Masuk"Lo sengaja bikin masalah?!" teriakku, semakin tak terkendali.
Axel yang sudah berganti pakaian basket melangkah mendekati kami bersama pasukannya.
Seluruh mata mahasiswa yang ada di kantin itu sontak saling berbisik sambil menonton pertengkaran anjing dan kucing yang sudah biasa terjadi di antara kami.
Ini bukan pertama kalinya. Seluruh isi kampus tahu kami adalah saudara sepupu yang kerap bertengkar di mana pun.
Miko langsung berdiri menghampiriku. Ia merangkul pundakku protektif sambil berbisik lembut, "Kayla... sudah. Nggak perlu diladenin."
Axel dan pasukan basketnya itu sontak tertawa singkat sambil membuang muka, terlihat muak melihat perlakuan lembut Miko padaku.
Aku meraih tas ransel di kursi dengan gerakan kasar, lalu melangkah keluar dari kantin melewati Axel yang diikuti oleh Miko di belakangku.
"Pacar itu jagain, bukan jadi kacung," sindir Axel. Suaranya terdengar begitu jelas dan menusuk di telingaku.
Aku dan Miko seketika menghentikan langkah, lalu berbalik menghadap Axel secara bersamaan.
"Maksud lo apa?!" desisku dengan wajah sinis.
Axel berbalik, menatap kami dengan sikap sombongnya yang mendarah daging. "Dia... kacung lo, kan?" ucapnya sambil menunjuk lurus pada Miko.
"Bersihin meja, ambilin makanan, sekalian aja suruh dia bersih-bersih di apartemen kita."
Mendengar ocehan kurang ajarnya itu, emosiku kembali tersulut hebat. Aku spontan melempar tas ranselku ke arah dada Axel dengan keras.
Brak!
"Sialan lo! Lo pikir diri lo hebat, huh?!" Aku merapatkan jarak di antara kami, saling menatap penuh dengan amarah yang memuncak.
"Seenggaknya... gue nggak pernah minta bayarin makan ke cewek," ucap Axel dengan nada sedingin es.
Ia mengangkat satu ujung alisnya, memandangku dengan tatapan meremehkan. "Dan sarapan lo tadi itu." Ia menunjuk ke meja kami sebelumnya dengan seringai remeh. "Itu dibayar pakai kartu kredit lo, kan?"
Tubuhku seketika membeku. Dadaku tiba-tiba terasa sesak bagai dihantam palu godam.
Tidak. Bagaimana bisa Axel tahu? Sejak satu tahun lalu, aku memang menitipkan kartu kredit pada Miko dan aku yang selalu membayar tagihan bulanannya.
Aku merasa hal ini wajar-wajar saja selama kami pacaran. Aku tidak mungkin menyerahkan semua biaya ngedate pada Miko yang juga sedang merintis karier sebagai asisten dosen.
Bagiku hal itu sungguh tidak adil. Jadi, aku menitipkan kartu kreditku pada Miko agar bisa dipakai saat kami jalan berdua.
"Itu bukan urusan lo!" serangku balik, mencoba menutupi rasa malu.
"Kamu benar." Suara Miko tiba-tiba terdengar. Wajahnya sempat menegang, namun ia segera mendekati kami dan berdiri tepat di sampingku. "Aku membayar makan tadi menggunakan uang Kayla. Tapi kamu nggak usah khawatir, nanti aku pasti ganti uangnya, kok."
Teman-teman klub basket Axel tertawa keras dan saling memandang. Pandangan mereka terlihat jelas sangat meremehkan.
"Ternyata dia cuma cowok mokondo, guys!" Hina salah satu di antara mereka disertai tawa riuh yang membuat amarahku semakin berada di ubun-ubun.
Aku yang sudah gelap mata spontan maju dan menginjak kaki mereka satu per satu dengan sepatu kets-ku. "Sialan lo pada!"
"Ah!" pekik mereka bergantian sambil memegangi kaki yang kesakitan.
Aku menyambar kembali tas ranselku di lantai tepat di depan kaki Axel, lalu berbalik hendak pergi dari tempat terkutuk ini.
Namun, dengan gerakan secepat kilat, Axel meraih pergelangan tanganku. Ia menarik tubuhku kuat-kuat hingga jarak di antara kami mengikis habis.
"Lo nggak mau dengerin peringatan gue, hm?" bisiknya dengan nada dingin yang mengancam.
Aku berusaha keras menyentak tanganku, meski usaha itu sia-sia di hadapan tenaga atletnya. "Sabar, dong... gue masih tunggu waktu yang tepat!" desisku lirih agar tidak terdengar yang lain.
