Share

Bab 6 Lamaran Nyai Sri

Penulis: SariOmnivor
last update Terakhir Diperbarui: 2024-05-07 20:37:05

Satu pekan berlalu, kini Misah sudah mulai kembali seperti biasa. Meskipun ia tidak biasa mengerjakan pekerjaan berladang seperti yang ayahnya lakukan, Misah tetap berusaha dan belajar dari Nyi Sambi agar ia bisa memenuhi kebutuhannya sehari–hari. Ia juga rajin membantu apa yang dikerjakan oleh wanita yang dipanggilnya simbok itu. Berladang dan beternak ia lakukan demi kehidupannya tetap berjalan. Pelan-pelan luka yang ia rasakan karena kehilangan ayahnya mulai sembuh dan berganti dengan kesehariannya yang sibuk untuk melanjutkan hidup.

Tawa riang Misah saat bercanda dengan Nyi Sambi terdengar sampai di kejauhan, sore itu panen kacang tanah dan singkong lumayan banyak mereka dapatkan. Dengan lincah, jari-jari Misah memotong tangkai singkong dan memisahkannya dari umbinya. 

"Banyak Mbok panenan kita, besok kalo Simbok mau jual ini ke kota aku boleh ikut kan Mbok? Aku belum pernah liat pasar yang di Kotaraja. Wening bilang pasarnya ramai, ia pernah diajak bapaknya ke sana, pulang-pulang ia pamer mainan baru yang dibelikan bapaknya itu, aku pengen mbok," dengan polos Misah menceritakan kisah sahabatnya. 

"Iyo Nduk, tapi jangan ngeluh ya kalo jalannya jauh," ucap Nyi Sambi 

"Aku ndak bakal ngeluh Mbok, paling nanti kalo aku capek aku minta gendong sama Simbok," timpal Misah sambil menyeringai.

"Boleh, berangkat tak gendong, pulangnya gantian Simbok mbok bopong yo!" kelakar Nyi Sambi. Wanita itu merasa lega, Misah sudah berangsur membaik. Sepertinya gadis itu sudah mulai melupakan kesedihannya.

"Kalo kayak gitu pinggangku bisa pindah ke depan lah Mbok," timpal Misah diiringi suara tawa renyah mereka berdua. Tawa itu seketika reda dengan hadirnya sebuah kereta kuda yang berhenti tepat di depan rumah Misah. Tampak seorang sais setengah baya tergopoh–gopoh membukakan pintu kereta kuda itu. Dari dalamnya muncul seorang wanita cantik yang tak lain adalah Nyai Sri Gandawangi. 

Cahaya merah sore menerpa wajah ayu Nyai Sri yang tersenyum simpul kepada Misah dan Nyi Sambi. Seperti biasa ia datang bersama emban setianya. Misah dan Nyi Sambi kaget dengan kedatangan istri raden tumenggung yang tiba-tiba itu. Mereka berdua buru-buru berdiri dari tempat duduknya.

"Ndoro Ayu," ucap Nyi Sambi. Wanita tua itu menunduk seraya membungkukkan badannya memberi hormat. Misah pun mengikuti apa yang dilakukan Nyi Sambi.

"Nyi Sambi, Misah, kalian sedang apa?" Nyai Sri berbasa basi.

"Mengurus hasil panen Den Ayu, besok mau dijual ke pasar, kalau tidak segera dibereskan takut rusak ini singkong sama kacang tanahnya," ujar Nyi Sambi.

"Bagus Nyi hasil panennya, singkong dan kacangnya besar-besar, besok kalian tidak usah repot-repot ke pasar, biar aku beli semuanya, langsung aku bayar sekarang," dengan anggun Nyai Sri berbalik menatap embannya. Sang emban tanggap dan menyerahkan kantong yang berisi penuh kepingan uang logam.

"Ini Nyi, aku beli semuanya, nanti biar Jalu yang mengambilnya ke sini," lanjutnya. Nyi Sambi tak pernah menyangka bahwa hasil panennya hari ini diborong oleh Nyai Sri Gandawangi. Ia sangat senang ketika menerima sekantong penuh uang logam yang diserahkan oleh Nyai Sri kepadanya. Dilihatnya isi di dalam kantong itu dan jika dihitung, uang ini tiga kali lebih banyak dari harga seharusnya.

"Matur nuwun Den Ayu, matur nuwun," berkali-kali Nyi Sambi mengucapkan terima kasih kepada Nyai Sri. Sambil terus tersenyum ia merapikan tempat duduk bale kayu satu-satunya yang ada di tempat itu dan mempersilahkan tamu istimewanya itu untuk duduk. 

"Silahkan Ndoro," Nyi Sambi mempersilahkan.

Dengan anggun dan tanpa berkata-kata Nyai Sri menempati bale kayu itu. Ia duduk dengan perasaan yang tidak nyaman. Khas wanita bangsawan yang merasa berada di tempat yang tidak seharusnya. 

