MasukMalam kembali datang, tapi malam ini terasa begitu panjang. Udara dingin menyeruak masuk dari sela-sela dinding anyaman kediaman Nyi Sambi. Hawa dingin ini membuat seluruh tubuh tua Nyi Sambi merasa tidak nyaman, badannya pegal dan tulangnya linu. Nyi Sambi yang belum juga bisa tidur beranjak mengambil selendangnya dan melingkarkan selendang itu menutupi pundaknya. Ia menggosok kedua telapak tangan agar bisa menghangatkan jari–jarinya yang mulai terasa kaku, kemudian ia mulai berjalan ke dapur. Terlihat air yang sedang direbusnya mulai mendidih dan berbuih. Nyi Sambi berniat membuat air jahe hangat sambil mereda dingin di perapian. Dipungutnya sepotong ubi rebus gula merah sisa tadi sore. Menggigit sepotong ubi membuatnya teringat lagi perkataan Nyai Sri. Ia dan Misah hanya bisa terdiam bingung apa yang harus dikatakan untuk menjawab pertanyaan Nyai Sri yang tiba–tiba dan terasa tidak nyata. Terngiang kembali ucapan lembut istri kepala dusun itu kepadanya dan Misah.
“Aku ingin Misah menjadi istri kedua suamiku, Raden Wikrama Manggalayuda,” ucap Nyai Sri dengan nada bersungguh–sungguh. Matanya tegas dan tajam memandang Misah dan Nyi Sambi secara bergantian, aura wanita ayu ini benar-benar kuat. Ia sosok yang anggun dan pintar memainkan suasana. Tatapan tajam mata indah Nyai Sri kepada Misah dan Nyi Sambi membuat mereka menjadi benar-benar tersudut.
“Ampun Den Ayu, hamba masih tidak paham dengan maksud Ndoro. Apakah Ndoro Ayu sungguh ingin Misah menjadi istri kedua Raden Tumenggung?” Nyi Sambi mengulangi ucapan Nyai Sri seakan masih tidak percaya.
“Benar Nyi, aku sudah mengatakan niatku ini kepada Ki Gambang sebelum ia meninggal,” jawab Nyai Sri.
“Lalu apa jawaban yang diberikan Ki Gambang Ndoro? Maaf, Misah dan hamba sungguh tidak tahu karena benar kata Ndoro, Ki Gambang memang belum menceritakan apapun kepada Misah maupun hamba,” Nyi Sambi menjawab dengan perasaan resah.
“Ki Gambang menyerahkan segala keputusan kepada Misah, Nyi!” ucap Nyai Sri penuh percaya diri. Nyai Sri bukan orang bodoh yang akan mengatakan kebenaran apalagi jika kebenaran itu nantinya bisa saja menggagalkan semua rencana yang telah ia susun.
“Hamba masih bingung Nyi, masalah pernikahan bukanlah masalah yang sepele. Apalagi belum lama sejak bapak Misah meninggal. Bukankah pamali jika membicarakan masalah pernikahan di saat–saat seperti ini. Apalagi Misah masih terlalu muda untuk memutuskan, dia harus membicarakan masalah ini dulu kepada keluarganya yang lain. Mungkin setelah empat puluh hari nanti kami baru bisa memberikan jawaban yang Den Ayu inginkan,” ucap Nyi Sambi.