"Waktu yang tepat?" Axel melirik Miko sinis sebelum kembali menatapku. "Waktu sampai lo terima lamaran dia?"
"Lo nggak usah ngatur gue, Axel!" bisikku sambil terus memberontak untuk lepas dari cengkeramannya.
Namun, bukannya melepas, ia justru menarik tubuhku lebih rapat hingga wajah kami begitu dekat dan bibir kami hampir bersentuhan. "Haruskah gue cium lo di sini sekarang?"
Aku tersenyum miring dengan tatapan dingin. "Nggak usah gertak gue..."
"Lo pikir gue cuma gertak?"
Mataku menyapu seluruh area kantin dengan panik. Saat ini, pertengahan adegan kami sudah menjadi tontonan seru bak drama China bagi mahasiswa lain.
Namun, tak ada seorang pun yang berusaha melerai karena mereka hanya menganggap ini sebagai bercandaan atau pertengkaran sengit antar-sepupu.
Tepat saat aku melirik ke arah pintu masuk kantin, aku melihat seorang wanita cantik sedang berjalan anggun ke arah kami.
Siska. Gosipnya, wanita itu adalah pacar baru Axel. Aku juga beberapa kali melihat mereka jalan bersama dan terlihat cukup dekat.
Jika Axel berusaha mengancamku karena di sini ada Miko, bagaimana kalau ancaman itu kubalikkan pada dirinya sendiri?
"Itu cewek lo, kan?" tanyaku sambil melirik Siska yang berjalan semakin mendekat ke area kami. "Kalau lo berani, coba aja cium gue di depan dia."
Axel tertawa singkat. Bukannya panik, sorot matanya padaku justru kian dalam dan menggelap, bak predator yang siap memangsa korbannya bulat-bulat.
"Lo nantang gue?"
Aku menyeringai tipis, yakin ini hanya gertakan mentah yang sudah sering dia hunuskan padaku setiap kali kalah dalam adu argumen sejak kecil.
"Berani nggak?" Tantangku sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi.
Aku sempat tercengang sejenak, mematungi paras pria di hadapanku yang begitu mirip dengan Axel. Namun, sadar bahwa tatapanku mulai tidak sopan, aku buru-buru menyambut uluran tangannya sambil tersenyum canggung."H-hai... Benar, aku Kayla," balasku sedikit terbata.James mengumbar senyum manis yang kelewat hangat—terlalu ramah untuk ukuran seseorang yang baru pertama kali bertatap muka denganku."Cantik. Sesuai dugaanku," celetuknya santai dengan nada penuh pesona.Senyum profesional di wajahku seketika menguap. Aku terpaku, darahku seolah berhenti mengalir. Siapa yang sebenarnya sedang dipuji pria ini? Tidak mungkin dia sedang mengomentari diriku, kan? Kami kan baru saja saling menyapa!"Maaf, maksudnya?" tanyaku penuh selidik, mengernyitkan kening.Tanpa beban, James langsung mengalihkan pandangannya menuju deretan gantungan busana rancanganku yang terpajang rapi di sudut ruangan."Desain busanamu. Keren dan cantik," ralatnya santai seraya menunjuk ke arah manekin, lalu melangkah sa
"Bye, Xel... Gue akan selalu merindukan lo..." gumamku lirih, melambaikan tangan perlahan sembari membiarkan butiran air mata luruh membasahi pipi, hingga sosok tegapnya benar-benar tertelan oleh kerumunan orang di balik pintu boarding.Aku terdiam cukup lama di tempatku berdiri, membiarkan deru batin dan isak tangisku mereda. Di dalam hati, aku merapalkan doa yang panjang dan tulus. Tuhan... Lindungi suamiku dalam perjalanannya. Semoga segala kerumitan dan masalah di kantornya bisa segera usai, agar kami bisa secepatnya berkumpul kembali dan merajut hari-hari bahagia seperti sedia kala...Tak lama kemudian, sebuah rangkulan hangat mendarat di pundakku. Mama melangkah mendekat, menggandeng jemariku dengan lembut guna menenangkan badai kegalauan yang masih bergemuruh di dadaku."Sudah... Jangan diterusin sedihnya, Kayla," bisik Mama bijak, tersenyum menenangkan. "Axel kan pulang ke negaranya sendiri. Lagian, dia pergi demi menyelamatkan masa depan kalian bertiga. Kalau perusahaan Axel