Nyi Sambi berbisik kepada Misah, ia menyuruhnya untuk mengambil minuman dan sedikit cemilan yang baru dibuatnya tadi. Singkong tumbuk yang dicampur gula merah, cemilan manis yang sangat disukai oleh Misah.

"Tidak usah repot-repot Nyi, aku cuma ingin bicara sebentar," Nyai Sri berkata.

"Tidak repot Den Ayu, cuma air," sambil tersenyum Nyi Sambi berkata.

Misah buru-buru melakukan yang diperintahkan kepadanya. Tak berapa lama ia kembali dari dapur. Membawa nampan bambu berisi air dalam kendi dan singkong tumbuk yang masih hangat 

"Nyi Sambi, Misah, kedatanganku kesini bukan tanpa alasan, aku tahu baru sepekan lalu Ki Gambang meninggal dunia, aku turut berduka mendengar itu, aku pikir tabib yang aku kirim bisa membantu menyembuhkan bapakmu Nduk. Tapi Dewata berkehendak lain," ucap Nyai Sri panjang lebar.

"Nggeh Ndoro Ayu, bapak saya sudah sembuh, sudah tidak merasakan sakit lagi, dan sudah kumpul dengan ibu. Saya sudah ikhlas Ndoro, semoga bapak diberi jalan terang dan lapang," ucap Misah lirih.

"Aku senang kau tidak terlalu lama bersedih Nduk cah ayu. Seperti yang aku bilang tadi, kedatanganku kesini bukan tanpa maksud. Sebelum bapak kamu meninggal, kami berdua pernah membicarakan suatu hal yang berhubungan denganmu Nduk. Apakah bapak kamu sudah memberitahukan hal itu kepadamu?" tanya Nyai Sri sembari menatap tajam kepada Misah. Misah terlihat bingung. "Tapi dari yang aku lihat, sepertinya bapak kamu belum memberitahumu apapun," tambahnya.

"Ada masalah apa Den?" Nyi Sambi bertanya. Wanita setengah baya itu tampak bingung dengan perkataan Nyai Sri. 

"Sebelum Ki Gambang meninggal, aku sempat berkata kepadanya bahwa aku ingin meminta Misah untuk menjadi istri kedua suamiku Nyi," dengan pelan tapi tegas Nyai Sri berkata.

Misah dan Nyi Sambi saling pandang. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Bagai disambar petir di sore yang cerah, tak ada hujan dan tak ada angin tiba-tiba istri dari kepala dusun yang bergelar Nyai Tumenggung datang ke gubug reyot milik Almarhum Ki Gambang untuk melamar anak gadisnya yang akan dijadikan istri kedua suaminya.

“Maksud Nyai?” Nyi Sambi seakan tak percaya dan ingin mempertegas apa yang didengarnya. Meskipun sebenarnya kata-kata yang diucapkan oleh Nyai Sri terdengar sangat jelas di telinganya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 57

    Jalu diam tidak menjawab panggilan Misah. Raganya kaku, lidahnya kelu. Meskipun otaknya sudah berusaha mengarahkan tubuh Jalu agar bergerak cepat menyahut panggilan Misah. Tapi pemuda itu tetap bisu karena ternyata hatinya berkata lain. Kejadian semalam membuatnya canggung dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang. Apakah Misah memanggilnya karena hendak memarahi atau hendak memukulnya.“Kang!!” Misah mengulangi panggilannya dengan suara lebih nyaring disertai dengan lambaian tangan. Melihat Misah yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk, pemuda itu memutuskan untuk mendekat.“Kakang sedang apa?” ujar Misah sembari memungut ubi yang sudah dingin. Jalu gugup tak bisa langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada raut wajah Misah yang datar. Seakan tidak pernah terjadi apa pun dalam hidupnya. Misah mengambil sepotong ubi kemudian memakannya. Ia menikmati ubi itu hingga tak menyadari bahwa Jalu sedang menatapnya penuh selidik.“Simbok kemana Kang? Kenapa sepi sekali, kemana

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 56

    Jalu berlari keluar seraya tergesa menutup pintu. Degup jantungnya belum berhenti berpacu membuatnya terduduk lemas di bale bambu. Perasaannya seketika resah membayangkan Misah akan mengamuk dan menjerit karena ketakutan. Ia sangat cemas jika gadis itu kembali kacau dan tidak terkendali akibat ulahnya yang sembrono. Tapi entah kenapa, Misah tidak bereaksi. Sekian lama Jalu menunggu, tapi suasana dalam pondok masih tenang tidak ada suara. Kondisi yang melegakan sekaligus terasa aneh. Ia tidak ingin berpikir macam-macam, dan berusaha untuk kembali tidur.…Jalu memijit-mijit kepalanya yang terasa pening karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terbangun dari tidur walaupun baru beberapa detik yang lalu bisa terlelap. Suara kokok ayam hutan sudah terdengar yang berarti hari sudah beranjak pagi. Jalu merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia tidur. Pikiran yang sedang tidak karuan sudah pasti akan membuatnya kembali terjaga. Kejadian semalam terus terbayang di benaknya, mata Misah yang men