“Baiklah Nyi, aku menyetujui saranmu. Berilah kabar kepada keluarga Misah dan bicarakan masalah ini dengan mereka. Misah memang masih perlu dibimbing, aku tidak ingin dia membuat keputusan yang salah untuk masa depannya nanti,” ucap Nyai Sri. “Tapi ingatlah ini Misah, aku akan memberimu janjiku. Jika kau menjadi istri kedua suamiku, aku berjanji akan memberikan kemakmuran yang belum pernah kau miliki, aku akan mengangkat derajatmu dan memberimu tempat yang baik di sisi suamiku,” tambahnya. Ia memandang Misah dengan tatapan mata yang tajam. Nyai Sri berusaha memberikan pesan bahwa janji yang baru saja ia katakan bukanlah omong kosong belaka. Misah tak berani beradu pandang dengan Nyai Sri, ia merasa kerdil sekaligus bingung. Sebuah pernikahan di usianya yang masih belia. Apakah nanti ia akan mengalami hal–hal dalam imajinasinya seperti saat ia bermain rumah–rumahan bersama sahabatnya Wening. Berperan sebagai seorang istri tentu saja berbeda ketika benar–benar menjadi istri. Ia mempunyai tanggung jawab yang tidak main–main terhadap suaminya nanti. Apalagi dalam budayanya terpatri sabda bahwa istri harus berbakti kepada suami. Hal itu belum sampai di benak Misah yang masih bau kencur.
Nyi Sambi merasa ada yang tidak benar dengan perkataan Nyai Sri sore tadi. ia merasa tidak yakin bahwa Ki Gambang menyerahkan segala keputusan terkait pernikahan ini kepada Misah. Ia tahu benar bahwa Ki Gambang sangat menyayangi anaknya, dan tidak mungkin menyetujui rencana pernikahan di usia Misah yang masih remaja. Entah mengapa Nyi Sambi yakin bahwa Ki Gambang telah menolak lamaran Nyai Sri. Tapi mengapa Nyai Sri berkata seperti itu. Apakah ada niat tersembunyi dibalik upayanya menjadikan Misah sebagai madunya. Tiba–tiba firasat buruk menyelimuti pikiran Nyi Sambi.
“Mbok! Simbok,” lamunan Nyi Sambi memudar, terdengar lirih suara Misah dari balik pintu rumahnya.
“Iyo Nduk, simbok di dapur, sini Nduk ngangetin badan di tungku, simbok sudah tidak betah kalau dingin begini, tulang-tulang serasa linu sakit semua,” Nyi Sambi berkata.
Misah berjalan lambat menuju Nyi Sambi. Gadis itu terlihat lesu dengan wajah tertutup sebagian oleh rambutnya yang terurai, tubuh kurusnya hanya berbalut kemben dan berselimut selendang tipis terlilit menutupi pundaknya. Dilihatnya Nyi Sambi sedang duduk di atas dingklik kayu di depan tungku perapian.
“Sini Nduk!” ucap Nyi Sambi sambil mengayunkan tanggannya memanggil Misah. Gadis itu memeluk Nyi Sambi dari belakang kemudian menempelkan dagunya pada pundak wanita tua itu.
“Belum tidur kamu Nduk, apa masih takut di rumah sendirian?” tangan Nyi Sambi mengelus rambut gadis manis itu dengan lembut. Misah tak berkata apa pun meskipun ia mendengar ucapan Nyi Sambi dengan sangat jelas. Misah terpejam di pundak Nyi Sambi. Suasana menjadi hening, mereka berdua terdiam, seperti ingin berkata tapi tak tau harus memulainya dari mana.
“Nduk,” Nyi Sambi memecah keheningan.
“Hemmm,” jawab Misah.
“Besok pagi kamu pergi saja menemui bibi atau pamanmu di kotaraja. Kabarkan bahwa bapakmu telah meninggal, dan kamu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Katakan juga bahwa kamu ingin tinggal bersama mereka, karena kamu tak sanggup hidup seorang diri di dusun kecil ini. Simbok tau nduk, kamu tidak ingin dijadikan istri kedua Raden Wikrama. Aku tau kamu juga belum mampu untuk membuat keputusan penting sendirian di usiamu yang masih belia ini, aku yakin kamu tidak akan mampu menolak dengan tegas keinginan Raden Putri. Kamu masih muda Nduk, jalan kamu masih panjang, hidup sebagai istri kedua bukan perkara mudah. Sudah bukan rahasia lagi kalau gadis–gadis dari kalangan biasa sepertimu hanya akan berakhir sebagai budak,” Nyi Sambi berkata.
