Share

Bab 2

Penulis: Liora Z
Rapat itu pun berakhir.

Ruangan itu kosong dengan cepat. Tidak ada seorang pun yang berani menatapku karena takut terkena imbas amukan Andrew.

Aku terduduk lemas di kursi, kakiku terlalu lemas untuk bisa berdiri.

"Aria."

Jessica berjalan mendekat dan meraih lenganku. Dia berbisik dengan nada suara kasar, "Kau sudah gila, ya?"

Aku tertegun.

"Kau mencoba melakukan panggilan video tepat di depan Bos? Siapa itu?"

Aku menyeka wajahku dan melihat ke sekeliling. Ruangan itu sudah benar-benar kosong.

Ini adalah kesempatanku.

"Jessica ...." Aku membasahi bibirku yang kering, mencoba terdengar santai. "Menurutmu ... apa bos pernah berkencan di internet?"

Jessica terpaku.

Dia menatapku seolah-olah aku orang aneh.

"Apa katamu?"

"Maksudku ...." Aku menguatkan diri. "Di web ilegal. Apa mungkin dia punya pacar di dunia maya?"

Jessica terdiam selama tiga detik.

Lalu, dia tertawa. Sebuah tawa dingin dan hampa yang membuat bulu kudukku merinding.

"Aria." Dia berjongkok, lalu mengucapkan setiap kata dengan jelas. "Apa kau sedang berhalusinasi karena stres?"

"Aku hanya bertanya ...."

"Andrew Ferona." Jessica memotong perkataanku. "Di usianya yang ke tiga puluh tahun, dia tidak pernah punya skandal sama sekali. Apa kau tahu alasannya?"

Aku menggelengkan kepala.

"Dua tahun lalu, putri bungsu Keluarga Tarigan mengira dirinya cukup cantik untuk bisa menyelinap ke ranjangnya di malam hari." Suara Jessica terdengar sangat santai. "Dan, keesokan paginya ... dia dibuang di depan gerbang rumah keluarganya dengan kedua tangan terpotong."

Perutku langsung terasa mual.

"Bos tidak menyukai wanita. Dia itu fobia parah pada kuman sampai-sampai tidak sudi minum dari gelas yang pernah disentuh wanita." Jessica berdiri, dan menatapku lekat. "Dia bukan manusia. Dia itu monster ... jenis monster yang tangannya selalu penuh noda darah."

"Berhenti mendengarkan rumor di web ilegal. Sadarlah, orang-orang itu cuma mengarang cerita bohong demi mendapatkan uang."

Tenggorokanku pun tercekat.

"Aku akan anggap tidak pernah mendengar hal ini." Jessica menepuk bahuku. "Tapi, kalau kau sampai bikin ulah lagi di depan bos, aku bahkan tidak akan sanggup mengambil mayatmu."

Dia lalu berbalik dan melangkah pergi.

Aku duduk sendirian di ruang rapat yang kosong, tangan dan kakiku terasa dingin membeku.

Aku akan mati.

Itu satu-satunya yang ada di pikiranku.

Aku membayangkan diri berada di posisi Andrew.

Aku adalah orang asing yang sudah membuatnya memanggilku dengan sebutan “Nyonya”. Yang membuatnya menjadi seperti anjing piaraan dan bertelanjang di depan kamera untuk memamerkan otot perutnya ....

Itu bukanlah sekadar permainan nakal. Itu lebih seperti menempelkan pisau di leher seorang monster.

Jika dia sampai tahu kalau itu aku ....

Dia tidak akan berkencan denganku.

Tapi, akan memotong lidahku dan menggunakanku sebagai bahan membuat bingkai foto.

Identitasku tidak boleh sampai terbongkar.

Pukul sembilan malam, aku menyeret diriku kembali ke apartemenku yang bocor dan kumuh.

Sebelum aku sempat melepas mantel, ponselku sudah berdering.

