LOGINAku Kayla Maharani, terikat pernikahan rahasia dengan kakak sepupuku demi memenuhi wasiat tabu Papa. Aku hanya berniat bertahan sampai masa percobaan selesai, lalu bercerai demi Miko, pacar yang aku cintai. Namun, Axel yang semula usil mendadak berubah menjadi pria asing yang dingin, dominan, dan mulai menuntut haknya sebagai suami seutuhnya. "Gue mau lo. Jadi... putusin cowok lo itu." Saat obsesi Axel berubah menjadi hasrat untuk memiliki, aku harus memilih: mempertahankan cinta lamaku atau terjebak selamanya dalam ikatan yang semula aku anggap hanya sandiwara.
View More"Kayla, ambilin handuk!" Suara teriakan Axel terdengar dari kamar mandi, membuat tanganku yang sedang mengoles kream tabir surya ke wajah mendadak terhenti.
Aku menoleh ke arah kamar mandi dengan dahi berkerut. "Ambil aja sendiri! Lo kan punya kaki!"
"Lo mau gue becekin kamar lagi? Nanti lo jangan marah ya!"
"Sialan, lo!" rutukku dengan wajah masam.
Aku meletakkan botol kream ke meja rias dengan gerakan kasar, lalu meraih handuk di kasur untuk mengantarkannya ke kamar mandi.
Dari pintu kamar, aku melihat ruang shower yang tertutup kaca itu penuh dengan uap air hangat yang menutupi sebagian dindingnya, membuat pandanganku ke bagian dalam tampak buram.
Dengan dada yang masih diliputi amarah, aku langsung membuka pintu kaca sambil mengomel.
"Makanya kalau mandi siapin dulu semuanya. Jangan lang—" Kalimatku seketika terhenti setelah mataku menangkap tubuh bugil suamiku yang terekspos begitu jelas tanpa sehelai benang pun.
Mataku sempat membulat dan tertahan di daerah vitalnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuang muka demi membersihkan mataku dari noda dan dosa.
Brengsek! Kenapa aku harus melihat benda itu pagi-pagi begini?
Aku menggigit bibir bawah sambil memejamkan mata, lalu mengulurkan handuk padanya dengan gerakan ragu. "Cepetan ambil!"
Namun, Axel seperti sengaja ingin mengerjaiku. Aku mendengar suara kekehan kecil lolos dari bibirnya disusul suara percikan air bekas langkah kakinya yang mendekat.
"Ngapain lo tutup mata? Bukannya lo udah sering liat gue bugil?"
Benar. Selama hampir satu tahun menjalin pernikahan rahasia dengan sepupuku itu, kami sudah biasa saling melihat tubuh polos kami. Meski begitu, kami sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hubungan badan.
Ya mana mungkin kami bernafsu untuk melakukan hubungan itu? Axel adalah kakak sepupuku dari pihak Ibu. Kami yang hanya terpaut usia lima tahun sudah terbiasa bermain bersama sejak kecil. Tapi gara-gara wasiat sialan dari Papaku, kami akhirnya terpaksa menikah.
"Gue geli lihat pentungan lo. Cepet nih, ambil handuknya!" teriakku dengan mata yang masih terpejam erat.
Namun, bukannya mengambil handuk, Axel justru menarik tanganku. Ia memutar tubuhku dengan cepat dan mendekapku erat dari belakang.
Aku bisa merasakan tubuhnya yang masih basah, menembus kain piyamaku yang tipis. Aku bahkan bisa mencium wangi bergamot dari sabun favorit Axel yang maskulin.
Untuk beberapa saat, tubuhku membeku dalam dekapannya. Aku hampir saja lupa, bahwa pria di belakangku ini adalah kakak sepupuku yang menikah denganku karena terpaksa. Sampai akhirnya setetes air jatuh dari ujung rambutnya, tepat mengenai bulatan dadaku yang masih bebas dari balutan BH.
Aku terperanjat dan langsung memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kungkungannya. "Axel! Apaan sih, lo?! Lepasin gak?!"
Namun, postur badannya yang jauh lebih tinggi dariku, serta tubuhnya yang tegap membuatku kesulitan untuk melawan. Ia justru semakin mengeratkan dekapannya, hingga membuatku kesulitan untuk bergerak.