Mendengar pertanyaanku yang seolah meminta untuk ikut serta, Axel membalas pelukanku dengan hangat. Ia mengusap punggungku perlahan sebelum melontarkan kalimat yang langsung membuat dadaku mencelos."Kalau lo ikut gue, bagaimana dengan nasib fashion show lo?" tanyanya lembut, menatapku meminta kepastian.Seketika, tubuhku menegang. Pertanyaan itu menempatkanku di persimpangan jalan yang sangat sulit. Di satu sisi, batinku meronta-ronta menolak perpisahan; aku tidak ingin sedetik pun berjauhan dengan pria yang baru saja kembali seutuhnya ke sisiku ini. Namun di sisi lain, aku sadar betul tidak bisa begitu saja meninggalkan kota Liberty. Persiapan fashion week yang sudah di depan mata adalah impian terbesar yang selama ini kuimpikan dan kuperjuangkan dengan cucuran keringat. Mengikutinya adalah tiket emas bagi masa depan karierku sebagai desainer.Di antara dua pilihan yang sama-sama menyayat hati itu, aku harus bersikap realistis. Dengan dada sesak dan tenggorokan tercekat, aku terpak
Pandangan mata Mama langsung teralih sepenuhnya ke arah ambang pintu. Sosok Axel yang berdiri tegap sambil mendekap erat tubuh mungil Sira berhasil merusak atensi wanita paruh baya itu seketika. Tanpa ampun, Mama menghempas tubuhku ke samping demi membuka jalan, lalu melangkah cepat menghampiri sang menantu dengan mata berbinar-binar penuh puja."Sira... cucu Mama..." seru Mama girang, langsung mengambil alih posisi Axel.Aku yang tersingkir begitu saja di tengah ruangan hanya bisa terpaku dengan rahang yang nyaris jatuh. Kesal luar biasa, aku menghentakkan sebelah kakiku kuat-kuat ke lantai kayu. Di dalam dada, batin dan perasaanku bergemuruh hebat memprotes keadaan.Ternyata benar ya, apa kata orang-orang di luar sana? Cucu itu rasanya jauh lebih berkilau dan menyilaukan ketimbang anak kandung sendiri. Sekarang, aku benar-benar tidak terlihat berharga lagi. Sira selalu menjadi pusat perhatian dan jauh lebih penting di mata siapapun, bahkan di mata mamaku sendiri."Aduh, cantiknya c
Tanpa kuasa menahan gejolak di dada, aku kembali melompat menerjang ke dalam pelukan Axel. Tangisku pecah sejadi-jadinya, meleleh tanpa sisa di balik dada bidangnya. Aku mencengkeram erat kemejanya, merengek bak anak kecil yang tidak rela mainannya direbut paksa."Gue nggak mau... lusa itu terlalu cepat, Xel!" racauku di sela isakan, sengaja memamerkan sisi manja yang jarang sekali kutunjukkan padanya. "Gimana kalau nanti di sana lo lupa sama gue? Gimana kalau lo sibuk banget sampai nggak ada waktu buat telepon gue dan Sira? Gue nggak mau jauh-jauh dari lo, titik!"Axel terkekeh geli mendengarnya. Alih-alih merasa terbebani, ia justru merengkuh pinggangku semakin erat, membiarkan air mataku membasahi bahunya. Dengan penuh kesabaran dan kedewasaan, ia mengusap punggungku lembut, menyalurkan ketenangan yang luar biasa."Sstt... cup, cup, cup. Sira yang baru lahir aja nggak cengeng kayak gini, Sayang," bisik Axel di telingaku, suaranya terdengar begitu romantis dan menenangkan. "Gue cum
Kalimat terakhir Axel itu berhasil menyedot seluruh kehangatan yang sebelumnya memenuhi rongga dadaku. Seketika, rengkuhan tanganku di lehernya melonggar. Aku melepaskan pelukan itu secara perlahan, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik matanya dengan kecemasan yang merayap naik."Apa yang sebenarnya terjadi, Xel...?" tanyaku dengan suara bergetar.Binar kejenakaan di mata Axel perlahan luntur, menyisakan guratan sendu yang begitu pekat. Ia menghela napas berat, menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatapku. "Sejak gue harus menjalani perawatan fisioterapi di Amerika, kondisi manajemen kantor memang jadi kurang stabil," sahutnya lirih. Ia menatap kosong ke sudut ruangan dengan kelopak mata yang kendur. "Papa sudah berusaha mati-matian menyelamatkan setiap kontrak dan masalah di sana, namun hasilnya tetap gagal. Itu juga alasan kenapa dia nggak bisa jenguk gue di sini..."Jantungku seperti dihantam palu tak kasat mata. Seketika itu juga, gelombang rasa bersalah yang