[Nyonyaku, rapatnya sudah selesai.]

[Apa kau masih marah?]

[Apa aku boleh melakukannya sekarang?]

Aku menatap layar ponsel, jari-jariku terasa kaku.

Pikiranku teringat kembali pada penampilan Andrew tadi siang. Dia sangat dingin, kejam, dan siap untuk membunuhku hanya dengan satu kalimat.

Lalu, aku melihat pesan ini.

[Lihat dong, Nyonya.]

Aku bergidik. Perubahan sikapnya membuatku pusing.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawab: [Tidak perlu.]

Seketika, ponselku terus berdering karena pesannya.

[Maafkan aku, Nyonya.]

[Seharusnya aku tidak mengabaikan panggilanmu tadi.]

[Aku salah. Aku akan mengangkatnya lain kali.]

[Jangan tinggalkan aku.]

[Beri aku satu kesempatan lagi, aku mohon. Biarkan aku tunjukkan padamu.]

Permintaan panggilan video muncul di layar.

Aku menatap tombol hijau, jariku menggantung di atas tombol: [Tolak].

Tepat saat itu, pemberitahuan transfer lainnya muncul: [Transfer Rp.160.000.000,-]

[Nyonya, terimalah hadiahku. Tolong jangan blokir aku.]

...

Aku menutup mata.

Penagih utang telah menelepon tiga kali hari ini. Ibuku menangis di telepon, mengatakan jika aku tidak mendapatkan tiga ratus dua puluh miliar, mereka akan menjualku kepada seorang pria berusia enam puluh tahun dari Keluarga Romana.

Jika aku menolak Andrew sekarang, dia mungkin akan menyerah.

Tetapi jika aku menurutinya malam ini, uang sewa bulan depan dan tagihan medis ibuku akan terbayar.

Selain itu, jika aku mundur sekarang, kecurigaannya atas kejadian tadi siang hanya akan semakin bertambah.

Satu-satunya jalan keluarku adalah terus bersandiwara.

Bersandiwara sampai dia benar-benar percaya bahwa aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan restorator yang gemetaran hari ini.

Aku menarik napas panjang dan menekan tombol terima.

Layar tampak gelap gulita di kedua sisi.

Dia tidak menyalakan kameranya, begitu pula diriku.

Ini adalah aturan tak tertulis kami selama dua tahun: tidak ada wajah, tidak ada nama asli.

"Nyonya?"

Suara yang berat dan jernih terdengar dari pengeras suara.

Seluruh tubuhku menegang seketika.

Itu benar-benar dia.

Suara yang sudah menusukku seperti pemecah es tadi siang, kini justru terdengar manis penuh rayuan.

"... Apa kau masih marah?"

Dia begitu berhati-hati, helaan napasnya terdengar halus. Seolah aku bisa melihat tatapan putus asa dan penuh harap di wajahnya dari balik layar.

Aku mengetik.

[Tidak marah.]

Hening sejenak.

Lalu, desahan napas lega yang berat terdengar dari ujung sana.

"... Terima kasih, Nyonya."

Suaranya bergetar.

Aku menatap layar gelap itu dengan mulut terasa kering.

Pria yang membuatku ingin bunuh diri siang tadi, kini terdengar hampir menangis.

[Bukannya kau bilang mau tunjukkan sesuatu padaku?] ketikku. [Kalau begitu, tunjukkan.]

Dia jelas-jelas terpaku di ujung sana.

"... Apa aku beneran boleh tunjukkan?"

Suaranya dipenuhi kegembiraan yang tulus. Dia terdengar seperti anjing ras yang baru saja diberi tahu bahwa dia adalah anjing yang baik.

[Cerewet. Cepat, aku mau lihat.]

"Oke."

Dia tertawa. Sebuah tawa rendah dan terengah-engah yang terdengar melalui pengeras suara dan membuat telingaku memerah panas.