"Lo nggak biasanya grogi gini. Jangan-jangan... lo mulai naksir gue, ya?" godanya di ceruk leherku.
Aku berusaha menyikut perutnya sebisa mungkin. "Gak usah kepedean deh, lo!" Lalu menjauhkan wajah untuk menghindari wajah Axel yang semakin mendekat. "Ngapain juga gue naksir sama cowok ingusan kayak lo."
Nada suaraku terdengar ragu di telingaku sendiri. Meski aku yakin tidak mungkin menyukainya, entah kenapa dadaku justru berdesir saat mengucapkan kalimat itu.
"Serius, lo?" godanya lagi tepat di lubang telingaku.
Dalam sekejap, bulu kudukku meremang setelah suaranya yang serak menggelitik lubang telingaku. Ditambah lagi, tonjolan dari kejantannya yang begitu dekat terus menggesek bokongku yang masih belum mengenakan pakaian dalam."Axel, gue nggak bercanda ya. Cepat lepasin gue!"
Bukannya menurut, dia justru mendorong tubuhku hingga menempel ke dinding kaca, mengunci pergerakanku di sana.
"Ah! Axel!" Pekikku begitu tubuhku menempel di dinding kaca. "Sialan lo ya! Lepasin gue bilang!"
"Kenapa gue harus nurut? Lo kan istri gue. Jadi... gue boleh dong nikmatin tubuh lo."
Deg! Jantungku seketika mencelos. Entah kalimat itu hanya godaan atau bahasa spontan yang lolos begitu saja dari mulut pria normal sepertinya.
Namun yang pasti, kalimat itu sukses membuat detak jantungku semakin tak terkendali.
'Sial! Aku tidak mungkin punya keinginan untuk bercinta dengannya, kan?' rutukku dalam hati.
Tidak. Jangan sampai itu terjadi. Aku yakin respon tubuhku ini terjadi karena usiaku yang saat ini sudah lebih dari sembilan belas tahun. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh dorongan hormon di tubuhku yang sedang bergejolak.
"Lo jangan bercanda, Axel. Kita sudah sepakat gak akan ngelakuin itu. Lagipula lo sepupu gue! Lo tega?!"
"Tapi gue cowok normal, Kayla..." sangkalnya dengan tegas diiringi seringai nakal.
Aku sangat mengerti di usia Axel yang sudah dua puluh empat tahun, ia pasti memiliki keinginan yang besar untuk melakukan seks. Di tambah lagi dia adalah pemain basket yang mempunyai stamina tinggi.
Tapi tetap saja, aku adalah sepupunya. Rasanya masih sulit dipercaya jika aku harus berhubungan badan dengan pria yang sudah sering bermain denganku sejak kecil.
Lagipula, di kampus Axel terkenal sebagai cowok playboy yang punya banyak cewek. Aku yakin dia pasti sudah sering berhubungan badan dengan cewek-cewek itu. Jadi... tidak ada alasan dia harus menyentuhku juga.
"Gue nggak mau!" tolakku, lalu berbalik badan menghadapnya saat mendapat celah. "Lo kan punya banyak cewek. Main aja sama mereka. Jangan gue!"
Dengan gerakan cepat, aku menyundul alat vitalnya yang bergelantungan bebas menggunakan lutut.
"Aww!" Axel memekik sambil mencengkeram keperkasaannya itu dengan kedua tangan.
Bersama dengan itu, aku langsung mendorongnya dan berusaha untuk melarikan diri.
"Kayla!"
"Sorry... gue terpaksa!" Aku berlari sekencang mungkin hingga keluar kamar.
Namun sialnya, Axel berhasil menangkapku tepat di ruang dapur dengan tubuh yang masih telanjang, lalu mendekap tubuhku dari belakang. "Lo pikir bisa lari dari gue?"
"Lepasin gue Axel! Lo nggak benar-benar ingin bercinta sama gue, kan?!"
"Gue mau..." sahutnya, sukses membuatku sangat shock.