Misah masih terdiam dan terpejam, entah apa yang dipikirkannya. Nyi Sambi pun kembali terdiam, dibelainya lagi rambut Misah, dibelainya juga wajah ayu itu dengan penuh kasih sayang. Sebenarnya dalam hati Misah, ia tak ingin pergi meninggalkan Nyi Sambi. Apalagi jika harus menemui paman dan bibinya yang tak pernah ia kenal. Ia ingat waktu masih kecil pernah sekali pamannya berkunjung, bapaknya berkata bahwa lelaki yang berkunjung itu adalah pamannya yang bernama Wira, paman keduanya yang kini menjadi senopati di istana raja. Setelah itu tak pernah lagi ada keluarga ayahnya datang atau berkirim pesan kepadanya.
Jalu diam tidak menjawab panggilan Misah. Raganya kaku, lidahnya kelu. Meskipun otaknya sudah berusaha mengarahkan tubuh Jalu agar bergerak cepat menyahut panggilan Misah. Tapi pemuda itu tetap bisu karena ternyata hatinya berkata lain. Kejadian semalam membuatnya canggung dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang. Apakah Misah memanggilnya karena hendak memarahi atau hendak memukulnya.“Kang!!” Misah mengulangi panggilannya dengan suara lebih nyaring disertai dengan lambaian tangan. Melihat Misah yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengamuk, pemuda itu memutuskan untuk mendekat.“Kakang sedang apa?” ujar Misah sembari memungut ubi yang sudah dingin. Jalu gugup tak bisa langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada raut wajah Misah yang datar. Seakan tidak pernah terjadi apa pun dalam hidupnya. Misah mengambil sepotong ubi kemudian memakannya. Ia menikmati ubi itu hingga tak menyadari bahwa Jalu sedang menatapnya penuh selidik.“Simbok kemana Kang? Kenapa sepi sekali, kemana
Jalu berlari keluar seraya tergesa menutup pintu. Degup jantungnya belum berhenti berpacu membuatnya terduduk lemas di bale bambu. Perasaannya seketika resah membayangkan Misah akan mengamuk dan menjerit karena ketakutan. Ia sangat cemas jika gadis itu kembali kacau dan tidak terkendali akibat ulahnya yang sembrono. Tapi entah kenapa, Misah tidak bereaksi. Sekian lama Jalu menunggu, tapi suasana dalam pondok masih tenang tidak ada suara. Kondisi yang melegakan sekaligus terasa aneh. Ia tidak ingin berpikir macam-macam, dan berusaha untuk kembali tidur.…Jalu memijit-mijit kepalanya yang terasa pening karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia terbangun dari tidur walaupun baru beberapa detik yang lalu bisa terlelap. Suara kokok ayam hutan sudah terdengar yang berarti hari sudah beranjak pagi. Jalu merasa sudah tidak ada gunanya lagi ia tidur. Pikiran yang sedang tidak karuan sudah pasti akan membuatnya kembali terjaga. Kejadian semalam terus terbayang di benaknya, mata Misah yang men
Tiga purnama telah berlalu sejak kepergian Santi. Jalu merasa sangat bersalah karena telah gagal melindungi bayi itu. Ia juga mulai ragu, apakah nantinya akan sanggup melindungi Misah. Tubuh gadis itu memang sudah membaik. Luka-lukanya telah pulih walau ada beberapa bagian tubuh yang berbekas. Tetapi sejak saat itu Misah tidak pernah berbicara. Tatapannya kosong, setiap hari hanya mengurung diri dalam pondok. Enggan untuk didekati. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Hampir setiap malam ia mengigau, kadang menangis dan meratap. Ia akan histeris setiap kali Jalu hendak menenangkannya. Puncaknya adalah kemarin sore. Ketika Jalu pulang dari mencari makanan, ia mendapati pintu pondok terbuka dan tidak menemukan Misah di sana. Pemuda itu kalang kabut mencari Misah dengan perasaan cemas. Lama mencari akhirnya ia menemukan gadis itu sedang berdiri di tepi jurang dan hampir saja melompat.“MISAHHHH!” teriak Jalu.“Bapak menjemputku Kang!” sahut Misah spontan sambil menunjuk ke dasar jurang.“Berhe