"Baiklah. Aku mulai sekarang."

Kamera pun menyala. Sepasang tangan yang panjang, kuat, dan indah muncul di layar.

Perlahan, jari-jari itu meraih gesper logam dingin dari celana panjang miliknya yang dibuat berdasarkan pesanan khusus.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 13

    Aku mendorong tubuh Andrew menjauh dan meraih ponselku.Nama penelepon: [Ibu]Andrew langsung menghentikan ciuman liar itu, tetapi tangannya tetap melingkar di pinggangku."Jangan bicara apa pun." Aku menatapnya tajam, suaraku bergetar.Telinga Andrew memerah, sorot matanya masih membara karena ciuman itu. Dia setuju dengan suara serak."Terserah Nyonya."Aku mengangkat telepon."Aria, bagaimana kabarnya?" Ibuku terdengar gembira. "Jerry anak yang hebat, kan?""Dia … lumayan." Aku mencoba terdengar normal."Baguslah kalau begitu!" Ibu terus mendesak. "Setelah kau menikah dengannya nanti, kau tidak perlu lagi menyentuh uang kotor mafia itu. Keluarga politisi itu bersih dan mereka bisa memberikan rasa aman."Sambil mendengarkan di sampingku, ada kilatan rasa cemburu yang melintas di sorot mata Andrew.Dia mendekat ke telingaku dan berbisik pelan, "Nyonya, aku lebih berkuasa darinya. Aku bisa memanjakanmu habis-habisan, menjadi gadunmu .…"Aku menatapnya tajam.Namun, dia terus saja berbi

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 12

    Wajah Jerry mendadak menjadi pucat pasi, tubuhnya gemetaran.Semua orang di restoran berhenti berbicara, dan menatap meja kami dengan cemas.Aku tidak bisa membiarkan Andrew terus berbicara."Bos!" Aku langsung berdiri dari kursiku dan meraih lengannya. "Ayo, kita bicara di luar."Aku mengerahkan seluruh kekuatan untuk menyeretnya ke ruang makan pribadi di sebelah.Begitu pintu tertutup, aku berbalik menghadapnya."Apa yang Anda lakukan?"Andrew hanya berdiri di sana, penampilannya sangat sempurna, tetapi amarah di sorot matanya seakan siap membakar diriku."Jerry persis seperti yang diinginkan orang tua saya dalam sebuah pernikahan." Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba terdengar tenang. "Sebelumnya, mereka bahkan menjodohkan saya dengan pria berusia enam puluh tahun demi bisa melunasi utang. Akhirnya, saya bisa mendapatkan pria muda, jadi Anda tidak perlu menakutinya."Andrew menatap mataku tajam, namun suaranya lembut."Apa kau bahagia dengannya?"Aku mengangguk. "Iya."Matanya la

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 11

    Selama beberapa hari berikutnya, pada dasarnya aku sudah menjadi tahanan rumah di griya tawang milik Andrew.Dia menyebutnya sebagai bimbingan belajar, tetapi kenyataannya, aku hanya terjebak di ruang kerjanya setiap hari untuk memperbaiki lukisan sialan itu.Aku makan tiga kali sehari dari masakan koki pribadi, tinggal di sebuah kamar mewah.Tetapi, aku tidak boleh lengah sedikit pun.Cara Andrew menatapku semakin lama semakin berbahaya, seperti serigala yang mengincar mangsa.Sabtu pagi, tepat saat aku menuju ruang kerjanya untuk “masuk kerja”, ponselku berdering."Aria." Suara ibuku terdengar. "Karena utang keluarga kita sudah hampir lunas, sekarang sudah waktunya untuk memikirkan kehidupan pribadimu.""Kehidupan pribadi apa?""Pernikahan." Suara ibuku terdengar gembira. "Ibu sudah mengatur kencan buta untukmu. Dia putra Anggota Dewan, namanya Jerry Romana. Usianya dua puluh dua tahun, baru saja lulus dari Universitas Harva."Mataku berbinar seketika.Keluarga politisi. Itu artinya

