis ini benar, jelas ini bukan perkara kecil, melainkan masalah sistemik. "Jelaskan maksud Anda." Salah seorang dari mereka angkat bicara. Namun, sebelum sempat Padma menjawab, pintu ruang investigasi terbuka. Reno masuk lebih dulu. Padma menoleh. Di belakang Reno, seorang pria melangkah masuk. Seketika semua orang menahan napas. Sena masuk dan langsung duduk berhadapan dengan Padma di seberang meja.Mikhael berdiri di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya dari layar laptop.Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mengepal ketika suara di ujung telepon memberitahukan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.“Berapa?”“Semua rekening yang terhubung sudah diperiksa. Dana hilang.”“Tidak mungkin.”“Kami sudah memeriksa ulang.”Mikhael berjalan menuju jendela.“Berapa banyak?”“Jumlahnya sangat besar. Bukan hanya rekening Harry. Beberapa rekening yang terhubung dengan jaringan kita juga kosong.”Mikhael terdiam. Harry tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan sudah berada di penjara dan tidak memiliki akses untuk memindahkan dana sebanyak itu.“Cari tahu siapa yang melakukannya.”“Kami sedang mencoba.”“Jangan mencoba. Temukan.”Mikhael memutus sambungan, sesaat kemudian teleponnya kembali berdering.“Bagaimana?”Suara di seberang terdengar lebih rendah.“Ada satu nama.”Mikhael mengerutkan kening, “Siapa?”“Ghost.”Mikhael terdiam, Nama itu pernah ia dengar.Seorang hacker yang reputas
Padma berusia empat belas tahun ketika semuanya berubah.Hari itu rumah dalam keadaan sepi. Retno dan anak-anaknya pergi mengikuti kegiatan wisata sekolah. Padma seharusnya ikut, tetapi uang bulanan yang biasanya diterima selama tiga bulan terakhir tidak kunjung masuk.Dia memilih tinggal di rumah bersama Bima. Suryo tidak pernah ada di rumah. Sepulang sekolah, Padma mandi dan berganti pakaian. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dengandater dan handuk di kepalanya ketika mendengar suara pintu.Dia mengira Bima baru pulang dari bermain. Namun ketika keluar dari kamar, ia melihat Suryo. Pamannya berdiri di sana.Tatapan pria itu membuat Padma merasa tidak nyaman.“Om?”Suryo tidak menjawab, dan justru bergerak mendekat. Padma yang baru saja mandi memancarkan bau harum yang segar. Tubuh remajanya mulai berbentuk, apalagi wajah Padma yang cantik dan kulit yang mulus bak pualam membuat mata Suryo menggelap. Padma mundur. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat seluruh tubuh
Bab 42 — Masa Lalu PadmaPadma berusia sebelas tahun ketika untuk pertama kalinya ia memahami bahwa kematian bisa membuat sebuah keluarga berubah menjadi sekumpulan orang asing.Dia berdiri di samping Bima di pemakaman ayah mereka.Seragam hitam yang dikenakannya terasa terlalu besar. Tangannya menggenggam tangan adiknya erat-erat, sementara Bima yang masih kecil tidak berhenti menangis sejak peti jenazah diturunkan ke liang lahat.Padma sendiri tidak menangis.Bukan karena ia tidak sedih.Dia hanya belum mengerti bagaimana caranya menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini selalu pulang kepadanya kini tidak akan pernah pulang lagi. Sepanjang perjalanan kembali dari pemakaman, suasana di dalam rumah justru semakin buruk. Suara orang dewasa terdengar dari ruang tengah.“Anak-anak itu harus tinggal dengan keluarga yang bisa mengurus mereka.”“Rumah ini terlalu jauh dari sekolah.”“Siapa yang akan membayar kebutuhan mereka?”“Jangan lupa, masih ada nenek mereka.”Padma berdiri di bal
Padma baru saja mematikan mesin mobil ketika sesuatu di teras rumahnya menarik perhatian.Sebuah pot bunga.Pot itu diletakkan tepat di samping pintu masuk, berisi tanaman kecil dengan bunga putih yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Padma mengernyit. Ia yakin pot itu tidak ada ketika dirinya pergi pagi tadi.Pandangan Padma kemudian beralih ke halaman. Sebuah sepeda motor terparkir di sana. Bukan miliknya. Bukan milik Bima. Dia juga tidak mengenali kendaraan tersebut.Padma berdiri beberapa detik, mengamati rumahnya.Sepertinya aku benar-benar harus memasang CCTV.Beberapa kejadian terakhir membuatnya mulai menyadari bahwa rumah yang selama ini dianggap aman justru terlalu mudah dimasuki orang lain.Dia mengambil tas dan masuk, “Bima?”Tidak ada jawaban.Padma melangkah menuju ruang tengah, lalu berhenti. Seorang wanita paruh baya duduk di sofa. Di hadapannya ada Bima dengan wajah yang jelas-jelas menunjukkan ketidaksenangan.Padma langsung mengenalinya.“Tante Retno?”Retno Wicak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews