Share

BAB 224 PAMER KEMESRAAN

last update publish date: 2026-09-22 16:36:52

Hah? Jadi... Kak Rayan sampai berniat pindah ke luar negeri hanya untuk melupakanku?

Jika keadaannya sudah seperti ini, mana mungkin aku berani meminta izin pada Axel untuk mengambil beasiswa dan kuliah di luar negeri? Pria itu pasti bakal salah paham dan mengira aku sengaja menyusul Kak Rayan ke sana!

Aku kembali menyandarkan punggung ke dinding dingin di belakangku seraya menghela napas panjang. Sepertinya aku memang harus mengubur impian besar itu dalam-dalam.

Sudahlah... belajar di dalam n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 232 SAH!

    "Xel... bukankah lo bilang kita mau menghadiri rapat sama klien?" tanyaku penuh keheranan pada Axel yang kini sudah berdiri tegap di sampingku.Axel hanya mengulas senyum tipis seraya menatap Mama dan Pakde Arga. "Iya, rapatnya di sini. Bersama orang tua kita dan petugas KUA," sahutnya santai, disusul kekehan renyah dari bibirnya.Keningku berkerut makin dalam, sementara mulutku sempat menganga lebar karena kehilangan kata-kata. "Lo serius?! Bukankah... kemarin lo bilang kita baru akan meresmikan pernikahan secara negara sekitar seminggu lagi?"Mama dan Pakde Arga ikut terkekeh melihat raut kebingunganku yang teramat nyata."Awalnya memang dijadwalkan seminggu lagi, Kay. Tapi entah kenapa, tadi malam Axel tiba-tiba menghubungi kami dan memajukan jalannya acara jadi hari ini," sahut Pakde Arga menjelaskan.Aku spontan menoleh menatap Axel dengan sejuta tanda tanya di benakku. Sekali lagi... kenapa dia tiba-tiba mengubah jadwal sakral ini secara mendadak? Mungkinkah... percakapan dan di

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 231 KEJUTAN BESAR

    Aku akhirnya mengurungkan niat untuk berkuda, lalu melangkah kembali ke kamar seraya bergumam kesal sendiri."Dasar cewek aneh! Gayanya saja sok menolak Kak Rayan, jangan-jangan sebenarnya dia juga mulai suka!""Ada apa?""Astaga!" Aku terperanjat kaget dengan jantung yang rasanya hampir copot. Axel tiba-tiba muncul keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambut basahnya menggunakan handuk."Lo mengagetkan gue saja! Bukannya tadi lo masih tidur lelap?" tanyaku seraya mengelus dada yang masih berdebar kencang.Axel menyeringai geli. "Gue nggak bisa tidur lagi. Lo nggak jadi berkuda?"Aku melangkah lesu, lalu mendudukkan diri di tepi ranjang. "Hani sudah asyik berkuda duluan sama Kak Rayan.""Oh, ya?"Aku hanya mengangguk pelan seraya mencebikkan bibir.Axel terkekeh kecil, walau ada pendar tipis yang misterius di matanya. "Cepat juga kemajuan mereka. Padahal tadi malam Hani masih berpura-pura jual mahal."Axel menghentikan usapan handuknya, lalu mengecek jam tangan di atas nakas. "

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 230 PEMANDANGAN MANIS

    Aku menghela napas panjang, berusaha mengatur ritme dadaku agar bisa memberikan alasan yang masuk akal. "Gue cuma..."Aku menjeda kalimatku. Rasanya teramat berat untuk menyampaikan hal yang sesungguhnya berada di dalam benakku. "...cuma pengin sedikit mandiri agar keluarga lo nggak terus-menerus merendahkan gue."Axel tertawa singkat—sebuah tawa getir yang menusuk. Ia mendadak membeku, menatapku dengan binar mata yang mulai berkaca-kaca. "Apa bergantung sama gue... begitu membebani hidup lo, Kay?"Aku hanya menunduk dalam-dalam, tak kuasa menjawab pertanyaan yang penuh kekecewaan itu. Jemariku meremas kain celana yang kukenakan seraya meresapi gemuruh di dalam dada.Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Axel berbalik dan melangkah hendak keluar dari kamar."Xel... lo mau ke mana?" tanyaku refleks, mendadak panik melihat punggungnya yang menjauh."Ke tenda. Menemani Rayan."Tepat saat ia hendak melangkah keluar pintu, aku bergegas berlari dan memeluknya dari belakang."Lo marah sama g