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 10

    Sebelum aku sempat menjawab, Andrew sudah bergegas melangkah keluar.Langkahnya sedikit terhuyung saat berjalan, seperti binatang yang sedang terluka.Aku menatap pintu yang terbuka itu, merasa reaksinya sangat aneh.Mengapa dia begitu peduli hanya karena aku membenci buah leci?Aku menggelengkan kepala dan mengeluarkan ponsel.Aku membuka akun web ilegalku dan berkedip.Andrew belum mengirimiku pesan sepanjang hari ini.Pesan terakhirnya dikirim pukul sebelas lewat dua puluh menit tadi malam: [Nyonya, aku ingin menikahimu.]Itu tidak seperti biasanya.Biasanya, jika aku membalas sedikit terlambat saja, dia akan langsung mengirimiku rentetan pesan.Aku mengirim pesan pertama: [Kamu sedang apa?]Balasan datang dengan instan.[Memikirkanmu.]Aku mengerutkan kening: [Kenapa kau tidak mengajakku bicara seharian ini?]Dia tidak langsung membalas kali ini.Saat sedang bertanya-tanya alasannya, aku mendengar suara langkah kaki.Aku mendongak dan melihat Andrew berdiri di ambang pintu, sambil

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 9

    Untuk mencegah Andrew berubah pikiran, aku hampir berlari untuk mengambil kotak peralatanku.Sepuluh menit kemudian, aku sudah menenteng peralatanku dan mengikutinya ke ruang kerja.Ruang kerja ini sangat mewah.Lebih dari tiga ratus meter persegi dengan konsep ruang terbuka, memiliki jendela setinggi langit-langit yang menghadap langsung ke arah sungai kota.Rak-rak buku membentang hingga ke langit-langit, yang dipenuhi buku-buku sejarah seni dan manajemen bisnis.Di tengahnya terdapat sebuah meja kayu walnut yang sangat besar, dan tepat di sebelahnya berdiri sebuah meja restorasi profesional. Tak kusangka bos ternyata adalah restorator terbaik di seluruh keluarga ...."Duduk di sini." Andrew menunjuk ke arah kursi di dekat meja restorasi.Aku meletakkan kotak peralatanku dan baru saja hendak duduk ketika menyadari bahwa dia juga telah menarik sebuah kursi.Tepat di sebelah kursiku.Begitu dekat hingga lututnya hampir menyentuh pahaku.Aku duduk dengan canggung, berusaha keras untuk t

  • Nyonya Rahasia dan Bos Mafia   Bab 8

    Saat aku terbangun, waktu sudah menunjukkan tengah hari pada keesokan harinya.Kepalaku terasa seperti akan pecah, dan mulutku terasa pahit.Aku mengusap kepalaku yang berdenyut-denyut dan memaksa mataku untuk terbuka.Hal pertama yang kulihat bukanlah apartemenku yang jelek dan bocor.Melainkan sebuah ranjang beludru sangat besar, seprai sutra berwarna krem yang mungkin harganya lebih mahal daripada apartemenku, dan lampu gantung kristal yang sangat mewah tergantung di atasku.Aku langsung terduduk tegak.Di mana aku sebenarnya?Apa aku diculik?Secara refleks, aku mencari ponselku di bawah bantal.Syukurlah ketemu.Dengan tangan gemetar, aku memanggil nomor Jessica."Halo?" Suara Jessica terdengar lebih lemah daripada suaraku."Jessica!" bisikku panik. "Aku diculik, panggil polisi!""Apa?" Jessica berhenti sejenak, lalu tertawa getir. "Aria, kau tidak diculik. Kau berada di griya tawang milik Bos.""Apa?""Bos membawamu kembali ke rumahnya tadi malam. Aku tidur di kamar tamu bersamam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status