"Apa yang lo lakukan, Inez?! Lo mau membunuh Kayla?!" teriak Rayan berang sembari tangannya dengan sigap menyangga tubuhku dari belakang. Aku yang masih membeku hanya bisa menoleh pada Rayan dengan detak jantung bertabuh kencang akibat rasa panik yang luar biasa. Tak berselang lama, derap langkah kaki yang berlari tergesa menaiki anak tangga terdengar riuh. Miko dan Axel tiba-tiba muncul dengan napas tersengal-sengal. Pandangan mata mereka seketika membelalak lebar begitu menangkap posisiku. Aku bergegas menegakkan tubuh, merasa salah tingkah karena situasi ini mendadak mengumpulkan dua cowok yang pernah hadir dalam kisah cintaku di satu tempat yang sama. "Kamu nggak apa-apa, Kay?" tanya Rayan dengan raut wajah amat khawatir. Aku hanya menggeleng pelan tanpa suara, melirik canggung ke arah Axel dan Miko yang masih menatapku tajam. Detik berikutnya, Miko mendadak melangkah menaiki tangga mengham
Sialan! Inez ingin aku hamil anak Miko? Benar-benar bejat. Tak kusangka penampilannya yang berkelas sungguh sangat bertolak belakang dengan hatinya yang busuk. "Kamu sendiri gimana? Kamu berhasil tidur sama Axel?" tanya Miko balik. Mataku langsung membulat sempurna mendengar pertanyaan itu. Sungguh brengsek! Jadi mereka berdua berencana menghancurkan aku dan Axel secara bersamaan? Inez membuang muka dengan raut wajah masam. "Mana bisa! Dia mabuk berat! Padahal dia udah sempat cium gue, tapi malah pingsan." Ternyata, kesaksian Axel sepenuhnya benar. Dia tidak mengarang cerita tentang kejadian mabuknya kala itu. "Hahaha..." Miko terbahak sembari membetulkan posisi kacamatanya. "Sama aja. Kamu juga sama-sama payah!" "Ya kalau gue wajar! Mana bisa gue meniduri Axel kalau punya dia aja nggak tegak!" Inez menunjuk dada Miko tegas dengan wajah penuh amarah. "Sedangkan lo! Lo punya banyak kesempatan b
Hani melirikku sinis. "Iri sih nggak juga..." sahutnya sembari membuang muka. Lagian mereka menikah juga cuma gara-gara dijodohkan. Axel nggak benar-benar tertarik kok sama Kayla. Buktinya sekarang mereka pisah."Aku spontan menepuk keras paha Hani. "Lo?! Tega banget sih sama gue...""Ah!" pekik Hani sembari meringis mengusap pahanya. "Ye... kok sewot sih? Gue kan ngomong apa adanya!""Hani... Jangan begitu sama teman kamu..." timpal Papa Hani sembari mengarahkan remote ke TV.Mama Hani hanya tertawa kecil sembari memandangi kami berdua. "Iya, kasihan Kayla. Tadi pas baru datang aja raut wajahnya udah lesu banget. Dia pasti patah hati berat.""Ya... siapa suruh meninggalkan si tampan Axel?" Hani memiringkan tubuhnya ke arahku. "Kalau lo meninggalkan dia, yang ada Inez bakal semakin leluasa merebut Axel."Mungkin perkataan Hani ada benarnya. Tapi jika memang Axel akhirnya jatuh ke pelukan Inez, dia sungguh bukan pria yang pantas u
"Sebagai apa?" tanyaku antusias sembari mencondongkan kepala mendekatinya.Hani tak langsung menjawab. Ia menyeringai misterius dengan raut wajah mencurigakan, sebelum akhirnya ikut mencondongkan tubuhnya ke arahku."Cleaning service..." bisiknya dengan senyum mengembang lebar.Aku langsung menarik badanku menjauh, menatap Hani dengan raut wajah sewot. "Lo jangan bercanda ya, Hani! Masa cleaning service sih! Lagipula sama aja kayak jadi kasir di kafe. Kalau tugasnya di mall, gue juga pasti bakal ketemu sama mahasiswa Mayapada!""Ye... Yang bilang di mall siapa?! Gue kan bilang kantor!" Hani mengangkat satu telunjuknya di udara seolah menegaskan tiap suku kata. "Kan-to-ran!"Aku melirik Hani kesal sembari menggaruk kepala yang tak gatal. "Iya sih, kantoran. Tapi masa iya cleaning service...""Trus lo berharap jadi akuntan?! Kuliah aja baru semester tiga!" bentaknya dengan mata melotot lebar."Lagian... lo itu jangan menye






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore