Home / Historical / Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu / Bab 5 Kematian Ki Gambang Pengalihan

Share

Bab 5 Kematian Ki Gambang Pengalihan

Author: SariOmnivor
last update Last Updated: 2024-05-06 22:08:41

Malam yang sunyi membuat Misah segera terlelap, ia meringkuk tidur di samping ayahnya. Berbeda dengan Ki Gambang, lelaki itu sulit untuk memejamkan mata. Meskipun hanya sebentar, kedatangan Nyai Sri yang tiba-tiba dan kata-kata yang diucapkannya terus mengiang di benaknya. Jawaban Ki Gambang yang dengan halus menolak permintaan untuk menjadikan Misah istri kedua ditelan mentah-mentah oleh Nyai Sri. Hal ini tidak wajar menurutnya, karena kebanyakan bangsawan cenderung memaksa jika ingin mengambil gadis dusun untuk dijadikan istri-istri muda. Walaupun nantinya nasib gadis-gadis ini tak akan seberuntung bila mereka dari kalangan bangsawan. Gadis-gadis miskin ini nantinya hanya akan dijadikan layaknya budak. Meski tidak semuanya seperti itu, banyak juga yang beruntung diperlakukan baik di keluarga suami bangsawan yang menikahinya. Diusapnya rambut Misah yang lebat, Ki Gambang memanjatkan doa kepada Dewata yang dipercayainya agar anak gadisnya ini kelak bisa bahagia dan menjalani kehidupan seperti keinginannya. Ki Gambang akan merasa sangat bersalah kepada istrinya jika ia tidak dapat melindungi kehidupan anak gadisnya ini.

Pagi- pagi tabib yang dijanjikan oleh Nyai Sri sudah tiba di rumah Ki Gambang, ia memeriksa tubuh Ki Gambang dan memberikan ramuan obat. Tabib tidak memberi tahu penyakit apa yang diderita Ki Gambang, ia hanya mengatakan musim seperti ini memang banyak orang terserang penyakit yang mirip seperti Ki Gambang. Tabib yang memeriksa Ki Gambang hanya singgah sebentar, ia buru-buru pamit dengan alasan masih ada tempat lain yang harus ia datangi. Dengan polos Misah berterima kasih pada sang Tabib, ia senang dan berharap ayahnya segera sembuh.

Sore menjelang, Misah sendirian pergi ke rumah Raden Wikrama, ia mengantarkan pisang, kacang tanah dan singkong yang ia panen sendiri di kebunnya. Ia menempatkan barang bawaannya itu dalam sebuah bakul yang lumayan besar. Bakul itu tampak terisi penuh. Misah melilitkan selendang pada bakul untuk kemudian ia tempatkan di punggungnya.

"Kula nuwun Raden," kata Misah sesampainya di rumah Raden Wikrama.

"Nduk Misah, ada apa kamu ke sini sambil bawa bakul berat seperti itu," Raden Wikrama berkata. Tampak sang istri duduk di sampingnya. Mereka sedang bersantai sambil menikmati udara sore. Terlihat beberapa pelayan laki-laki sedang mengurus taman dan seorang lagi sedang mengurus kuda.

"Nggeh Raden, ini dari bapak untuk Raden dan Raden Putri," kata Misah yang terlihat kelelahan dengan beban di punggungnya.

"Lek Parmin, cepat kemari, tolong bantu Misah membawa bakul itu!" pinta Raden Wikrama kepada salah seorang abdinya yang sedang mengurus taman.

"Nggeh," dengan sigap abdi yang dipanggil Parmin membantu Misah menurunkan dan membawa bakul itu masuk ke dalam rumah.

"Nduk cah ayu, kenapa harus repot-repot segala?" ucap Raden Wikrama.

"Cuma sedikit Raden, terima kasih juga untuk Den Ayu yang sudah mengirim tabib untuk mengobati bapak saya tadi pagi, saya senang, semoga bapak saya cepat sembuh," kata Misah tersipu.

"Bener kamu mengirim tabib ke rumah Misah, Dek Sri?" Raden Wikrama menatap wajah istrinya. Sedikit pertanyaan di benak Raden Wikrama. Tumben sekali istrinya mau peduli dengan urusan orang lain.  

"Iya Kang Mas," jawab Nyai Sri singkat.

"Yowes Nduk, sini kamu minum dulu, pasti kamu capek dan haus ta," Raden Wikrama mengalihkan pandangannya kepada Misah. Pandangan Wikrama kepada Misah begitu lembut layaknya seorang ayah kepada anak gadisnya.

"Mboten Raden, saya mau cepat pulang, bapak sendirian di rumah, mari Raden, Raden Putri," Misah membungkukkan sedikit tubuhnya memberi hormat kemudian berlalu.

Dengan ceria Misah berjalan pulang, kadang ia berlari kecil atau memetik bunga rumput di pinggir jalan yang dilaluinya. Sore hari yang tenang ini seperti tak memberikan tanda kepada Misah bahwa inilah hari dimana kesedihannya akan dimulai.