Mata Misah mengerjap pelan. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Santi yang menangis kencang. Bayi mungil itu meronta sembari mengayunkan kedua tangan dan kakinya ke udara, membuat kain tipis yang membalutnya tersibak sebagian. Bibirnya mulai membiru karena terlalu lama meraung. Antara sadar dan tak sadar, Misah menangkap suara langkah mendekat. Kini ia merasakan seseorang berusaha mengangkat kepalanya kemudian menyuapkan air. Misah hanya bisa pasrah, air segar mengucur perlahan ke tenggorokannya yang kering. Badannya terasa panas tapi tubuhnya menggigil. Keringat dingin membasahi tikar anyaman daun pandan yang ditidurinya. Tak lama kemudian Misah kembali tak sadarkan diri.“Maafkan aku Misah!” ucap Jalu lirih. Ia berusaha menahan rasa bersalah di hatinya. Seharusnya ia sudah berada di hutan sebelum Misah sampai. Jalu berniat mengikuti Misah hidup di pengasingan. Ia menetapkan hatinya dan meminta ijin kepada Lek Parmin yang sudah seperti ayahnya sendiri. Tapi niat Jalu ditentang habis-
Kabut mulai turun. Udara malam yang sudah dingin, kini menjadi tiga kali lebih dingin. Rangga sudah lelap di tempat nyaman yang dipilihnya. Lelaki kekar itu seakan tidak terpengaruh dengan udara dingin meskipun ia hanya bertelanjang dada. Suasana sangat sunyi. Hanya sesekali terdengar gesekan-gesekan daun dan ranting yang tertiup angin. Galuh melempar beberapa potongan kayu ke perapian, ia tidak tidur dan memutuskan untuk berjaga. Bagi pengawal seperti dirinya, tidak tidur adalah hal biasa. Bahkan terkadang ia bisa tidak tidur selama berhari-hari saat bertugas atau ketika sedang berlatih ilmu kanuragan. Lain halnya dengan Misah. Gadis itu beberapa kali memutar posisi tidurnya. Baru kali ini ia merasakan betapa tidak nyamannya tidur di alam bebas. Tubuhnya terasa gatal karena seharian berkeringat dan tergesek rumput yang ditidurinya. Galuh mengamati gerak gerik Misah dari tempatnya duduk. Sejak tadi memang hatinya tidak tenang. Desiran itu masih terasa sampai sekarang. Suasana sunyi me
Candikolo berwarna jingga tampil menawan di antara rimbunan daun pohon randu dan jati yang berjajar kokoh sepajang jalan. Cahaya jingga itu berkilat panjang lurus bersilangan bagai kerlip panggung yang dipersiapkan Dewata bagi Misah menuju tempat penghakiman. Peluh yang bercucur di kening membuat wajah ayunya berpendar ketika cahaya jingga itu menyayatnya lembut.Misah pasrah mengikuti langkah lebar Galuh yang berjalan mantap di depan. Meskipun punggungnya terasa sakit karena beban Santi yang digendongnya. Tangannya pegal menenteng buntalan menggantung pada lengannya. Sedangkan kakinya sudah mati rasa menapaki perjalanan berjam-jam tanpa alas. Gadis itu hampir seperti mayat hidup yang berjalan lurus dengan tatapan kosong. Tubuhnya lesu, rambut hitam panjangnya digelung asal mengunakan tusuk konde pemberian Nyi Darsan. Sesekali rambut itu tertiup angin dan membuatnya semakin tak karuan. Misah tidak peduli lagi dengan apa pun dan siapa pun. Jalanan berbatu, ranting kayu dan akar pohon h