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 229 SALAH PAHAM

    Kelopak mata Hani bergerak cepat seraya tubuhnya mendadak menegang kaku di tempat.Sementara itu, aku dan Axel yang masih mengintip mereka melalui celah kecil pintu kamar tak kuasa menahan tawa seraya membekap mulut rapat-rapat."Kayaknya mereka makin salah tingkah," bisik Axel tepat di telingaku.Aku hanya mengangguk cepat seraya menutup mulut dengan kedua tangan agar tidak meledakkan suara tawa."M-maksudku... aku ingin kembali ke tenda karena merasa gerah di dalam," lanjut Kak Rayan berusaha meluruskan kalimatnya dengan raut wajah sangat canggung.Hani tertawa garing seraya mengangguk-angguk kaku. "Ohh... itu. Ya sudah kalau begitu, Kak Rayan keluar saja. Aku... mau lanjut tidur. Selamat malam..." pamit Hani terburu-buru dengan tingkah yang masih serba salah."Iya, selamat malam."Mereka akhirnya berpisah di depan pintu kamarku dan melangkah menuju tujuan masing-masing.Axel merapatkan kembali pintu hingga terdengar bunyi klik mengunci. Kami kemudian merebahkan diri di atas ranjang

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 228 LAGI-LAGI TERTANGKAP BASAH

    Pandanganku menyapu area sekitar tebing dengan gelisah. "Xel... lo serius mau melakukannya di sini?"Axel terkekeh kecil. "Kalau iya, memangnya lo mau?" godanya seraya kembali meremas dadaku lembut.Aku spontan menahan tangannya yang bersembunyi di balik kausku seraya menggeleng pelan. "Nggak mau! Gue takut tiba-tiba penjaga villa datang pas kita lagi asyik-asyiknya."Axel tiba-tiba terbahak hingga kepalanya mendongak ke atas. Ia akhirnya menarik keluar tangannya dari dalam kausku. "Kayla... Kayla... bisa-bisanya pikiran lo sampai ke sana.""Ya... bisa saja, kan? Bagaimana kalau penjaga itu sampai melihat tubuh gue?"Axel memicingkan sebelah matanya dengan raut makin posesif. "Hmm... gue nggak bakal ngebiarin cowok mana pun melihat tubuh lo."Aku mengangkat bahu seraya mencebikkan bibir."Kalau begitu, ayo kita pindah ke kamar saja!" Tanpa memberi waktu untuk bersiap, Axel langsung menggotong tubuhku. Ia membiarkan kedua kakiku melingkar erat di pinggang kokohnya. Aku spontan mengalun

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 227 MAK COMBLANG DADAKAN

    "KAYLA!! BERANI-BERANINYA KALIAN BERCIUMAN DI DEPAN KAMI?!"Mendengar jeritan nyaring yang seolah memekakkan telinga itu membuat aku dan Axel seketika terperanjat kaget dan menghentikan ciuman kami secara mendadak.Di belakang tempat duduk Axel, Hani sudah berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Matanya mendelik menatap kami dengan raut wajah penuh kejengkolan yang siap meletup."DASAR NGGAK TAHU MALU!!" Hani meraup segenggam kacang polong dari atas piring, lalu menaburkannya ke arah kami seraya merutuk kesal. "Dasar pasangan mesum nggak tahu tempat!""Hani, hentikan!" teriakku seraya memiringkan tubuh dan mengangkat tangan untuk menangkis hujan kacang polong yang ia lempar.Dengan sigap, Axel langsung menarik tubuhku ke dalam dekapan hangatnya, melindungiku seraya ikut menangkis sisa lemparan kacang."Hani... maafkan kami..." ucap Axel seraya terkekeh renyah tanpa rasa bersalah.Bersamaan dengan itu, Kak Rayan yang ikut tertawa gelak segera menahan pergelangan tangan Hani yang hendak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status