...

Dari kejauhan tampak banyak orang berdatangan ke rumah Ki Gambang, Nyi Sambi gugup dan lemas menahan air matanya. Wanita tua itu mendadak kebingungan melihat kedatangan Misah.

“Dari mana saja kamu Nduk?” ucap Nyi Sambi kepada Misah yang sudah berada di depannya.

“Ada apa ini Mbok?” Misah sangat kaget melihat rumahnya yang tadinya sepi, kini sudah ramai oleh para tetangga.

“Kamu ini dari mana?” tanya Nyi Sambi resah.

“Dari rumah Raden Tumenggung Mbok, tadi setelah diperiksa tabib, bapak suruh aku mengantar pisang ke sana. Ini ada apa Mbok, bapak mana?” ucap Misah bingung.

“Bapakmu Nduk, ba–pakmu meninggal!” terbata-bata Nyi Sambi berkata pada Misah bahwa bapaknya sudah tidak ada lagi.

“Apa Mbok,” Misah seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tanpa bicara lagi ia berlari ke dalam rumah mencari keberadaan bapaknya. Seketika tubuh Misah limbung, pandangannya berkunang–kunang, dan akhirnya ia terkulai tak sadarkan diri di pangkuan Nyi Sambi. Sangat berat baginya mengetahui ayahnya pergi meninggalkannya sendirian di dunia ini. Misah menangis, meraung dan meratap setelah sadar kembali, Nyi Sambi dan beberapa tetangga mencoba menenangkannya. Tubuh Misah lemah tak berdaya dan berurai air mata, ia hanya bisa menatap nanar hingga ayahnya dikebumikan di sisi pusara ibunya. Misah yang tadinya merasa bahagia, berharap ayahnya sembuh setelah ada tabib yang mengobatinya. Malah menerima nasib sial yang membuatnya harus menjalani hidup sebatang kara.

Malam ini Nyi Sambi menemani lagi Misah tidur di rumahnya. Tiga hari berlalu sejak kematian Ki Gambang, Misah menghabiskan hari-harinya hanya dengan kemurungan dan kesedihan. 

"Sudahlah Nduk cah ayu, jangan terus bersedih, masih ada simbok di sini. Simbok akan menjaga kamu. Kita ini keluarga Nduk, kamu bisa mengandalkan simbok, meskipun simbok ini sudah tua, tapi simbok ini kuat, kamu percaya simbok yo!" ucap Nyi Sambi menenangkan Misah. Misah hanya terdiam, dia masih bingung, kaget dengan apa yang dialaminya, kejadian itu terasa tak nyata. Kehidupannya berubah hanya dalam sekejap mata.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 57

    Jalu diam tidak menjawab panggilan Misah. Raganya kaku, lidahnya kelu. Meskipun otaknya sudah berusaha mengarahkan tubuh Jalu agar bergerak cepat menyahut panggilan Misah. Tapi pemuda itu tetap bisu karena ternyata hatinya berkata lain. Kejadian semalam membuatnya canggung dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang. Apakah Misah memanggilnya karena hendak memarahi atau hendak memukulnya.“Kang!!” Misah mengulangi panggilannya dengan suara lebih nyaring disertai dengan lambaian tangan. Melihat Misah yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk, pemuda itu memutuskan untuk mendekat.“Kakang sedang apa?” ujar Misah sembari memungut ubi yang sudah dingin. Jalu gugup tak bisa langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada raut wajah Misah yang datar. Seakan tidak pernah terjadi apa pun dalam hidupnya. Misah mengambil sepotong ubi kemudian memakannya. Ia menikmati ubi itu hingga tak menyadari bahwa Jalu sedang menatapnya penuh selidik.“Simbok kemana Kang? Kenapa sepi sekali, kemana

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 56

    Jalu berlari keluar seraya tergesa menutup pintu. Degup jantungnya belum berhenti berpacu membuatnya terduduk lemas di bale bambu. Perasaannya seketika resah membayangkan Misah akan mengamuk dan menjerit karena ketakutan. Ia sangat cemas jika gadis itu kembali kacau dan tidak terkendali akibat ulahnya yang sembrono. Tapi entah kenapa, Misah tidak bereaksi. Sekian lama Jalu menunggu, tapi suasana dalam pondok masih tenang tidak ada suara. Kondisi yang melegakan sekaligus terasa aneh. Ia tidak ingin berpikir macam-macam, dan berusaha untuk kembali tidur.…Jalu memijit-mijit kepalanya yang terasa pening karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terbangun dari tidur walaupun baru beberapa detik yang lalu bisa terlelap. Suara kokok ayam hutan sudah terdengar yang berarti hari sudah beranjak pagi. Jalu merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia tidur. Pikiran yang sedang tidak karuan sudah pasti akan membuatnya kembali terjaga. Kejadian semalam terus terbayang di benaknya, mata Misah yang men