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 55

    Tiga purnama telah berlalu sejak kepergian Santi. Jalu merasa sangat bersalah karena telah gagal melindungi bayi itu. Ia juga mulai ragu, apakah nantinya akan sanggup melindungi Misah. Tubuh gadis itu memang sudah membaik. Luka-lukanya telah pulih walau ada beberapa bagian tubuh yang berbekas. Tetapi sejak saat itu Misah tidak pernah berbicara. Tatapannya kosong, setiap hari hanya mengurung diri dalam pondok. Enggan untuk didekati. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Hampir setiap malam ia mengigau, kadang menangis dan meratap. Ia akan histeris setiap kali Jalu hendak menenangkannya. Puncaknya adalah kemarin sore. Ketika Jalu pulang dari mencari makanan, ia mendapati pintu pondok terbuka dan tidak menemukan Misah di sana. Pemuda itu kalang kabut mencari Misah dengan perasaan cemas. Lama mencari akhirnya ia menemukan gadis itu sedang berdiri di tepi jurang dan hampir saja melompat.“MISAHHHH!” teriak Jalu.“Bapak menjemputku Kang!” sahut Misah spontan sambil menunjuk ke dasar jurang.“Berhe

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 54

    Mata Misah mengerjap pelan. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Santi yang menangis kencang. Bayi mungil itu meronta sembari mengayunkan kedua tangan dan kakinya ke udara, membuat kain tipis yang membalutnya tersibak sebagian. Bibirnya mulai membiru karena terlalu lama meraung. Antara sadar dan tak sadar, Misah menangkap suara langkah mendekat. Kini ia merasakan seseorang berusaha mengangkat kepalanya kemudian menyuapkan air. Misah hanya bisa pasrah, air segar mengucur perlahan ke tenggorokannya yang kering. Badannya terasa panas tapi tubuhnya menggigil. Keringat dingin membasahi tikar anyaman daun pandan yang ditidurinya. Tak lama kemudian Misah kembali tak sadarkan diri.“Maafkan aku Misah!” ucap Jalu lirih. Ia berusaha menahan rasa bersalah di hatinya. Seharusnya ia sudah berada di hutan sebelum Misah sampai. Jalu berniat mengikuti Misah hidup di pengasingan. Ia menetapkan hatinya dan meminta ijin kepada Lek Parmin yang sudah seperti ayahnya sendiri. Tapi niat Jalu ditentang habis-

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 53

    Kabut mulai turun. Udara malam yang sudah dingin, kini menjadi tiga kali lebih dingin. Rangga sudah lelap di tempat nyaman yang dipilihnya. Lelaki kekar itu seakan tidak terpengaruh dengan udara dingin meskipun ia hanya bertelanjang dada. Suasana sangat sunyi. Hanya sesekali terdengar gesekan-gesekan daun dan ranting yang tertiup angin. Galuh melempar beberapa potongan kayu ke perapian, ia tidak tidur dan memutuskan untuk berjaga. Bagi pengawal seperti dirinya, tidak tidur adalah hal biasa. Bahkan terkadang ia bisa tidak tidur selama berhari-hari saat bertugas atau ketika sedang berlatih ilmu kanuragan. Lain halnya dengan Misah. Gadis itu beberapa kali memutar posisi tidurnya. Baru kali ini ia merasakan betapa tidak nyamannya tidur di alam bebas. Tubuhnya terasa gatal karena seharian berkeringat dan tergesek rumput yang ditidurinya. Galuh mengamati gerak gerik Misah dari tempatnya duduk. Sejak tadi memang hatinya tidak tenang. Desiran itu masih terasa sampai sekarang. Suasana sunyi me

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 52

    Candikolo berwarna jingga tampil menawan di antara rimbunan daun pohon randu dan jati yang berjajar kokoh sepajang jalan. Cahaya jingga itu berkilat panjang lurus bersilangan bagai kerlip panggung yang dipersiapkan Dewata bagi Misah menuju tempat penghakiman. Peluh yang bercucur di kening membuat wajah ayunya berpendar ketika cahaya jingga itu menyayatnya lembut.Misah pasrah mengikuti langkah lebar Galuh yang berjalan mantap di depan. Meskipun punggungnya terasa sakit karena beban Santi yang digendongnya. Tangannya pegal menenteng buntalan menggantung pada lengannya. Sedangkan kakinya sudah mati rasa menapaki perjalanan berjam-jam tanpa alas. Gadis itu hampir seperti mayat hidup yang berjalan lurus dengan tatapan kosong. Tubuhnya lesu, rambut hitam panjangnya digelung asal mengunakan tusuk konde pemberian Nyi Darsan. Sesekali rambut itu tertiup angin dan membuatnya semakin tak karuan. Misah tidak peduli lagi dengan apa pun dan siapa pun. Jalanan berbatu, ranting kayu dan akar pohon h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status