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 55

    Tiga purnama telah berlalu sejak kepergian Santi. Jalu merasa sangat bersalah karena telah gagal melindungi bayi itu. Ia juga mulai ragu, apakah nantinya akan sanggup melindungi Misah. Tubuh gadis itu memang sudah membaik. Luka-lukanya telah pulih walau ada beberapa bagian tubuh yang berbekas. Tetapi sejak saat itu Misah tidak pernah berbicara. Tatapannya kosong, setiap hari hanya mengurung diri dalam pondok. Enggan untuk didekati. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Hampir setiap malam ia mengigau, kadang menangis dan meratap. Ia akan histeris setiap kali Jalu hendak menenangkannya. Puncaknya adalah kemarin sore. Ketika Jalu pulang dari mencari makanan, ia mendapati pintu pondok terbuka dan tidak menemukan Misah di sana. Pemuda itu kalang kabut mencari Misah dengan perasaan cemas. Lama mencari akhirnya ia menemukan gadis itu sedang berdiri di tepi jurang dan hampir saja melompat.“MISAHHHH!” teriak Jalu.“Bapak menjemputku Kang!” sahut Misah spontan sambil menunjuk ke dasar jurang.“Berhe

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 54

    Mata Misah mengerjap pelan. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Santi yang menangis kencang. Bayi mungil itu meronta sembari mengayunkan kedua tangan dan kakinya ke udara, membuat kain tipis yang membalutnya tersibak sebagian. Bibirnya mulai membiru karena terlalu lama meraung. Antara sadar dan tak sadar, Misah menangkap suara langkah mendekat. Kini ia merasakan seseorang berusaha mengangkat kepalanya kemudian menyuapkan air. Misah hanya bisa pasrah, air segar mengucur perlahan ke tenggorokannya yang kering. Badannya terasa panas tapi tubuhnya menggigil. Keringat dingin membasahi tikar anyaman daun pandan yang ditidurinya. Tak lama kemudian Misah kembali tak sadarkan diri.“Maafkan aku Misah!” ucap Jalu lirih. Ia berusaha menahan rasa bersalah di hatinya. Seharusnya ia sudah berada di hutan sebelum Misah sampai. Jalu berniat mengikuti Misah hidup di pengasingan. Ia menetapkan hatinya dan meminta ijin kepada Lek Parmin yang sudah seperti ayahnya sendiri. Tapi niat Jalu ditentang habis-

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 53

    Kabut mulai turun. Udara malam yang sudah dingin, kini menjadi tiga kali lebih dingin. Rangga sudah lelap di tempat nyaman yang dipilihnya. Lelaki kekar itu seakan tidak terpengaruh dengan udara dingin meskipun ia hanya bertelanjang dada. Suasana sangat sunyi. Hanya sesekali terdengar gesekan-gesekan daun dan ranting yang tertiup angin. Galuh melempar beberapa potongan kayu ke perapian, ia tidak tidur dan memutuskan untuk berjaga. Bagi pengawal seperti dirinya, tidak tidur adalah hal biasa. Bahkan terkadang ia bisa tidak tidur selama berhari-hari saat bertugas atau ketika sedang berlatih ilmu kanuragan. Lain halnya dengan Misah. Gadis itu beberapa kali memutar posisi tidurnya. Baru kali ini ia merasakan betapa tidak nyamannya tidur di alam bebas. Tubuhnya terasa gatal karena seharian berkeringat dan tergesek rumput yang ditidurinya. Galuh mengamati gerak gerik Misah dari tempatnya duduk. Sejak tadi memang hatinya tidak tenang. Desiran itu masih terasa sampai sekarang. Suasana sunyi me

  • Nyai Selendang Wungu : Gadis Lugu Jadi Pemburu   Bab 52

    Candikolo berwarna jingga tampil menawan di antara rimbunan daun pohon randu dan jati yang berjajar kokoh sepajang jalan. Cahaya jingga itu berkilat panjang lurus bersilangan bagai kerlip panggung yang dipersiapkan Dewata bagi Misah menuju tempat penghakiman. Peluh yang bercucur di kening membuat wajah ayunya berpendar ketika cahaya jingga itu menyayatnya lembut.Misah pasrah mengikuti langkah lebar Galuh yang berjalan mantap di depan. Meskipun punggungnya terasa sakit karena beban Santi yang digendongnya. Tangannya pegal menenteng buntalan menggantung pada lengannya. Sedangkan kakinya sudah mati rasa menapaki perjalanan berjam-jam tanpa alas. Gadis itu hampir seperti mayat hidup yang berjalan lurus dengan tatapan kosong. Tubuhnya lesu, rambut hitam panjangnya digelung asal mengunakan tusuk konde pemberian Nyi Darsan. Sesekali rambut itu tertiup angin dan membuatnya semakin tak karuan. Misah tidak peduli lagi dengan apa pun dan siapa pun. Jalanan berbatu, ranting kayu dan akar pohon h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status